Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 72


Suara itu terdengar sangat keras sampai terdengar ke luar kafe , sampai orang yang berada di luar pun berlari ke dalam untuk memastikan apa yang mereka dengar.


Dan suara itu berasal dari ruangan Bu Dewi , aku yang terkejut pun lantas berlari ke dalam ruangan Bu Dewi begitu pun dengan orang-orang , mereka juga sama penasaran nya dengan ku.


Saat ku membuka pintu nya aku melihat Bu Dewi sudah tergeletak di lantai dengan posisi tertelungkup.


"astaghfirullah halazim....Bu Dewi !!!" seru ku langsung menghambur dan meraih kepala beliau ku letakan di pangkuan ku


"Bu,....ibu..." seru ku sambil menepuk-nepuk pelan pipi beliau


"ya ampun Bu Dewi " seru yang lain


Segera ku raih tangan nya ,dengan memejamkan mata, ku coba melafalkan beberapa doa sambil terus memusatkan perhatian ku untuk meminta pertolongan pada Tuhan Yang Maha Esa.


Namun saat aku memejamkan mata ku ,aku malah melihat Bu Dewi tengah merintih dengan seluruh tubuh nya terlilit ular besar ,aku berjalan cepat menghampiri nya


"to ...long ...." suara Bu Dewi terbata karena pasokan udara yang berkurang karena lilitan ular itu


"lepaskan dia " seru ku menatap tajam ular itu


terlihat mata ular itu memancarkan cahaya merah memperlihat kan kemarahan nya .


"sshhh...... jangan kau ikut campur " ucap ular itu berbicara sambil berdesis


"aku berhak ikut campur " ucap ku seraya mengangkat kedua tangan ku sambil berdoa meminta pertolongan Allah


Ku lafalkan surah Al Baqarah, dan An-Nas seraya terus mendekati nya , hingga ku sentuh ujung ekor dari ular itu,dan ular itu seketika menjerit ,memeka kan telinga ku ,hingga akhir nya ular itu melepas kan lilitan nya dan Bu Dewi nampak terbatuk-batuk seraya menghirup oksigen.


"ayo kita pulang " ucap ku seraya membantu nya bangkit dan seketika aku membuka mata ku sudah ada Bu Laras duduk di depan ku dengan sebelah tangan nya yang juga menyentuh tangan ku yang menggenggam tangan Bu Dewi


"kau berhasil Nuri "ucap Bu Laras tersenyum melihat ku


"kalian ayo bantu baringkan di sofa " ujar Bu Laras pada orang orang yang berada di dalam


Setelah Bu Dewi berhasil di baringkan di sofa, tiba-tiba seseorang muncul dengan panik


"mah ,mama ....mama kenapa tante?"tanya mas Rifki menatap pada Bu Laras


"mama mu tidak apa-apa ,hanya pingsan saja" ucap Bu Laras


Ku oleskan minyak angin pada telapak tangan dan kaki nya ,tak lupa aku pun menaruh jari telunjuk ku yang di olesi minyak angin pada kedua lubang hidung Bu Dewi.


"emmhh..." suara lenguhan Bu Dewi


"Alhamdulillah akhirnya ibu bangun juga " ucap ku bersyukur , hingga aku tanpa sadar mengusapkan tanganku pada wajahku ,dan aku terlupa jika tangan ku habis menyentuh minyak angin.


Sesaat kemudian rasa panas dan perih pada mataku membuat aku mengaduh


"duh ....panas ...adududuh ....perih "


" kamu kenapa ?"tanya mas Rifki dan Bu Laras barengan


"aku lupa tangan ku bekas minyak angin, duh panas " aku pun beranjak menuju toilet


Sesampai nya di toilet aku pun membasuh muka ku ,sampai benar-benar tak merasakan panas lagi.


Aku pun beranjak dari dalam toilet, saat aku berada di luar nampak beberapa orang menatap ku ,aku yang di tatap pun merasa kikuk ,namun aku tetap melangkah kan kaki ku seraya terus tersenyum pada mereka.


