Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 28


"maaf untuk apa ?"tanyaku setelah terlepas dari pelukan Haris


"maaf karena aku tak ada di saat kau susah,sungguh aku menyesal,maaf juga aku tak menghubungi mu"ucap nya menyesal


"hm,gak apa-apa,ga ada yang perlu di maafin ko,seharus nya aku yang meminta maaf,maaf sudah membuatmu khawatir,sampai-sampai kamu datang kemari"sahut ku


"hey kenapa bicara seperti itu sih ,lihat aku" ucap ya sambil kedua tangan nya menangkup wajahku,dan kami pun saling tatap


"denger aku,aku memang sengaja ga hubungin kamu semalam karena memang hari ini aku mau datang memberi kejutan,jadi jangan salahkan dirimu "ucap nya kemudian


"ekhhem......sudah temu kangen nya anak muda?"tanya nek Ijah mengejutkan kami


"hehehe.....nenek"ucap kami berdua


Aku seketika menjadi malu , karena menjadi tontonan orang-orang yang berada di rumah ku


"Nur ayo bantu aku buat bikin ibu sadar," ucap Haris padaku


"bagaimana caranya ?"tanyaku bingung


"seperti waktu itu "ungkapnya


seperti waktu itu' gumam ku dalam hati


Aku mulai berfikir apa maksud nya seperti waktu itu,cukup lama aku terdiam akhirnya aku mengingat nya.


"oh iya aku ingat, "seru ku


Aku pun mulai memejamkan mata ku berkonsentrasi dan berdoa ku raih jempol kaki nya ibu lalu ku tekan sedikit ,begitu pun dengan Haris ,dia meletakan telapak tangan nya di ubun-ubun kepala ibu dengan terus merapalkan doa ,hingga tak lama akhirnya ibu pun tersadar


"uh "


ibu mulai mengerjapkan mata nya


"kenapa banyak orang dirumah ,Nur ada apa ?" tanya ibu setelah memperhatikan sekitar


"ibu tidak ingat?"tanyaku


"seingat ibu , semalam ibu dikamar dan Dede.....mana Dede nur?"


"Febry ada di rumah emak juga Ifel , mereka baik-baik saja tenang lah "ucap Mak Entin pada ibu seraya mengusap punggung ibu


"semalam ibu , seperti ada yang narik ibu , tapi ibu ga bisa menolak nya seperti terhipnotis ibu mau saja di bawanya , sedangkan Dede dia ketakutan padahal tak ada apa-apa yang ibu lihat hanya sebuah bayangan itu pun terlihat samar,lalu ibu tak ingat apa-apa lagi" ucap ibu menjelaskan


"trus bagaimana caranya kamu bisa sampai berada di loteng?"tanya nenek Ijah


"di loteng?"tanya ibu berkerut


"iya kami menemukan mu di sana,bukan kami sih tapi anakmu Nur yang menemukan mu di atas sana "jelas nenek Ijah yang di angguki Mak Entin


"iya bener "timpal Mak Entin


"ya sudah mungkin memang ibu tidak sadar dan tak tau apa-apa,yang penting sekarang ibu sudah berada di tengah tengah kita lagi " ucapku seraya memeluk tubuh ibu ku


"ngomong-ngomong itu sudah berapa bulan Bu maryam, sepertinya tak lama lagi lahiran ya , pantesan saja jarang terlihat ternyata Bu Maryam tengah hamil besar ya,selamat ya Nur kamu bakal punya dedek lagi"ucap Bu Siska tetangga ku


Aku melihat ibu dan ibu pun melihat kearah ku kita saling tatap lalu ibu berucap


"doa kan saja yang terbaik ya Bu Siska "jawab ibu tersenyum


"iya mudah mudahan OSIS ya...."ucap nya


"OSIS? apa itu?"tanya Haris ,nenek ijah juga nek Entin nampak nya mereka juga bingung


hanya diam menatap ke arah Bu Siska menanti jawaban nya


"Orok Serta Ibu Selamat " jawabnya


"ooooooohhhh.......seperti itu"ucap Mak Entin dan nek Ijah barengan dengan gaya yang meniru logat nya artis terkenal Syahrini


kenapa bisa kompak sekali 'fikirku


Kami pun tertawa , juga semua orang yang ada di dalam rumah pun ikut tertawa di buat nya.


.


.


Kini semua warga sudah membubarkan diri masing-masing,keadaan rumah nampak sepi hanya ada aku,ibu,haris,nenek Ijah dan Mak Entin.


Tak berselang lama setelah kepulangan para tetangga Ifel datang bersama Febry di gendongan nya.


"Alhamdulillah ibu sudah ketemu"ucap Ifel seraya memeluk ibu


***


Hari pun beranjak siang dan ibu pun sudah beristirahat di kamar nya ,Ifel dan Febry di ruang tengah bersama nenek Ijah dan Mak Entin


"Nur kita keluar sebentar yu,mumpung di rumah ada duo nenek "ajak Haris


"emang nya mau kemana ?"tanya ku


"pokonya kita jalan aja ya"ucapnya


"baik lah"jawabku pasrah


Kami pun pergi jalan-jalan setelah sebelum nya berpamitan pada yang di rumah.


