Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 masalah baru


Kini aku bersama mas Rifki dalam perjalanan pulang ,aku dan mas Rifki sudah sepakat untuk tidak membahas masalah Rika lagi , karena mas Rifki juga sudah menceritakan tentang kedekatan mereka saat waktu sekolah dulu,dan mas Rifki bilang tidak semuanya benar.


Saat mobil kami melintasi sebuah sekolah dasar, tak sengaja mataku melihat pedagang jajanan yang membuat mata ku berbinar, hingga aku reflek berteriak


"stop... hentikan mobil nya "


Ckiiiiittt......


"astaghfirullah,sayang ada apa , kenapa kamu berteriak ,aku sampai kaget lho....untung tak ada kendaraan lain di belakang mobil kita " seru mas Rifki terkejut


"hehe...maaf mas ....aku ....hanya....."


"hanya apa ?" tanya mas Rifki tak sabar


"tuh..."aku pun menujuk pada seorang pedagang jajanan yang berada di depan gerbang sekolahan dasar


Mas Rifki pun memundurkan mobil nya , mensejajarkan dengan pedagang itu ,keadaan sekolah nya sepi gerbang nya pun di tutup , terlihat seorang satpam berdiri di dalam pintu gerbang , aku pun sontak melihat jam di pergelangan tanganku yang menunjukan pukul 11:30 sepertinya jam pulang sekolah belum tiba,karena bisa terdengar suara riuh anak-anak dari dalam sekolahan itu .


"kamu tunggu sebentar" mas Rifki turun menghampiri pedagang itu ,lalu tak lama mas Rifki masuk lagi ke dalam mobil


"loh mas cepat amat mana jajanan nya ?" tanya ku dengan menengadah kan telapak tangan ku


"kamu serius ingin jajanan itu?" tanya mas Rifki


"iya mas ,kenapa memang nya ?" tanya ku balik


"sayang ,....itu kan dibuat nya pakai tangan"


" ya iya lah pake tangan,masa pake kaki, mas ih ngelawak " ucap ku sedikit terkikik


"maksudku pake tangan telanjang ,gak pake sarung tangan , kan gak higienis itu ,kita gak tahu kan apa tangan si penjual nya bersih atau tidak " ucap mas Rifki membuat ku menunduk


"tapi aku mau gulali itu ,apalagi kalau bentuknya hati " aku berbicara lirih


"ya tapi kan ....


"udah kasih aja ,Nuri ngidam tuh ,mau kamu anak nya nanti ileran " seru Lasmi di kursi belakang


"ya enggak lah ,tapi masa ngidam nya pengen gulali itu sih ,bisa di ganti gak ?" tanya mas Rifki


"ya udah gak apa-apa jika mas Rifki gak ngebolehin " lirih ku lagi


Mas Rifki pun mulai menjalankan lagi mobil nya , hal itu membuat perasaan ku sedih ,aku pun menggigit bibir bawah ku agar tak mengeluarkan suara isakan saat air mataku mulai keluar ,namun tiba-tiba mas Rifki mematikan mesin mobil nya seraya menghela nafas ,dan melirik padaku yang sedang menahan isakan .


"ya sudah tapi kali ini saja ya " ucap nya tersenyum menatap ku aku pun mengangguk , setelah itu mas Rifki keluar dan langsung menghampiri pedagang gulali itu.


Beberapa saat kemudian mas Rifki masuk lagi ke dalam mobil dengan membawakan sebuah gulali bentuk hati.


"akhirnya....terima kasih mas " ucap ku senang , seakan mendapatkan harta karun ,mataku berbinar menatap gulali yang sudah berada di tangan ku


"sesenang itu ?" tanya mas Rifki


"hm...iya ,aku senang sekali mas ,terima kasih ...mas mau " aku menyodorkan gulali itu epat di depan mulut nya


"no...no...no...tidak ,terima kasih kamu saja " mas Rifki nampak terlihat jijik dengan gulali nya


"baiklah " aku pun mulai menjilati bahkan menggigit ujung nya kecil-kecil , rasa manis nya membuat ku teringat masa kecil ku , aku suka sekali makan gulali seperti ini ,tampilan nya lucu , bermacam-macam bentuk bisa di buat penjual nya , bentuk kuda ,sikat gigi, penari balet ,dan masih banyak lagi lain nya .


Tak lama anak-anak sekolah pun keluar beriringan dengan pintu gerbang yang di buka ,terlihat beberapa anak yang di jemput ,ada juga yang pulang sendiri-sendiri maupun bersama-sama.


Mas Rifki kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil nya.


Seperti biasa mata ku tak pernah absen melihat makhluk tak kasat mata ,seperti hal nya saat ini , aku melihat beberapa hantu tengah berdiri di sisi kiri kanan jalan ,bahkan ada juga yang melambaikan tangan nya pada ku, namun aku hanya tersenyum saja ,tanpa ingin berkomunikasi dengan mereka ,dan mereka pun nampak nya tak ingin mengganggu ku .


