Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 melahirkan part 1


"Astaghfirullah halazim........bisa sawan nanti anak ku ,karena kaget mulu, sabar ya de utun...." ucap seraya mengusap-ngusap perut ku ,kurasakan pergerakan kecil diperut ku .


"kamu itu ,kenapa baru nongol ,dari mana saja " tanya ku pada Lasmi


"hehe.. .biasa lah cuci mata , ternyata banyak banget hantu polisi nya , ganteng-ganteng lagi " celetuk nya


"heuleuh....ini hantu genit juga ya " mas Rifki turut mengomentari


namun Lasmi hanya cekikikan saja di belakang ku.


"berisik ah ,ketawa mu bikin merinding tahu " seru ku menghentikan ketawa nya yang memang bikin aku merinding


mas Rifki lalu membawaku ke rumah sakit tempat biasa aku memeriksa kandungan ku , namun pada saat mobil memasuki arena rumah sakit aku meminta mas Rifki untuk membeli sesuatu yang tiba-tiba aku menginginkan nya


"aku mau itu mas kaya nya enak" ucap ku sambil menunjuk gerobak dorong yang bertuliskan es cendol manis


Meskipun dengan setengah hati ,mas Rifki tetap membelikan nya untuk ku ,namun setelah segelas es cendol yang katanya manis itu sudah di tangan ku tiba-tiba aku merasa eneg dan jijik


"kenapa aku jadi keinget sama ingus anak kecil " gumam ku


"kenapa ?" tanya mas Rifki


"ah ....enggak ko, ini buat mas Rifki saja ,aku udah gak mau " sahut ku seraya memberikan nya pada mas Rifki


"eh..."


"kenapa di kasih ke aku ,bukan nya tadi kamu mau ?" tanya mas Rifki


"iya sih ,tapi sekarang tidak " sahut ku


"ya sudah , gak apa-apa " mas Rifki meraih gelas yang berisikan es cendol itu


"maaf ya pak ,ini istri saya gak jadi ,tapi ini saya tetap bayar ko " ucap mas Rifki seraya memberikan uang dua puluh ribu


"tidak apa-apa mas ,enggak apa-apa namanya juga ibu hamil memang seperti itu ,udah gak usah di bayar" bapak penjual es cendol nya menolak


"enggak apa-apa ini ambil saja , anggap saja ini rezeki , saya ikhlas" ucap mas Rifki lagi tetap memaksa


"ya sudah kalau begitu ini kembalinya " bapak penjual nya mengembakikan uang lima belas ribu


"gak apa-apa,ambil saja semua nya " tolak mas Rifki seraya beranjak


"aduuuh....matur nuwun sanget mas,muga-muga bisa di ganti rejeki sing melimpah" ucap nya


"iya pak,terima kasih doa nya ,moga dagangan bapak juga laris manis , mari pak "


.........................


Hari berjalan dengan cepat ,Minggu ke Minggu,hingga berganti bulan ,aku menikmati momen kehamilan ku dengan suka cita, yaaa ...meskipun tak pernah lepas dari hal-hal mistis dan teror yang mengganggu ketenangan ku , tapi itu tak membuat ku merasa takut ,karena aku sudah memasrahkan hidup ku pada Allah , aku percaya Allah akan selalu ada buat ummat nya .


Meskipun mama Dewi dan mbok Marni sudah merasa geram dengan kiriman-kiriman ilmu hitam yang terus menerus meneror ku ,bahkan mama Dewi dan mbok Marni berniat untuk menemui seorang dukun untuk membalikan serangan ilmu hitam itu, namun aku dengan tegas menolak nya.


Karena jika kita melakukan itu ,apa beda nya kita dengan orang yang berniat buruk pada ku, aku malah berharap semoga orang itu bisa sadar dan berubah ,bahwa apa yang dilakukan nya tidak lah benar dan hanya akan merugikan diri sendiri .


