Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
extra part terakhir


Jam masih menujukan pukul 04:55, udara pagi di desa memang membuat paru-paru ku segar kembali setelah sekian tahun tinggal di kota bersama suami.Tiap hari menghirup debu dan asap kendaraan ,meskipun kompleks tempat tinggal ku tergolong bersih dari pencemaran udara namun tetap saja kita yang beraktifitas di luar rumah harus terpapar asap kendaraan dan debu jalanan .


Namun meskipun begitu aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan Sang Pencipta,karena selalu memberikan ku sekeluarga kesehatan .


"mama sedang apa ?" Gibran datang dari belakang tubuh ku


aku yang sedang memperhatikan kondisi jalanan depan rumah yang sudah sangat padat dengan rumah pun menengok


"enggak lagi ngapa-ngapain sayang , mama hanya sedang menghirup udara segar , Ari tidur lagi?" tanyaku


"tadi sih sempet nonton tv bareng om tapi pas di lihat lagi udah tidur lagi aja " jawab nya


"ya udah gak apa-apa ,biarin aja " kebiasaan Ari jika sehabis sholat subuh suka tidur lagi ,meskipun sudah di peringatkan jika sehabis subuh tak baik tidur lagi ,tapi gak apalah mungkin jika sudah dewasa kelak ia akan mengerti


"kita jalan-jalan yuk ,lihat matahari terbit sebelah sana,ajak papa gih " sambungku


aku meminta Gibran mengajak mas Rifki untuk jalan-jalan kebetulan hari masih cukup gelap meskipun jam sudah menunjukkan hampir jam 5 pagi ,entahlah aku tak begitu faham tentang ilmu perbintangan dan antariksa , yang aku tahu dunia kita itu berputar ,kadang matahari sudah terbit dunia sudah sangat terang di jam 5 pagi ,dan kadang juga jam segitu matahari masih bersembunyi di peraduan nya ,seperti saat ini


"ok" Gibran menyahut dengan semangat dan berlari menghampiri mas Rifki yang entah sedang apa di belakang bersama ayah


Tak berapa lama kemudian Gibran datang bersama mas Rifki yang menggendong Ari di belakang punggung nya


"mau jalan-jalan pagi ke mana?" ajak mas Rifki


"gak kemana-mana, sekitar sini saja ,sekalian kita lihat matahari terbit ,pasti anak-anak suka " sahut ku


"ya udah kalau gitu ayok.....nanti keburu muncul matahari nya " rengek Ari dengan mata yang masih mengantuk


"iya....iya...."


kami pun berjalan beriringan ,dengan di selingi obrolan dan candaan.


"desa ini banyak banget kemajuan nya ya sayang , rumah-rumah makin banyak dan rapat " ujar mas Rifki


"hm....iya mas bener ,dulu saja jarak satu rumah ke rumah lain nya cukup berjauhan ,mau ngumpulin warga aja masih pake kentongan ,kalau sekarang berbisik pun seperti nya tetangga denger " sahut ku


Memang benar ,pesat sekali maju nya desa ini jalanan nya pun sekarang sudah makin licin, gak seperti dulu berlubang-lubang persis seperti sungai kering , terdapat banyak warung dan kedai makanan di sepanjang jalan yang kami lewati , bahkan ada beberapa pom mini ,juga bengkel , counter-counter hp juga seperti tak mau kalah ,namun tak sebesar dan selengkap counter hp punya Ifel.


Namun bukan hanya itu saja , hantu-hantu pun semakin banyak di desa ini ,semalam saat kita baru sampai aku melihat banyak hantu-hantu berkeliaran .


Namun aku tertegun saat melihat satu rumah yang paling besar ,berpagar besi yang tinggi menjulang , pekarangan nya kecil namun ada garasi juga di sana,terdapat beberapa tanaman hias dalam pot berjajar rapi di teras depan sampai samping rumah nya ,dari apa yang aku lihat kenapa di rumah itu ada monyet nya ya, apa itu monyet peliharaan yang punya rumah , tapi kenapa gak di kandangin,kalau nanti ngejar bahkan nyerang orang lain kan bahaya ' fikir ku .


Monyet itu duduk di depan pintu memandangi kami dengan mata yang menyala


"astaghfirullah....."


"sudah abaikan saja ,itu bukan monyet biasa ,cepat kalian pergi dari sana " seru Wowo yang tiba-tiba muncul di antara kami


"Wowo benar sayang , aku juga ngerasa makhluk itu sangat berbahaya " bisik mas Rifki pula


"kak....kita pamit ya dadah....."


