
Ketika mas Rifki menanyakan nya pada pemilik warung makan ini mengenai kantong kresek yang tergantung ,pemilik nya enggan berkomentar apapun, ia menyangkal nya dengan alasan tidak tahu , dan aku pun meminta mas Rifki untuk tak terlalu mempermasalahkan nya , karena aku tak ingin ikut campur lebih dalam lagi , biarlah ini menjadi urusan pemilik warung makan ini , entah apa pun itu tujuan nya menggantungkan kantong kresek dan apapun itu isi nya , aku ingin cepat pergi dari warung makan ini .
"sebenarnya ada apa dengan kalian ,kalian belum makan ko udah ngajak kita pergi " tanya ayah ketika kami sudah berada di dalam mobil
"tidak apa-apa ko ayah , Nuri hanya ingin cepat sampai kampung saja , kangen juga sama yang di kampung " sahut ku beralasan
"ya tapi kan kamu belum makan " ucap mama Dewi
"gak apa-apa mah , Nuri gak lapar , Nuri malah kepengen makan buah semangka , kaya nya seger " ucap ku lagi
"baiklah nanti di depan kita beli " ucap mas Rifki tersenyum
"ok , kalau begitu aku tidur ya gak apa-apa kan " ucap ku yang sudah merasa ngantuk
"iya ,tidur saja ,masih jauh juga " ucap ayah
aku pun tertidur dengan cepat , namun entah kenapa aku merasa aku sama sekali tidak tidur , karena telinga ku mendengar semua obrolan di dalam mobil , tapi mataku sangat susah untuk ku buka . Semakin ku coba untuk membuka mata semakin berat pula mata ini .
Tapi tunggu , suara-suara itu bukan lah suara mas Rifki , ayah ataupun mama Dewi apa lagi mbok Marni, tapi suara orang lain yang aku tak tahu siapa , ada dimana aku ini , apa aku masih berada di dalam mobil ataukah ....
"gunakan obat pengawet ini agar isi nya tidak membusuk , meskipun membusuk itu tak akan sampai membuat nya bau dan mengganggu pengunjung " sebuah suara terdengar di telingaku
Aku mengerjapkan mataku dan aku ternyata masih berada di dalam mobil ,lalu tadi rupanya aku bermimpi,tapi kenapa mimpi aku seperti itu .
"udah bangun " ucap mas Rifki seraya mengusap kepala ku , aku pun lantas menengok
"ehm...." aku mengangguk
"Nur, ini semangka nya kamu tadi mau makan semangka kan " ucap ayah sembari menyodorkan buah semangka yang sudah di potong
"wah terima kasih ayah " sahut ku seraya menerima buah semangka nya
"gimana enak ?" tanya mas Rifki
"enak mas , mau " aku menyodorkan buah semangka nya pada mas Rifki dan langsung di sambut oleh nya yang sedang mengemudi kan mobil
Tak terasa perjalanan pun akhirnya berakhir , mas Rifki memarkirkan mobil nya di halaman rumah, sudah nampak ibu ,Dede ,dan Ifel di depan rumah, rupanya mereka tengah menunggu kedatangan kami .
"assalamualaikum ibu, Dede ,Ifel " teriak ku seraya menghambur ke pelukan nya
"waalaikum salam,gimana perjalanan nya pasti capek" tanya ibu menatap ku
"lumayan Bu " sahut ku
"assalamualaikum Bu " mas Rifki turut menyalimi ibu
"Dede.....duuh kakak kangen banget sama kamu de , gimana Dede gak nakal kan ,gak bikin ibu susah ?" tanya ku pada adik ku Febry
"enggak lah kak , Dede kan anak baik ,Ifel tuh yang nakal ,kasihan ibu marah-marah terus " sahut nya mengadu
" Feeeellll........." ucapku seraya menyipitkan mata menatap nya
"apa , udah sana masuk , tuh ibu udah buatkan kamu pepes ikan ,kalau gak mau biar aku aja yang makan " ucap nya seraya bersiap untuk pergi ke dalam namun dengan cepat aku menarik kerah baju nya seraya berucap
"enak saja , itu bagian ku " ucap ku seraya masuk mendahului nya
terlihat ibu juga yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ku
"hadeuuuh Nuri ....Nuri ...." ucap ayah yang terdengar oleh ku
"ya sudah yuk kita langsung makan saja kalian pasti capek ,perjalanan jauh juga lumayan lama , pasti sudah pada lapar kan " ucap ibu meminta semua nya untuk masuk dan makan
Kami pun langsung makan makanan yang sudah ibu siap kan , ini nih yang bikin aku kangen ,rasa pepes ikan buatan ibu memang tak ada dua nya .
