Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 selesai


Aku dan semua yang berada di sini jadi tertegun karena kedatangan beberapa orang polisi yang tadi mengetuk pintu,sedangkan Roni jangan ditanya ,wajah nya sudah pias dengan butiran keringat yang membasahi keningnya hingga pakaian nya pun terlihat basah oleh keringat nya .


"benar dan ini anak kami yang bernama Roni , ada apa ya pak ?" ujar pak Bardi mulai bertanya


"sodara Roni ditangkap atas kasus pembunuhan terhadao kekasih nya sendiri" ucap polisi ber name tag Hurip


"apa , ....tidak mungkin pak,tidak mungkin anak saya membunuh Dinda " pekik istri pak Bardi histeris sedangkan untuk pak Bardi ,beliau hanya diam dalam keterkejutan nya


"jelaskan nanti di kantor polisi " ucap pak polisi satunya yang sedang memborgol kedua tangan Roni


"tidak ... Roni....jangan tangkap anak saya.. Roni tidak bersalah " teriak istri pak Bardi dengan terus meraung keras hingga mengumpulkan banyak keumunan warga.


Satu orang polisi menghalangi ibu itu yang berusaha menghalangi anak nya ,sedangkan beberapa di perintahkan untuk menggeledah kamar terduga yaitu Roni .


Hingga para polisi itu datang dengan membawa barang bukti sebuah kantung plastik hitam yang berisi tas yang di dalam nya terdapat beberapa barang milik Dinda.


Hal itu yang membuat kedua orang tua Roni diam tak berkata-kata,mereka menatap anak nya untuk mendapat kan jawaban dari anak nya ,namun Roni , anak nya itu malah menunduk dengan sedikit isakan


"maaf " cicit nya


Sontak saja kedua pasangan pasutri paruh baya itu kembali menitikan air mata ,perasaan sedih ,marah ,kesal ,kecewa ,semua rasa itu bercampur padu menjadi satu membuat keduanya hanya bisa pasrah dengan keadaan ,meskipun kini istri nya pak Bardi kembali menangis meraung-raung.


Warga yang seperti nya sudah merasa bingung dengan kedatangan polisi pun menjadi semakin penasaran dengan suara tangis dan teriakan dari istri nya pak Bardi dari dalam rumah .


Ingin rasanya warga mendekat dan melihat langsung tapi karena polisi juga menghalangi niat mereka menjadikan mereka hanya melihat di jarak yang aman .


Warga nampak berbisik ketika melihat Roni dengan tangan terborgol keluar dari rumah


Hingga tubuh Roni kini berhasil di naikan ke mobil polisi berjenis pick up ,hingga mobil pick up pun melaju perlahan menuju ke kantor polisi,para warga masih enggan untuk beranjak .


Sebelum polisi itu pergi, pak Hurip yang selaku polisi pun meminta kami,yaitu aku dan mas Rifki untuk turut memberikan keterangan sebagai saksi .


"mas ....ko bisa sampai ada polisi ?" tanya ku berbisik setelah polisi-polisi itu pergi


"kan kamu yang membuat laporan " sahut mas Rifki


"hah ....apa ....aku...mana mungkin ....kapan ?" seru ku ,karena memang sama sekali tak merasa melapor polisi


"lebih tepatnya kloningan mu " sahut mas Rifki tersenyum simpul


"kloningan .....sejak kapan aku punya....astaga " aku menutup mulut ku saat menyadari sesuatu


"Wowo ...." satu kata yang keluar dari mulut ku


dan mas Rifki hanya tersenyum sebagai jawaban


"apa benar pak ,jika Roni kita melakukan pembunuhan itu pada Dinda " tanya si ibu si sela tangis nya


"ibu tenang dulu,bapak juga tidak tahu ,kita ke kantor polisi saja untuk lebih jelas ,agar kita tahu apa yang terjadi" ucap pak Bardi berusaha tegar di hadapan istrinya , bohong sebenarnya jika pak Bardi sendiri tak terkejut dan sedih tapi disini beliau lah orang yang harus jadi penguat dan pemenang untuk istri nya ,itu yang ku tangkap dari diri pak Bardi .


Setelah di rasa tenang ,sudah tak terdengar suara tangisan nya ,aku dan mas Rifki beranjak untuk mendatangi kantor polisi karena ternyata masih ada dua orang polisi yang berjaga di sana . sedangkan untuk pasangan pasutri paruh baya itu mereka ikut dengan mobil polisi .


Setiba nya kami di kantor polisi ,kami langsung di arah kan ke ruang interogasi untuk dimintai keterangan ,aku pun menceritakan semua yang aku lihat dalam penglihatan ku .


