Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 43


.


.


.


aku yang dulu bukan lah yang sekarang


dulu di tendang sekarang ku di sayang


dulu dulu dulu ku menderita


sekarang aku bahagia.....


Ku buka mataku yang dari tadi ku pejamkan , bukan tidur,hanya saja sengaja menutup mataku karena tak ingin melihat di kiri kanan jalan yang selalu saja ada penampakan ,


kenapa juga aku bisa kembali melihat yang tak kasat mata ,padahal sudah lama sekali aku sudah tak bisa melihat mereka.


Ku toleh kan mataku ke arah suara anak kecil yang bernyanyi dengan membawa kecrekan dari tutup botol , sedangkan anak yang satunya lagi berjalan meminta bayaran dengan menggunakan plastik bekas makanan ringan.


Hatiku terenyuh melihat nya ,bagaimana tidak di usianya yang sekecil itu mereka sudah mencari uang sendiri meskipun dengan cara mengamen ,di saat anak seusia mereka harus bermain dengan teman sebaya nya ,tapi mereka sudah harus merasakan susah nya mencari uang,betapa beruntung nya aku yang tak pernah ada di posisi mereka .


"Ya Allah ampuni aku karena selama ini aku selalu mengeluh dan tak pernah merasa bersyukur atas apa yang ku punya selama ini" lirih ku dalam hati


Ku lambaikan tangan ku pada anak laki-laki yang membawa plastik itu untuk mendekat pada ku ,ku masukan uang lembar 50 ribuan ke dalam plastik yang ia bawa , dengan menatap heran anak itu berkata


"kakak ini kebanyakan ,aku tidak ada kembalian nya " ucap nya polos


"enggak apa-apa ko,ini semuanya untuk kamu untuk teman kamu juga ,maaf ya cuma ada segini " ucap ku sambil tersenyum


"tapi ka"sergah nya


"sudah terima saja ya" ucapku lagi


Anak itu pun mengangguk sambil tersenyum ia pun berkata


"terima kasih kak, kakak baik dan cantik, semoga kakak selalu bahagia dan uang yang kakak berikan padaku semoga tergantikan dengan yang lebih banyak " ucap nya mendoakan ku


"amin ....iya sama-sama,terima kasih juga ya sudah mau mendoakan kakak" ucap ku mengusap kepala nya


Bus pun berhenti , beberapa penumpang turun dan di gantikan penumpang lain yang naik , begitu pun dengan kedua anak tadi ,Meraka turut turun dari bus yang aku naiki , ya kini aku sedang berada di dalam bus,untuk perjalanan menuju Jakarta .


Setelah sebulan aku menunggu kabar dari ayah ,akhirnya ayah menghubungi ku bahwa ada lowongan pekerjaan untuk ku ,dan langsung saja aku berangkat untuk tak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Cukup lama juga perjalanan nya ,mungkin karena aku yang baru pertama kali ke Jakarta jadi merasa perjalanan nya terasa lama.


Ku pejamkan lagi mataku , saat aku tak sengaja melihat sosok berbaju merah di sisi kanan jalan , sampai tak terasa aku pun tertidur.


Aku mengerjapkan mataku saat kurasa bus nya berhenti dan terdengar suara riuh ,dan bisingnya teriakan yang berbaur dengan suara kendaraan yang bersahutan.


"terminal ...terminal..."suara teriakan kenek bus terdengar lantang


Aku pun lantas bangkit dari duduk ku ,dan keluar dari bus nya ,kulihat ayah sudah nampak di dekat bus menengok kanan kiri mencari keberadaan ku .


Aku berjalan mendekat pada ayah ,namun nampak nya ayah tak juga menyadari keberadaan ku, aku berdiri di samping ayah yang masih celingukan mencari ku ,hingga akhirnya aku memanggil nya.


