
Mas Rifki sama sekali tak menjawab pertanyaan ku , ia malah terdiam dengan terus menatap ku , aku pun jadi merasa grogi karena di tatap seperti itu oleh mas Rifki .
"mas...ke...kenapa....kamu menatapku seperti itu?" tanya ku sedikit gelagapan
"karena kamu cantik " jawab nya datar tanpa ekspresi
"mas...jangan membuatku takut " ucap ku ,sungguh aku merasa aneh dengan mas Rifki, kenapa tiba-tiba dia seperti itu
"siapa yang menakuti mu" tanya mas Rifki yang masih saja menatap ku tajam ,perlahan mas Rifki mendekatkan wajah nya padaku,membuat ku menegang dengan degup jantung ku yang berdetak lebih cepat,aku pun sontak meremas kedua tangan ku,ku tutup kedua mata ku saat wajah mas Rifki semakin dekat dengan ku ,namun kemudian
"jadi itu kau.....peri cantik ku " bisik nya tepat di telinga ku
"a....apa ....apa maksud mas Rifki?" tanya ku ,aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang di ucap kan nya barusan
"ya, aku dan kamu dulu pernah bermain bersama di taman bermain itu, kau ingat saat itu kamu terus turun meluncur dari perosotan dan aku selalu di bawah menunggu mu , kita bermain seolah kita sudah saling mengenal padahal kita sama sekali tidak tahu satu sama lain , karena aku tidak tahu siapa nama mu makanya aku memanggil mu peri cantik" tutur mas Rifki seraya menyentuh kedua bahuku ,aku pun menatap pada mata mas Rifki
"kenapa mas bisa yakin ?" tanya ku
"mata mu.... ,dari pertama aku melihat mata mu ,aku selalu merasa tak asing , makanya aku selalu berusaha untuk selalu dekat dengan mu"
tutur mas Rifki lagi
"setiap hari libur aku selalu mengajak mama untuk pergi ke sana ,dengan harapan bisa kembali bertemu dengan mu, hingga usia dewasa ku juga tetap pergi ke sana" ucap nya
"ah iya lalu apa panggilan mu untuk ku ?" tanya nya ,namun aku menggeleng seraya berucap
"aku sama sekali tak terlalu memikirkan,bahkan nyaris melupakan nya ,tapi tadi malam aku memimpikan nya hingga aku kembali mengingat nya " jawab ku jujur
"ah....tega sekali kamu , jadi sia-sia dong aku selama ini" ucap nya menghela nafas dengan raut wajah yang sudah berubah sendu
"sia-sia bagaimana?" tanya ku
"apa kamu tahu sayang ,aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengan nya , tapi gadis itu malah melupakan ku , sedih sekali aku " ucap nya dengan menyentuh dada nya
"kenapa harus sedih , seharusnya kan mas Rifki senang ,karena ternyata peri cantik mu itu sekarang sudah menjadi istri mu " ucap ku tersenyum
"ya kau benar , aaahhh.....aku benar-benar tidak menyangka nya ,ternyata takdir kita itu unik ya " ucap mas Rifki lalu menarik ku ke dalam pelukan hangat nya .
"maafkan aku yang malah melupakan mu mas " ucap ku dalam pelukan nya
"ehm....tidak perlu meminta maaf ,lagi pula pantas kau melupakan ku ,karena itu terjadi sudah bertahun-tahun lama nya" ucap mas Rifki seraya terus menciumi pucuk kepalaku
"sekarang ayo kita keluar ,yang lain pasti sudah menunggu " ajak mas Rifki meraih tangan ku dan menggenggam nya
"ekhem..." suara deheman seseorang mengejutkan ku begitupun dengan mas Rifki
"mama " ucap ku pelan
"astaga kalian ini ,yang lain sudah menunggu ,kalian malah bermesraan di sini" ucap mama Dewi menggelengkan kepala
"hehe....maaf ma" mas Rifki menggaruk kepalanya
"ya sudah cepat kalian turun ,kasihan Febry sudah tak sabar dia " ucap mama Dewi seraya pergi meninggalkan kami
Kami berdua pun keluar ,hingga pada saat kami sudah sampai di bawah ,aku tak sengaja tersandung ujung dress ku
"aaakkhh...."
"Nuri...."
beruntung dengan sigap mas Rifki dapat menarik tubuhku hingga aku tak sampai jatuh .
"astaga Nuri, kamu itu bikin jantung copot saja ,kamu hati-hati dong untung tidak jatuh " seru mama Dewi
"untung saja suami mu siaga " ucap ibu
"kamu tidak apa-apa?" tanya mas Rifki memperhatikan wajahku ,aku pun meggeleng
"enggak ko, makasih mas " sahut ku
"tak perlu berterima kasih , sudah seharusnya aku menjaga mu " sahut mas Rifki menatap ku
"mas...."