"duh kenapa mereka pada nglihatin ku begitu sih ?" keluh ku saat aku sudah ada di dalam pantry


"Nuri , kamu di panggil Bu Dewi tuh " seru Selly pada ku


"iya "sahut ku


"Nuri di panggil mau ngapain ?" tanya Agus


"gak tahu ,mau di nikahkan kali " ucap nya asal


"hus ....ngaco kamu " seru ku seraya berlalu meninggalkan pantry dengan membawa secangkir teh hangat


"di nikahkan apa nya ,baru saja aku dapat ultimatum dari Bu Dewi , dasar Selly " dengus ku pelan


"jangan menggerutu saja ,cepat atasan mu sudah menunggu " ucap Wowo terdengar di telinga ku


"mana tuh hantu,suara nya doang "batin ku


"aku di rumah ku lah ,aku tak mau kesana ,takut di masukan kendi lagi" ucap nya


Aku pun mengetuk pintu ruangan Bu Dewi dengan membawakan teh manis hangat , untuk Bu Dewi


"ini bu di minum dulu selagi hangat " ucap ku seraya menyerahkan segelas teh manis hangat itu


"enggak ko bu hanya pakai madu saja itu pun hanya satu sendok "ucap ku


dan Bu Dewi lantas meminum nya


"terima kasih ya " ucap nya


"iya Bu " ucap ku seraya menerima gelas kosong ,karena Bu Dewi meminum nya sampai habis


"maafkan ucapan saya tadi ya , saya tidak bermaksud menyinggung mu " ucap Bu Dewi tiba-tiba


"memang nya mama bilang apa ?" tanya mas Rifki ingin tahu


"masalah perempuan ,iya kan Bu " sahut ku


"ah iya ,masalah perempuan " ucap Bu Dewi


"tapi kenapa mama minta maaf ?" tanya mas Rifki lagi


"enggak ko bukan apa-apa " sahut ku lagi menatap sekilas pada mas Rifki


Aku hanya tak ingin karena masalah ini ibu dan anak itu jadi bertengkar hanya karena aku , ah hello Nuri siapa anda, Pe De sekali anda ' fikirku


"beneran gak ada apa-apa ?" tanya mas Rifki melihat padaku juga pada Bu Dewi


"khem ...." suara Bu Laras membuat kami bertiga melirik ke arah nya


"kau itu jangan terlalu banyak fikiran ,fikiran mu yang kacau itu memudahkan mereka untuk mengganggu mu ,beruntung Nuri gerak cepat ,dan bisa membawa mu kembali ,coba kalau tak ada dia ,aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada mu nanti " tutur Bu Laras menatap Bu Dewi


"hm...iya.... sebenarnya siapa sih yang berani menusuk ku dari belakang " ucap Bu Dewi seraya menghela nafas nya


"memang mama habis dari mana sampai Nuri harus membawa kembali mama ?" tanya mas Rifki bingung


"heh...jelasin nya susah kamu juga ga bakalan mengerti , kamu itu ngerti nya cuma wanita saja " ucap Bu Laras mengejek mas Rifki


"ah tante ....." mas Rifki mensengus


"mas Rifki" ucap ku membuat mas Rifki dan Bu Dewi menatap pada ku


"waktu itu aku pernah bilang kan tentang kafe yang selalu di ganggu teror " ucap ku


"iya ,lalu,....apa ini ada hubungannya?" tanya nya


"iya ,mas ,tadi bahkan nyawa ibu Dewi dalam masalah" ujar ku


"dalam masalah ?" gumam nya pelan


"iya mas ,tapi sekarang untuk sementara ibu Dewi aman , tapi Bu ...." ucap ku menetap Bu Dewi


"kenapa ?"tanya Bu Dewi menatapku


"fikiran ibu jangan sampai kosong, selalu isi hati ibu dengan zikir ,tapi mohon maaf sebelum nya Bu ,bukan maksud ku untuk ..."


"iya tak apa ,saya mengerti "ucap Bu Dewi memotong kata-kata ku


"dan terima kasih kamu sudah datang tepat waktu" ucap nya tulus


Aku hanya tersenyum menanggapi nya, syukurlah sekarang Bu Dewi baik-baik saja ,tapi aku masih bisa merasakan hawa panas di sekitar tempat ini ,dan seperti nya Bu Laras juga merasakan nya ,hingga Bu Laras menatap ku ,dan menganggukan kepala nya ,aku sendiri tak tahu apa maksud nya,


tapi tiba-tiba Bu Laras berucap


"Nuri ayo buat makhluk itu pergi " seru Bu Laras


Aku mulai membacakan beberapa surah Al-Qur'an , disertai Bu Laras yang juga fokus akan bacaan nya ,hingga terdengar suara dentuman keras , namun aneh nya dentuman itu hanya terdengar oleh kita berdua saja .


Dan akhirnya aku maupun Bu Laras mengucap syukur karena keadaan sudah normal kembali ,tapi tak menutup kemungkinan ,akan datang teror lain nya .


"Alhamdulillah......"


.


.


.


.


.


bersambung ...