
MASIH HARIS POV
Kini aku dan Nuri tengah duduk di kursi taman rumah sakit .
"ehm...kamu mau bicara apa ?" tanya Nuri melirik pada ku
"Nuri , aku tahu aku salah ,salah karena telah menyakiti mu dulu , a..."
"sudah lah Haris semua nya sudah berlalu, aku sudah memaafkan mu ,aku juga sudah melupakan nya " ucap nya memotong ucapan ku
"apakah aku masih ada di hatimu, walau sedikit saja ?" tanya ku hingga membuat nya menoleh cepat pada ku
"pertanyaan macam apa itu ? " ucap nya seraya mengkerutkan kening nya
"aku masih mencintaimu Nuri " ucap ku mengutarakan isi hati ku
"lalu bagaiman dengan Della ,apa kamu tidak memikirkan perasaan nya ?" tanya nya
"dari dulu aku memang tak pernah mencintai nya Nuri , hanya kamu yang ada di sini " ucap ku lagi dengan menunjuk d*d* ku
"apa aku masih ada di hati mu ?" kembali aku bertanya
" aku sangat tersanjung mendengar nya ,berasa istimewa sekali aku ,tapi kamu jangan egois Ris ,kau sudah berkeluarga ,meskipun saat ini istri mu tidak ada ,tapi suatu saat dia akan kembali , jagalah perasaan nya " ucap nya tanpa melirik ku
"jika kamu bertanya apa kamu masih ada di hatiku maka jawaban nya tidak , akan sangat berdosa bagiku jika aku masih mencintai suami orang " ucap nya lagi
"kata orang cinta pertama itu tidak akan pernah bisa dilupakan . Ya memang benar itu, semua kenangan kita aku tak bisa melupakan nya ,tapi bukan berarti aku masih memiliki perasaan pada mu seperti dulu" jawab nya membuat ku terpaku dalam diam
"lalu apa hubungan mu dengan Rifki ?" tanya ku pertanyaan yang sangat ingin aku tahu jawaban nya
"entahlah , kami memang tidak ada hubungan apa-apa,tapi ...."
"tapi apa ?" ucapan nya terhenti dan terlihat dia menghela nafasnya
"ada sesuatu yang menghubungkan kita di masa lalu , terserah kau mau percaya atau tidak ,yang jelas ini lah yang terjadi " ucap nya seraya melirik sekilas padaku
"maksud mu?" tanya ku yang memang tak mengerti
"seseorang berwajah mirip dengan mas Rifki selalu hadir dalam mimpiku, jauh sebelum aku datang ke sini dan bertemu dengan mas Rifki , bahkan ia sudah hadir saat aku masih bersama mu dulu " tutur nya
Apa maksud nya seseorang berwajah mirip Rifki ? aku sungguh tak mengerti dan hendak bertanya lagi namun tiba-tiba saja Nuri beranjak
"sudah terlalu lama , lebih baik aku kembali , Tito dan yang lain nya akan segera pulang " ucap nya
Dari mana dia tahu jika mereka hendak pergi, belum lagi aku bertanya pada nya ia sudah ber ucap lagi
"hiduplah bahagia dengan keluarga baru mu , ikhlas kan semua nya seperti aku mengikhlaskan mu untuk Della dulu , mungkin itu akan sulit ,tapi percayalah rencana Tuhan lebih indah dari yang kita bayangkan , ayok kita ke dalam lagi " ucap nya seraya jalan lebih dulu meninggalkan ku yang masih terpaku di tempat ku duduk.
Aku menatap Nuri yang mulai menjauh , aku memang bodoh , bisa-bisanya dulu aku berbuat seperti itu , kini semua nya sudah terjadi , nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun percuma ,Nuri kini bahagia bersama orang lain , dan bahkan namaku pun sudah tidak ada lagi di hati nya .
Baiklah mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama , aku akan mencoba untuk mengikhlaskan nya seperti yang dia bilang tadi,aku pun beranjak dan mulai menyeret kaki ku mengikuti Nuri yang mungkin sudah sampai di dalam.