Ya Rab.....Gibran malah melambaikan tangan nya pada monyet itu


aku menarik tangan Gibran dengan mempercepat langkah ,begitu juga dengan mas Rifki


"ma .... tadi itu sebenarnya anak yang punya rumah ,tapi di buat jadi monyet sama kedua orang tua nya , mungkin karena orangtuanya gak tahu perbuatan mereka malah membuat anak nya jadi seperti itu ,yang mereka tahu anak nya sudah meninggal ,padahal sebenarnya tidak ,hanya berpindah alam dan berganti wujud saja " celetuk Gibran saat kami sudah jauh dari rumah tadi


Sontak saja aku dan mas Rifki menghentikan langkah kami dan saling pandang


"kata siapa nak ?" tanya mas Rifki


"gak kata siapa-siapa ,orang aku tadi lihat sendiri gambaran nya ,kakak itu yang memberi tahu


"mas ....." aku menatap mas Rifki


Aku benar-benar dibuat terperangah mengetahui kemampuan anak sulung ku,merasa tak percaya dengan apa yang terjadi


terdengar helaan nafas dari mas Rifki ,lalu kemudian mas Rifki berucap


"anak papa hebat ya,....tapi jangan sampai kemampuan mu jadi bumerang buat diri kamu kelak ya nak,jangan pernah kamu beritahu kemampuan itu pada sembarang orang , cukup kamu ,dan keluarga saja yang tahu ,kecuali jika dalam keadaan terdesak ,kamu mengerti ucapan papa?" mas Rifki mensejajarkan diri nya dengan berjongkok di hadapan Gibran ,Ari yang masih menutup mata nya tak mau lepas dari punggung papa nya ,seakan di rekat dengan lem kaki nya melingkar sampai perut mas Rifki kedua lengan nya pun juga di lingkarkan erat pada leher mas Rifki,aku hanya menggeleng saja melihat kelakuan putri cantik ku .


"mengerti papa" sahut Gibran mengangguk


"eh tuh lihat matahari sudah mulai naik tuh , kita ke sana yuk " ajak ku


kami pun menuju tempat paling lapang masih di pinggiran jalan juga yang belum ada bangunan berdiri .


Perlahan matahari mulai menampakan diri nya ,hangat mulai terasa meresap ke kulit ,Ari yang sedari tadi betah bergelayut manja di punggung papa nya ,berontak ingin di turun kan.


"waaah.....bagus ya ma, pa" gumam Gibran dengan senyum di bibir nya


"aku gak di tanyain " ucap Ari mengerungkan wajah nya


"hehe....iya ya kok kakak lupa kalau ada adek nya kakak yang cantik jelita tiada tara sepanjang mas ini di sini ,kapan datang nya ya" kelakar Gibran


"iiih....kakak mah" Ari mengerucutkan bibirnya


sedangkan aku dan mas Rifki hanya terkekeh melihat mereka .


krucuukkk.....


Aku menunduk melihat ke arah perut ku yang baru saja berbunyi


"lapar dek ,ayo kita pulang " canda mas Rifki menggoda ku


kami pun memutuskan untuk pulang ,karena matahari semakin merambat naik , tak ku lewati jalan tadi,kami memutar jalan lewat jalan pintas ,masuk gang kecil .


Terlihat banyak warga mulai beraktifitas ada yang menyapu halaman depan ,menjemur pakaian dan masih ada banyak lagi , mereka yang mengenalku menyapaku , suami dan anak-anak, tetapi bagi yang tak mengenal mereka menyapa seadanya walau hanya dengan senyuman saja , meski tak jarang mereka juga ada yang cuek .


"mah itu orang-orang pada kumpul ada apa ya?" tanya Ari menujuk beberapa orang di depan kami


"serabi ....yang banyak toping nya itu kan ?" tanya Gibran


"iya,tapi serabi di sini masih original, hanya di beri topping sangrai oncom atau serundeng" sahut ku


"di cocol sambal enak loh " tambah mas Rifki


"mau dong mau, aku mau coba rasa serabi desa " sahut Ari dan Gibran bersama


"ya udah yuk ,tapi antri ya,gak apa-apa kan?" tanya ku menatap kedua nya


"gak apa-apa " sahut kedua nya lagi


kami pun berjalan ke arah penjual serabi dengan beriringan , aku memegangi tangan Gibran ,sedangkan mas Rifki bersama Ari .


