
.
.
.
Akhirnya pekerjaan hari ini berjalan dengan lancar setelah tadi pagi hingga siang ada sedikit gangguan ,
kami pun segera merapikan isi kafe untuk bisa segera pulang ke rumah masing-masing.
"perhatian semua nya " seru Bu Dewi saat setelah kami selesai
"untuk beberapa waktu ke depan saya tak akan datang ke kafe" ucap Bu Dewi kemudian
"loh kenapa Bu,memang nya ada apa ?" sahut
mbak Nana bertanya
"orang tua ibu di luar kota sedang sakit ,jadi ibu harus merawat nya " ucap Bu Dewi
"terus ini nanti kafe nya bagaimana Bu,kalau ibu ke luar kota ?"tanya ku
"Rifki anak ibu yang akan menggantikan ibu " sahut Bu Dewi yang langsung di sambut dengan senang oleh semua teman kerja ku
"beneran Bu,mas Rifki yang menggantikan ibu ?" tanya Selly antusias
"iya " jawab Bu Dewi lagi
"yeeee......kita semakin semangat deh kalau begitu ya kan " sorak nya sambil melihat semua yang ada di sini
"tapi Bu kalau nanti ada sesuatu yang aneh-aneh lagi gimana?" tanya ku risau
"kamu tenang saja Bu Laras akan selalu siap jika ada sesuatu dan lagi sekarang kan ada kamu juga " ucap Bu Dewi
"tapi Bu..." sergah ku
"sudah lah jangan berfikir yang macam-macam " sahut bu Dewi lagi yang membuat semua orang memandang bingung pada ku
"baiklah kalau begitu kalian bisa pulang " ucapnya mempersilahkan kita semua pulang
"maksud bu dewi apa sih tadi ?" tanya Mbak Nana ketika kami sedang menunggu angkot
"yang mana mbak?" tanya ku
"itu loh yang kamu tanyakan,hal-hal apa maksud nya , terus ada apa dengan Bu laras ?"
aku pun menceritakan tentang pengunjung tak kasat mata pada mbak Nana
"apa ....ja jadi sepi nya pelanggan tadi itu karena ada hantu yang nyamar ,waduh lama-lama horor juga tu kafe " ucap mbak Nana nampak syok
"shuuuttt....jangan kencang kencang,nanti ada yang denger " desisku setengah berbisik
"memang nya kenapa ?" tanya Mbak Nana
"karena menurut ku,ini sengaja kiriman seseorang yang tak ingin melihat usaha kafe nya Bu Dewi itu maju " ucapku berbisik
"iya kah? ih jahat bener sih , tapi siapa ya pelaku nya ?" tanya mbak Nana
"siapa pun itu ,aku yakin dia adalah orang terdekat Bu Dewi ,jika tidak ya mana mungkin dia bermain secara halus begini,dia ingin menghancurkan usaha bu dewi tapi tak mau ketahuan , akan berbeda lagi kasus nya jika orang itu tak kenal dekat dengan Bu Dewi ,pasti dia akan melakukan nya secara terang-terangan kan " tutur ku
"iya juga ya ,kamu ada benar nya ,jadi itu alasan kenapa Bu Laras selalu bola balik ke kafe" ucap nya lagi sambil mengangguk-nganggukan kepalanya
"tapi mbak jangan bilang siapa-siapa ya ,cukup kita saja , cukup aku ,mbak Nana,Bu Laras ,dan Bu Dewi saja ,jika ada orang lain yang mengetahui nya aku khawatir teman-teman yang lain nya pada takut dan keluar dari kafe ,yang nanti malah akan menguntungkan si pengirim teror itu " tutur ku lagi
"ok baiklah ,kau boleh percaya pada ku "ucap mbak Nana kemudian
"nah itu angkot nya sudah datang ,aku duluan ya" ucap mbak Nana seraya menaiki angkotnya , karena memang arah kami berbeda jadi kami pun berpisah di halte.
Bseeett...
Sekelebat bayangan hitam tiba-tiba melintas di sampingku , ku tengok ke segala arah tak ada siapa pun di sini ,hanya aku yang duduk sendirian di sini .
