Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
menuju kampung halaman


"ma... memang nya berapa hari kita di kampung nenek?" tanya Gibran sembari memperhatikan ku mengemasi beberapa pakaian ku dan pakaian mas Rifki


"pokok nya sebelum kamu masuk sekolah kita udah berada di sini lagi " ucap ku lembut


Ya besok aku ,mas Rifki dan anak-anak akan pergi ke kampung halaman dalam rangka liburan akhir tahun,jika tahun-tahun yang sudah kami pergi berlibur ke luar kota kali ini aku ingin mengenang kembali masa kecil ku di kampung kelahiran ku , anak-anak juga sangat antusias karena mereka juga sangat merindukan kedua om dan kakek nenek nya .


Ifel kini membuka usaha counter hp yang disponsori oleh mas Rifki, sedangkan Febry sudah masuk sekolah menengah kejuruan atau SMK kelas 11 atau kelas 2.


"Gibran sudah memilih pakaian mana yang mau dibawa ?" tanya ku


"sudah ma, punya Ari juga udah " jawab nya


"wah punya Ari juga kamu yang siapkan ,pintar anak mama " puji ku


"ya udah kalau gitu ayo kita tidur " aku mengajak Gibran ke kamar nya


"mama temani Ari saja ,aku kan udah besar ada nek Wewe juga yang menemani" tutur Gibran


"duh nih bocah kalau kebanyakan anak lain takut ada hantu di rumah nya ,eh dia malah seneng ditemani para hantu " batin ku


"ya udah ,tapi cuci tangan dan kaki dulu ya sebelum naik kasur " aku memperingati


"siap mama" sahut nya lalu berlari menuju kamar nya


kamar Gibran dan Ari bersebelahan ,aku pun masuk ke dalam kamar anak bungsu ku ,aiih.... aku sudah punya dua anak saja.


ceklek


"belum tidur ?" tanya ku


"belum ,masih dengerin dongeng nya papa ,ya kan ?" sahut mas Rifki tersenyum pada Ari


"ehm...iya ,sini ma kita dengarkan papa baca dongeng " Ari menepuk sisi sebelah nya


aku pun duduk ,dengan Ari di tengah-tengah


"dengerin dongeng nya sambil tidur yuk " aku pun mengajak Ari untuk membaringkan tubuh


Kembali mas Rifki melanjutkan dongeng nya ,dongeng si kancil yang cerdik selalu jadi dongeng penghantar tidur nya ,meskipun di baca berkali-kali Ari tak pernah bosan .


Hingga akhirnya dongeng pun selesai


"sudah selesai kan sekarang kamu bobok ya ,baca doa dulu "


aku pun membimbing Ari untuk membaca doa sebelum tidur, tak lama Ari pun terlelap setelah memastikan tidur nya nyenyak aku pun mengusap kepala nya dan mencium kening nya ,begitu juga dengan mas Rifki


"ayok sayang sekarang giliran aku kamu kelonin " mas Rifki menatap ku genit


"mas....ih ,aku mau lihat Gibran dulu " ucap ku


"ok kita lihat Gibran sama-sama ,tapi nanti setelah itu kita......" mas Rifki menaik turunkan alis nya seraya tersenyum ,aku pun mengerti


"baiklah " ucap ku pasrah ,menolak pun percuma karena mas Rifki tak akan melepaskan aku dengan mudah sebelum keinginan nya tercapai


ceklek


aku lihat Gibran sudah tertidur pulas tarikan nafas nya pun sudah teratur ,aku mendekat untuk memperbaiki selimut nya tak lupa aku mengusap dan mengecup kening nya .


"nek Wewe ,terima kasih karena selalu menjaga Gibran dari bayi sampai saat ini " ucap ku pada Wewe yang selalu setia di samping Gibran


"ehehehehe........tidak masalah Nuri....saya sangat senang bisa menemani Gibran " ucap nya


"nek bisa gak tiap ngomong itu gak pake tertawa ,merinding aku " keluh ku


"ehehehehe.....tidak bisa ,sudah dari sana nya saya begini ehehehe....."


"ya sudah lah " aku pun segera merapikan pakaian Gibran dan memasukan nya pada koper kecil , yang akan di bawa besok ke kampung halaman ku , ah sudah lama sekali aku tak pulang kampung ,hanya setahun sekali itu pun jika lebaran


"aku bantu biar cepet " mas Rifki turut membantu


Setelah selesai aku dan mas Rifki pun beranjak ke kamar kami,namun sebelum kami keluar aku lebih dulu mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu malam , berbeda dengan kamar Ari ,kamar Ari aku biarkan terang benderang karena ia sangat penakut .


setelah sampai di kamar mas Rifki segera mengunci pintu


"sayang ...." suara mas Rifki terdengar berbeda dari biasanya ,jika sudah seperti itu aku pun hanya menghela nafas ,


dan yah ....malam ini kami pun melakukan ritual yang selalu membuatku melayang entah ke langit berapa.


Keesokan harinya kami semua sudah siap ,semua barang bawaan kami sudah masuk ke dalam mobil,setelah berpamitan pada mama Dewi dan mbok Marni kami pun berangkat .


