
Suasana hati ku mendadak kalut , takut dan was-was, pandangan mataku tak pernah lepas sedikitpun dari Gibran ku.
Di saat semua orang sudah tidur hanya aku saja yang masih terbangun , entah mengapa perasaan ku jadi tidak enak, di sini hanya ada mas Rifki,dan mama Dewi ,sedangkan ayah,ibu ,dan kedua adik ku mereka sudah pulang ke rumah mas Rifki.
"Nuri ,dekaplah bayi mu ,mereka datang lagi kita bertiga akan berjaga di luar " ucap Wowo langsung menghilang dari pandangan
aku turun perlahan dari ranjang ku dan segera meraih Gibran ku , ku dekap erat sambil terus bersolawat ,dan juga membaca ayat-ayat Al Qur'an yang aku hafal .
DUAAARRR
terdengar ledakan dari luar saking kuat nya sampai aku merasa ranjang ini bergetar , kucium bayi kecil ku ,dengan detak jantung ku yang tak beraturan .
Namun seperti nya hanya aku saja yang merasakan nya
"huuufth...." aku menghembuskan nafas kasar
"ok semua akan baik-baik saja " aku bergumam
Kembali aku membacakan doa-doa dalam hati ku.Namun tiba-tiba pintu kamar inap ku terbuka .
"Wo.....Wowo....." panggil ku
"Wo....." namun tak ada sahutan
Aku pun beranjak untuk menutup pintu ,saat aku sudah berada di dekat pintu ,aku melihat seseorang tengah berjalan melewati ruangan ku ,namun pada saat aku lihat ke luar tak ada siapa pun.
"apa mungkin perawat yang sedang berkeliling" gumam ku,karena memang setiap satu jam sekali suka ada perawat yang datang sekedar mengecek takut-takut ada hal urgent pada para pasien .
Aku pun tak ingin terlalu memikir kan nya ,dan segera menutup pintu , namun entah mengapa pintu nya susah untuk di tutup,seakan ada yang mendorong dari luar, aku yang masih mendekap bayi ku menjadi kesusahan.
Hingga kulihat ada jari yang memegang pintu dengan kuku-kuku panjang nya ,aku pun mendur beberapa langkah karena terkejut
Perlahan sosok di balik pintu yang tak lain si pemilik jari berkuku panjang itu menampakan wujud nya , sosok nenek berambut panjang awut-awutan ,saking panjang nya hingga menyentuh lantai ,sosok itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terulur ,semakin lama kedua lengan nya memanjang hingga sampai di depan ku ,sosok itu menyeringai dan
"TIDAK.....JANGAN ....KEMBALIKAN BAYI KU ......"
"Nuri....Nuri ...bangun hey ....Nuri ...."
Aku merasakan tepukan di pipi ku sampai aku mengerjapkan mataku
"mas ...."
"iya sayang ,ini aku, kamu mimpi buruk?" tanya mas Rifki seraya mengusap kening ku
"ini ...minum dulu " mama Dewi memberikan ku minum aku pun langsung meminum nya sampai tandas
"makasih ma , astaghfirullah halazim,mas mana Gibran mas ?" tanya ku panik
"ada tuh sedang tidur , kamu ini kenapa sih ...mimpi apa hem, sampai teriak-teriak begitu , kamu juga tidur dalam posisi duduk sambil mendekap Gibran , untung saja mama bangun dan ngambil Gibran ,eh kamu malah teriak-teriak " ucap mas Rifki
"aku.... mimpi, jadi itu hanya mimpi ..." ucapku pelan
"emang kamu mimpi apa ?" mama Dewi bertanya sambil merapikan barang-barang karena hari ini aku akan pulang ,tinggal menunggu dokter visit saja
"Gibran ....dia ....diambil ..."lirih ku air mata ku pun luruh saat membayangkan kejadian di mimpi ku tadi ,aku tak bisa membayangkan jika itu bukan lah mimpi
"sudahlah itu hanya mimpi , jangan terlalu kamu fikir kan " ucap mama Dewi menenangkan ku
Oeeekkk.....
Oeeekkk......
"tuh kan Gibran jadi ikut nangis ,sudah gak baik buat kesehatan mu ,kalau kamu sedih" ucap mama Dewi lagi
"uuuuhhh....sayang....cucu nenek haus ya....yu mimi dulu yuk" mama Dewi meraih Gibran di boks bayi
"nih kamu bersihkan dulu itu kamu" mas Rifki memberikan ku handuk yang sudah di celupkan ke air hangat
"merem mata nya merem ...." seru mama Dewi pada mas Rifki saat melihat mas Rifki terus memperhatikan ku terutama di bagian *** ku
"sini mah udah bersih " ucap ku meminta Gibran untuk segera meminum asi nya
"halo jagoan mama....ya ampun kamu haus banget ya nak ,sampe kenceng begitu nyedot nya " ucap ku gemas
"kenapa mas ?" tanya ku saat melihat mas Rifki nampak menelan ludah nya
"eh...ti...tidak ,tidak apa-apa" jawab nya gelagapan
"kamu tuh " mama Dewi menggelengkan kepalanya
...............................
