
.
.
.
Setelah seharian aku di sibuk kan dengan pekerjaan pertamaku ,akhirnya aku bisa bernafas lega setelah kafe ini tutup, kafe hanya buka dari pukul 08:00 sd 17:00,sedangkan khusus malam Minggu buka sampai pukul 12 malam dan ada live music juga katanya ,namun bukan berarti aku bisa langsung pulang juga ,masih ada sisa pekerjaan yaitu membersihkan dan membereskan seluruh isi kafe ,agar besok nya tak terlalu repot dan menyita waktu ,aku pun manut saja .
Ku kerjakan apa saja yang menurut ku bisa ku kerjakan ,dan tak lama kemudian akhirnya selesai juga ,kafe sudah nampak rapi dan bersih bahkan peralatan dapur pun sudah bersih dan sudah tersusun rapi pada tempat nya , ternyata jika di kerjakan ramai-ramai pekerjaan tak terasa melelahkan tapi malah sebalik nya.
Kini jam sudah menunjukan pukul enam lewat dua puluh menit ,setelah aku melaksanakan shalat Maghrib di mushola yang tak jauh dari kafe aku pun segera menghubungi ayah untuk menjemput ku.
Sku duduk di depan kafe tempat ku bekerja sambil memainkan ponsel ku ,aku bersenandung kecil , namun tiba-tiba ekor mataku melihat ada seseorang yang duduk di samping kiri ku .
Ku tolehkan kepalaku namun tak ada siapa pun di samping kiri ku,
perasaan ku mulai tak enak jantungku juga berdetak lebih cepat , aku mulai merasa was was dan gelisah.
"duh ayah kenapa lama banget sih " keluh ku sambil terus memperhatikan sekitar,
sinar matahari mulai meredup ,lampu-lampu di sepanjang jalan sudah mulai menyala dan dalam sekejap hari pun berubah menjadi gelap ,namun tak ada tanda-tanda ayah datang.
Aku pun mencoba untuk menghubungi ayah , namun sial nya batre ponsel ku habis
sampai akhirnya ayah datang juga dan aku mulai bernafas dengan lega.
"syukurlah ayah datang juga "ucapku senang
"maaf ya nyur, tadi macet banget" ucap ayah
"iya ayah tak apa ,kalau begitu ayok kita pulang"ajak ku
*
*
Pukul delapan malam aku dan ayah baru sampai ,aku pun langsung bergegas ke kamar mandi yang di khususkan untuk perempuan ,karena memang ada beberapa pekerja yang mengikut sertakan istrinya ada yang bekerja namun ada juga yang sengaja ingin melayani para suaminya, seperti memasakan makanan dan mencuci pakaian nya.
Setelah selesai mandi aku berwudhu untuk mengerjakan shalat isya , saat aku hendak keluar lagi-lagi pintu kamar mandi nya kembali tak dapat ku buka .
"ini kenapa lagi sih " keluh ku menarik-narik gagang pintu nya
Tiba-tiba perasaan ku mulai tak enak ,degup jantungku semakin cepat , kurasa kan bulu-bulu halus ku meremang , sambil kulantun kan sholawat serta beberapa doa ,akhirnya pintu dapat terbuka.
"Alhamdulillah" syukur ku
aku pun kembali ke kamar ,
"loh kamu habis dari mana?" tanya ayah baru datang ketika aku baru memasuki kamar
"dari kamar mandi yah, habis mandi "sahut ku
"tapi tadi kan kamu sudah datang , makanya tadi ayah pergi ke warteg beli nasi buat kita makan " ucap ayah heran
"ah enggak ko ,malah Nuri kembali ke kunci di dalam kamar mandi "tutur ku
"yang bener kamu nur?" tanya ayah tak percaya
"iya ayah masa sih Nuri bohong , ya sudah Nuri mau shalat isya dulu,ayah sudah shalat?"
"sudah ko tadi " sahut ayah
aku pun segera melaksanakan shalat nya
"beneran kamu Nur,baru kembali dari kamar mandi ?"tanya ayah lagi setelah aku selesai menunaikan shalat
"iya ,yah emang kenapa sih ?" tanya ku
"haduh berarti yang tadi itu siapa , ko mirip banget sama kamu, ayah ajakin ngobrol juga kamu ga ngerespon ,ayah fikir kamu lagi kecapean " tutur ayah lagi
"sudah lah yah ,jangan di fikirin, yang jelas itu bukan Nuri"sahut ku
"ya kalau bukan kamu siapa ?"
"ya hantu mungkin " jawab ku asal
"haduh Nuri jangan bikin ayah takut dong" keluh ayah
"yeee....ayah yang selalu bilang sama Nur jangan takut, sekarang ayah yang takut" ucap ku
"hehe...kan ayah ga bisa melihat seperti kamu" ucap ayah
"hah ya sudahlah kalau begitu mari kita makan " seru ku sambil menuangkan makanan yang ayah beli pada piring
dan kami pun segera memakan makanan kami.
