
Sudah satu hari dari saat aku satu ruangan dengan mas Rifki ,keadaan ku sudah membaik ,badan ku juga tak lagi merasa lemas ,tapi mas Rifki tetap saja betah dengan tidur nya , menurut dokter luka di kening nya tak terlalu serius namun karena mas Rifki kekurangan banyak darah membuat nya kritis saat itu ,beruntung mas Rifki langsung mendapatkan transfusi darah ,hingga kondisi nya stabil kembali ,namun entah mengapa sampai saat ini mas Rifki belum juga tersadar .
Aku bangun dari tempat tidur ku ,lalu beranjak turun menghampiri mas Rifki, saat ini Bu Dewi tengah keluar untuk mencari makanan ,sedangkan ayah tengah tertidur di sofa panjang di dalam ruangan inap ini.
"mas Rifki....kenapa mas Rifki belum bangun juga " lirih ku
Aku pun duduk di kursi samping tempat tidur mas Rifki tempat biasa Bu Dewi duduk menunggui mas Rifki.
Meski ragu aku memberanikan diri untuk meraih tangan mas Rifki ,ku genggam erat tangan nya, namun sesuatu terjadi di luar dugaan ku , aku merasa sesuatu menarik ku , hingga aku terlempar hingga membentur dinding , namun aneh nya kegaduhan dari ku tak dapat membangunkan ayah, hingga aku berusaha untuk bangun .
Dan keanehan pun terjadi saat aku berdiri ,dalam sekejapan mata , tiba-tiba saja aku berada di tempat asing semua nya serba putih ,tanpa dinding ,tanpa atap tanpa ada apa pun di sini, bahkan semacam pohon atau apa pun itu tidak ada sama sekali .
"aku ada di mana na...na...na ...na " suara ku menggaung hingga memantulkan kata di akhir ucapan ku
"tempat apa ini ni...ni...ni...ni.."
Aku berjalan lurus ke depan ,ada perasaan takut sebenarnya,takut menabrak sesuatu takut tersandung ,dan takut bagaimana cara ku untuk kembali , tapi dengan berdiam diri pun tak akan membuat ku bisa tahu dimana jalan keluar nya .
Langkahku pelan namun pasti ,dengan menengok ke segala arah aku tetap melangkahkan kaki ku , entah lah sebelah mana barat sebelah mana timur ,karena tempat ini benar-benar bernuansa putih ,seperti gambar manusia di kertas putih tanpa ada gambar lain, begitulah kira-kira aku menggambarkan nya .
"to...long..." samar aku mendengar orang meminta tolong
aku menajamkan pendengaran ku namun suara minta tolong itu tiba-tiba hilang
Tak menyerah begitu saja aku terus berusaha untuk menemukan orang yang meminta tolong itu ,aku pun lantas berdoa memohon petunjuk pada Allah untuk ku dapat menemukan nya dan bisa cepat-cepat keluar dari tempat aneh ini.
Sambil terus berjalan aku tak pernah putus berdoa
"Nuri ri..ri....Nuri ri..ri....Nuri ri..ri....." seseorang terus memanggil ku , suara nya yang menggema dan bergaung membuat ku bingung untuk menemukan arah suara nya .
"siapa pa...pa...pa...?" teriak ku
"kamu siapa pa ...pa...pa...di mana na...na...na..." kembali aku berteriak
Namun tak ada jawaban ,aku pun kembali berjalan dengam pelan ,hingga aku melihat ada lubang besar menganga lebar depan mata ku ,
"apa itu goa ?" gumam ku dalam hati
Aku pun mendekat ,dengan ragu aku memasuki goa tersebut, semakin masuk ke dalam aku semakin dibuat takjub dengan apa yang ku lihat , terdapat banyak stalaktit dan stalakmit yang berkilauan, dan aneh nya kenapa di dalam goa ini sangat terang seperti ada cahaya lampu atau penerangan lain ,padahal aku tak menemukan ada nya lampu atau cahaya matahari yang masuk ,karena keberadaan ku jauh di dalam perut goa .