"bagaimana ....sudah ?"tanya mas Rifki saat melihat ku keluar dari ruangan itu


"iya mas ,pelaku juga sudah mengaku " sahut ku


"maksud mu anak ku Roni benar-benar melakukan nya, dia yang membunuh Dinda?" tanya si ibu dengan nada bergetar


"maaf Bu, tapi memang itu yang terjadi ,tapi....anak ibu tidak sengaja ,hanya saja anak ibu memalsukan kematian Dinda dengan membawa barang-barang berharga Dinda ,dan membuat seolah perampok lah penyebab nya " ucap ku hati-hati karena aku tahu perasaan ibu ini ,pasti tak mudah bagi nya menerima kenyataan tentang anak nya


Dengan perasaan tak enak aku dan mas Rifki berpamitan pada kedua paruh baya itu.


"akhirnya.......kasus nya selesai " ucap ku seraya menyadarkan punggung ku di sandaran kursi mobil " namun aku seketika terdiam setelah melihat keadaan dalam mobil ini ,ini asing sekali ,sejak kapan warna jok mobil nya berubah jadi hitam


Namun setelah aku keluar dan menutup pintu nya suara seseorang mengejutkan ku hingga aku berlonjak


"sedang apa kamu ,apa yang kamu lakukan dengan mobil ku ?"


"KUNTILANAK "


Jantung ku seakan jatuh dari tempat nya saat mendengar suara berbariton nge bas menggema di gendang telinga ku , namun yang kupegang bukan dada ku tetapi perut ku yang kurasa sedikit kram aku pun memberi kan usapan pada perut ku dengan menarik nafas ku dalam dan membuang nya perlahan


"sorry ,anda siapa ?" suara berbariton itu kembali terdengar


Aku pun berbalik melihat siapa pemilik suara itu ,yang lebih tepat nya pemilik mobil yang aku salah naiki


"ma ....maaf , saya salah naik mobil" ucap ku sedikit kikuk ,apalagi saat melihat padanya yang tingginya sama seperti mas Rifki, hanya saja wajah nya blasteran entah blasteran apa yang jelas wajah nya kebule-bulean ,namun menurutku lebih tampan mas Rifki kemana-mana.


"kamu butuh acua ?" tanya nya dengan bariton keras ,seolah membentak namun mungkin begitu suara nya kali ya


aku pun kembali di buat terkejut ,ini orang lagi nge bentak atau apa sih


"sayang ternyata kamu di sini ,maaf lama ya aku ke toilet nya ?" tanya mas Rifki menghampiri ku


"eh mas, i iya mas tadi ...aku salah naik mobil " cengir ku


"salah naik mobil? ko bisa " tanya mas Rifki


"hehe....aku gak perhatiin ,lagian mobil nya sama juga gak di kunci jadi nya aku main masuk aja " ucapku lagi


"sekali lagi maaf atas kekeliruan saya tadi" ucap ku kembali melihat laki-laki blasteran pemilik mobil yang salah ku naiki


"tidak apa-apa, santai saja " sahut nya


"kalau begitu kami berdua pamit, assalammualaikum" ucap ku seraya beranjak


namun tak ada sahutan dari nya ,dapat ku perhatikan dari ujung mata ku jika laki-laki blasteran itu nampak susah menjawab salam ,mungkin dia non muslim ,fikir ku


Aku pun sontak menghentikan langkah kaki ku dan kembali melihat ke arah nya sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuh ku ,lalu aku kembali berjalan bersama mas Rifki .


"terima kasih kalian sudah mau membantuku "


Dinda tersenyum di kursi belakang,ya kini kami sudah berada di dalam mobil ,dengan mas Rifki yang juga sedang mengendalikan setir dengan senyuman tak seperti biasa , dia semakin cantik meski wajah nya pucat,namun satu hal yang aku sadari seberkas cahaya putih berpendar dari tubuh nya


"maaf telah merepotkan kalian , aku doakan semoga proses lahiran mu nanti dilancarkan ,aku pamit " ucap nya


"iya , sama-sama ,terima kasih juga doa nya "


perlahan cahaya putih itu memudar seiring ruh nya yang juga ikut menghilang perlahan , keheningan kini tercipta setelah menghilang nya hantu Dinda .


"selamat jalan Dinda ,semoga kamu tenang di sana " batin ku,aku pun kembali melihat ke depan sedangkan mas Rifki kini meraih tangan ku dan di genggam nya ,sesekali mas Rifki menarik tangan ku dan menciumi nya dengan tangan kanan nya yang ia gunakan untuk memegang kemudi.


Namun tiba-tiba aku melihat sebuah penampakan dari kaca spion kecil yang menggantung di atas ku


"KUNTILANAK....."


"emang aku kuntilanak "


.


.


.


.


bersambung