
6 tahun kemudian
Aku tengah duduk di bangku khusus yang sudah di sediakan pihak sekolah ,karena sekarang Gibran sudah bersekolah di taman kanak-kanak.
Seperti biasa setelah mengantar nya aku pun langsung pulang , dan kembali sebelum jam pulang , dan aku selalu datang setengah jam sebelum jam pelajaran berakhir .
Jadi masih ada waktu lah untuk bisa berbincang dan mengenal para orang tua yang lain nya.
Bel sekolah sudah berbunyi terdengar suara riuh anak-anak mengucapkan salam , lalu tak lama kemudian anak-anak pun terlihat berlarian ke luar dan menuju para orang tua mereka .
"mama....."
"mama...."
Gibran dan Riswan berlari dan langsung memeluk ku
"anak-anak mama ,gimana tadi belajar nya gak nakal kan ?" tanya ku pada kedua nya
"enggak dong ma, kita kan anak baik ,ya kan Gibran?" tanya Riswan melirik Gibran di samping nya
"iya ma, kita gak nakal ko " sahut nya
"gak nakal tapi kamu suka aneh kalau di kelas" ucap Riswan membuat dahi ku berkerut
"aneh gimana?" tanya ku
"jangan percaya ma, dia kan tukang ngadu , apa-apa pasti di aduin" sergah Gibran
kulirik Wewe dan Lasmi ,namun kedua nya nampak acuh , hm ...mengenai Wewe , nenek-nenek itu sudah jadi penjaga nya Gibran.
"hem ....ya sudah lebih baik kita pulang , tuh papa kamu sudah datang jemput " tunjuk ku pada mobil Haris yang baru saja berhenti
"yaahh....padahal aku mau pulang ke rumah mama uli ,kenapa papa pake jemput sih " keluh nya mencebik kan bibir
dasar Riswan masih saja manggil aku dengan sebutan uli,ah.... ngomong-ngomong soal Riswan seharusnya tahun ini anak itu sudah masuk SD tapi dia malah ingin tetap bertahan di TK dengan alasan ingin terus bersama Gibran .
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam" sahut ku
"ayo Riswan kita pulang " ajak Haris meraih pergelangan tangan nya namun Riswan malah terlihat murung
"loh kenapa sedih ?" tanya ku
"habis nya nanti aku mau di kasihkan ke mama ,aku gak mau " lirih nya
"kenapa gak mau , mama Della kan mama nya Riswan kasihan kan mama Della kangen sama Riswan ,kan cuma sebentar abis itu kamu pulang lagi sama papa " bujuk ku
"beneran pa,cuma sebentar?" tanya nya mendongak
"iya ,yuk kasihan mama kamu udah nungguin " ajak Haris lagi
"baik lah ,aku pulang dulu ya ma, dah Gibran ,nanti kita main lagi "
"ok sip...." Gibran mengacungkan jari jempol nya ke arah Riswan
"kita duluan , assalammualaikum" ucap nya
"waalaikum salam" sahut ku
Della , akhirnya wanita itu memutuskan untuk bercerai dari Haris ,Della juga sudah meminta maaf atas kesalah fahaman nya saat acara reuni dulu, dan sampai saat ini Haris pun masih betah dengan status duda nya ,dan hal itu selalu membuat mas Rifki resah .
Mas Rifki masih saja suka cemburu saat aku harus bertemu dengan nya meskipun hanya sekedar berbincang tentang Riswan .
tak lama setelah Haris dan Riswan pergi ,mas Rifki pun datang .
"assalamualaikum sayang" ucap mas Rifki keluar dari mobil
"waalaikum salam mas " jawab ku seraya meraih tanganndan mencium punggung tangan mas Rifki , Gibran pun sama melakukan apa yang aku lakukan
"maaf ya aku telat jemput, pasti udah lama nunggu " ucap mas Rifki merasa bersalah
"enggak ko mas baru aja Gibran keluar iya kan nak ?" ucap ku melirik Gibran dan Gibran pun mengangguk
"iya pa" sahut nya
"eh mana Riswan ,udah di jemput dia ?" tanya mas Rifki
"udah baru saja " sahut ku
"siapa yang jemput ?" tanya nya
"Haris yang jemput " sahut ku
"heeeeehhh......." mas Rifki nampak menghela nafas mendengar nama Haris
Aku sendiri heran karena dulu dia gak kaya begini , dari yang ku katakan sebelum nya setelah kembali dari kematian nya mas Rifki jadi lebih manja , dan cemburuan hingga sekarang , orang mah abis mati suri jadi bisa lihat hantu ,lah ini malah jadi cemburuan dan manja banget , eh tapi kan sebelum mati suri mas Rifki emang sudah bisa melihat hantu kan .
"ya sudah yuk kita pulang" mas Rifki membuka kan pintu depan untuk ku ,sedangkan Gibran dia lebih senang duduk di kursi belakang ,karena katanya ingin sambil tiduran ,kebetulan di dalam mobil mas Rifki sudah di setting agar nyaman untuk tidur ,juga ada kasur mini nya juga yang dilengkapi dengan sabuk pengaman agar saat Gibran tertidur tak sampai berguling kesana kemari .