Stalaktit diambil dari bahasa Yunani yang berarti menetes, yang berbentuk batuan yang runcing dan berlubang-lubang lancip dengan ujung nya mengarah ke bawah .
Sedangkan stalakmit terbentuk dari kalsit atau kalsium karbonat yang berasal dari air yang menetes . Pembentukan nya secara vertikal dari bawah ke atas . bentuk nya juga berbeda-beda ada yang lebar ,pendek ,tinggi ,kurus,bahkan ada juga yang menjulang seperti menara .
Aku terus memperhati kan bagian dalam goa ini dengan penuh takjub .
"Masya Allah....indah sekali " gumam ku
" wahai cucuku ,jangan kau terlena dengan penampakan goa itu, sesungguh nya itu hanya tipu muslihat mereka para iblis untuk menyesat kan mu , berjalan lah terus ,jangan kau hiraukan seberapa indah tempat itu ,cepat pergi dari tempat itu" sebuah suara terngiang di telinga ku
"iya kek ,terima kasih sudah mengingat kan ku" batin ku
Hingga sampai lah aku di sebuah tempat paling terang ,disana aku dapat melihat begitu banyak orang yang terkurung di sana ,di balik jeruji bambu .
Ada yang menangis ,ada yang berteriak namun ada juga yang diam dengan pandangan kosong.
Hingga mataku tak sengaja melihat sosok yang ku kenal juga tengah berada di sana, aku berlari menghampiri nya.
"mas Rifki....kenapa mas Rifki berada di sini ?" tanya ku sambil memegangi bambu yang menjadi penghalang ku dan mas Rifki.
"Nuri ,cepat pergi dari tempat ini,di sini sangat berbahaya" seru mas Rifki
"tidak , aku tidak akan pulang tanpa mas Rifki" ucap ku
Aku mencoba untuk membuka ikatan di setiap sisi jeruji bambu nya, namun tak bisa ,karena setelah ikatan nya terlepas dengan sendiri nya tali itu kembali menggulung dan mengikat kembali seperti semula .
"kau harus pergi Nuri ,selamatkan diri mu , biarlah aku di sini, asal kan kamu selamat " ucap mas Rifki
"tidak ,aku bilang tidak ,ya berarti tidak ,aku akan pergi setelah kau keluar dari sana ,dan kita akan pergi bersama " ucap ku tak mau kalah
Ku lantunkan beberapa surah Al-Qur'an dengan lantang , hingga tempat ini bergetar dan menjatuhkan beberapa bebatuan dari atas.
Terdengar juga suara geraman dan teriakan yang menggelegar juga ikut menjatuhkan beberapa batuan .
"Alhamdulillah...ayo mas Rifki kita pergi dari tempat ini" ajak ku meraih tangan nya
Saat aku hendak pergi pandangan ku teralih pada orang-orang yang juga berada dalam kurungan , muncul niat di hati ku untuk menolong mereka ,namun sebuah suara memberi tahu kan jika aku tak bisa menolong mereka .
"Nuri cucuku ,cepat pergi,kau tidak bisa menolong mereka ,karena sesungguh nya jiwa mereka sudah terikat di tempat ini ,karena mereka yang sudah bersekutu dengan iblis , dan mereka sendiri lah yang menanggung nya, berbeda dengan laki-laki yang bersama mu,dia hanya korban , pergilah cepat ,ikuti lorong sebelah kiri mu " suara kakek buyut ku menghilang setelah berbicara tadi
Aku pun melanjutkan lagi langkah ku , meski aku kecewa karena tak dapat menolong mereka , tapi apa mau di kata ,mereka sendiri lah yang memilih jalan ini ,berarti mereka juga yang menanggung konsekuensi nya.
Tapi tiba-tiba saja netra ku melihat Bu Puri juga kakek tua yang bersama nya waktu itu ,juga berada di tempat ini,apa itu arti nya mereka berdua sudah ....
meninggal
atau hanya terjebak di tempat ini ?
.
.
.
.
.
.
bersambung ...