"loh kita jalan kaki, ga pake motor?"tanyaku karena Haris terus berjalan dengan menggandeng tangan ku,aku jadi tak enak karena dilihat orang-orang.


"Ris bisa lepas ga malu tau,tuh diliatin"keluhku


"udah sih cuek saja,lagian sengaja ,biar semua warga kampung disini tuh tau kalau kamu punya nya aku"ucap nya


"dih punya kamu,punya orang tua ku kalee " ucapku


"iya tapi hati nya punya ku"


deg....


Ucapan nya menusuk di relung hati ku hingga membuat ku berhenti berjalan


"kenapa,ko berhenti?"tanya nya


"ah eng engga ga papa"jawabku gugup


tak lama kemudian kami pun sampai


"kenapa kamu membawa ku kesini ?" tanyaku


karena Haris membawa ku ke sebuah tanah lapang dengan hamparan rumput dan terdapat beberapa kolam ikan dengan saung-saung kecil yang di buat di atas kolam ikan tersebut , tempat ini merupakan lahan milik desa yang di kelola sebagai tempat wisata kecil kecilan, bagi warga setempat di gratiskan sedangkan dari luar desa hanya di pungut biaya 5000 rupiah sebagai karcis nya.


Dengan duduk beralaskan rumput ia menarik dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya


"aku kangen sama kamu nur"ucap nya


"hm...aku juga "ucapku tersipu


"ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucap nya


"tanyakan saja , ada apa?"ucap ku


"ini, siapa dia kenapa kalian terlihat seperti dekat ?"tanya nya dengan menunjukan foto dalam hp nya


"oh,dia kakak sepupu ku"jawabku cepat


"kakak sepupu?"ucapnya dengan alis yang terangkat


"hm....iya dia kakak sepupuku, dia itu tunarungu , eh tapi kamu dapat foto itu dari mana?" tanya ku


"dari Facebook,seseorang mengirimkan nya "


"seseorang, siapa?"tanya ku


"teman mu Meka" jawab nya


Aku yang memang tak main Facebook tak tahu kalau diam-diam Meka mem foto ku dan di kirim ke Haris , dan ternyata bukan pada Haris saja ,dia membagikan foto itu di Facebook, dan otomatis semua orang dapat melihat nya , telihat beberapa komentar di sana , entah lah aku tak ingin membaca nya, hingga akhirnya Haris berkata


"kamu tak ingin bermain Facebook juga?"


"untuk apa?"jawabku


"ya untuk apa saja"jawab nya


"memang kamu tak takut?"


"takut ?kenapa harus takut?"tanya nya


"kamu ga takut kalau nanti di Facebook aku banyak yang godain atau malah sebalik nya ?" tanya ku


"awas saja kalau berani"ucapnya nge gas


"hehe...santai dong sayang,jangan nge gas gitu becanda ko,lagian nih ya aku tak tertarik dengan yang begituan untuk sekarang, entah lah nanti mungkin aku buat akun " ucap ku


"apa, apa tadi kamu bilang?"


"apa?"


"yang tadi...."


"yang tadi yang mana ?"tanya ku bingung


"kamu bilang sayang tadi"


"oh itu,kirain apa,kenapa ga boleh ya" tanyaku cemberut


"boleh , siapa bilang ga boleh aku justru senang mendengar nya,coba katakan sekali lagi!"


"ga mau ah ga ada siaran ulang"ucapku


"hmmm....ya sudah kita foto yu..."ajak nya


"dih pamer hp baru ternyata ckckck...."ucap ku dan dia malah tersenyum dengan menggerak gerak kan alis nya


cekrek cekrek


kita pun ber foto dengan berbagai gaya


"nih buat kamu,pergunakan dengan baik dan bijak, di sini juga aku sudah membuat akun Facebook mu "ucap Haris dengan memberikan hp baru nya padaku


"loh ko di kasih ke aku?"tanya ku bingung


"iya ini buat kamu,biar lebih kekinian


"jadi menurut mu hp ku jadul gitu,?"


"eh bukan gitu sayangku cintaku , begini ya aku cuma ga mau orang berfikir jelek tentangmu " ucap nya


"Nur sebenernya Meta menyukai ku dia terus saja menghubungi ku namun aku tak menggubrisnya ,hingga dia akhirnya kirim foto kamu yang bersama sepupu mu,dia bilang kamu ini lah kamu itu lah "ucap nya


"jadi ini alasan nya dia diemin jutekin aku? dia menyukai Haris" tanyaku dalam hati


"enggak ga boleh di biarin,selama ini aku selalu mengalah padanya , dan kali ini aku tak mau mengalah lagi "ucapku tak sadar


"mengalah ?"tanya nya


"hm iya ...dari dulu jaman nya sekolah setiap ada cowok yang dekat dengan ku Meta selalu bilang menyukai nya , jadi nya aku selalu jaga jarak dengan cowok yang dekat dengan ku karena menghargai nya sebagai teman ku, dan dia selalu bilang kalau setiap pria tampan harus menjadi pacar nya , aku tak mempermasalahkan nya aku hanya berfikir kalau itu hanyalah candaan nya saja ,


"begitu ya...


"Haris........"


seseorang memanggil Haris dan suaranya aku sangat mengenal nya.


.


.


.


.


.


.


bersambung