Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 55


.


.


.


Aku melihat mereka semua tertegun setelah mendengar ucapan ayah ,dengan serempak mereka semua melihat ke arah ku.


"hadeuh gara-gara ayah nih ,kenapa mesti bilang yang sebenarnya sih ,gimana aku jelasin nya " batin ku


"kenapa kalian melihat ku seperti itu? " tanya ku yang tiba-tiba jadi salah tingkah


"ah tidak ko, sebaik nya kamu istirahat ,dan kalian segera lah pergi dari sini jangan ganggu istirahat ayanx embeb " ucap mas Rifki seraya melirik ke arah ku


"uhuk uhuk...." ayah tersedak mendengar ucapan mas Rifki


"ayah pelan-pelan dong minum nya " ujar ku mengusap pelan punggung ayah


"khem ...ayah tidak apa-apa ko" ucap ayah yang masih terbatuk


"baiklah kalau begitu kita semua pamit ya ,cepat sembuh ,om kami pamit " ucap seno pada ku dan ayah


Aku dan ayah pun mengangguk setelah itu mereka lalu beranjak dan pergi meninggalkan ruangan tempat ku di rawat.


"kalian ada hubungan ,seperti pacaran ?" tanya ayah menatap bergantian pada ku juga pada mas Rifki


"iy.....


"engga yah ,mas Rifki hanya bercanda " ucap ku mendahului ucapan nya mas Rifki,karena aku tau pasti mas Rifki akan bicara yang bukan bukan


"beneran pun tak apa " ucap ayah santai membuat mas Rifki jadi tersenyum menatap ku


"apa " ucapku tanpa bersuara dengan mengkerut kan alis ku


"sudah ah ,Nuri mau tidur saja ,ayah mending pulang dan kembali bekerja ,Nuri ga papa ko,mas Rifki juga lebih baik ke kafe " ucap ku meminta dua laki-laki ini pergi.


"hari ini hari Minggu Nur, ayah libur " ucap ayah


"kafe juga tutup tiap hari Minggu " ucap mas Rifki juga


"ya sudah ,jangan ganggu Nuri,Nuri mau tidur" ucap ku seraya merebahkan tubuh ku dan aku pun lalu terlelap dalam tidur ku , mungkin karena reaksi dari obat yang tadi aku minum menjadikan ku ngantuk dan cepat tertidur.


"tooolooonng...."


Aku mengerjapkan mataku yang baru saja terpejam ,dengan nafas tersengal dan keringat yang mengucur deras membasahi tubuh ku


"kamu kenapa Nuri ?"


"KUNTILANAK "ucap ku terkejut dengan tubuh ku yang berlonjak karena suara yang tiba-tiba menyapa ku


"astaga naga ...ya ampun Nuri hampir copot jantung ku ,mana dimana ada kuntilanak,duh jadi horor ini " ucap mas Rifki sambil celingukan


"hehe...maaf ,aku terkejut karena tiba-tiba saja mendengar suara mas Rifki,eh ayah mana ?" tanya ku karena tak melihat ayah di ruangan ini


"oh ayah mu tadi minta izin untuk pulang dulu mau bawain pakaian ganti buat mu ,kau tenang saja aku sudah minta seseorang buat antar ayah mu " terang mas Rifki


"oh " sahut ku


"ngomong-ngomong kamu kenapa ,apa kamu mimpi buruk ,sampai-sampai tadi kamu berteriak menyebut kuntilanak" ucap mas Rifki bertanya pada ku


"tidak ko, aku hanya terkejut saja " sahut ku


Aku pun kembali terdiam sambil memikirkan tentang mimpiku yang di mintai pertolongan seseorang ,tapi aku tak tahu siapa ,tapi jika di dengar dari suara nya ,seperti nya itu suara Wowo, ada apa dengan nya ,ku coba berkonsentrasi untuk memanggil Wowo namun hantu itu tak menampakan dirinya.


