
Ifel merasa tak habis fikir kenapa kedua orang beda generasi itu malah mengucapkan kata Alhamdulillah di saat Nuri tergeletak pingsan , dengan memasang wajah sinis Ifel memperhatikan kedua orang beda generasi itu saat kedua nya berusaha membangunkan Nuri .
"eeehhh.....mau apa kamu ,sini biar aku saja yang angkat dia " seru Ifel saat melihat Haris hendak menggendong tubuh Nuri
Dengan mengerahkan tenaga nya Ifel pun mengangkat tubuh Nuri dan di letakan di blankar ,beruntung karena postur tubuh Ifel lebih tinggi dari Nuri jadi tidak begitu sulit buat nya untuk menggendong kakak nya .
"ternyata dia masih membenci ku , tapi tak apa ,aku pantas mendapatkan nya " lirih Haris dalam hati
"Kun.... Kunti ...." Ifel menepuk pelan pipi nya
"kamu adiknya Nuri kan ,kenapa kamu panggil dia Kunti ?" tanya Laras yang mulai kesal dengan tingkah Ifel
"sudah kebiasaan " sahut nya
dengan menghembuskan nafas nya Laras pun berucap
"tenang saja Nuri baik-baik saja ,kakak mu hanya kelelahan , dia sudah berjuang untuk melawan rasa sakit di tubuhnya ,kini semuanya sudah selesai , mereka yang selalu membuat teror dan menyakiti Nuri sudah mendapatkan balasan atas perbuatan nya , tunggu saja sampai besok pagi , Nuri pasti akan bangun " tutur Laras sembari memijat pelan telapak tangan Nuri
Ifel nampak diam ,dan mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu,hingga tiba-tiba saja ia mendongak dan menatap wajah Laras .
"apa maksud ibu , si Kunti...dia....eh Nuri di santet orang ?" tanya nya
"ehm....ya sudah lebih baik sekarang kamu istirahat ,saya juga tidak akan pulang dulu, dan kamu ...." Laras menatap Haris
"saya akan pulang " sahut Haris cepat
"baguslah sana cepat lah pulang " usir Ifel dengan nada ketus
Tanpa berkata-kata lagi Haris pun meraih daun pintu dan langsung keluar setelah ia membuka pintu itu .
Di balik pintu Haris nampak meremas dada nya ,hati nya sakit saat melihat tatapan kebencian dari adik mantan kekasih nya itu,tapi ia tidak bisa untuk membenci atau pun membalas kata-kata nyelekit yang keluar dari mulut Ifel ,ia sadar dan tahu betul jika diri nya lah penyebab kebencian itu .
Dengan langkah gontai nya ia berjalan ke arah ruangan Rifki ,dilihat nya dari kaca di pintu ,Rifki yang masih terpejam dengan selang-selang di tubuh nya.
"kamu harus kuat Rifki ,berjuanglah untuk kembali,bertahan lah untuk Nuri ,aku akan membantu mu lewat doa" lirih nya
Setelah mengucapkan itu , Haris pun memutuskan untuk pergi ,tanpa ia sadari kata-kata yang keluar dari mulut nya itu terdengar oleh Maman yang memang tidur di atas kursi panjang di depan ruangan ICU .
"ternyata apa yang aku fikirkan selama ini salah" ucap nya menatap kepergian Haris
..............................
"eeehgghhh..." Nuri mengerjapkan mata nya saat telinga nya menangkap suara ribut
Matanya menyipit melihat sesuatu di dekat pintu kamar mandi , matanya langsung terbuka lebar saat melihat sosok kuntilanak merah tengah mencengkram erat leher seorang wanita
"Lasmi ,apa yang kau lakukan ?" sentak Nuri hingga membangunkan Laras juga Ifel
Laras melihat jam di pergelangan tangan nya
"jam empat subuh" gumam nya ia pun menengok ke arah Nuri dan turut mengikuti arah pandang nya
"astaga"
"ada apa sih ?" gumam Ifel juga melihat ke arah yang sama ,namun ia tak melihat apa pun
"lepas kan dia ,apa yang kamu lakukan ?" seru Nuri
"dia ingin menyakiti mu ,aku hanya mencoba melindungi mu " sahut Lasmi dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari sosok wanita itu
"ternyata benar jika kamu bersekutu dengan setan " ujar wanita itu ,dan kata-kata itu pun jelas tertuju pada Nuri
"kamu....." Nuri tak lantas melanjutkan ucapan nya ,ia merasa sangat familiar dengan suara itu
"iya aku Sabrina, puas kamu melihat ku sudah menjadi setan " seru nya seraya menghempaskan tangan Lasmi yang sedari tadi mencengkram nya
"ka...kamu.... bagaimana mungkin ...." Nuri tergagap
"aku mati juga karena mu" Sabrina melotot tajam pada Nuri
"kematian mu bukan salah Nuri ,dia hanya membela diri nya , seharusnya kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan " ucap Laras menyela
