Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 empat bulanan


Hari semakin sore aku yang tengah terlelap pun terbangun saat mendengar adzan ashar berkumandang , kulihat mas Rifki masih terlelap di samping ku,dengan perlahan aku turun dari tempat tidur .


"mau kemana ?"


"KUNTILANAK''


suara mas Rifki mengejutkan ku


"astaghfirullah halazim, mas bikin kaget saja " ucap ku seraya menghela nafas panjang


"kamu kenapa kaget begitu ?"


"aku fikir mas Rifki tidur " sahut ku


"aku tidur ko, hanya saja aku terbangun saat kamu juga bangun "


"sayang , maaf ya " ucap mas Rifki meminta maaf


"ehm...baiklah aku maafin tapi janji gak boleh gitu lagi, harus jaga jarak jika ada Meta juga wanita mana pun " ucap ku akhirnya


"iya aku janji ,aku janji bakal jaga jarak sama siapa pun , makasih sudah maafin aku " mas Rifki tiba-tiba saja memeluk ku


"aku senang kamu cemburu ,itu tandanya kamu cinta aku " ucapnya


"siapa juga yang cemburu ,aku hanya kesal saja " kilah ku


"jangan mencari alasan aku tahu kok kamu cemburu ,udah jangan gengsi ngaku aja ,gak apa-apa ko " ucap nya lagi dengan masih memeluk ku


"iiih apa an sih "


"aw ,ko aku di cubit "


"ehm, sudah waktunya shalat ashar mas , kita shalat dulu" ucapku seraya menarik diri dari pelukan mas Rifki


"gak wudhu dulu"


"ya wudhu dulu dong mas ,nanti shalat nya gak sah kalau gak wudhu " sahut ku


"hehe...becanda , ya udah yuk kita wudhu dulu "


Aku dan mas Rifki pun pergi menuju kamar mandi untuk melakukan wudhu


"sudah bangun kalian , ibu fikir masih tidur , baru aja mau ibu bangunin " ucap ibu saat aku dan mas Rifki keluar dari kamar


"iya Bu, kita wudhu dulu "


"iya sana kalian wudhu dulu " ucap ibu


....................


Hari pun berganti dan kini dimana acara empat bulanan pun di laksanakan , banyak tetangga terdekat yang datang membantu memasak ataupun menyiapkan hal lain nya , ada yang bertugas menyiapkan jamuan untuk para pembaca doa, ada yang memasak , ada juga yang tengah membuat rujak tumbuk , sudah ada beberapa jenis buah-buahan dan bahan lainnya di sana , ada buah mangga muda , delima ,pepaya setengah matang , jambu biji , jambu air , ubi mentah , cengkudu muda , dan tak ketinggalan bengkoang juga buah nangka yang masih kecil ,orang sunda sering menyebut nya tongtolang .


Jam menujukan pukul sepuluh pagi ,Ibu-ibu pengajian pun sudah pada datang untuk ikut mendoakan ku juga bayi dalam kandungan ku .


Setelah selesai dengan membaca doa , kini tiba saat nya untuk melakukan beberapa prosesi empat bulanan , aku yang sudah berganti pakaian dengan hiasan bunga melati yang di sampirkan di bahu ku juga di kepalaku , aku duduk di kursi plastik tanpa sandaran ,dengan air bunga se ember penuh di depan ku .


Mas Rifki orang pertama yang di minta untuk menyirami ku dengan air bunga ,dengan mengucap bismillah mas Rifki mulai menyiram ku dari atas kepala .


byuuuurrr


Begitu air itu mengenai ku rasa nya dingin yang amat sangat,hingga gigiku menggertak dengan sendiri nya , benar juga ya katanya air siraman bunga saat prosesi empat bulanan itu rasanya sangat dingin , dan aku kini merasakan nya .


Dilanjut kedua orang tua ku lalu mama Dewi juga mbok Marni ikut membasuh ku , dan sisa nya para anggota keluarga ku yang lain.


Siraman empat bulanan tadi itu sukses membuat ku menggigil kedinginan , sampai-sampai aku mengenakan baju dobel untuk mengurangi rasa dingin nya .


