Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 54


.


.


.


"kamu ,mau apa kesini ?" seru ayah menatap tajam pada Haris


"ayah ...."seru ku sambil menyentuh tangan nya ,dan ayah melihat ke arah ku dan aku pun menggeleng pada ayah ,bermaksud agar ayah tak bicara apa-apa


Aku tahu ayah sangat kecewa dan marah pada Haris, hati orang tua mana yang tak sakit jika melihat anak nya di sakiti ,saat aku terluka dulu ayah lah yang paling marah pada Haris tak seperti ibu yang bisa mengendalikan emosi nya


ayah termasuk orang yang jarang berbicara banyak ,tapi sekali ayah marah ,maka tak seorang pun yang bisa meredam amarah nya , apa pun dan siapa pun pasti akan terkena imbas nya , tapi meskipun begitu ayah adalah sosok ayah dan suami hebat di keluarga ku ,ayah juga mengajarkan ku banyak hal , dan ketika aku ada masalah apa pun itu ayah lah yang selalu ada untuk ku.


Tatapan mata ayah sangat tajam menatap Haris,namun Haris hanya menundukkan pandangan nya ,enggan menatap ayah.


Semuanya nampak diam meskipun mereka tak tahu dan tek mengerti masalah nya ,begitu pun dengan mas Rifki ,ia hanya diam memperhatikan ayah yang terus saja menatap benci pada Haris.


"ada apa ini ,kenapa tiba-tiba suasana nya jadi tegang begini ? apa kalian ada masalah?" celetuk Bobi hingga kami semua yang berada di dalam ruangan melihat pada nya


"eh sorry sorry....kelepasan ,sok silahkan dilanjut lagi " celetuk nya lagi hingga mendapat jitakan dari seno


"addaawwww.....,sakit bego aduh..." pekik nya mengusap kepalanya yang terkena jitakan dari seno


"makanya diem jangan ikut campur" kesal Seno


"ayah...ayah belum sarapan kan , lebih baik ayah pergi mencari sarapan dulu ,Nuri juga sudah lapar,Nuri tidak mau makan makanan rumah sakit ,lihat nya saja sudah eneg" ucap ku mencairkan ke tegangan


"iya ,baiklah ayah akan carikan sarapan buat kamu ,kamu mau sarapan apa ?" tanya ayah


"apa saja ,asalkan itu makanan ,Nuri pasti akan memakan nya " sahut ku


"baiklah ,tunggu sebentar ya ,nak Rifki ,om titip Nuri sebentar "ucap ayah menitipkan ku pada mas Rifki


"memang nya Nuri ini kucing pake di titipin segala " gumamku menatap kepergian ayah


"sebenarnya ada apa sih ,sepertinya ayah kamu benci sekali sama Haris " tanya Tito dan langsung melirik pada Haris


"tidak ada apa-apa ko,hanya salah faham saja " sahut ku cepat ,sebelum Haris ikut menjawab


"maafin sikap ayah tadi ya " ucapku menatap Haris ,dan Haris pun mengangguk dan berucap


"tak apa,aku yang salah ko" jawab nya sedikit tersenyum ,namun terlihat raut kesedihan di wajah nya , tapi aku hanya bersikap cuek dan biasa saja


"memang nya apa kesalahan yang sudah kamu buat Ris?" tanya Bobi yang dari tadi penasaran banget


"bukan masalah apa-apa ko,ya kan Ris " sahut ku menyela dengan sedikit menyunggingkan senyum ku


"entah lah apa pun masalah kalian ,aku harap kalian bisa menyelesaikan nya secara baik baik" ucap mas Rifki kembali duduk di samping ranjang ku ,setelah tadi sempat berdiri karena mengambilkan minum untuk ku


"memang sudah selesai ko"sahut ku cepat


"tapi kenapa reaksi ayah mu seperti itu?" tanya mas Rifki kemudian


"hanya ayah yang tahu" jawabku sambil menggedikan pundak ku


"ngomong-ngomong kemana si Wowo,aku tak melihat nya lagi setelah dia berjoged aneh di kafe ?" gumam ku dalam hati


"kamu kenapa Nuri?" tanya mas Rifki menatap ku


"ah tidak ko"sahutku menggeleng


"khem...maaf aku harus cepat pulang,maaf ya Nuri aku pulang duluan ,cepat lah sehat " ucap nya lalu beranjak dan pergi meninggalkan ruangan tempat ku di rawat ,setelah aku mengangguk menanggapi nya.