"kemana perginya tuh hantu " gumam ku dalam hantu


"Nuri .." panggil mas Rifki


"hm ...iya kenapa ?" tanya ku melirik ke arah nya


"tidak ,hanya ingin manggil saja "ucap mas Rifki sembari tersenyum sambil mengedipkan satu mata nya


"hah mulai lagi deh konslet nya" batin ku


"Nuri......"


"Nuri....tolong aku "


"Wowo " batin ku menyahut


"iya tolong aku Nuri ..." ucap nya lagi


"memang nya kamu kenapa ,apa yang terjadi pada mu ?" tanya ku dalam hati


"seseorang telah menangkap ku dan memasukan ku dalam kendi ,tolong temukan aku dan keluarkan aku dari sini "ucap nya


"baiklah aku akan menolongmu ,tapi aku harus mencarimu kemana ?"tanya ku lagi


"seperti nya aku berada di dalam tanah" ucap nya


"apa kau yakin " tanya ku lagi


"iya aku sangat yakin ,karena aku sangat mengenali bau nya ,dan seperti nya juga aku berada di tanah kuburan " ucap nya lagi


"tanah kuburan" gumam ku


"apa tanah kuburan ?" seru mas Rifki yang ternyata mendengar ucapan ku


"mas Rifki,nanti aku bisa minta tolong ga " tanya ku ragu


" oh boleh tentu saja boleh ,apa sih yang engga untuk mu calon bidadari ku, apa yang bisa mas mu ini bantu ? " ucap mas Rifki


"ih mas Rifki ,aku serius" ucap ku kesal


"iya aku juga serius?" ucap nya lagi


"nanti setelah aku keluar dari sini ,mas Rifki bisa tolong antar aku ke TPU terdekat ? " ucap ku


"memang nya mau apa ke sana ,apa kamu mau berjiarah ?" tanya nya dan aku langsung menggeleng


" terus mau apa?" tanya nya bingung


"mau ngubur buaya darat " ucap ku asal


"nih lihat buaya darat nya " ucapku sambil memberikan cermin kecil yang sengaja ku hadapkan di depan wajah nya


"lah aku dong " ucap nya sambil memperhatikan pantulan wajah nya pada cermin kecil yang ia pegang


"khikhikhi......nah itu tahu" ucap ku terkikik geli


"tega kamu ya ,ngatain aku buaya darat , aku itu bukan buaya darat tapi ..."


"playboy" sahut ku memotong ucapan nya


"itu fitnah Nuri cantik ,aku itu hanya sedang mencari cewek yang benar-benar cocok dengan ku ,mau nerima aku apa adanya ,tanpa melihat status dan rupa ,emang sih aku ini tampan ,tapi aku tak mau asal pilih " tutur nya


"ya tetep saja di mata orang ,mas Rifki itu playboy " sahut ku


"terserah lah orang mau berkata apa ,toh mereka tak pernah tahu tentang ku ,yang mereka tahu hanya menilai dari luar nya saja " tutur nya lagi


"iya juga sih" balas ku


Aku pun kembali terdiam ,memikirkan untuk menolong Wowo ,seekor hantu eeeh se sosok hantu yang mau berteman dengan ku.


Ngomong-ngomong teman hantu ,aku jadi teringat pada sosok hantu gadis kecil di sungai tempat biasa aku memancing , Briana nama nya, dan dia berkebangsaan Belanda.


Jika bisa aku akan membawa nya ke sini untuk menemani ku ,tapi sayang nya ia tidak bisa pergi kemana-mana , seperti nya ada sesuatu yang menghalangi nya untuk tak pergi jauh dari area sungai.