Aku juga jadi teringat kata-kata Agus saat acara pengajian waktu itu , meskipun kita di sakiti ,kita harus tetap mendoakan yang baik untuk yang sudah menyakiti kita ,karena setiap doa itu akan berbalik pada diri kita sendiri .


Kini usia kehamilan ku sudah menginjak sembilan bulan ,dan perkiraan dokter aku akan melahirkan sepuluh hari lagi .


Hal itu membuatku semakin gugup ,apakah aku bisa . Aku juga sering melakukan jalan-jalan bahkan tanpa alas kaki karena katanya agar kaki ku gak bengkak, dan juga agar proses melahirkan nya lancar .


Ditemani mama Dewi , mertuaku yang paling uuucchhhh.....seandainya papa mertua ku masih ada ,pasti akan semakin menyenangkan rasanya,karena kata mama Dewi almarhum papa mertuaku sangat jenaka, tidak ada hari tanpa guyonan nya , dan itu yang paling mana Dewi rindukan dari nya.


Setiap menemaniku jalan-jalan mama selalu bercerita tentang almarhum papa mertua semasa hidup , juga cerita tentang mas Rifki kecil , jadi penasaran bagaimana lucu nya mas Rifki saat masih kecil,angan ku melayang jauh membayangkan masa kecil mas Rifki .


Di belakang ku nampak Wowo , Lasmi ,dan juga bang Popo ikut melompat mengikuti ku , mereka berceloteh tentang banyak hal ,tak jarang aku tertawa kecil saat tak sengaja mendengar celetukan mereka.


"ada apa Nur, apa ada yang lucu?" tanya mama Dewi


"ah ....eng...gak ko mah" jawab ku tergagap


"haaah ....iya mama ngerti ,pasti mereka berada di sini kan" tanya mama Dewi celingukan


"iya ma"


"pantas saja dari tadi bulu kuduk mama merinding , eh itu suami kamu katanya juga bisa melihat mereka ,ko bisa sih ,setahu mama anak nakal itu bukan anak indigo deh " tanya mama Dewi lagi


"i....itu....aku yang buka mata batin nya ma, mas Rifki sendiri yang meminta, mama mau juga ?" tanya ku dan langsung mendapat penolakan keras dari mama mertuaku itu


"enggak,terima kasih ,mama gak mau ya ,takut soak ,cukup kamu sama suami mu saja,mama gak mau ikut-ikutan" mama Dewi bergidik ngeri


"baru denger saja mama sudah takut ,apalagi nanti kalau lihat wujud nya ,bisa pingsan mama " ucap nya lagi


"ssshhh....aakkh....."


"kamu kenapa, sakit ,perut mu sakit?" tanya mama Dewi mendadak panik


"udah enggak mah , udah hilang sakit nya " sahut ku saat kurasa tak ada lagi rasa sakit nya


"enggak ah mah, nanti saja ,sakit nya juga sudah hilang ,kita pulang saja " ucap ku


Meski terlihat jelas kecemasan pada mama Dewi terhadap ku ,aku berusaha untuk bersikap biasa saja ,meskipun jujur aku merasa perut ku sedikit sakit ,dan terasa mulas namun hanya sesekali


Karena menurut perkiraan dokter juga katanya aku akan melahir kan sekitar sepuluh hari lagi , jadi aku hanya berfikir ini adalah kontraksi biasa saja.


"aunty......" teriak anak kecil melambaikan tangan nya di depan pintu pagar


"Riswan ....halo sayang sudah lama ya kita tak bertemu ,gimana kabar mu hem?" tanya ku saat setelah berada di depan anak kecil itu


Riswan , anak nya Haris memang sangat dekat dengan ku , setiap dua atau tiga hari sekali tante Mina ( mama nya Haris ) selalu membawa Riswan ke rumah hanya untuk bermain dengan ku ,karena Riswan selalu merengek ingin bertemu dengan ku, aku pun tak keberatan karena entah lah aku juga rasanya merasa sayang sekali pada anak ini .