"iya "
"mas..." ucap ku lagi
"mas .....kau lupa menutup retsleting mu " ucap ku pelan ,sontak mas Rifki melihat ke bawah celana nya dan langsung berbalik memunggungi kami semua dan langsung menutup retsleting nya
"hahaha.....dasar kamu itu " ucap mama Dewi seraya pergi ke luar dengan membawa beberapa barang yang akan kita bawa untuk berpiknik dibantu mbok Marni
"mbok yakin gak ikut ?" tanya ku
"iya Nuri ,maaf ya ,sebetul nya mbok pengen banget ikut tapi gak bisa, mbok harus menghadiri acara pernikahan ponakan mbok " sahut nya
"ya udah gak apa-apa, memang mbok perginya berapa hari ?" tanya ku lagi
"paling dua atau tiga hari " ucap nya
"ya sudah kalau begitu Nuri dan yang lain berangkat,mbok hati-hati ya" ucap ku seraya memeluk perempuan paruh baya itu .
"iya ,kalian juga berhati-hatilah" ucap nya
Kami pun pergi dengan menaiki mobil rental yang sengaja mas Rifki sewa ,karena mobil mas Rifki hanya muat untuk empat orang saja ,dan mobil ini lumayan muat untuk orang banyak .
Aku duduk di depan dengan mas Rifki yang mengemudi , mama Dewi di belakang ku bersama Ifel ,sedangkan ayah ,dan ibu di jok paling belakang dengan memangku Febry .
Rupanya Wowo, Lasmi, bang Popo pun ikut bersama kami ,mereka duduk di atas mobil .
Tak terasa satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di tujuan, jika saja tadi tak terjebak macet mungkin tiga puluh menit yang lalu kita sudah sampai .
"yeeee.....kakak....ayo kita ke sana " ajak fabry antusias menarik tangan ku
"de,sana sama kak Ifel saja ,kasihan kak Nuri kan ada Dede bayi nya di perut nya " ucap ibu
"oh iya ya ,ya sudah deh Ifel ayo...." Febry beralih menarik tangan Ifel
"ah....hahaha..... ya ampun adik kamu itu lucu banget Nuri " mama Dewi nampak gemas melihat sikap Febry
"kamu lihat kan Nur, gara-gara Dede sering lihat kalian ribut ,Dede jadi selalu bersikap semena-mena pada Ifel , dia mencontoh mu " ucap ayah melirik ku
"ya ampun " lirih ku
"maaf " ucapku sambil menunduk
"sudahlah tidak apa-apa,sudah terjadi , lagipula itu selalu mengingatkan ibu pada mu ,rumah tidak pernah sepi ,karena selalu saja ada tingkah aneh dan nyeleneh kedua adik mu itu " ucap ibu
"baiklah lebih baik kita ke sana yuk, kita kenang masa kecil kita yang singkat itu ,biarkan kedua nenek ini yang menyiapkan semua nya " ajak mas Rifki menujuk sebuah perosotan yang dulu , namun sekarang nampak sedikit berbeda , bukan sedikit sih tapi ....semua nya berubah ,dulu hanya ada sebuah perosotan ,dua ayunan, danau buatan nya pun terlihat sederhana dengan beberapa perahu bebek terapung di atas danau itu ,tapi kini penampakan nya jadi lebih kekinian , perosotan nya jadi lebih besar dan tinggi, dengan terowongan di bagian atas nya , ayunan nya pun kini bertambah ,ada tambahan jungkat-jungkit juga di sana ,serta terdapat beberapa spot fhoto yang menarik ,perahu bebek nya pun terlihat lebih modern ,dan masih banyak lagi macam-macam lain nya .
"mengenang masa kecil ....maksud mu?" tanya mama Dewi nampak bingung
"mama ingat gak waktu dulu ,dulu banget mama sama papa sering bawa aku ke tempat ini , dan ternyata dulu kita berdua pernah bertemu saat kita masih kecil " ucap mas Rifki
"oh ya....ko bisa ?" mama Dewi mengerutkan kening ,terlihat ibu juga ayah pun sama bingung nya
"ayah dan ibu masih ingat saat Nuri berulang tahun ke lima ?" tanya ku menatap ayah dan ibu bergantian
"ah.....iya ....jadi saat itu kalian bertemu di sini,?" ucap ayah ketika ayah sudah mengingat nya
"ya , kita main perosotan bareng waktu itu,padahal kita tak saling mengenal " sahut ku
"jadi kamu anak laki-laki itu , anak laki-laki yang terus menjaga Nuri saat bermain ?" tanya ibu nampak tak percaya sedangkan mas Rifki hanya tersenyum
"ternyata Allah telah menujukan jodoh mu saat masih kecil ya " ujar ayah
"ayah merasa senang karena akhirnya kamu menemukan laki-laki yang benar-benar tulus menyayangi dan mencintai mu , jaga dan tetap sayangi Nuri ,apapun yang terjadi ya , ayah tidak meminta apapun dari mu selain rasa tanggung jawab dan kasih sayang mu pada anak ayah " ucap ayah menatap ku juga mas Rifki
"iya ayah ,ayah bisa percaya kan Nuri pada ku " sahut mas Rifki
"ya sudah sana kalian kenang masa kecil kalian ,biar ini kami bertiga yang siap kan" ucap mama Dewi kemudian
Di saat aku dan mas Rifki menuju ke perosotan itu tiba-tiba sesuatu yang berkilauan mengenai mata ku hingga aku memicing dan mencari-cari asal cahaya silau itu, hingga aku melihat sesuatu di dekat pohon yang tak jauh dari perosotan itu .
.
.
.
.
bersambung