Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 63


Disaat kepanikan melanda kami ,tiba-tiba seseorang datang dan membantuku menenangkan bapak yang terus mengerang kesakitan.


"Nuri ,pusatkan fikiran mu ,ayo bantu saya menenangkan nya, baca doa apa saja yang kau bisa ,semua yang di sini juga mohon bantuan nya ,bacakan surah apa saja yang kalian tahu " ucap nya pada ku juga pada semua yang berada di dalam kafe ini


"Wo pergilah " ucapku memerintahkan Wowo untuk menghindar ,sebab jika ia masih di sini maka ia juga akan ikut kepanasan


Wowo pun langsung menghilang ,dan aku segera membaca beberapa surah sambil memegangi tangan dan menyentuh leher bapak ini ,sama seperti yang Bu Laras lakukan , ya seseorang itu Bu Laras ,entah bagaimana beliau bisa mengetahui kejadian saat ini , tapi kedatangan nya sangat membantu ku.


Perlahan erangan nya berkurang dan aku pun tak menghentikan bacaan doa ku , hingga pada akhirnya bapak itu tak sadar kan diri .


Bu Laras nampak menyentuh kening bapak itu sambil memejamkan mata nya,dengan mulut yang komat kamit.


Entah dorongan dari mana ,aku lantas memegangi telapak tangan nya dan menekan jempol serta telapak tangan nya,sambil membaca doa yang aku sendiri tidak tahu doa apa yang aku lafalkan ,kejadian ini sama seperti dulu saat ibu tak sadarkan diri dulu ,


namun dulu aku di bantu oleh pak kyai Abdul juga Haris ,ah jadi nyebut Haris lagi kan.


tak lama kemudian bapak itu tersadar ,dan terbatuk batuk


"uhhukk uhhukk...."


"Alhamdulillah....bapak sudah tidak apa-apa ?" tanya ku seraya memberikan air putih


bapak itu pun meraih dan meminum nya


"saya sudah baik-baik saja ,terima kasih karena kamu mau menolong saya , padahal saya lah yang bersalah sudah membuat kegaduhan di sini"ucap nya menatap pada ku


"tidak apa pak ,bukan saya ko yang menolong bapak ,tapi Allah lah yang sudah menolong bapak ,lewat kami " ucap ku seraya tersenyum menatap nya


"jadi siapa yang sudah menyuruh bapak melakukan itu ?" tanya mas Rifki yang sangat penasaran


"sudah lah jangan dibahas lagi , bahaya juga buat keselamatan bapak nya " ucap ku menahan mas Rifki agar tak lagi menanyakan nya


"bahaya kenapa ?" tanya nya


"karena jika bapak ini menyebutkan siapa yang menyuruh nya maka bapak ini akan kesakitan seperti tadi bahkan nyawa nya pun jadi taruhan nya " sahut Bu Laras menjelaskan apa yang ingin ku jelaskan pada mas Rifki


"iya mas Rifki, sudahlah yang terpenting sekarang bapak nya sudah tidak apa-apa , mengenai siapa pelaku nya ,biar nanti saja Allah yang membalas nya " ucap ku kemudian


"maaf bapak-bapak ,ibu-ibu ,jika kejadian ini membuat anda semua terganggu " ucap mas Rifki melihat pada semua pengunjung kafe


"iya tidak apa-apa" ucap mereka semua


***


Selepas kejadian tadi siang di kafe ,kami semua jadi merasa was-was takut kejadian seperti tadi terulang kembali , namun Bu Laras menyampaikan untuk tidak takut dan terus fokus ,Bu Laras juga mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


"Bu Laras maaf , kenapa Bu Laras bisa datang tepat waktu?" ucap ku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya


"aku yang menghubungi Bu Laras " ucap mbak Nana menjawab pertanyaan ku


"mbak Nana " seru ku


"hm....iya ,aku tak mau kau melakukan nya sendiri yang nanti nya akan membahayakan mu ,jadi nya aku menghubungi Bu Laras , dan


maafin saya ya mas Rifki,saya sudah lancang masuk ruangan mas Rifki,itu karena saya ingin mencari no ponsel Bu Laras " ucap mbak Nana merasa tak enak


"ok tak masalah " ucap mas Rifki


Kami pun bersiap untuk pulang ,sungguh kejadian siang tadi membuat energi ku terkuras ,badan ku pun rasanya lemas sekali,di tambah kepalaku yang sedikit pusing.


aku memegangi pelipis ku memijit nya pelan


"kamu kenapa Nuri?" tanya Bu Laras


membuat mas Rifki menyelis ke arah ku


"tidak apa-apa,hanya sedikit pusing " jawabku


"apa ,kamu sakit ,ayo sini duduk , sebentar aku ambilkan minum" ucap mas Rifki seraya menuntun ku untuk duduk di kursi