HARIS POV OF
.
.
.
.
Aku berjalan mendahului Haris yang mungkin ia kecewa dengan jawaban ku, tapi ini lebih baik dari pada dia berharap lebih , lagi pula benar juga tentang apa yang ku ucapkan bahwa aku sudah tidak ada perasaan apa pun pada nya.
Ketika aku memasuki ruangan mas Rifki di rawat , aku melihat Tito dan yang lain nya menatap ku.
"kalian kenapa melihatku seperti itu ?" tanya ku kikuk
"ah tidak , hanya saja kita penasaran apa yang mau di bicarakan si Haris padamu , mana Haris ?" tanya Eko
"entah lah tadi di belakangku " sahut ku
Aku pun lantas duduk di kursi plastik yang suka di pakai di warung-warung bakso dekat pintu kamar mandi.
"kenapa duduk di situ, sini duduk di sini " mas Rifki menepuk sisi ranjang tempat tidur nya
"ah apaan sih mas Rifki ,enggak ah di sini saja" tolak ku
"jangan deket-deket bukan muhrim" seru Tito
"ada yang mengintip di balik pintu ,dia memperhatikan mu " ucap Wowo terngiang di telinga ku
Aku pun sontak melihat ke arah pintu , dan mas Rifki pun ikut memperhatikan arah pandang ku
"ada apa?" tanya mas Rifki
"tidak apa-apa"
"ini si Haris mana sih ko gak nongol-nongol kita udah mau balik juga ,apa kita tinggal saja " ucap Bobi berdecak kesal
"tuh " tunjuk ku dengan dagu ku pada arah pintu tanpa bersuara
Bobi dan yang lain pun turut melihat ke arah yang ku tunjuk , membuat Eko beranjak menghampiri nya.
"woy ngapain di sini ,kita di dalam nungguin kamu dari tadi" seru Eko mengejutkan Haris
"kau nangis ?" tanya nya
Membuat mas Rifki melirik pada ku , namun aku hanya menggedikan bahu ku.
"engga siapa juga yang nangis , orang aku tadi hanya ngantuk saja ,kebanyakan nguap jadi berair mataku " dalih nya
"oh , ah iya kita mau balik nih ,kamu mau balik juga ?" tanya Eko
"ehm ...ya sudah aku bilang Rifki dulu " ucap nya yang aku dengar
Kini teman-teman mas Rifki sudah pulang tinggal aku dan mas Rifki di sini.
"tadi kalian ngobrolin apa ?" tanya mas Rifki saat aku baru saja merebahkan tubuh ku di atas sofa panjang , sungguh di hari pertama aku dapet rasa nya membuat ku tak nyaman ,rasa sakit di perut dan bagian atas pinggul ku membuat ku tak nyaman .
"pasti bernostalgia masa pacaran dulu ya ?'' tuduh nya
"apa an sih siapa juga yang bernostalgia " sahut ku
"trus apa yang di bicarakan si Haris padamu ?" tanya nya lagi
"mas Rifki kepo ya , nanti saja cerita nya mas ,perut ku sakit nih ,tak nyaman banget rasa nya ,aku mau tidur saja " ucap ku menghindari pertanyaan nya
"kamu sakit perut ,kalau begitu aku panggilkan dokter ya "ucap mas Rifki panik
"gak apa-apa gak usah , ini sakit perut sudah biasa ,setiap bulan aku merasakan nya , tadi juga aku sudah minum obat pereda nyeri ko , aku mau istirahat saja " ucap ku melarang mas Rifki yang hendak memanggilkan dokter
"setiap bulan kamu merasakan sakit itu , ternyata tidak mudah jadi perempuan ya ,aku jadi menyesal karena selalu mempermainkan perasaan perempuan " lirih nya
Aku tak mau menimpali ucapan mas Rifki ,aku terlalu larut dalam rasa kesakitan ku di bagian perut ku , hingga aku pun terlelap dalam tidur ku .
.
.
.
.
bersambung...