"ayah cari siapa? " ucapku menegur nya


"Masya Allah ini kamu Nuri ,ayah sampai tak mengenali mu ,padahal tadi ayah melihat ke arahmu loh" ucap ayah takjub melihat penampilan ku yang mengenakan hijab, aku hanya tersenyum menanggapi nya.


"ya sudah ayo kita pergi dari sini" ucap ayah lalu meraih tas jinjing besar berisi pakaian ku


Kita pun berlalu menuju ke halte untuk menunggu angkot, kita duduk dengan beberapa orang yang juga sedang menunggu angkot ,hingga akhirnya angkot pun datang dan aku juga ayah dan beberapa orang tadi pun naik angkot itu.


Ternyata perlu dua kali naik angkot untuk sampai ke tempat kerja ayah,kenapa ke tempat kerja ayah ? itu karena ayah tinggal disana ,dan aku akan ikut tinggal bersama ayah , tadinya aku ingin mencari kontrakan tapi ayah tak mengizinkan.


Ku edarkan kan pandangan ku ,menatap pada gedung-gedung yang menjulang tinggi di sisi kiri kanan ku , padatnya jalan raya oleh banyak nya kendaraan seperti mobil ,angkot ,motor juga bis yang berlaku lalang , panas ,dan sesak karena bau dari asap knalpot pun membuat ku sedikit pusing dan mual ,apa lagi di tambah bising nya lalu lintas dengan suara klakson yang bersahutan .


Hingga akhirnya aku sampai juga di tempat kerja ayah, halaman nya luas ,begitu masuk pintu gerbang tercium bau menyengat entahlah itu bau apa , sepanjang kaki ku melangkah banyak tatapan mata tertuju ke arah ku , ada yang bersiul ,ada juga yang menyapa ayah dan menanyakan tentang ku.


Di sisi kiri kanan ku berjejer lemari-lemari yang sudah setengah jadi , terdapat banyak polesan dempulan di beberapa bagian nya , ada juga yang tengah di hamplas ,ternyata bau menyengat itu berasal dari bahan dempulan itu juga dari semprotan yang di semprotkan pada lemari juga beberapa kursi dan yang lain nya.


"waahh.....ini anak nya ya pa Maman "ucap seorang yang sedang meng hamplas lemari itu


"iya Dung ,gimana cantik kan anak saya "ucap ayah bangga pada seorang laki-laki yang usia nya mungkin seusia dengan kakak sepupu ku


"ish ayah " seru ku malu menarik baju bawah ayah


"iya cantik duh sayang ya aku sudah kawin ,kalau belum"


"apa,mau apa ? jangan macam-macam kau ya,enak saja kawin , kawin , emang nya kucing apa,nikah kali" sergah ayah


"hahaha ya enggak lah ,orang cuma bercanda ,lagian kalau pun aku masih sendiri pun belum tentu anak mu ini mau sama aku, lihat saja dia yang cantik begini dan saya yang buluk begini ,ya mana cocok, betul kan mmm....." ucap nya melihat pada ku


"Nuri, "sahut ku


"nah betul kan Nuri " tanya nya


aku hanya tersenyum menanggapi nya


"haduh hati abang meleleh lihat senyuman en'neng" ucap nya lagi


"perkenalkan nama Abang, Dudung " ucap nya memperkenalkan diri


Ayah pun kembali membawa ku berjalan lebih ke dalam lagi ,setelah melewati beberapa ruangan dan menyapa yang kita temui akhirnya aku sampai juga di depan kamar ayah, ada banyak pintu kamar yang berderet rapi seperti kontrakan ,menurutku.


Kamar ayah tak begitu besar juga tak begitu kecil ,namun cukup untuk kita berdua , dengan 2 kasur lipat ,di dalam nya juga terdapat dispenser ,dan tv , hingga lemari pakaian lumayan nyaman.


Aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur lipat untuk meluruskan pinggangku , rasa nya ,cape dan pegal sekali ,hingga tak terasa aku malah ketiduran ....


.


.


.


.


.


.


bersambung