"makasih" ucap ku


"ini minum dulu" ucap mas Rifki memberiku air minum dan langsung ku minum


"idiiih....mas Rifki perhatian sekali siiih ....jadi pengen deh di perhatiin juga "celetuk Agus seraya tersenyum menatap ku dan juga mas Rifki


"perhatian sama lu,idih najis" ucap mas Rifki


"iihh...jahara deh ah,ya sudah aku pulang duluan saja boleh kan ,sudah beres juga " ucap nya


"iya sana pulang ,hus hus hus" ucap mas Rifki sambil mengibaskan tangan nya


"daaah mas Rifki"ucap nya lagi sambil melambaikan tangan nya kau Agus pun pergi


"baiklah kalian juga sudah boleh pulang "ucap mas Rifki menatap pada semua teman-teman kerja ku


"baik mas Rifki" ucap nya serempak


"ya sudah saya juga mau pulang ,kalian berdua hati-hati " ucap Bu Laras seraya melangkah keluar kafe


kini tinggal aku dan mas Rifki yang masih berada di kafe


"ayo aku antar pulang "ucap mas Rifki


"ga apa-apa,lagi pula ada yang ingin aku tanya kan pada mu " ucapnya


"menanyakan apa ?" tanya ku


"banyak sih "ucap nya


"hm...baiklah " sahut ku seraya beranjak dari duduk ku


Aku pun segera memasuki mobil setelah mas Rifki membukakan pintu nya untuk ku


"oh iya ,apa yang mau mas Rifki tanyakan?" ucapku setelah mas Rifki duduk di balik kemudi nya


"astaganaga " pekik mas Rifki terkejut


"kenapa mas Rifki?" tanya ku


"i itu di belakangmu "ucap mas Rifki menujuk kursi belakang


"oh , Wowo ,mas Rifki sudah bisa melihat nya ?" tanya ku


"iya sudah "jawab nya gemetaran


"kata nya ga takut" ucap ku


"bukan takut hanya terkejut saja "sangkal nya


"mas Rifki tenang saja ,dia baik ko ,nama nya Wowo " ucap ku melirik pada Wowo


"Wowo ?" ucap nya


"iya saya ,ada apa ya ?" tanya Wowo menatap mas Rifki


"si siapa yang manggil kamu ?" ucap mas Rifki kemudian


"sudah lah ,tadi apa yang mau mas Rifki tanyain ?"tanya ku kemudian


"heeehhhh...... baiklah aku tak takut " ucap nya menenangkan diri nya sendiri


"begini Nuri ,tadi pada saat di kafe aku mendengar si Wowo bicara pada hantu nenek-nenek itu , maksud nya apa ya ,aku tak faham " ucap mas Rifki sambil melirik ke arah Wowo sekilas


"apa mas Rifki tahu mengenai kafe , maksud ku apa Bu Dewi mengatakan apa gitu tentang kafe ?" tanya ku


"maksud nya , memang ada apa dengan kafe ?" tanya mas Rifki balik


"ada seseorang yang mengirimkan guna-guna,hingga selalu ada saja kejadian di luar nalar ,dan menurut Bu Dewi hal itu sudah terjadi dari dua bulan yang lalu "terangku


"apa , lalu untuk apa orang itu mengirimkan guna-guna?" tanya nya


"ya untuk apa lagi kalau bukan membuat kafe nya tutup " sahut Wowo


"siapa yang sudah melakukan nya?"gumam nya


"entahlah tapi sepertinya dia orang terdekat ,karena jika orang jauh dan tak mengenal dekat ,dia tidak akan mengirim guna-guna itu ,dia akan cenderung melakukan serangan nya secara terang-terangan ,tak sembunyi di balik ilmu ghaib" ucap ku


Dan mas Rifki nampak manggut-manggut mendengar penuturan ku


"iya kau ada benar nya "


"lalu ....duh apa ya ,ko aku jadi lupa ,mau nanya apa"ucap nya bingung sendiri


Dan akhirnya sampai juga di depan kosan ku ,terlihat pak Urip tengah berdiri di depan gerbang.


Namun hal tak terduga terjadi ,mas Rifki nampak terkejut melihat pak Urip


"mas Rifki kenapa ?" tanya ku menyentuh pundak nya


"itu pak Urip , kenapa?" tanya nya


"mas Rifki masa ga tahu ,kan mas Rifki sudah bisa melihat nya dari kemarin , kenapa baru terkejut sekarang ?" ucap ku


"maksud mu apa ?" tanya nya nampak bingung


"pak Urip itu hantu " ucap ku


" APA...!!!"


.


.


.


.


.


.


.


bersambung...