Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 29


"Meta ngapain dia kesini?''tanyaku dalam hati


"Hay Ris ,kamu sedang apa di sini?"tanya nya tanpa menghiraukan keberadaan ku


"menurutmu ?" ucap Haris datar


"kita makan bakso yu Ris,aku tau tempat yang jual bakso paling enak, harga nya juga ramah di kantong "ajak nya yang benar-benar tak menganggap ku ada


"sorry ya,tapi aku ga laper udah makan juga tadi bareng Nur"ucap nya acuh


"ekhem...kalau gitu aku duluan "ucap ku yang sudah tak tahan rasa nya ,kalau aku tetap berada di sana bisa habis dia,aku termasuk orang yang gak banyak bicara namun ketika aku sudah marah,aku tak bisa mengontrol emosiku ,jadi sebelum terjadi hal yang di inginkan, eh yang tak di inginkan lebih baik aku menghindar


"eh Nur tunggu"seru Haris


namun ketika Haris ingin menyusul ku dia malah di tahan oleh Meta dengan menarik tangan nya.


"Haris kamu mau kemana ?aku udah nyamperin kamu ke sini,kamu nya malah mau pergi"ucap nya tak tahu malu


"ck apa sih lepas ga ! LEPAS....!!!"bentak nya dengan menghentakan tangan nya sampai terlepas dari pegangan tangan Meta


"Nur ..... Nur kenapa kamu malah ninggalin aku sih , kamu tega ya ninggalin aku sama dia"ucapnya setelah berhasil menyusul ku


"kamu marah sama aku?"tanya nya


"engga ko,aku hanya kesal dan kecewa saja pada nya"ucapku lirih


"kenapa kamu harus pergi Nur,kita kan bisa omongin ini baik-baik pada nya


"percuma Ris,aku tahu banget bagaimana Meta, dan aku juga ga mau kalau sampai aku kebablasan,"ucap ku pelan


"kebablasan maksudnya?"


"kamu belum tahu kalau aku sudah marah seperti apa, jadi sebelum aku marah mending aku menghindar saja "jelas ku


"memang nya kalau kamu marah itu seperti apa sih? apa kamu akan menelan orang,atau bakar rumah ,atau " ucap nya terhenti


"uh, sakit tahu "ucapku karena Haris malah menggoda ku dan menarik hidung ku


cup


"sudah ga sakit kan?"tanya nya setelah mengecup pelan hidungku yang tadi ditarik nya


"iiihhh....modus..."


"enggak lah, aku pada mu gak pernah modus ya " ucap nya tak terima di bilang modus


Di sela candaku aku sempat melirik pada Meta yang masih terdiam di tempat tadi dengan terus memperhati kan ku.


"udah biarin saja"ucap nya rupanya ia tahu kalau aku selalu melirik ke arah Meta


"kita pulang yu , udah ga seru juga "ajak nya kemudian


"ya udah yu "sahut ku


Kami berdua pun memutuskan untuk pulang,


saat kita sedang berjalan kaki aku merasa ada yang memperhatikan ku,ku fikir Meta lah yang masih memperhatikan ku,tapi setelah ku perhatikan sekeliling tak ada Meta atau siapapun.


"kamu kenapa Nur, kamu nampak gelisah dan gak nyaman seperti itu?"tanya Haris memperhatikan ku


"entah lah Ris ini perasaan ku atau apa,dari tadi aku ngerasa ada yang memperhatikan kita "ucapku pelan


"ya sudah kita percepat jalan kita "


"iya "


kami pun mempercepat langkah kami,hingga akhir nya kita sampai di rumah


"akhirnya nyampe juga,...hacciiiihhhh...."


tiba-tiba aku bersin


"kalian sudah pulang ? cepat sekali jalan-jalan nya?" tanya nenek Ijah


"iya nek tadi ada orang gila jadinya kita pulang cepat saja"jawab Haris


wah gokil si Meta di bilang orang gila'hihihi...