"kamu sedang memikirkan apa sih ,seperti bingung begitu ?" tanya mas Rifki yang ternyata memperhatikan ku


"aku hanya bingung bagaimana cara menolong teman ku , TPU itu kan tempat nya luas ,dan belum tentu juga dia berada di TPU yang nanti ku tuju " ucap ku tanpa sadar


"TPU ? apa teman mu tukang gali kubur?" tanya nya


Namun aku malah terdiam mengabaikan nya hingga dia mencubit hidungku ,membuat ku terkejut.


"ih mas Rifki" ucapku menepis tangan nya


"lagian kamu di tanyain malah melamun " ucap nya


"ngelamunin apa sih?" tanya nya , namun saat ingin mu jawab seseorang datang sambil tersenyum ke arah ku


"Bu Laras....."seru ku


"bagaiman keadaan mu , maaf saya baru bisa menengok mu ,ada sesuatu yang harus saya bereskan di kafe nya Bu Dewi , eh ada kamu juga di sini " ucap Bu Laras sambil melirik mas Rifki


"tak apa ko Bu Laras,memangnya ada apa lagi di kafe ?" tanya ku


"semalam Bu Dewi menghubungi saya katanya kamu di bawa ke rumah sakit karena tertimpa lampu,maka nya saya langsung datang , dan sesampai di kafe saya melihat ada dua makhluk disana , yang satu berhasil kabur dan yang satunya lagi berhasil saya tangkap dan di masukan ke dalam kendi , lalu ..." ucapan Bu Laras terhenti karena aku memotong pembicaraan nya


"Bu Laras menanam nya di tanah kuburan" seru ku


"dari mana kamu tahu?" tanya Bu Laras


"karena dia temanku, nama nya Wowo" sahut ku


"teman mu ? kenapa bisa kamu berteman dengan nya ?" tanya Bu Laras namun belum sempat ku jawab tiba-tiba mas Rifki menyela


"ini maksudnya apa sih ,teman mu siapa ,kenapa bisa di masukan ke dalam kendi ?" tanya nya bingung


"apa mas Rifki yang memberi tahu Bu Dewi tentang ku?" tanya ku mengalih kan pertanyaan nya


"iya ,karena mama berpesan untuk terus menjaga mu ?" ucap nya


"menjagaku ?" tanya ku mengulang ucapan nya


"iya ,mungkin mama meminta ku untuk menjaga calon menantu nya" ucap nya


"aduh...kenapa aku di timpuk ?" keluh nya


karena aku melemparkan bantal ku tepat di wajah nya


"mas Rifki ih ,bisa ga sih ga bercanda terus " ucap ku kesal


"siapa yang bercanda ,aku serius ko" sahut nya


"sudah sudah ini kenapa jadi ribut sih , hati-hati nanti jodoh loh " ucap Bu Laras malah meledek kami


"amiiiin "ucap mas Rifki mengamini


"haaaahhh.....ko bisa ya Bu Dewi punya anak seperti ini " lirih ku


Bu Laras nampak menahan senyum nya setelah mendengar keluhan ku


"akhirnya dia lupa kan dengan pertanyaan nya tadi ,repot juga jika aku harus menjelasakan " gumam ku


"Bu Laras ,ibu menanam kendi itu di TPU mana ,dan sebelah mana?" bisik ku


"di TPU terdekat dengan kafe , kamu lurus saja dan berbelok ke arah kanan jika kamu sudah melewati makam ke tujuh dari makam pertama saat kamu masuk area TPU" ucap Bu Laras kembali berbisik pada ku


"setelah itu kamu akan menemukan dua batu berjajar nah di sela-sela batu itu lah kendi nya di tanam " tutur Bu Laras lagi


"baiklah akan aku ingat " ucap ku


"kalian berbisik ngomongin apa sih , pasti ngomongin ketampanan ku kan " ucap nya PD


aku pun lantas berpandangan dengan Bu Laras lalu bilang


" Percaya Diri sekali kau " ucap kami berdua


"hahahaha " kami berdua pun tergelak bersama


.


.


.


.


.


.


bersambung......