"ini lama bener sih angkot nya ,sebentar lagi mau Maghrib lagi " keluh ku sambil sesekali melihat ke jalanan
Lalu ku buka ponselku untuk menghubungi ayah agar ayah tak mencemaskan ku ,namun ketika sedang mencari nomor ponsel ayah tiba-tiba saja sesuatu mengejutkan ku
"KUNTILANAK...." pekik ku
"aku Wowo ,bukan kuntilanak" seru nya
"dasar setan kenapa dia mengagetkan ku dengan muncul tiba-tiba " keluh ku dalam hati sambil tangan ku masih menyentuh area d*d* ku
"jangan mengumpat apalagi mengatai ku setan ,aku bisa dengar isi hati kamu tahu" ucap nya dengan nada kesal
"maaf " ucap mu pelan sambil menunduk , aku masih takut sih sebenarnya,tapi ini kenapa genderuwo itu malah berlaku sok akrab dengan ku
"sebentar lagi datang ko angkot nya " ucap nya
"iya " jawab ku yang masih tertunduk
"kau tak usah takut padaku,aku tak berniat jahat pada mu ,malah aku sedang melindungi mu dari incaran makhluk jahat itu " seru nya sambil menunjuk ke arah hantu nenek-nenek yang pernah ku lihat di dalam kafe saat pertama kali memasuki kafe.
"astaghfirullah halazim" ucap ku karena malihat hantu nenek-nenek itu menatap ku tajam ,wujud nya sih biasa saja seperti seorang nenek pada umum nya ,dengan mengenakan pakaian kebaya hitam dengan kain lurik yang sama hitam nya dan rambut yang ia sanggul rapi ,namun karena tatapan mata nya yang sangat tajam dan dalam,membuat nya terlihat sangat menyeramkan.
"jangan kau ucapkan kalimat itu di dekat ku ,panas " keluh Wowo mengibas-ngibaskan tangan nya ke wajahnya
Aku hanya meringis sambil mengatupkan kedua tangan ku ,tak lama kemudian angkot pun datang , dibarengi dengan berkumandang nya suara adzan Maghrib.
"ini lagi malah tambah panas,baik lah sekarang kau naik lah ke angkot ,nenek tua itu tak akan bisa mengikuti mu lebih jauh lagi ,aku juga harus cepat pergi ,panas panas panas...." ucap nya kepanasan lalu menghilang dari pandangan ku
"dasar setan " batin ku sembari masuk ke dalam angkot nya
Angkot pun berhenti di depan gapura ,dan aku langsung turun setelah membayar ongkos nya , aku pun berjalan ke depan melewati beberapa pedagang angkringan yang berjajar di samping kiri kanan jalan.
Hingga sampai lah aku di depan pintu gerbang tempat kerja ayah ,dan sudah nampak ayah yang tengah menunggu ku pulang.
"assalammualaikum" ucap ku sambil meraih tangan ayah menyalami nya
"wa alaikum salam"jawab ayah
"gimana kerja hari ini ?" tanya ayah
"Alhamdulillah lancar ko yah " sahutku tak memberi tahu keadaan sebenarnya
"syukurlah kalau begitu ,ya sudah yu kita masuk" ajak ayah
Akupun berjalan beriringan dengan ayah ,setelah sampai di kamar aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri ku sekaligus berwudhu.
***
Setelah selesai aku pun meraih makanan yang sudah ayah siap kan untuk ku ,hah jadi tak enak ,harus nya kan aku yang menyiapkan nya untuk ayah ,eh ini malah sebalik nya.
Setelah itu aku pun mengistirahatkan tubuh ku, ku baringkan tubuh lelah ku di atas kasur lipat yang tak terlalu tipis juga tak terlalu tebal,namun cukup membuatku nyaman.
Tak terasa mataku mulai berat dan pandangan ku mulai buram ,hingga tak terasa aku pun tertidur (ini cerita nya sudah shalat isya ya )
.
.
.
bersambung