"wah....ini Nuri anak nya Bu Maryam itu kan ,yang tinggal di kota ,waduh ....kapan datang nya ,udah lama banget ya kita gak ketemu ,ya ampun tambah pangling , ini anak-anak kamu , cantik dan tampan " seru seorang ibu paruh baya yang aku sendiri sudah lupa


"iya Bu, semalam kami baru saja tiba ,sekarang lagi jalan-jalan aja ,dan ini Gibran dan Nuari putra putri kami " aku memperkenalkan kedua anak ku pada beliau


"memang ya kalau cetakan nya cantik dan tampan hasil nya pun tak bisa di ragukan lagi " ucap nya lagi


"ah ibu bisa aja ,jadi malu aku tuh" ucap ku


"lah emang kenyataan nya gitu kok" ia tertawa


aku beralih pada penjual serabi nya


"Mak saya pesan dua puluh biji ya pakai telur semuanya " ucap ku


"siap neng ,di tunggu sebentar ya" ucap nya seraya mengatur api agar tak padam


"ah jangan panggil neng dong Mak ,udah punya dua buntut " ucap ku kikuk


"mama punya buntut dua ,mana ma?" tanya Ari melihat belakang tubuhku


"astaga aku salah ngomong " batin ku ,ku lirik mas Rifki ,ia hanya mengulum senyum melirik ku


Saat aku menunggu serabi matang , seseorang yang sangat aku kenal tiba-tiba menghampiri dan memesan serabi juga ,namun aku mengernyit kan kening ku saat melihat dandanan nya


"duh Gusti....kenapa dia jadi begini ?" batin ku


Wowo ,Wewe nampak tertawa sedangkan Lasmi terkikik membuat bulu kuduk ku merinding seketika


"khikhikhikhi........"


"eh kok jadi merinding pagi-pagi begini " gumam ibu yang tadi menyapa ku


"Nuri.....kamu kapan sampai , tak ada yang berubah ya kamu ,masih sama aja kaya dulu " ucap nya sesekali ia kerlingkan mata nya pada mas Rifki yang tak menggubris keberadaan nya


"Mak aku pesan sepuluh ya pakai telur semua" ucap nya


"iya tapi nanti ya ,bikin kan pesanan neng Nuri dulu " sahut penjual serabi nya


"emang berapa biji beli nya ,pake harus diduluin segala ,aku pesan paling banyak loh " kata nya


"dua puluh biji pake telur semua " sahut ibu-ibu yang lain


"hah,kalau gitu aku tambah dua puluh lagi ,jadi total tiga puluh" ucap nya tiba-tiba


"wah gak bisa , adonan nya gak cukup "ucap penjual nya


dia mendengus kesal mendengar nya .


"ya udah gak jadi aja sekalian " dia menghentakan kaki nya lalu berlalu begitu saja


"ma....Tante yang tadi lucu ya ,kaya badut " celetuk Ari


"husss .....jangan begitu sayang gak baik " seru ku memperingati


"maaf " Ari menunduk


"lain kali gak boleh begitu ya sayang gak baik ,nanti Tuhan marah " ucap mas Rifki lembut mengusap kepala Ari,dan Ari pun mengangguk


Aku meringis dalam hati , kala mengingat penampilan Meta , masih pagi udah berpenampilan uwowww.....rok mini sebatas lutut baju kaos lengan pendek ada renda-renda kecil di bagian leher,bagian d*da nya pun membusung mengalahkan bemper belakang nya yang tepos alias kecil ,dan paling mencuri perhatian riasan tebal di wajah nya dan perhiasan yang penuh, kalung yang dipakai ada beberapa dan itu terdiri dari beberapa ukuran , gelang keroncong memenuhi kedua pergelangan tangan nya ,di tambah anting-anting yang besar bergelantungan di bawah daun telinga nya .


"astaghfirullah....." aku beristighfar menghapus fikiran buruk


Setelah serabi pesanan ku selesai kami pun pamit undur diri pada ibu-ibu yang masih ada beberapa di sana , mereka dari tadi sibuk terus menggibahi Meta .


"ma....nanti tolong peringatkan kakek,nenek ,om Dede dan om Ifel agar jangan menerima apapun dari pemilik rumah yang ada kakak monyet nya tadi" ucap Gibran tiba-tiba


langkah kami pun terhenti


"kenapa ?" tanya ku dan mas Rifki


"hm....jawab nya nanti saja kalau aku udah gede , kan aunty othor udah buatkan cerita tentang ku "


😁😁😁😁😁😁😁😁✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️


YeeeeeyπŸ‘ akhirnya cerita Gibran rilis guys.....


yuk merapat yuk.....



bagusan yang mana cover 1 atau 2