Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 73


Tak terasa kini sudah dua bulan aku bekerja di kafe ,seperti biasa selalu ada saja hal-hal di luar nalar yang terjadi di kafe ,entah itu pagi sebelum kafe buka , maupun siang ataupun sore menjelang tutup.


Namun hari ini aku merasa ada yang aneh saat memasuki kafe ,dari pagi sampai sore aku tak lagi merasa kan aura negatif , entah aku harus merasa senang atau malah sebalik nya , yang jelas perasaan ku sungguh tak enak , apalagi setelah pertemuan ku dengan seorang wanita yang datang bersama Bu Dewi .


Kata mbak Nana wanita itu bernama Puri , dan Bu Puri adalah adik sepupu Bu Dewi.


Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan nya , saat bertatapan dengan nya aku merasa kan mual dan sakit di ulu hati ku , apalagi jika berdekatan dengan nya.


Aku selalu berusaha menghindar dari nya ,namun seperti nya ia sengaja ingin aku berada di dekat nya ,ada saja alasan nya agar aku datang menemui nya di ruangan Bu Dewi .


"maaf Bu , ada apa ya ?" tanya ku saat aku sudah berada di ruangan Bu Dewi , Bu Puri yang sedang membaca majalah pun menyelis ke arah ku ,dengan senyum nya yang aneh menurut ku ia berucap


"tak ada apa-apa ,saya hanya ingin di pijit , kau bisa kan , tenang saja akan ku beri upah ko" ucap nya meminta ku untuk memijit nya


"bisa ko Bu , tapi tak usah di kasih upah ,saya ikhlas ko" ucap ku merasa tak enak


"baiklah ,pijat bagian pundak ku" ucap nya lalu berpindah ke sofa ,dan duduk menghadap jendela


Aku pun beranjak setelah melihat ke arah Bu Dewi yang menganggukan kepala nya pada ku


"hati-hati Nuri ,aku bisa merasakan aura negatif dari nya" seru Wowo memperingati ku


"hm,iya aku juga bisa merasakannya" sahut ku dalam hati


"ku ucapkan bismilah sebelum menyentuh pundak Bu Puri , lalu melafalkan surah Al-Baqarah , An-Nas,serta Al ikhlas ,dan tak lupa doa tolak bala ku lantunkan dalam hati ku


"aakkhh...." pekik Bu Puri saat aku menyentuh pundak nya


"ada apa Bu ,apa aku menyakiti mu ,aku belum memulai pijitan nya padahal " ucap ku


"kau ini bikin kaget saja ,kenapa sih ?" seru Bu Dewi yang merasa terkejut dengan teriakan Bu puri


"tidak , apa-apa ko ,hanya sedikit terkejut " ucap nya


"terkejut ,kau ada-ada saja" ucap bu Dewi kembali fokus pada layar laptop nya


"maaf Bu apa mau dilanjutkan?" tanya ku agak ragu


"ya kau lanjutkan lah " sahut nya kembali membelakangi ku


"ku lantunkan lagi bacaan surah ku ,saat ku hendak menyentuh pundak nya, kembali ia berteriak


"aaakkhhhh...." teriak nya lebih kencang dari tadi


"astaga kau ini kenapa sih " kesal Bu Dewi


"entah lah kenapa pundak ku rasa nya sakit dan panas saat di sentuh oleh nya" ucap Bu Puri seraya bangkit dan menunjuk ku


"maaf Bu ,tapi aku tak melakukan apa-apa ,aku bahkan baru menyentuh nya belum memijit" ucap ku membela diri


"tapi kenapa rasa nya panas dan sakit saat kau menyentuh ku ,apa jangan-jangan kau memiliki ilmu hitam" tuduh nya


"astaghfirullah halazim,...tentu saja tidak Bu " sergah ku


"sudah , sudah apa an sih kamu ini, baiklah Nuri sekarang coba kau sentuh pundak ku " ucap Bu Dewi meminta ku untuk menyentuh nya


aku pun menuruti dan menyentuh pundak Bu Dewi


"mana ,aku tak merasakan apa-apa , kau ini " ucap Bu Dewi menatap malas pada Bu Puri


"benarkah,kalau begitu kau coba lagi menyentuh ku " ucap nya menyodorkan tangan nya ke depan ku


aku pun kembali menyentuh nya tentu nya dengan kembali melafalkan doa dalam hati ku


"aaakkh..." pekik nya lagi


"ini kenapa sih ,siapa kamu sebenarnya " tanya nya melotot pada ku sambil mengusap ngusap tahan nya


"aku......"ucapan ku terjeda


"Nuri ...... Sekar..... Mirah...." lanjut ku pelan nyaris tak terdengar ,


Entah kenapa aku bisa menyebut kan nama itu ,aku merasa ada yang mengendalikan ku saat aku mengucapkan nama itu .


