
Author POV
Di saat Nuri tengah melepaskan ular tadi di belakang kafe , tiba-tiba Rifki bertanya sampai mengejutkan nya.
"kemana perginya ular tadi ,terus kamu bicara pada siapa ?" tanya nya pada gadis berkerudung di hadapan nya
"ah i itu ,ular nya sudah pergi ke sana ,iya ke sana ,tuh masuk ke parit " jawab nya gelagapan
"benarkah ? tapi ko perasaan tadi tiba-tiba saja menghilang " ucap Rifki bingung
"maaf mas Rifki ,aku mau lanjut kerja lagi ,permisi " ucap Nuri seraya masuk kembali ke dalam kafe
Masih diluar, Rifki masih nampak kebingungan , ia pun lantas melihat sekitar parit ,untuk memastikan ,namun ia tak mendapati apa pun.
"ya sudah lah mungkin dia benar " gumam nya ,lantas ia pun pergi masuk ke dalam kafe nya lagi
Lewat cctv ia terus memperhatikan gerak gerik Nuri ,gadis itu berhasil mencuri perhatian nya sejak pertama melihat nya.
"ini yang kucari , tak seperti perempuan lain yang langsung terpesona dan bahkan selalu mencari perhatian ku ,sikap nya yang cuek padaku membuat ku ingin mendekati nya " batin nya seraya terus memperhatikan layar komputer yang menampilkan setiap sudut kafe nya itu.
"selamat siang " sapa Nuri ramah pada dua orang pengunjung yang baru saja duduk di meja no dua dengan memberikan sebuah buku menu.
"saya mau orange jus ,dan cofee latte , saja " ucap pengunjung nya
Nuri pun lantas mencatat nya
"baik ,mohon tunggu sebentar " ucap Nuri tersenyum seraya berlalu menunju pantry
tak lama Nuri datang membawa pesanan nya
"ini silahkan dinikmati " ucap nya lalu undur diri
Nuri meraih kain lap dan semprotan pembersih kaca ,ia kemudian menuju meja kosong yang baru saja di tinggalkan pengunjung ,dengan sigap dan cekatan gadis itu meraih piring serta gelas kotor dan di masukan nya ke dalam ember , setelah itu ia langsung membersihkan meja itu ,sampai mengkilat ,hingga tempat duduk nya pun ia bersih kan juga.
Setelah selesai gadis itu pun segera membawa piring serta gelas kotor dalam ember tadi ke arah pantry.
Di ruangan pantry nampak semua orang sibuk , ada yang terus berkutat dengan piring kotor,ada yang memasak ,ada yang membuat minuman ,bahkan ada juga yang berlarian ke sana kemari membawakan apa-apa saja yang di butuhkan si tukang masak alias koki atau chef.
"Nuri gantian dong ,pegel nih dari pagi berdiri terus cuci piring ,aduuh tangan ku jadi keriput begini kan kena air terus "seru Agus yang gemulai satu-satu nya pegawai cowok di sini
"baiklah sini gantian ,kamu yang jadi pelayan aku yang nyuci " sahut nya seraya mendekat ke arah Agus
"yeee....terima kasih Nuri kamu memang yang paling baik disini , mereka semua pada jahat tahu ,masa ga mau gantian ,kan sebal rasa nya " ucap nya seraya mengelap kedua tangan nya
"iya ,sudah sana " ucap Nuri lagi
Agus pun bergegas untuk keluar melayani para pengunjung
Disaat gadis itu tengah mencuci piring kotor tiba-tiba saja ada tangan yang menyentuh dan memegang erat tangan kanan nya ,tangan itu penuh luka ,dan berongga mengeluarkan nanah ,bau nya busuk sampai membuat Nuri mual di buat nya.
Di ruangan kerja Rifki terus memperhatikan nya ,ia nampak terkejut atas apa yang ia lihat di layar cctv
pria itu melihat ada seorang nenek tua sedang mencengkram tangan Nuri.