Sebenarnya ada yang mengganjal di hati ku saat ini, kira-kira hal aneh apa yang dilakukan Gibran saat di kelas,apa karena .....
"kamu kenapa sayang ?" tanya mas Rifki meraih tangan ku dan menggenggam nya membuat lamunan ku buyar
"gak apa-apa mas " sahut ku
"beneran gak apa-apa?" tanya nya lagi
"nanti deh di rumah cerita nya" ucap ku sambil melirik ke arah Gibran yang sudah tertidur
anak itu gak bisa ya kalau rebahan gak langsung tidur ,aku menggeleng seraya tersenyum
Tak terasa kami pun sampai di depan rumah , mas Rifki seperti biasa menggendong Gibran yang sudah terlelap dalam tidur nya
"assalamualaikum "ucapku dan mas Rifki
"waalaikum salam..." sahut mama Dewi
"loh mama ada di rumah ,bukan nya tadi ke kafe ?" tanya ku
"iya , tapi mama ngerasa gak enak badan ,kaya nya mau flu deh , jadi mama mutusin untuk pulang aja " kata nya
"ooh ,ya udah mama istirahat aja ,nanti aku buatkan minuman hangat deh ,tapi aku ke kamar dulu nya ma" ucap ku
"iya ,gak apa-apa , gak usah repot-repot ,mama gak apa-apa ko, istirahat sebentar pasti juga udah baikan lagi" tolak nya
"ih jangan begitulah ma, jangan nyepelien penyakit , sekecil apa pun itu " ucap ku lagi
"hm...ya sudah terserah kamu saja , makasih ya sudah perhatian dan baik sama mama" ucap nya tersenyum padaku
"tentu lah ma, bagiku mama bukan hanya sekedar mertua ,tapi lebih dari itu" jawab ku
"Masya Allah......terharu aku ...cup"
aku terbelalak saat mendapatkan kecupan di pipi ku
"mas Rifki ih ...malu tahu depan mama juga " aku merasa kesal karena malu
mas Rifki malah terkekeh ,sedangkan mama Dewi malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"kami ke atas ya ma" pamit ku
aku pun berjalan menaiki tangga bersama mas Rifki yang masih menggendong Gibran
"aku taro Gibran di kamar nya dulu ya" ucap mas Rifki aku pun mengangguk
"taro, emang nya barang pake di taro segala " gumam ku sambil melihat mas Rifki masuk ke kamar nya Gibran
Kini aku sedang duduk di tepi ranjang ,mas Rifki mendekati ku dan juga ikut duduk di samping ku
"mas ...."
"iya sayang , ada apa ,kamu pengen ya?" tanya nya dengan memainkan alis nya
"iiih mas ih, apa sih " aku mendengus kesal
"hehehehe.....abis muka kamu kaya tegang gitu ,kaya mau ngapain aja pake tegang segala" kini mas Rifki menarik ku dalam pelukan nya
"mas ih "
"aawww.....sayang ko aku di cubit " pekik nya saat aku mencubit perut nya
"ih lebay ,orang aku nyubit nya nyubit cinta ko, mana mungkin sakit "
tiba-tiba mas Rifki menangkup wajahku dengan kedua tangan nya
cup
"kamu bisa aja "
cup
"makin sayang "
cup
"makin cinta deh "
mas Rifki mengecup beberapa bagian wajah ku, dan aku selalu senang saat mas Rifki seperti ini , maka aku mendiam kan saja ,hingga akhirnya aku berbicara
"mas....aku khawatir deh" mas Rifki menghentikan aksi kecupan nya dan menatap ku intens
"khawatir kenapa ?" tanya nya
"Gibran.....
"kenapa dengan Gibran?" potong mas Rifki
"iiih jangan di potong dulu dong ucapan ku" keluh ku
"iya iya maaf sayang ,emang khawatir bagaimana ?" tanya nya
"kata Riswan , Gibran kalau di kelas suka aneh ,dan bukan kata Riswan saja ,bahkan salah satu guru nya pun berkata sama " ucap ku lirih
"emang nya apa yang Gibran lakukan ?"