"kabarku baik aunty , ini Dede bayi nya kapan keluar nya kenapa lama sekali " tanya nya seraya menyentuh perut besar ku


"sebentar lagi , sabar ya " ucap ku menahan sakit yang tiba-tiba saja muncul


"Tante " sapa ku menyalimi beliau


"sepertinya sebentar lagi kamu melahirkan ya " ucap Tante Mina


"iya Tante " ucap ku sedikit meringis


"kamu yakin tidak apa-apa Nuri ?" tanya mama Dewi menatap ku aku pun mengangguk ragu ,pasal nya rasa sakit nya lebih sakit dari sebelum nya


"iya ma , aku tidak apa-apa" sahut ku


Aku pun berjalan perlahan dan duduk di teras karena aku merasa sudah tak sanggup untuk berjalan


"sebentar mama bawakan kamu minum " mama Dewi berlalu menuju dapur nampak nya mbok Marni belum kembali dari pasar


"aku mau main ayunan " seru Riswan menujuk ayunan besi yang baru beberapa Minggu lalu mas Rifki beli ,karena aku yang tiba-tiba saja menginginkan ayunan seperti itu


"iya hati-hati ya " ucap Tante Mina


"Tante senang karena kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu ,mertua mu juga sangat menyayangi mu , seandainya dulu Haris tidak ....


"sudahlah lah Tante yang lalu biarlah berlalu ,aku juga sudah melupakan nya " ucap ku memotong ucapan Tante Mina


"maafkan Haris yang dulu pernah menyakiti mu " ucap nya lagi


"iya Tante ,aku sudah memaafkan nya dari dulu ko , aaaakkkhhhh......" tiba-tiba aku memekik keras merasakan rasa sakit yang teramat sangat


"ya ampun....Nuri ....astaga kamu mau melahirkan....Dewi .....Dewi ....cepat lah Nuri akan melahirkan" jerit Tante Mina memanggil mama Dewi


"ayo kita ke rumah sakit " mama Dewi memapah ku masuk ke dalam mobil ,bersama Tante Mina tak lupa Riswan juga ikut


"huuuuu....aunty ...."


"loooooh ko kamu yang nangis sih ,lihat aunty saja gak nangis" ucap ku di sela rasa sakit yang mendera


"ini anak kemana sih dari tadi di telponin gak di angkat " gerutu mama Dewi saat menghubungi mas Rifki namun tak ada sahutan


"mungkin masih belum selesai rapat nya ma, udah gak apa-apa ,telpon kalau sudah sampai di rumah sakit saja , mama fokus saja menyetir " ucap ku dengan sedikit tergagap


"astaga .... apa-apa an ini ?"


Rupanya sedang terjadi kemacetan ,entah sampai kapan kita akan terjebak macet ,mau mundur pun tak mungkin karena sudah banyak juga kendaraan lain di belakang .


"aaakkhhh...... astaghfirullah halazim.....maaaa..... ini sakit sekali ...." aku menjerit karena rasa sakit kali ini jauuuuuh lebih sakit dari sebelum nya


"tarik nafas buang perlahan , ayo kamu kuat " Tante Mina membantu menguatkan ku


"astaghfirullah halazim...... aaakkkkhhh.....Ya Allah sakit " rintih ku


"ya ampun bagaimana ini....." mama Dewi lekas keluar dari dalam mobil


Ia berlari mencari bantuan agar aku bisa sampai ke rumah sakit,dan akhirnya tak lama kemudian mama Dewi datang bersama seorang polisi dan tak lama kemudian ambulan datang ,aku pun segera di larikan dengan menggunakan ambulan yang polisi panggil beberapa saat yang lalu.


"kamu harus kuat Nuri ,Rifki sedang dalam perjalanan ,aku sudah memberi tahu nya "


"terima kasih Wo "


.


.


.


.


.


.


bersambung