Akhirnya aku sudah kembali lagi ke rumah , di sana sudah ada ayah ,ibu,Ifel ,Febry ,mbok Marni, Tante Mina juga Riswan yang nampak antusias menyambut kedatangan ku.
"selamat datang kembali , aduuuh tampan nya cucu Oma " ucap mbok Marni yang memanggil dirinya Oma
"mbok boleh gendong ?" tanya nya
"tentu mbok"mas Rifki yang menjawab
"mirip kamu waktu bayi ya, jadi inget dulu saat kamu masih bayi mbok loooh yang rawat kamu" ucap mbok Marni lagi
"lalu apa kerjaan mama selama aku bayi ?" tanya mas Rifki melirik mama Dewi
"mama mu ,ya...ngurusin papa mu ,hihihi...." mbok Marni terkekeh dengan ucapan nya sendiri
"aunty...
Riswan dan Febry memanggil ku berbarengan
"iya ,ada apa ,sini dong kalian " aku merentangkan tangan ku yang duduk di kursi,kedua nya pun lari memeluk ku
"ada apa sih kalian jadi manja gini ?" tanya ku
"aku takut aunty....
"Dede juga takut .....
"takut ? apa yang kalian takutkan?" tanya ku menatap kedua nya
"Dede takut ....ada yang mau ambil iban "
"iban?" dahi ku berkerut
"Gibran maksud nya Nur" ucap ibu
"emang siapa yang mau ambil Gibran ?" tanya ku
"tadi Dede lihat di sana ,dia berdiri memperhatikan iban" ucap Febry menujuk ke pojok ruangan
"Dede gak udah takut dan khawatir ,tidak akan ada yang bisa ambil Gibran " ucap ku mencoba menenangkan nya ,bohong jika aku tak ikut takut mendengar nya ,perasaan was-was memang tengah menyelimuti hati ku di saat aku terbangun dari tidur ku tadi .Hanya saja aku tak ingin memperlihatkan kekhawatiran ku di depan Febry dan yang lain.
"lalu Riswan takut apa hem ?" tanya ku beralih menatap Riswan
"aku takut aunty tak sayang lagi sama aku ,karena sudah ada Dede bayi" wajah nya berubah sendu
"kan sudah aunty katakan aunty akan tetap sayang Riswan , apa pun yang terjadi ,atau.....bagaimana kalau Riswan panggil aunty mama saja ,biar sama sama Dede bayi" ucap ku tiba-tiba
"benarkah ,boleh manggil mama?" tanya nya menatap ku
"tentu ,iya kan mas " tanya ku menatap mas Rifki
"iya ,saja lah asal kalian senang , tapi biar adil kamu panggil om papa" ucap mas Rifki
"tapi aku kan sudah punya papa " polos nya
"ya biar saja ,kan jadinya kamu punya dua papa " mas Rifki kembali berucap
"nenek . ..aku punya mama dan dua papa " seru nya bersorak kegirangan
"iya sayang ....makasih Nuri ,dia bisa merasakan punya mama berkat kamu ,mama nya sendiri dia sama sekali tak memperdulikan nya " ucap Tante Mina yang hanya dibjawab senyuman saja oleh ku
"berarti aku boleh bobo di sini sama papa ?" tanya nya lagi
"boleh ,tapi hanya menginap ya ,jangan sama papa " sahut Tante Mina
"kenapa nek ?" tanya nya lagi
"papa kan harus kerja , jarak tempat kerja dari sini kan jauh ,nanti papa terlambat kerja nya " ucap Tante Mina memberi alasan
"ya sudah deh ,yeeeyyy.....aku punya mama ....aku punya mama....." Riswan nampak senang ,ia berlari-lari memutari ruangan tengah.
"sekarang lebih baik kalian istirahat , yuk biar mama gendong Gibran " ajak mama Dewi ,dan aku pun pergi ke kamar ku ,sedangkan Riswan kini tengah bermain ayunan dengan Febry ditemani ayah ,karena ibu langsung ke dapur di bantu Tante Mina untuk menyiapkan makan siang .
Kalau Ifel , dia malah anteng di ruang olahraga yang didalam nya ada beberapa alat nge gym , seperti nya dia sedang menjajal alat-alat gym nya .
Baru saja aku membaringkan tubuh ku di kasur ,aku sudah mendengar teriakan , aku pun mencoba untuk melihat nya.
"kamu mau kemana?" mas Rifki menahan tangan ku
"ada yang berteriak mas , aku lihat sebentar ya" ucap ku
"ya sudah jangan lama-lama" mas Rifki kembali berbaring menyamping karena Gibran sengaja aku taruh di kasur tepat di tengah-tengah kami
"tadi suara siapa ma?" tanya ku pada mama Dewi yang hendak turun ke bawah
"suara ? suara apa ?" tanya nya balik
"suara orang teriak gitu ma" sahut ku
"gak ada ko, gak ada yang teriak , perasaan kamu saja kali ,sudah sana kembali ke kamar ,nanti mama bawakan makan siang untuk mu " perintah mama Dewi meminta ku kembali ke kamar
Aku pun menurut saja ,namun mataku terbelalak kaget saat berada di dalam kamar .
"mas Rifki......"
"mas....mas bangun mas....."
"Ya Allah darah ......."
.
.
.
.
.
.
bersambung