Hingga tak lama kemudian ayah datang dengan membawa banyak makanan , ada gorengan ,bubur ayam,nasi goreng,nasi putih beserta lauk nya ,dan bermacam kue dan roti.


"ya ampun ayah kenapa banyak sekali makanan nya ,nanti siapa yang akan menghabiskan nya ?"tanya ku ketika melihat banyak makanan yang dibawa ayah


"ya tentu saja kita semua " jawab ayah sambil melirik ke segala arah


"Haris sudah pulang ,lagian sudahlah ayah, ngapain masih di permasalahkan terus ,itu semua sudah berlalu ,ayah lihat Nuri,Nuri ga apa-apa kan" ucap ku membuat semua yang berada di dalam ruangan ini menatap ke arah ku


"ayo di makan ,maaf ya hanya seperti ini makanan nya " ucap ayah sembari mengeluarkan semua makanan nya


Mereka duduk di lantai dengan beralaskan tikar yang sudah di sediakan di ruangan itu , ruangam nya cukup luas dengan dua ranjang di dalam nya,namun ranjang di sampingku nampak kosong ,karena menurut ayah yang kata suster ,katanya pasien nya baru saja meninggal satu jam setelah aku di masukan ke ruangan ini .


"ini kamu makan bubur saja ,lebih sehat buat mu " ucap mas Rifki tiba-tiba


"makasih " sahut ku menyambut mangkuk bubur ayam


Kami pun lantas memakan makanan kami , teman-1teman mas Rifki pun semuanya nampak dekat dengan ayah ,ayah memang selalu bisa membuat orang di sekitar nya merasa tak canggung ketika bersamanya ,


mereka semua makan dengan di selingi candaan.


Di saat kami semua tengah menikmati makanan kami tiba-tiba


sreeetttt..... sreeetttt......


Tirai pemisah antara ranjang ku dengan ranjang sebelah terbuka dan tertutup dengan sendirinya, membuat kita melihat ke arah tirai yang masih bergerak


"fhuuuahh..."tiba-tiba ayah menyemburkan minum nya mengenai Bobi sedangkan Tito terbatuk karena tersedak makanan nya


"astaghfirullah halazim" seru ayah dan Tito terkejut


"ya salam ,om terkejut sih terkejut ga pake nyembur juga kali om " keluh Bobi mengelap wajah nya yang basah kuyup


"maaf ,saya kaget " sahut ayah


"itu kenapa tirai nya bergerak gerak sendiri ya ?" tanya Tito


Seketika ayah melirik pada ku , aku pun mengerti arti lirikan itu ,dan aku langsung mengangguk pada ayah.


"maaf kenapa kakek mengejutkan kami semua ?"tanya ku berkomunikasi melalui batin pada sosok kakek kurus yang duduk di ranjang kosong sebelahku


"oh jadi kakek lapar,mau makan ? '' tanya ku dan hantu kakek itu mengangguk


"tapi bagaimana cara nya kakek makan ?" tanya ku lagi


"letakan saja sedikit nasi ,lauk ,serta itu ,saya juga mau apel yang sudah di potong itu ,jangan lupa air minum nya , takut nya seret nanti, lalu letak kan di atas ranjang ini " ucap nya


aku pun menuruti kemauan nya


"ayah tolong masukin nasi nya ke piring kecil ini ,beserta lauk nya ,dan air minum nya juga " ucapku pada ayah sambil menyodorkan piring kecil yang berisi dua potongan apel pada ayah