"kamu kan tahu mas Gibran kita juga bisa melihat makhluk tak kasat mata , karena dari bayi yang sudah biasa di asuh para demit ,jadi Gibran gak takut , dan firasatku mengatakan jika Gibran selalu berkomunikasi dengan mereka di dalam kelas, aku takut mas " ucap ku ingin mengutarakan keresahan ku
"kenapa mesti takut ?" tanya nya
"mas.... aku takut,Gibran merasakan apa yang aku alami dulu" lirih ku
"emang apa yang kamu alami dulu, ko aku gak tahu ?" tanya nya
"di sekolah ,aku dulu sering di bully, di jauhi hanya karena aku yang bisa melihat mereka , aku sangat tertekan saat itu mas ,aku yang ketakutan malah mendapat bullyan bahkan sampai ada yang mengatakan jika aku gila ,karena suka ketakutan tanpa sebab ,padahal aku sangat takut saat melihat hantu-hantu itu yang selalu menyapa ku,aku butuh support,bukan bullyan , dan apa mas tau aku sampai tak punya teman , satu-satunya teman ku hanya Meta,itupun dia juga kadang suka rese, dan aku takut jika Gibran pun akan mendapatkan perlakuan seperti ku dulu " aku yang tak tahan pun kini sudah menangis dipelukan mas Rifki
"aku gak nyangka di balik sikap kamu yang kuat dan tegar ternyata menyimpan luka di masa lalu , kamu tenang saja sayang , anak kita tidak akan pernah merasakan apa yang kamu rasakan dulu ,kita beri penjelasan pada nya secara perlahan ,agar tidak terlalu menghiraukan mereka yang tak kasat mata" ucap mas Rifki seraya mengusap punggung ku
"ehm...iya mas " aku pun mengangguk pelan dalam pelukan nya
"eh ....mas ,mas tadi bilang aku ini kuat dan tegar, masa sih aku seperti itu , perasaan aku tidak seperti yang mas katakan tadi " ucap ku seraya mendongak menatap wajah tampan nya
"bukan hanya kuat dan tegar , bagiku kamu itu paket komplit" aku berkerut mendengar nya
"paket komplit ?" tanya ku
"menurut ku kamu itu ........cantik, baik, sopan, pintar masak, kamu selalu bisa mengerjakan sesuatu sekaligus ,seperti yang setiap pagi kamu membereskan tempat tidur sambil mengurusi ku menyiapkan pakaian ,memasangkan dasi , lalu berlanjut pada Gibran ,dan aku salut selama ini kamu tidak pernah mengeluh,bahkan kamu juga sangat perhatian sama mama , aku bahagia mempunyai istri seperti kamu sayang, tetap lah seperti ini ya sayang " ucap nya ,dapat kulihat mata mas Rifki sudah berkaca-kaca ,hingga aku pun tak tahan untuk tidak memeluk nya
"aku akan tetap seperti ini ,asal mas selalu bersama ku ,mas jangan pernah meninggalkan ku " ucap ku sedikit sesak nafas karena aku kembali teringat enam tahun yang lalu,aku tak sanggup jika harus benar-benar kehilangannya lagi , meskipun aku tahu umur sudah diatur oleh Tuhan.
"sayang ko kamu nangis ?" tanya mas Rifki saat merasakan badan ku yang sudah bergetar
"aku takut mas meninggalkan ku lagi ,mas janji ya jangan pernah ninggalin aku " aku menarik tubuh ku dan menatap nya dengan air mata yang sudah membasahi pipi ku
"kita serahkan saja sama Allah ya , kita kan gak tahu sampai mana umur kita ,kalau mas minta sih mas ingin umur kita panjang ,agar bisa terus bersama kamu , kita menua bersama dan bisa melihat anak cucu kita kelak "
cup
cup
"udah jangan nangis ,nanti dikira orang aku udah aniaya istri sampe nangis "ucap mas Rifki seraya mengecup kedua mata ku yang sudah sembab
"sayang......" suara mas Rifki berubah serak dan berat dan aku mengerti jika sudah begini akan kemana arah nya
"sudah waktunya Gibran di kasih Dede "bisik mas Rifki seraya menggigit ujung telingaku yang tertutup jilbab
serrrr.....
darah ku berdesir meski hanya gigitan kecil tapi cukup membuat ku meremang
"boleh ya, mumpung belum Dhuhur"
tanpa mendengar persetujuan ku mas Rifki langsung mendaratkan bibirnya di bibirku,******* dan hisapan nya selalu berhasil membuat ku menginginkan lebih terlebih lagi kini tangan tangan mas Rifki sudah aktif menggerayangi tubuh ku sedangkan yang satunya memegangi tengkuk ku,mas Rifki menarik jilbabku dan langsung memainkan lidah nya di kulit leherku ,hingga aku sedikit mendesah saat mendapatkan gigitan dan hisapan ,aku yakin itu pasti akan meninggalkan jejak ,tapi aku suka, aku melenguh saat kurasakan tangan mas Rifki sudah menyusup di area inti ku dan memainkan jemarinya di sana ,aku yang sudah kalang kabut dibuat nya ,hingga mas Rifki merebahkan tubuhku dan mengukungku ,saat mas Rifki sudah siap menyatukan tubuh kami , tiba-tiba
tok tok tok
"mama....... papa......."
.
.
.
...SELESAI...
* maaf ya aku tamatin tanpa ngasih tahu dulu , tadinya aku mau lanjut sampai Gibran dewasa, tapi seperti nya aku harus merefresh otak ku dulu , mau fokus dulu sama cerita ku yang lain ,meskipun ada yang terbengkalai dan terlupakan, tadinya lagi aku mau fokus untuk lanjutin cerita yang terbengkalai itu tapi eh tapi aku malah bikin cerita lain yang pasti nya akan semakin terbengkalai lah cerita itu .
πsekali lagi mohon maaf ,author kaleng-kaleng pamit undur diri
terima kasih buat yang sudah berkenan mampir dan memberikan like nya πππ
sampai ketemu di lain cerita
by by π