"siapa nenek itu ,sejak kapan dia masuk,dan kenapa mereka semua nampak acuh ,apa yang dia lakukan pada Nuri ?" batin nya
ia pun beranjak dari duduk nya ,dan berlari menuju pantry, Rifki tahu nama Nuri dari salah satu pegawai di sana ,karena rasa penasaran nya ,ia pun bertanya mengenai Nuri pada salah satu pegawai nya itu .
Saat Rifki sudah berada di pantry ia membelalakan mata nya karena ia tak melihat sosok nenek itu ,ia malah melihat Nuri yang tengah memejamkan mata nya, sedangkan yang lain tampak tak memperhatikan Nuri karena kesibukan nya masing-masing.
Sedangkan Nuri sendiri ia tengah berusaha melepas nya dengan membaca beberapa surah Al Qur'an , hingga akhirnya tangan itu terlepas,dan sosok nenek tua itu pun menghilang.
"kenapa kau membaca itu ,membuat ku panas saja ,aku kan mau nolongin kamu tadi " seru Wowo yang tiba-tiba hadir di samping nya
"maaf aku tak tahu kau di sini Wowo"ucap Nuri yang berkomunikasi lewat batin
"kenapa bisa gak tahu kan kamu bisa nyium bau aku?"tanya Wowo kemudian
"aku kan tahan nafas ,abis nenek-nenek itu bau banget ,pengen muntah aku " sahut Nuri
"Nuri ,kamu tak apa-apa ?" tanya seorang pria di belakang nya ,yang tak lain adalah Rifki
"eh mas Rifki ,engga apa-apa ko, memang nya aku kenapa ?" tanya Nuri
"ok kalau begitu aku pergi " ucap Wowo lalu menghilang
Bukan hanya Nuri saja yang bingung namun semua orang yang berada di dalam pantry pun melihat ke arah nya dengan raut wajah yang bingung.
"memangnya Nuri kenapa mas Rifki?" tanya Sely yang tengah sibuk dengan minuman yang ia buat
"ah tidak ko,aku hanya ingin menanyakan apa dia tak merasa kecapean " ucap nya
Nuri merasa kikuk mendengar nya ,ia pun mengabaikan keberadaan Rifki dan kembali mengerjakan pekerjaan nya.
"hah apa-apa an dia ,bikin aku malu saja " gumam Nuri dalam hati nya
"dia melihat hantu nenek itu tengah mencengkram tangan mu " ucap Wowo yang terdengar menyahut
"apa..?dia melihat nya ?" batin nya
"syukurlah kau tak apa-apa Nuri,kalau begitu aku ke ruangan ku lagi ,kalian semua lanjutkan lagi kerjaan nya " ucap nya
"hm..." jawab Nuri tanpa menoleh tetap mengerjakan kerjaan nya
Sepeninggal Rifki semua yang di sana menjadi heboh
"wah Nuri kau beruntung dapat perhatian dari mas Rifki ,kita saja yang selalu cari perhatian nya respon nya biasa saja ,iya kan " ucap Sely heboh
"ih apaan sih lebay deh kalian "sahut Nuri
Menit demi menit,jam demi jam berlalu kini waktu sudah menunjukan pukul lima sore ,yang biasanya kafe sudah tutup ,namun kali ini hanya tutup sementara ,untuk bersiap dan sekedar beristirahat karena nanti pukul tujuh malam kafe akan di buka kembali .
"ga ada Ki,kita sudah hubungi semua penyanyi yang kita tahu ,tapi mereka semua tidak bisa karena pada punya job juga ,ya kan ?" ujar Seno pada teman-teman nya yang lain.
"iya bener Ki" sahut Tito
Saat Rifki tengah dilanda kebingungan tiba-tiba saja ia melihat Nuri yang tengah berjalan ke arah nya dengan membawa nampan berisi minuman.
"maaf ini minum nya " ucap Nuri sembari meletakan minuman itu di meja , ke lima pria yang tengah duduk itu terdiam dan memperhatikan Nuri ,namun sebuah deheman menyadarkan mereka.