"kenapa mereka selalu melihat ke arah mu mereka juga tersenyum dan melambaikan tangan nya padamu " tanya mas Rifki melirik sekilas padaku


"entahlah mas ,tapi selama mereka tak mengganggu ku ya....tak masalah kan " ucap ku


"iya sih " sahut mas Rifki


"tapi....."


"tapi apa ?" tanya mas Rifki mengkerutkan kening nya


"ada sebagian dari makhluk seperti mereka tak menginginkan kelahiran bayi kita " ucap ku lirih


"Wowo mengatakan para iblis jahat ,mereka tak akan membiarkan kelahiran bayi kita ,kata Wowo lagi anak kita kelak akan menjadi anak Sholeh yang bisa melawan iblis jahat dan bahkan memusnahkan nya" ucap ku lagi


"haah...." mas Rifki nampak tercengang mendengar penuturan ku


"waaaaw.....jadi itu alasan kenapa aku merasa tertarik dan nyaman bersama mu,karena keistimewaan bayi di perut mu?"celetuk Lasmi


"kalau begitu aku sampai kapan pun akan terus berada bersama mu, menunggu kelahiran bayi mu ,dan akan terus mengikuti bayimu sampai dewasa sampai menikah ,sampai kapan pun ,selamanya .....,aahhh...membayang kan nya saja aku sudah tidak sabar " celetuk nya lagi


"kau mau mengikuti anak ku terus ?" mas Rifki melirik tajam pada Lasmi lewat kaca spion di atas nya


"jaga in maksud nya hehehe...." cengir nya


"apa mungkin teror selama ini yang menimpa pada mu adalah ulah dari iblis jahat itu " tanya mas Rifki menerka


"tidak ,itu bukan dari mereka , aku sudah berhasil melumpuhkan dukun itu" sahut Lasmi


"dukun " sahut ku dan mas Rifki


"hm....,kalian tenang saja ,selama ada aku disini kau aman " ucap nya membanggakan diri


"kau fikir kau saja yang melakukan itu sendiri , aku juga ikut membantu mu mengalahkan dukun itu " seru Wowo yang tiba-tiba muncul di samping Lasmi


"hehehe......iya iya kita berdua , tajam sekali pendengaran mu " ucap Lasmi


"kalian cepat sekali akrab ya" godaku


"terpaksa" sahut mereka bersama


"cieee....kompak nih " goda ku lagi


membuat mereka saling membuang muka


"kamu bilang dukun,dukun apa ?" tanya mas Rifki


"dukun itu suruhan seseorang yang di bayar untuk mencelakai Nuri ,tapi kalian jangan khawatir dukun itu sudah berjanji untuk tidak mengganggu Nuri lagi " terang Wowo


"benarkah ?" tanya mas Rifki


"ya ,kamu boleh percaya pada ku ,tapi jika kembali muncul teror, itu mungkin dari dukun lain ,karena orang itu tidak pernah putus asa untuk membuat Nuri celaka " ujar Wowo lagi


"memang nya siapa yang berniat buruk pada mu " lirih mas Rifki seraya menggenggam tangan ku ,sedangkan tangan yang satunya tengah memegang setir


Aku bisa merasakan kesedihan juga kekhawatiran pada diri mas Rifki ,aku jadi sedikit tak tega dan tak bisa melihat nya selalu mengkhawatirkan ku, itu malah akan membuat hati nya tak tenang ,aku pun berucap


"mas tenang saja ,aku akan selalu baik-baik saja, aku punya Allah dan mereka yang selalu menjaga ku ,mas doakan saja yang terbaik untuk ku , aku bersyukur karena Allah mengirim kan mereka ,dan mas Rifki di hidup ku , aku tak tahu bagaimana jadinya aku tanpa kalian ,tanpa cinta dan kasih sayang mas, jadi mas jangan terlalu khawatir dan jangan terlalu di fikir kan ok , aku janji.... aku akan baik-baik saja" ucap ku panjang lebar


"mana mungkin aku tak merasa khawatir jika keselamatan mu selalu terancam" ucap mas Rifki


Tak terasa kami pun sampai di depan rumah ,namun aku dan juga mas Rifki merasa heran kenapa banyak sekali orang di depan rumah ,seperti nya mereka tengah melakukan demonstrasi ,tapi masa iya....mereka demo ,untuk apa


Nampak mbok Marni berdiri di depan pintu yang ditutup dengan wajah ketakutan nya , dan seperti nya mama Dewi belum kembali dari kafe.


"hm....masalah baru lagi " ucap Wowo


"maksud nya ?" tanya mas Rifki


Belum sempat Wowo menyahut tiba-tiba terdengar ketukan dan teriakan dari luar


tok tok tok


"wooy ....cepat buka dan turunlah ....."


.


.


.


.


.


bersambung