
Mas Rifki nampak mengerutkan kening nya saat aku menanyakan tentang siapa wanita bernama Sabrina itu .
"siapa Sabrina mas ,mas kenal degan nya ?" tanya ku lagi
"tahu darimana kamu nama itu ?" bukan nya menjawab mas Rifki malah membalikan pertanyaan nya padaku
"jawab saja mas , siapa dia ?" tanya ku lagi dengan air mata ku yang tak bisa ku tahan ,sungguh aku sedikit berprasangka buruk sekarang ,aku takut jika mas Rifki mempunyai hubungan dengan wanita bernama Sabrina itu
"hey ko malah nangis " mas Rifki dengan lembut mengusap pipi ku
"dengarkan aku baik-baik ya , aku sama dia sudah tidak ada hubungan apa-apa,dia hanya lah mantan ku saja , tapi memang akhir-akhir ini dia sering sekali menemui ku , tapi kamu tenang saja , hanya kamu yang ada di sini " ucap mas Rifki meraih tangan ku lalu meletakan nya di dada nya .
"tapi ...kenapa mas Rifki sampai menyebut nama nya saat mas tidur ?" tanya ku lagi
"apa , kapan ?" tanya nya
"semalam , mas juga bersikap aneh padaku,bahkan mas juga sampai bentak aku " ucap ku lagi
"oh itu , aku sendiri juga tak tahu sayang ,kenapa aku seperti itu ,tapi aku sudah minta maaf kan " ucap nya hingga aku mengerutkan kening
"kapan mas Rifki meminta maaf ?" tanya ku , pasal nya aku sama sekali tak merasa mendengar kata maaf dari mas Rifki , bangun tidur pagi-pagi sekali dia langsung berangkat tanpa sarapan lebih dulu ,dia mengabaikan ku begitu saja , jadi kapan dia meminta maaf .
"semalam kan aku bilang maaf ,dan kamu memaafkan ku " ucap nya lagi
Sungguh aku benar-benar tidak mengingat nya , entahlah mungkin aku yang lupa .
"kapan terakhir kali wanita bernama Sabrina itu menemui mu ?" tanyaku
"hm...tadi pagi , sebenar nya tadi saat aku pulang dia juga datang tapi aku berhasil menghindar dari nya jadi gak sampai ketemu " jawab nya
"memang nya apa keperluan nya dia sampai harus selalu menemui mu ,apa kalian ada kerja sama ?" tanya ku lagi
"tidak , dia datang hanya ingin memberikan ku makanan saja "
"dan mas menerima nya ?" tanya ku
"iya ,tapi aku berikan lagi pada orang lain " jawab nya kemudian
"mas gak bohong kan ?" tanya ku
"ya enggak lah ,masa aku bohong sih "
"mas ,maafin aku ya , aku sempat berfikir buruk tentang mas Rifki" ucap ku kemudian
"iya, tak apa , harus nya aku yang meminta maaf ,aku sudah membuat mu sedih " ucap mas Rifki seraya memeluk ku
"bagaimana keadaan anak kita di sini,dia baik-baik saja kan ?" tanya mas Rifki seraya mengusap perut ku
"iya dia baik-baik saja " jawab ku tersenyum
.........
Kini malam pun menyambut
Aku yang baru saja membaringkan tubuhku di tempat tidur, di susul mas Rifki , tiba-tiba di kejutkan dengan suara ledakan dari luar
Duuaaarrr.....
Suara nya sangat kencang ,hingga rumah pun terasa bergetar .
"astaghfirullah halazim,suara apa itu mas ?" tanya ku
"gak tahu , sebentar aku lihat "
"aku ikut " seru ku memegangi tangan nya
"baiklah "
Kemudian aku dan mas Rifki menuju ke luar balkon ,dengan tangan mas Rifki yang tak melepaskan tangan ku.
"ada apa Wo , suara ledakan apa tadi ?" tanya ku pada Wowo yang berdiri sisi kiri ku
"seseorang telah berusaha mengirim guna-guna ke rumah ini , tapi kau tak usah khawatir karena banyak yang menjaga mu juga rumah ini ,keluarga ini aman karena ..." ucapan Wowo terhenti sejenak
"karena apa ?" tanya mas Rifki
"karena para leluhur kalian juga ikut menjaga kalian juga rumah ini , dan ledakan itu dihasilkan dari bola api dan kekuatan para leluhur kalian yang saling beradu " tutur Wowo
"bola api " gumam ku
Aku jadi teringat saat bang Popo terjatuh dari atas pagar ,bang Popo mengatakan dia jatuh karena terkena bola api,apa mungkin waktu itu juga , bola api itu kiriman orang tak bertanggung jawab .
"kamu kenapa sayang ?" tanya mas Rifki menyadarkan ku dari lamunan
"aku ingat sesuatu mas ,kemarin bang Popo terjatuh dan bang Popo bilang dia terkena bola api" sahut ku
"apa " mas Rifki nampak terkejut
"kenapa kamu baru bilang sekarang?" ucap mas Rifki lagi
"gimana mau bilang ,orang mas nya juga nyuekin aku , mama dan mbok Marni juga sampai mengira kalau kita sedang berantem " sahut ku manyun
"aku ...."
"kamu terkena pelet " ucap Wowo tiba-tiba menyela ucapan mas Rifki
"hah pelet?" seru ku dan mas Rifki
"iya, waktu itu kamu berhasil terhindar dari pelet itu karena kamu tak memakan makanan dari wanita itu , tapi pada saat kalian makan di restoran waktu itu ,kamu memakan nya, beruntung pelet itu lemah , dan hanya sekali kau memakan makanan nya ,tapi jika sering tak tahu juga lah,mungkin Nuri akan nangis dibuat nya" jelas Wowo lagi
"dan beruntung juga kalau belum sempat memakan makanan mu ,karena yang tercampur di makanan mu adalah obat pelemah janin,kau akan kehilangan janin mu jika memakan nya" tambah Wowo
"apa " aku merasa lemas di kaki ku saking terkejut nya jika saja mas Rifki tak memegangi ku mungkin aku sudah terjatuh ke lantai .
"sayang kau tak apa-apa"
"aku tidak apa-apa mas hanya terkejut saja " sahut ku seraya memegangi perut ku
"apa wanita itu yang bernama Sabrina " tebak ku
"aku tak tahu siapa nama nya yang jelas wanita itu lah yang mencoba memberi mu makanan di kantor mu waktu itu " ucap Wowo
"Sabrina , wanita itu , benar-benar keterlaluan, aku akan melaporkan nya ke polisi " geram mas Rifki
"tapi kita tidak mempunyai bukti mas " ucap ku
"iya juga ya"
"sudah lah mas ,kita jangan buang waktu kita untuk meladeni nya , kita serahkan saja semuanya pada yang di Atas , kita pasrahkan semua nya, yang harus kita lakukan sekarang hanya lah mempertebal iman kita , agar kekuatan jahat apa pun tak bisa mengusik kita "
ucap ku menenangkan mas Rifki yang terlihat nampak emosi terlihat dari urat lehernya yang terlihat timbul dengan mengeratkan rahang nya , hal ini sama seperti saat mas Rifki mengetahui kejahatan Tante nya terhadap almarhum papa nya .
"jadi apa mungkin bola api itu juga kiriman dari Sabrina ?" tanya ku
"bisa jadi" sahut Wowo
.
.
.
.
.
bersambung