Bu Puri lantas membelalakan mata nya menatap ku


"tidak mungkin ?" gumam nya


aku pun tersadar saat Bu Puri beranjak dan pergi ke luar dari ruangan ini


"loh itu Bu Puri mau kemana ?" ucap ku


"sudah lah biarkan saja ,maafkan dia ya Nuri" ucap Bu Dewi meminta maaf untuk adik sepupu nya itu


"ah iya tidak apa-apa ko Bu " ucap ku


"baiklah kalau begitu,saya permisi ya Bu mau lanjut bekerja" ucap ku lalu beranjak dari ruangan Bu Dewi


Sebenarnya siapa Bu Puri ini kenapa dia memberikan respon seperti itu fikir ku


"KUNTILANAK" seru ku terkejut


"idih Nuri latah nya jangan panggil nama itu serem tahu " ucap Selly seraya menepuk pundak ku


"hehe....maaf kebiasaan " ucap ku seraya tersenyum menampil kan gigi yang berderet rapi


"tuh kan jadi merinding" ucap nya


"eh tadi habis ngapain sih di ruangan Bu Dewi ?" tanya nya


"tau tuh Bu Puri minta aku pijitin dia" jawab ku


"hoo....,eh bagaimana kabar mas Rifki ya ,sudah beberapa hari ini dia tak datang " ucap nya lagi


"kenapa kamu bertanya pada ku ?" tanya ku


"ya kan kamu dekat dengan mas Rifki" ucap nya lagi


"tapi kan bukan berarti aku tahu setiap kegiatan nya kan ?" ucap ku


"iya juga sih,eh tapi apa kamu tak memiliki perasaan pada nya? " tanya nya lagi


"hey hey hey....kalian ini malah ngegosip cepetan tuh ada pengunjung baru masuk cepat sana samperin " ucap Riri


"ok " sahut ku


Terima kasih Riri ,berkat kau aku jadi tak harus menjawab pertanyaan Selly , aku sendiri pun tak tahu dengan perasaan ku , memang sih aku akui aku merasa ada yang kurang jika mas Rifki tak ada ,tapi aku juga tak mau membuat Bu Dewi kecewa , mengingat ucapan Bu Dewi yang sudah seperti peringatan bagi ku , apalagi sudah beberapa hari ini mas Rifki juga tak menghubungi ku, apa memang Bu Dewi yang melarang nya ' fikirku.


Aku pun segera menyambut pengunjung yang baru datang itu dengan ramah , namun tiba-tiba saja


plaakk.....


Pengunjung itu menampar ku keras sampai-sampai aku jatuh terduduk di lantai ubin.


Hal itu sontak membuat para pengunjung lain melihat ke arah ku , Agus yang berada tak jauh dari ku pun membantu ku berdiri.


"hey apa yang kau lakukan ,memang nya apa kesalahan teman ku ?" seru Agus dengan logat nya yang kemayu


"diam lah kau bencong ,ini bukan urusan mu" hardik nya


"maaf mbak , apa ada kesalahan ku yang menyinggung mu ?" tanya ku sambil memegangi pipiku yang terasa panas dan perih


Ini pertama kali nya aku mendapatkan tamparan di pipiku, ternyata rasa nya sakit ya


"terima kasih karena kamu sudah memberi tahu ku rasa nya di tampar itu seperti apa , karena orang tua ku saja tidak pernah menampar ku " ucap ku dengan sedikit menyunggingkan senyum ku


"kau memang pantas mendapatkan tamparan itu ,dasar j*lang" hardik nya


plakkkk....


"jaga ucapan mu ya , aku tidak tahu kau ini siapa ,dan apa salahku " ucap ku membalas tamparan nya


sesaat aku terdiam saat aku menyadari apa yang baru saja ku lakukan


aku ....menampar nya balik , lirih ku dalam hati sambil memperhatikan tangan ku


"Nuri " ucap seseorang yang aku kenal suara nya


aku pun menoleh


"mas Rifki" gumam ku


tanpa fikir panjang aku pun pergi berlari meninggalkan kafe


"Nuri....tunggu " terdengar mas Rifki berseru memanggilku namun tak ku pedulikan aku terus saja berlari,entah kemana kaki ku membawaku.


Sambil terisak aku menyusuri jalanan yang aku pun tak tahu tempat apa ini , setelah ku perhatikan tempat ini berbeda dengan tempat yang seharus nya aku berada.


Tempat apa ini,kenapa aku bisa sampai di tempat ini,kulihat sekeliling hanya rumah-rumah kosong tak berpenghuni semua bangunan itu sudah pada rusak ,genteng rumah nya pun banyak yang bolong, dinding-dinding yang cat nya mengelupas,lantai ubin nya yang kotor dan banyak dedaunan kering memenuhi lantai itu ,serta banyak nya tanaman merambat yang memenuhi rumah rumah itu, pohon-pohon yang tumbuh di sekitaran rumah-rumah di sana menambah kesan horor saat melihat nya .


Ini di mana , apa aku tersesat di dunia lain ?


.


.


.


.


.


.


bersambung