"astaga Nuri kamu apa gak gerah itu pake baju sampai berlapis-lapis begitu " ucap ayah ketika melihat ku


"hehe...abis nya dingin ayah " sahut ku sambil tersenyum


Oh iya hampir ada yang lupa ,setelah selesai siraman kini aku tinggal menjajakan rujak ,karena katanya rujak empat bulanan itu paling di nanti-nanti oleh setiap orang ,dan katanya rasa dari rujak itu dapat menentukan jenis kelamin bayi yang dikandung ,itu hanya kepercayaan orang tua dulu-dulu ya .


Hingga akhirnya rujak nya tinggal sedikit, dan tinggal hanya satu orang yang menunggu rujak nya


"yah tinggal dikit lagi ya,padahal aku sudah mengantri nya lama banget tadi , tapi ya sudah la gak apa-apa sedikit juga yang penting kan masih kebagian " ucap Meta


"iya maaf ya Meta" sesal ku


hah aku fikir dia gak bakal datang eh rupanya dia udah ada di sini


"hm....enak rasanya pedas dan manis ,pasti anak nya laki-laki" ucap Mak Entin


"kalau rasanya asin ?" tanya ku


"ya perempuan " jawab nya


"emangnya bisa gitu jenis kelamin nya ketahuan dari rasa rujak nya ?" tanya mama Dewi


"ya itu cuman kebiasaan warga saja , entah itu benar atau tidak tapi orang-orang suka menebak dari rasa rujak nya " terang ibu


"oh gitu ya , saya gak ngerti soal nya " ucap mama Dewi lagi


Kini acara empat bulanan nya selesai ,rumah pun menjadi sepi kembali karena para tetangga yang tadi datang membantu sudah pada pulang .


Cuaca yang tadinya sedang panas terik tiba-tiba berubah jadi gelap ,langit yang tadi nya cerah pun kini nampak mendung ,angin pun berhembus dingin pertanda hujan akan turun .


Kilat menyambar di sertai suara gemuruh petir ,membuat kita yang sedang duduk di teras depan pun beralih masuk ke dalam rumah .


DUAAARRR


brukkk


tiba-tiba terdengar suara petir seperti menyambar sesuatu ,dan ternyata dahan pohon rambutan depan rumah lah yang di sambar petir ,hingga dahan nya jatuh menimpa mobil yang terparkir di bawah nya .


"astaga naga , kak itu mobil nya gimana ?" ucap Ifel menujuk mobil mas Rifki yang tertimpa dahan pohon


"sudah gak apa-apa, nanti saja kalau hujan nya sudah reda baru kita bereskan " ucap mama Dewi


"kenapa tiba-tiba hujan turun dengan lebat ya ,padahal kan tadi masih panas banget " ucap Ifel tiba-tiba


"namanya juga cuaca gak bisa di prediksi " sahut ayah


"apa ini bukan suatu pertanda " tanya Ifel lagi


"pertanda apa an ,kamu ini jangan berfikir yang bukan-bukan, hujan itu turun nya dari Allah, jangan pernah berburuk sangka pada apapun , kita itu harus nya bersyukur masih di beri hujan , coba lihat di daerah lain ,banyak orang kesusahan karena hujan tak turun , tanah menjadi gersang , kebakaran hutan , banyak tanaman dan tumbuhan lain nya pada mati kekeringan , sawah ladang tak bisa di garap karena tak ada air , kita harus bersyukur Fel" ucap ayah lagi


"iya iya aku bersyukur pada Allah, terima kasih ya Allah sudah menurunkan hujan " ucap Ifel yang langsung aku lempar dengan bakwan yang berada di depan ku


"duh mau lempar tuh bilang-bilang dong , kan biar siap-siap nangkap nya, tapi makasih ya , mana cabe nya " ucap nya lagi


"sebentar aku ambil kan dulu " sahut ku seraya beranjak ke dapur


"nih ,habisin " ucap ku seraya meletakan sekilo cabe rawit dalam plastik


"buset kira-kira dong masa di kasih cabe nya banyak banget ,bisa moncrot perut ku " gerutu nya


"bodo" sahut ku cuek


"Nuri ....Nuri ....kamu ini ada-ada saja " ucap ibu menggelengkan kepala nya


.


.


.


.


.


bersambung