aku mengulum senyum


"ya sudah sana makan belum pada makan siang kan?"tanya nenek Ijah


Kami pun menuju ke meja makan untuk makan siang


"ibu,Ifel dan Febry ga makan, Mak Entin dan nenek juga?" tanya ku yang karena hanya aku dan Haris saja yang berada di meja makan


"kita sudah makan siang ko barusan" ucap ibu


"oh baiklah "


"kenapa tadi kamu berbohong?"tanyaku pada Haris setelah kami selesai makan siang


"bohong apa?"tanya nya pula


"tadi kamu bilang pada Meta kalau kamu udah makan bareng aku ,padahal kamu juga baru datang trus ngajakin aku jalan mana sempat kita makan bareng" ujarku


"oh itu ,iya aku sengaja bohong,kalo aku bilang belum makan , itu malah akan jadi kesempatan si Meta buat ngajakin aku makan dong , emang nya kamu mau aku pergi makan bareng dia ?"


"ya enggak lah" jawab ku cepat


.


.


Kini malam pun tiba


Seperti biasa setelah aku selesai mengerjakan shalat isya dan tadarusan aku menonton tv bersama ibu dan ke dua adik ku, namun kali ini ada yang berbeda karena Haris meminta untuk menginap.


Awalnya aku menolak tapi dengan segala bujuk rayu nya serta alasan ingin menjaga ibu,akhir nya dia bisa menginap di rumahku


dengan catatan Haris tidur bareng Ifel


dan ia pun menyetujui nya.


Malam semakin larut ,jarum jam pendek pun sudah bergeser ke angka 11:30 malam, ibu dan ke dua adik ku pun sudah berada di kamar ,sedangkan Haris dia masih setia menunggu ku yang sedang menonton acara audisi dangdut yang di siarkan di salah satu stasiun televisi.


Aku beranjak dari sofa untuk menuju ke kamar mandi, kebiasaan ku kalau hendak tidur mencuci kaki dulu.


di dalam kamar mandi


tok tok tok


Siapa yang mengetuk pintu nya'gumam ku


"iya sebentar "ucap ku segera membersih kan kedua kaki ku


"loh kemana orang nya?"tanyaku pelan karena tak melihat siapa pun di depan pintu kamar mandi nya


Wuuussshhh


Tiba-tiba bayangan putih melintas di depan ku,meskipun melintas tepat di depan ku namun aku tak bisa melihat nya dengan jelas.


Ku perhatikan sekitar dapur dan kamar mandi tak ada sesuatu yang aneh dan mencuriga kan "gumam ku


hingga sesuatu berhasil membuat ku terjatuh


"aw..."


"kenapa seperti ada yang menahan kaki ku


ya''fikirku


"adduh.....".sesuatu mengenai kepalaku


prangggg


Suara mangkuk aluminium terjatuh dengan sendirinya membuatku terlonjak kaget.


Namun aneh nya suara-suara gaduh dan berisik di area dapur seakan tak terdengar ke luar seperti menggunakan peredam suara.


Aku pun berusaha untuk bangkit dan segera keluar namun seketika bayangan putih itu muncul lagi dan menampakan diri dengan


sangat jelas.


Wajah pucat dengan kain putih yang menjuntai ke bawah dengan rambut panjang nya yang sudah kusut,hantu itu menyeringai dengan ke dua tangan nya terjulur seperti hendak mencekik ku , ia juga melayang layang di udara.


Semakin dia mendekat semakin aku memundur kan langkah ku ,sampai akhirnya aku tersudut dan menyandar pada dinding ia berhasil menjangkau leherku dan berusaha mencekiku , tak putus asa


aku merapalkan beberapa doa meminta pertongan kepada Allah


dan setelah itu aku tak sadar kan diri


"astaghfirullah halazim Nur "


.


.


.


.


.


.


.