Sepanjang perjalanan kedua anak ku nampak senang ,kedua nya membahas apa yang mereka lihat ,apalagi Ari , gadis kecilku sangat antusias sampai membuat Gibran kewalahan menanggapi nya ,namun sedikitpun Gibran tak pernah mengeluhkan nya,jika sudah menyerah dengan pertanyaan adik nya yang tak kunjung berhenti Gibran mencubit kedua pipi adik nya itu seraya di gerakan ke kiri dan ke kanan ,dengan cara seperti itu maka Ari pun akan diam karena merasa kesal .


Aku pun sesekali menengok mereka yang berada di kursi belakang dengan menyunggingkan senyum


"kak itu apa ?" tunjuk Ari


"oh itu menara sutet " jawab Gibran


"menara sutet itu apa ?" tanya nya lagi


"duh kakak juga gak tahu dek , nanti ya kakak cari tahu dulu,nanti kalau udah tahu kakak kasih tahu" ujar Gibran lagi


"iya kak , lalu itu apa ?" tanya nya lagi


"oh....itu ...


belum sempat Gibran menjawab tiba-tiba Ari menjerit


"aaaakkkhhhh....."


mas Rifki pun sontak menginjak pedal rem karena terkejut


"Ari ...ada apa nak ?" aku turun dan menghampiri Ari yang nampak ketakutan dengan tubuh bergetar ,sedangkan Gibran hanya menghela nafas nya


"sepertinya Ari melihat itu ma,pa...bayangan nya terpantul dari jendela kaca mini market itu " tunjuk Gibran pada sosok yang berbadan tak lengkap tangan sebelah kiri nya putus ,dengan kepala sebelah kiri juga nampak hancur ,lelehan darah pun mengalir hingga menetes ke pundak lalu merembes pada bagian tubuh lain nya , mata nya pun hampir lepas dari tempat nya .


"astaghfirullah halazim...." lirih ku bersama mas Rifki


"sudah sayang tidak apa-apa kamu jangan takut ya " aku memeluk dan mengusap punggungnya


"mau mama temani di sini,biar kakak di depan " tawar ku ,Ari pun mengangguk


"ya udah aku pindah ke depan " Gibran pun berpindah ke depan


"nek Wewe, kak Wowo ,Tante Lasmi ,kalian gak takut jatuh apa duduk di atas mobil terus " tanya Gibran saat sudah keluar dari mobil


Dasar genderuwo dia yang minta di panggil kakak saat Gibran sedang belajar bicara dulu ,jadi kan keterusan hingga sekarang ,sumpah geli aku denger nya bahkan aku juga sampai keceplosan ikut-ikutan manggil Wowo dengan sebutan kak, kecuali Wewe entah kenapa aku nyaman manggil dia nenek .


"jatuh pun kita gak akan sakit ,lagian di dalam mana muat " sahut Wowo


"kan bagasi juga masih muat buat kalian" ujar Gibran lagi


"ah Gibran mah tega amat nyamain kita dengan barang " Lasmi sok merajuk


"sudah ayo masuk gak enak dilihatin banyak orang ,nanti di depan kita berhenti dulu kita shalat dhuhur lalu mengisi perut kita " ucap mas Rifki minta agar Gibran cepat masuk


perjalanan pun kembali dilanjutkan hingga kita berhenti di depan sebuah masjid ,tepat saat mas Rifki memarkirkan mobil di pelataran masjid , adzan pun berkumandang.


"Alhamdulillah....yuk kita shalat dulu " ucap ku


Setelah menunaikan ibadah kepada Sang Pencipta kami pun beralih ke rumah makan yang tak jauh dari masjid.


Saat kita masuk kita sudah di sambut sosok wanita bergaun putih di depaj pintu , aku dan mas Rifki bersikap seolah tak melihatnya namun berbeda dengan Gibran yang malah menyapa sosok itu sedangkan Ari gadis kecilku sudah menunduk saat meihat bayangan nya pada dinding yang terbuat dari kaca , tadi di jalan aku sudah mengatakan agar nanti kalau Ari melihat hantu jangan berteriak ataupun takut , cukup menunduk saja dan jangan hiraukan hantu itu tak akan ganggu dan terbukti saat ini Ari tengah menundukan kepala


"selamat siang Tante , sudah solat belum kalau belum solat dulu ya ,nanti Allah marah kalau lalai menjalankan solat " celetuk nya membuat aku dan mas Rifki saling pandang


"Gibran sayang ayo ,mama sudah lapar ,perjalanan masih sangat jauh " tegur ku mengajak cepat-cepat masuk karena tak enak juga banyak orang yang memperhatikan ,


"Tante aku makan dulu ya , apa Tante mau makan juga ,nanti aku kasih sebagian punya ku , atau mau aku belikan ,tapi aku tidak punya uang ,mama dan papa yang punya " kembali aku merasa gemas pada Gibran ,kenapa pula Gibran suka sekali nawarin hantu makan untung nya saja hantu itu menggeleng .


"nak ,Tante nya gak mau katanya ,kita masuk yuk " ucap ku lagi


"ya udah deh " sahut nya patuh


***


πŸ‘‰ masih ada satu bab lagi extra part nya guys ...tunggu dan nantikan up selanjutnya nya ya, namun aku juga gak bisa janji kapan yang pasti akan ada satu bab lagi .


ok .... thanks ya all tanpa kalian aku mungkin tak bisa semangatnya menulis ,meski tadinya aku hanya iseng-iseng saja ,tapi setelah melihat respon yang baik jadi makin semangat deh....


terima kasih sekali lagi ya πŸ™πŸ™πŸ™


love you all😘