***
Malam ini semua teman kerja ayah termasuk ayah sedang bermain kartu untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja ,ada juga sebagian dari mereka tengah membuat api unggun.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang datang sambil berteriak heboh
"woy....lihat apa yang aku bawa "teriak nya
"lihat dong lihat aku bawa daging nih ,mari kita bakar-bakar "ucap nya lagi
"wuuiiiihhh.....abis beli daging nih ,tahu aja perut ku sedang lapar " seru bang Tono
"ah elu tiap lihat makanan aja pasti bilang nya lagi laper" cela bang Udin
"bukan beli tapi dapat di kasih orang " ucap nya girang
"di kasih orang ,emang daging apa an itu?" tanya ayah ikut penasaran
"ga tahu lah kata nya ini daging ga bisa di pake,tapi masih seger ko" jawab nya
"lah ko bisa ga tahu daging apa , emang siapa yang ngasih?" tanya ayah lagi
Aku pun hanya menyimak sambil menonton televisi,karena pintu kamar nya sengaja ku buka karena gerah.
"dari pendagang bakso di tikungan jalan sana"ucap bang Parjo
Meskipun baru beberapa hari aku sudah tahu dan hafal nama-nama setiap orang di sini
"coba sini aku lihat daging nya " ucap bang Tono , lalu meraih bungkusan kresek hitam yang di tenteng bang Parjo.
Bang Tono memperhatikan dengan seksama ,ia lalu mendekatkan ke arah api unggun lalu beralih ke arah lampu neon yang menggantung di atas kami.
Bang Tono pun meletakan bungkusan kresek hitam yang berisikan daging itu ke atas meja
"wah parah ....parah ...parah ..parah..." ucap nya
"apa nya yang parah?" seru bang Parjo
"itu daging babi " ucap bang Tono
"hah yang bener luh " seru bang Udin dan bang Beni barengan
Bukan hanya bang Udin yang terkejut tapi semua orang yang berada di sini pun sama terkejut nya
"iya, coba deh perhatikan baik-baik, nih ya kalo daging sapi itu padat dan berserat ,tapi daging babi memiliki lemak dan cenderung lebih elastis, lemak dalam daging babi juga ga bisa dipisahkan dari daging nya" tutur bang Tono sembari mengeluarkan daging nya memperlihatkan pada kami.
"ah so tahu kamu "ucap bang Parjo tak percaya
" Yee di bilangin malah ga percaya"ucap bang Udin pula
"terus ni daging babi nya mau di apain?" tanya bang Parjo kemudian ,
"ya kita buang saja ,kita kubur "ucap ayah memberi usul
"hah baiklah ,ga jadi deh kita bakar-bakar nya " ucap bang Parjo kecewa
"eh tadi lu bilang daging ini di kasih penjual bakso di tikungan sana ,kalo ga salah penjual nya pasangan suami istri yang merantau dari daerah Pati Jawa tengah" ucap bang Udin
"iya bener mereka yang ngasih ni daging " jawab bang Parjo mengangguk
"waduh berarti selama ini kita ketipu dong, bakso yang sering kita makan ternyata bakso babi" ucap bang Beni
"jangan asal berasumsi bisa saja mereka juga ga tahu daging yang mereka gunakan itu daging babi" seru ayah menyela pembicaraan mereka
"iya juga ya tapi......."
Belum sempat bang Beni menyelesaikan kalimat nya suara benda berjatuhan mengejutkan mereka termasuk aku yang sedang menonton acara televisi.
Mereka celingukan dan berpencar mencari ke arah suara nya, namun tak ada benda apa pun yang terjatuh .
Di saat mereka kembali ke tempat duduk nya tiba-tiba angin berhembus kencang memadamkan api unggun yang tengah menyala , samar-samar terdengar derap langkah banyak orang ,namun semakin di tajam kan pendengaran ku semakin hilang suara nya ,rupa nya bukan hanya aku yang mendengar ,mereka yang tengah mengelilingi api unggun pun juga diam tergegun.
"HUAAHAAHAAA..........." suara tertawa menggema membuat mereka termasuk ayah semua nya lari masuk ke dalam kamar masing masing.
Entah keberanian dari mana saat semua orang lari ketakutan aku justru malah mendekat ke arah suara itu ,ku langkah kan kaki ku pelan
semakin dekat, semakin dekat dan....
Aku tersentak mataku terbelalak setelah melihat apa yang ada di depan mataku
dia.....
makhluk itu....
adalah .........
.
.
.
.
.
.
bersambung