"baiklah anggap saja aku kalah ,tapi ingat aku tidak akan membiarkan mu menang begitu saja , aku akan membawa Rifki bersama ku ,hahaha" Sabrina pun pergi meninggalkan suara tawa nya yang menggema di ruangan itu
"kenapa dengan kalian , ini ...kenapa jadi merinding ,...apa di sini ada hantu ,kalian melihat hantu kan ....iya kan ?" Ifel memutar kepalanya ke seluruh penjuru kamar ,namun ia tetap tak dapat melihat apa pun , tak ada sahutan dari Nuri atau pun Laras mereka berdua larut dalam fikiran nya masing-masing
Hingga akhirnya Nuri memutuskan untuk pergi ke ruangan Rifki
"eh Kunti.... kamu mau kemana ?" seru Ifel saat melihat Nuri tergesa-gesa keluar dari kamar
"eh Bu....Bu ...duh siapa sih tadi nama nya haduh lupa lagi nama nya " Ifel menepuk jidat nya karena lupa
"Fel ....ada apa ?" tanya Maman ,ia pun merasa terkejut saat melihat Nuri berlari sambil manggil Rifki menuju ke arah nya ,karena memang Maman tidak tidur
"gak tahu yah " sahut nya
di dalam ruangan
"Bu ....bagaimana ini ,aku takut mas Rifki...." Nuri tak sanggup lagi melanjutkan kata-kata nya ,hatinya begitu sakit dan hancur saat membayangkan hal buruk yang akan menimpa suami nya
"serahkan semua nya pada Allah , jika belum saat nya maka Rifki pasti akan kembali pada kita ,tapi jika takdir nya hanya sampai di sini ,kita harus ikhlas " lirih Laras
"enggak Bu ....ini tidak boleh ... mas ....ku mohon mas .....mas Rifki harus bangun " Nuri menangis tersedu-sedu dengan menggenggam erat tangan Rifki
"ya Tuhan ....aku mohon sembuhkan suami ku, kebalikan dia pada ku ,aku belum siap kehilangan nya, jangan ambil suami ku " Nuri menjerit dalam hati nya
Ia tak sanggup membayangkan akan hidup tanpa orang yang ia cintai , apalagi bayinya juga belum kembali ,Nuri merasa dunia nya runtuh saat ini ,ia selalu bersikap tegar saat cobaan selalu datang menimpa nya ,tapi kali ini ia merasa sudah tak sanggup lagi ,ia takut benar-benar merasa takut .
"mas Rifki....aku mohon kamu harus kuat ,kamu harus kembali ,ayo bangun ,kita cari Gibran sama-sama,mas jangan tidur terus .... aakkhh"
"Nuri .... kamu kenapa?" Laras panik saat melihat Nuri meringis sambil memegang kepalanya
"ayo duduk dulu " ajak laras menuntun Nuri untuk duduk di kursi ,namun mungkin karena kondisi Nuri yang belum stabil,ditambah Nuri yang terlalu berfikir sangat keras hingga membuat nya stres ,Nuri pun tak sadarkan diri sebelum menyentuh kursi .
"astaga ....Nuri....Nuri bangun Nuri ..."
Maman yang melihat itu dari kaca pintu pun langsung masuk dan membopong tubuh tak sadarkan Nuri ke ruang rawat nya .
Pagi pukul 08:00 Dewi dan Maryam sudah berada di depan rumah sakit .
baru saja keduanya keluar dari lift mereka melihat beberapa dokter juga perawat berlarian.Perasaan Dewi menjadi sangat kacau saat melihat dokter dan perawat itu berlari menuju ruang ICU tempat Rifki di rawat .
"tidak....Rifki "lirih nya
Wanita paruh baya itu berlari dan berhenti tepat di depan pintu
"ada apa ini ? apa yang terjadi pada Rifki ?" tanya nya pada besan nya ,Maman yang sedari tadi menunduk ,nampak sekali kekhawatiran di wajah nya
"tadi Rifki kejang-kejang ,dan....dan.....
"dan apa.....?" tanya Dewi menyela
"detak jantung nya sempat berhenti "
"apa...." Dewi luruh ke lantai,ia menangis pilu saat mendengar kabar mengenai Rifki
begitupun dengan Maryam ,ia juga ikut menangis ,ia juga sudah sangat menyayangi Rifki seperti menyayangi anak-anaknya
"mbak ....kita berdoa semoga Rifki baik-baik saja ,kita serahkan pada Allah " hibur Maryam meraih pundak besan nya itu
ceklek
pintu terbuka , dokter pun keluar dengan raut wajah sulit di artikan
"dokter bagaimana anak saya ?" tanya Dewi
terdengar helaan nafas dari dokter itu sebelum menjawab pertanyaan nya
"maaf Bu,pak , kami para dokter hanya perantara ,kami sudah melakukan yang terbaik tapi ... Tuhan berkehendak lain "
"APA....!!! ini tidak mungkin ,dokter bercanda kan ?" seru Dewi meninggikan suara nya
"sekali lagi saya minta maaf " sesal sang dokter
"mas Rifki..." rupanya Nuri sudah berada di sana ,namun karena mereka terlalu fokus pada Rifki ,mereka jadi tak menyadari kedatangan Nuri
BRUUKKK........
"Nuri ....."
.
.
.
.
bersambung