"kamu makan sendirian saja ,suami kamu gak kamu tawarin makan gitu " gurau mas Rifki duduk di samping ku
"hehe....mas ,maaf " cengir ku
................
Kini malam pun menyambut,tapi ada yang aneh ku rasa , kenapa malam ini terasa begitu berbeda , aku pun bertanya pada ibu
"Bu, kenapa malam ini rasa nya berbeda ya Bu ?" tanya ku
"berbeda bagaimana Nur? "tanya ayah
"entah lah yang pastinya Nuri merasa ada sesuatu gitu " ucap ku
"kamu gak tahu ya kalau di kampung kita ini ada poling " ucap Ifel tiba-tiba
"poling ? apa an tuh ?" tanya ku dan mas Rifki pun ikut menengok
"pocong keliling " sahut Ifel berbisik
"hmpt....hahahaha........poling pocong keliling , ada-ada saja" ujar ku sambil tertawa
"bukan ngeronda kak, tapi pocong itu suka berkeliling rumah dan gangguin penghuni rumah nya " ucap Ifel berbisik lagi
"jadi beneran ini Bu berita tentang poling itu ?" tanya ayah melirik pada ibu
"gak tahu juga , udah lah jangan di bahas lagi pada penakut juga " ucap ibu beranjak
"eh ibu mau kemana ?" tanya ku
"mau ke dapur "
"oh iya Nuri, kapan kita belanja buat keperluan empat bulanan nya ?" tanya mama Dewi
"besok kita belanja " ibu yang menyahut
"oh, ya sudah kalau begitu ,mama tidur dulu ya ,mbak saya duluan ya " ucap mama Dewi berpamitan hendak tidur
"iya " sahut ibu tersenyum
oh iya untuk kamar tamu cerita nya rumah ku sudah di rombak beberapa bulan yang lalu .
Kini semua orang sudah pada masuk kamar , aku yang sudah berbaring dengan mas Rifki pun segera beranjak saat mendengar di luar ada yang mengetuk pintu .
tok tok tok
"siapa ya mas , jam sebelas malam bertamu" tanya ku
"gak tahu sayang , sebentar aku cek dulu " mas Rifki pun melihat dari celah pintu
"gak ada siapa-siapa ko"
kita pun kembali ke kamar ,namun baru saja kita duduk di atas ranjang ,suara pintu kembali di ketik dari luar .
tok tok tok
"hadeuuuh siapa sih iseng banget " kali ini aku yang beranjak
ckleek
pintu ku buka
"gak ada siapa-siapa " gumam ku
kuedar kan pandangan ku menyapu sekitar ,siapa tahu ada orang lewat atau apa gitu , tapi cukup lama aku berdiri si ambang pintu tapi tak ada siapa pun yang lewat .
"sayang ayo masuk , sudahlah biarkan saja, sudah malam ini , gak baik buat kesehatan mu juga calon anak kita " suara mas Rifki mengejutkan ku
"iya deh mas " aku pun segera kembali ke kamar bersama mas Rifki
"mas percaya dengan pocong yang kata Ifel itu ?" tanya ku
"kenapa memang nya ?" tanya mas Rifki
"gak apa-apa sih mas " sahut ku
"ya sudah kita tidur saja ,aku sudah ngantuk banget ini, sini aku mau peluk anak kita " mas Rifki menarik ku lalu mendekap ku hangat
"ah modus , bilang aja pengen peluk aku , pake bawa-bawa anak kita segala " gerutu ku
"hehehe......"
Baru saja mata ini terpejam ,sesuatu di jendela membuat ku penasaran dan ingin melihat nya.
sebuah bayangan yang melintas di depan jendela , terlihat jelas.
apa itu bang Popo,gumam ku , aku pun mengangkat tangan mas Rifki yang melingkar di perut ku ,mengangkat nya perlahan , lalu aku segera beranjak untuk mendekat pada jendela .
Perlahan tapi pasti ,kini aku sudah berada di depan jendela dan siap menyibak kan gorden nya dan........
"woy..........."
gudubrak
.
.
.
.
.
bersambung