Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
gagal pelet


Sebenarnya aku bingung kenapa mas Rifki malah memanggil petugas kebersihan, tapi aku tak ingin banyak bertanya dulu ,ayo kita lihat apa yang akan mas Rifki lakukan dengan petugas kebersihan itu .


tok tok tok


"masuk " ucap mas Rifki


seseorang berseragam petugas kebersihan memasuki ruangan .


"ada apa ya pak?" tanya nya


"bapak ini, kemarin panggil tuan ,sekarang pak, kenapa gak nak aja " gurau mas Rifki


"hehehe.....emang boleh ?"


"ya senyaman nya bapak saja lah " sahut mas Rifki


"oh iya saya minta tolong boleh?" tanya mas Rifki


"tentu ,ada apa ya pak?"


"itu teman saya dia pingsan ,bapak bisa bantu saya buat angkat dia ,soalnya saya ada istri pak , dia gak nge bolehin saya nyentuh wanita lain " ucap mas Rifki melirik ku


"tapi ini sebaiknya bapak makan lah dulu biar ada tenaga buat angkat dia " ucap mas Rifki lagi


"ah gak usah pak, saya langsung angkat saja " tolak nya


"gak apa-apa,ini makan dulu " ucap mas Rifki lagi


Kemudian aku mengangguk pada bapak Didin saat beliau melirik pada ku ,dan akhirnya setelah membujuk nya ,pak Didin akhirnya mau untuk makan makanan yang Sabrina bawa .


"eeeeeuuuggghhh...."


"duh maaf ,maaf saya keceplosan, habis makanan nya enak ,maaf saya jadi tak sopan " ucap nya merasa tak enak


"gak apa-apa ko, saya juga suka seperti itu ,bersendawa setelah makan kan wajar pak " ucap ku


"ya sudah kalau begitu bapak bisa angkat dia sekarang ,dan bapak antar ke rumah nya " ucap mas Rifki


"mas tahu rumahnya ?" tanya ku


"tidak "


"oh" sahutku seraya tersenyum


"kenapa ko tersenyum " tanya nya memiringkan wajahnya memandang ku


"itu tandanya mas gak pernah datang ke rumah nya " jawab ku


"uluh-uluh mas kira apaan"ucap mas Rifki menarik hidung ku pelan


"iiih....mas Rifki malu sama pak Didin " ucap ku


"pak, ini mau di bawa kemana ?" tanya pak Didin lagi


"terserah bapak aja ,saya juga gak tahu alamat rumah nya " ucap mas Rifki


"lah , bagaimana ini " gumam nya


Belum juga pak Didin mengangkat tubuh wanita itu ,Sabrina sudah bangun dari pingsan nya .


"uuh....." lenguh nya


"aaakkhhh.....pocong ....." teriak nya tak sadar memeluk tubuh pak Didin


"Rifki .....Rifki aku takut tadi di sana ada pocong " ucap nya dengan suara yang bergetar


"eh '' pak Didin kebingungan


"duh mbak nya ngapain meluk saya mbak, saya jadi deg degan nih " ucap pak Didin


sontak membuat Sabrina melepaskan pelukan nya .


"hah ko bukan Rifki "


"emang bukan ,kamu fikir aku akan diam saja kalau suami ku di peluk-peluk wanita lain " ujar ku


"iiiih kamu lagi kenapa diam saja aku peluk" seru Sabrina mendorong pak Didin


"habis mbak nya wangi ,cantik lagi ,mbak nama nya siapa " ucap pak Didin kemudian


"iiiihh.....apa sih " ketus nya


"namanya Sabrina pak " sahut ku


"wah namanya bagus mbak , kalau saya namanya Didin " ucap pak Didin


"eh bodo ya, siapa juga yang nanyain situ " ketus nya lagi


"Rifki aku mau pulang ,anterin dong ,aku masih takut " ucap nya seraya menatap mas Rifki


"maaf tapi aku tidak bisa "tolak mas Rifki


"lagian pocong darimana ,kamu ini jangan mengada-ada deh " tambah ku


"siapa yang mengada-ada orang tadi aku lihat ko tuh di sana , hiiiy ..... serem " tunjuk nya pada tempat dia melihat bang Popo


"udah deh mbak sama saya saja , yuk" pak Didin menarik tangan Sabrina ,meskipun Sabrina memberontak menolak nya tapi tarikan pak Didin cukup kuat juga hingga Sabrina mau tidak mau mengikuti pak Didin sampai keluar dari ruangan .