"khem...,Nuri apa kamu bisa nyanyi ?" tanya Rifki
"memang nya kenapa ?" Nuri balik bertanya
"penyanyi wanita mereka tiba-tiba sakit dan tak ada yang bisa menggantikan nya" ucap nya
"lah terus apa hubungan nya dengan ku ?" tanya Nuri bingung
"aku mau kamu menggantikan nya sementara sampai dia sembuh" ucap Rifki
"hah...aku ,menyanyi? yang benar saja ,aku ga punya pengalaman nyanyi mas Rifki " seru Nuri
"tapi kamu bisa nyanyi kan?ayolah bantu aku ya ,kau mau ya ?" pinta nya penuh harap
"gimana ya,....ok baiklah ,tapi hanya malam ini kan " ucap Nuri akhirnya
"akhirnya........" ucap ke lima teman Rifki
"baiklah kalau begitu aku permisi ,mau ganti pakaian dulu"ucap Nuri
"ganti baju?"ucap Rifki mengulang ucapan Nuri
"iya ,masa aku nanti pake baju pelayan begini " sahut Nuri
"iya dia benar " sahut Bobi
"eh iya kita belum kenalan ya ,kenalkan aku Bobi " ucap nya
"Seno ,Tito,Rudi ,Eko " ucap kelima nya memperkenalkan diri
"senang bisa kenal kalian namaku Nuri " ucap nya seraya tersenyum manis
"wuuiiihh.....senyuman nya bikin hati abang meleleh " ucap Tito yang langsung mendapat pukulan pada pundaknya
"woy ,sakit tahu " seru nya pada Rifki , ya Rifki lah yang tadi mukul pundak nya
"jangan macam-macam,ini bagian ku " ucap Rifki berbisik
"lagi? wah kau ini serakah sekali "ucap nya balas berbisik
"kalian berdua kenapa berbisik-bisik?" tanya Seno
"tidak ada apa-apa " kilah Rifki
"loh mana Nuri ?" tanya Rifki karena tak mendapati Nuri di sana
"kalian sih sibuk berdua saja ,jadi ga tahu kalau dia sudah pergi " ucap Bobi
"pergi ke mana ?" tanya nya lagi
"ya ganti pakaian lah " timpal Rudi
Setelah melaksanakan shalat isya ,Nuri bergegas untuk bersiap-siap.
Tak lama kemudian Nuri datang dengan sudah berganti pakaian dengan pakaian yang ia kenakan pagi tadi , beruntung tadi pagi ia tak memakai celana jeans dan kemeja panjang seperti biasa nya .
Dengan dress panjang berwarna ungu muda di padu padan kan dengan kerudung pink ,menambah kesan manis pemakai nya ,
Nuri juga menambah kan sedikit riasan di wajah nya ,karena ia selalu membawa alat rias kemana pun meskipun jarang memakai nya.
Kelima teman nya Rifki ,termasuk dirinya dibuat terpesona dengan tampilan gadis di depan nya ,bahkan semua pegawai di sana pun menatap penuh kagum pada nya.
"kenapa kalian pada diam ?" tanya Nuri bingung
"aaaaaaa.....O M G ....O M G...Nuri kamu cantik banget saaayyy....ulala...." pekik agus si gemulai nampak heboh......
"makasih Agus ,duuuhh...makin gemessss...." ucap Nuri seraya mencubit ke dua pipi Agus dan menggerakan ke kiri dan ke kanan
"adududuh.....aw sakit Nuri ....ampun deh " pekik Agus seraya mengusap ke dua pipi nya
"hehehe......maaf " ucap Nuri seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf v
Mereka yang memperhatikan nampak tergelak begitupun dengan para pegawai yang lain
"ok sekarang mumpung belum buka kafe nya bagaimana kalau kamu tes vokal dulu , masih ada waktu sepuluh menit lagi " ucap Rifki pada akhir nya
.
.
.
.
.
.
.
bersambung......