"apa masih kurang makanan nya?"tanya ayah padaku


"bukan buat Nuri ayah " sahut ku


"lalu buat siapa ?" sela mas Rifki


"nanti saja jelasin nya" ucap ku lagi


"ini Nur ,segini cukup? soal nya kecil banget piring nya " ucap ayah


"cukup ko yah " sahut ku lalu menerima piring yang di sodorkan ayah


"kaya wanita hamil saja makan harus di piring kecil " celetuk seno


"kata siapa wanita hamil makan harus pake piring kecil?" tanya Bobi


"kata nenek ku" jawab nya


"memang nya kenapa harus pake piring kecil?" tanya Bobi lagi


"kata nya sih biar nanti jabang bayi nya ga terlalu besar dalam perut nya,gitu kata nya " tutur Seno


"ah itu mah mitos,mana ada hal seperti itu " ucap Bobi


"iya ya ,tapi terkadang omongan orang tua jaman dulu itu suka bener loh " sahut Tito kemudian


"eh syhuuutt....jangan berisik tuh si Nuri ngapain ya ?"seru Bobi yang melihat ku turun dengan di bantu mas Rifki ,dan membawa piring kecil tadi meletakan nya si atas ranjang ,di depan hantu kakek


"nih kek ,di makan ya "ucap ku seraya tersenyum pada hantu kakek itu


"kau sebut kan nama beserta bin nya biar saya bisa memakan nya" ucap nya


"nama kakek Arip bin Mahmud " ucap hantu kakek itu kemudian


"baiklah ini untuk mu kakek Arip bin Mahmud , semoga setelah ini kakek Arip bin Mahmud bisa tenang di alam sana dan di terima amal ibadah nya oleh Allah SWT, amin " ucap ku yang di Aminin juga oleh nya


terlihat kakek Arip memakan makanan nya dengan lahap


"Alhamdulillah....terima kasih makanan nya nak,semoga Allah selalu melindungi mu ,dan di jauhkan dari orang-orang yang berniat jahat terhadap mu "


"amin " sahut ku


setelah itu kakek Arip menghilang setelah sebuah cahaya putih menyelimuti tubuh nya


"Alhamdulillah" ucap ku hingga membuat semua orang bertanya pada ku


"kenapa Nuri ?" tanya mereka kompak


"eh ...ti tidak ada ,tidak apa-apa , ini makanan nya sudah " sahut ku gelagapan dan hendak memasukan nya ke dalam kantong kresek hitam


"kenapa tak di makan makanan nya ,malah mau di buang ,sayang kan ?" ucap mas Rifki


Kenapa makanan nya masih utuh meskipun sudah di makan sama kakek Arip? itu karena yang di makan kakek Arip hanya lah sari nya saja ,seperti manusia yang memiliki jiwa ,nah pada makanan pun bisa di artikan seperti itu , tentu kalian pernah melihat sesajen kan ,sesajen itu selalu utuh setelah di persembahkan dalam sebuah acara atau ritual.


"dari pada dibuang mending buatku saja"ucap


Bobi


"nih makan saja " ucapku sambil memberikan makanan bekas kakek Arip


"ko makanan nya hambar ya ,tak ada rasanya ,ini juga apel nya ko asam sih mana bau busuk " ucap Bobi seraya melepeh kan lagi apel yang tadi ia makan


"hahaha.... bagaimana rasa nya " tanya ku sambil tergelak


"ini kenapa bisa begini ? jelas-jelas tadi enak ko ,tapi setelah di pindah ke piring kecil ini malah jadi tak ada rasa nya begini " ucap Bobi terheran heran


"masa sih ?" tanya Tito


"bener nih kamu coba " ucap Bobi memberikan piring kecil itu pada Tito


"ogah ,itu bekas mu " tolak Tito


"jadi beneran makanan nya jadi hambar ?" tanya Seno


dan ayah pun berucap


" iya itu karena makanan itu bekas nya hantu"


"APA......! "


.


.


.


.


.


bersambung ....