"yaaah.....segitu doang ngerjain nya ,gak seru akh" keluh ku lalu mendudukan diriku di kursi kerja mas Rifki


"memangnya kenapa ?" tanya mas Rifki seraya berdiri di depan ku dengan kedua tangan nya di letakan di kedua sisi kursi


"gak tahu rasa nya belum puas aja ngerjain nya " ucap ku dengan bibir cemberut


"kamu ih kenapa jadi jahil begini sih " ucap mas Rifki lagi


"mas ,kenapa mas ngasih makanan itu ke pak Didin ,kan kasihan pak Didin mas " ucap ku


"oh " sahut ku singkat


tok tok tok


sedang kita berbincang pintu ruangan di ketuk dari luar


"sudah diam ,mau kemana " cegah mas Rifki saat aku hendak beranjak dari kursi kerja


"tapi gak enak masa aku yang duduk di sini " ucap ku


"sudah gak apa-apa"


"masuk " mas Rifki memerintahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk


ckleek


"permisi pak bos ,maaf mengganggu " ucap karyawan nya


"iya ada apa " tanya nya dengan tangan yang di masukan sebelah ke saku celana nya sedangkan yang satu nya lagi memegangi sandaran kursi yang ku duduki


"ini berkas-berkas lamaran kerja yang pak bos minta tadi " ucap nya seraya meletakkan beberapa map di meja


"ok terima kasih ,kamu boleh kembali" ucap mas Rifki


"baiklah ,saya permisi pak bos ,Bu bos " karyawan itu pun keluar


"mas buka lowongan pekerjaan ?" tanya ku


"iya ,kenapa kamu mau daftar juga ?"


"enggak , di bagian apa ?" tanya ku


"sekretaris" jawab nya


"kamu tenang saja aku carinya yang cowok ko, gak mau aku cari yang cewek " ucap nya lagi


"benarkah " tanya ku antusias


"ehm.....aku gak mau istri mas yang paling cantik ini merasa cemburu dan tak nyaman "mas Rifki mengangguk


"makasih mas " sahut ku


"eh mas itu apa ya ?" tanya ku melihat ke kolong meja kerja mas Rifki


"apa "


"itu "


Mas Rifki pun berjongkok untuk melihat benda apa yang ada di bawah meja nya


"ini apaan di bungkus beginian ?" tanya mas Rifki


"coba sini aku lihat " ucap ku seraya meraih benda itu


sebuah benda apalah itu yang dibungkus kain putih ,dengan perlahan dan pemasaran aku mulai membuka tali yang melilit nya ,hingga terbukalah dan ternyata isi nya foto mas Rifki berukuran 3x4 dan satu bunga kantil .


"wah gak bener ini , ini jelas Sabrina memang berniat melet kamu mas ,gak lewat makanan , pake jalur lain " ucap ku seraya melempar nya


..................


Kini aku baru saja sampai di rumah , setelah selesai mandi dan segala macam aku dan mas Rifki memutuskan untuk berjalan-jalan sore di sekitar kompleks .


"kalian mau kemana ikut dong " ucap bang Popo di saat aku dan mas Rifki hendak melangkah ke luar pagar


" mau jalan-jalan " sahut ku pelan


"ikut " ucap nya lagi


"ya ikut ikut saja " sahut mas Rifki


"yeee.... akhirnya bisa ikut jalan-jalan " bang Popo menggoyangkan kepalanya


"loooh ko kalian gak pake mobil ,memangnya mau kemana ?" tanya bang Popo lagi


"kami jalan-jalan nya gak jauh ko, hanya sekitaran sini saja" ucap ku lagi


"yaaah kirain mau pergi kemana gitu kalau deket-deket mah gak jadi ikut lah saya ,mending di sini saja jaga rumah " ucap nya seraya melompat ke atas pagar


"ya sudah ,yuk mas keburu Maghrib nanti "


Akhirnya aku dan mas Rifki berjalan keluar menyusuri jalanan kompleks, banyak juga ibu-ibu, anak-anak dan para lansia yang juga sedang berjalan-jalan seperti ku .


Namun ada satu hal yang membuat aku merasa tak nyaman


"kamu kenapa?" tanya mas Rifki yang selalu peka dengan perubahan wajah ku


"tak tahu mas tiba-tiba aku ngerasa ada yang ngikutin kita " ucap ku


"ya sudah kalau begitu kita pulang aja yu " ajak mas Rifki


"ehm...iya mas " sahut ku


kita pun memutuskan untuk pulang ,namun saat kita masuk pekarangan rumah,tak sengaja aku melihat seorang kakek-kakek tengah melihat ke arah ku , eh bukan , bukan pada ku tapi ......


.


.


.


.


.


bersambung