Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 7


Ku kucek dan ku kerjap kan mataku berkali kali berharap apa yang ku lihat itu salah,tapi apa yang aku lihat ternyata memang dia adalah


"ibu....."ucapku lirih


Tak tahan rasanya melihat keadaan nya, kedua tangan di ikat di sisi kiri kanan begitupun dengan kedua kakinya.


Sakit sesak itu yang kurasa melihat orang yang paling aku sayangi dalam keadaan seperti itu air mataku pun meluncur dengan deras nya.


Kulangkah kan kakiku berlari mendekat ke tempat ibu berada, tapi semakin ku melangkah semakin jauh saja jarak antara aku dan ibu.


Ku langkah kan terus kaki ku walau semakin berat ku rasa kan,hingga


selangkah


dua langkah


Dan akhirnya aku sampai di depan ibu,tatapan nya kosong, ku raih tangan ibu yang terikat mencoba untuk membuka nya ,hingga ikatan di kedua tangan dan kaki ibu berhasil terlepas ,namun aku tiba-tiba terkesiap ketika berbalik melihat para penduduk yang mula mula tatapannya sama kosong tiba-tiba menatapku penuh amarah tatapan nya tajam tersenyum menyeringai bak harimau kelaparan menatap mangsanya siap menerkam


"Aaaaakkkkkhhhh...."mereka teriak bersama


sontak langsung ku tutup mata dan kedua telingaku


"hah...hah.....hah...." aku terbangun dari tidurku rupanya sudah pagi,cahaya matahari pun sudah menerobos celah jendela kamarku


"oh aku kesiangan lagi, Alhamdulillah itu hanya mimpi "lirih ku dengan nafas yang memburu


ku sibak kan selimut ku lalu turun dari ranjang


"Aauuuuwww...." Ups.......aku lupa ada yang tidur dibawah


"duuh...sakit ....eh Kunti turun lihat-lihat dong nih kaki ku ke injek "keluh Ifel yang tak sengaja ke injek kakinya


"maaf aku lupa kamu tidur disini,hehe..."cengir ku langsung keluar kamar


"loh ayah mau berangkat kerja hari ini bukan nya besok berangkatnya?"tanyaku yang melihat ayah sudah rapih dengan tas gendong di tangan nya


"iya Nur tadi malam atasan ayah nelpon nyuruh berangkat pagi ini,kamu jaga ibu ya hubungi ayah kalau ada apa-apa, satu lagi harus akur dengan adik kamu" pesan ayah


Ya hari ini hari dimana cuti nya selesai padahal masih ada waktu satu hari lagi tapi mengingat ini perintah atasan nya mau tidak mau ayah harus berangkat,untuk memperjelas ya ayah bekerja di kota di perusahaan mebeul,pulang tiap satu bulan sekali kadang 2 bulan sekali dan lamanya cuti lumayan lah seminggu.


Ayah pun juga berpesan yang sama pada Ifel minta aku dan Ifel akur dan Ifel pun meng iya kan namun aku ragu iya nya itu iya apa,iya bakalan akur atau iya ga janji akur.


Angkutan umum berhenti depan rumah aku,ibu,Dede dan juga Ifel bergantian menyalimi ayah,hingga akhirnya angkutan umum yang ayah tumpangi melaju hilang di ujung jalan.


Tok...tok...tok...


"assalamualaikum....."


kami yang sedang nonton tv diruang tengah serempak melihat ke arah suara


"waalaikum salam..."jawabku


aku pun langsung menyalami mereka dan mempersilahkan masuk


"sebentar ya paman , kakek,Nur panggil ibu dulu" pamitku


"loh dek,bapa Maryam kangen(Maryam nama ibuku) langsung menghambur memeluk kakek


"kami dapat kabar katanya mbak sakit,sakit apa mbak"tanya paman kemudian setelah tadi banyak berbincang ngaler ngidul


Ibu pun menceritakan semua dari awal hingga sekarang keadannya


kakek nampak menghela nafas sedangkan paman mengerutkan keningnya seperti memikirkan sesuatu


Hingga akhirnya paman mengusulkan pengobatan untuk ibu


"begini mbak bagaimana kalau kita coba periksakan lagi ,besok saya jemput kita ke rumah sakit biar jelas nah nanti setelah dari rumah sakit kita ke tempat kenalanku,jangan khawatir temanku itu seorang kyai dia pasti mengerti dengan apa yang terjadi pada mu mbak,masalah biaya jangan hiraukan itu biar saya yang nanggung"ucap paman


"gak usah terima kasih mbak ga mau ngerepotin "jawab ibu


"loh ngerepotin apanya mbak,aku justru senang bisa bantu mbak,mbak adalah kakak satu- satu nya pengganti ibu yang sudah almarhum"jelas paman


"benar kata adikmu Mar,sudah percayakan saja semua pada bapak dan adikmu ini" kata kakek


"ya sudah deh terserah kalian"jawab ibu pasrah


Masya Allah aku terharu melihat kedekatan paman dan ibu , mereka tampak saling menyayangi dan menghormati , coba aku dan Ifel juga seperti itu damai rasanya dunia,eh tapi kalau kita ga berantem rumah jadi sepi dong hahaha....duh mikir apaan sih aku


"Bruk Bruuk Bruuuukkkk...."


kali ini hanya aku dan paman yang mendengar,kami saling pandang kemudian paman berucap


"sudah jangan hiraukan itu" kata paman sambil berbisik


aku mengangguk saja sebagai jawaban


.


.


.


.


.


.


bersambung....