
Haris POV
Aku tak tega melihat Nuri , ia sangat terpuruk, aku yang jahat,ya aku yang sudah menyebab kan ini terjadi,nenek terkena serangan jantung setelah mendengar kabar pernikahan ku,dan Nuri gadis yang sangat ku cintai terluka , aku memang bodoh ,aku brengsek .
Melihat nya yang terluka seperti itu membuat hati ku hancur,mungkin apa yang ku rasakan saat ini tak sebanding dengan apa yang dia rasakan ,tapi aku benar-benar tidak bisa melihat nya seperti itu,lantas apa yang harus aku lakukan , haruskah aku menuruti keinginannya untuk melupakan nya,apakah aku bisa?
Dan sekarang lagi-lagi saat melihat Nuri kembali pingsan di sebelah makam nenek,aku pun berlari menghampiri nya ,
ibu Maryam kembali menangisi anak nya ,aku pun kembali menggendong nya membawa nya ke rumah nya , seperti saat ia pingsan di rumah nenek kemarin sore , tapi ada yang membuat ku terperanjat dan panik suhu tubuh nya sangat panas ,ia demam , aku pun mempercepat langkah ku .
Sesampai nya di rumahnya aku membawa Nuri ke kamar nya dan membaringkan nya pelan di tempat tidur nya.
Tk lama ibu Maryam masuk membawa air kompresan , tiba-tiba ibu maryam berbicara
" pulang lah istri mu pasti mencari mu" ucap nya meminta ku untuk pulang
"Bu,Haris minta maaf,sungguh Haris juga tidak tega melihat Nuri seperti ini" ucap ku
"kamu tidak salah,mungkin takdir saja yang harus membuat mu dan Nuri seperti ini,ibu tidak marah ,hanya saja ibu kecewa padamu , Nuri anak perempuan ibu satu-satu nya , melihat nya seperti ini ,cukup membuat hati ibu juga hancur ,tapi ibu tidak menyalahkan mu , ini sudah takdir ,mungkin Allah sedang menguji nya , Nuri itu anak yang kuat ,ibu yakin dia hanya sebentar seperti ini,kamu juga harus melanjutkan hidup mu , lupakan Nuri,buka lah lembaran baru, Nuri akan baik-baik saja , percaya lah " ucap nya
"kalau begitu Haris pamit , tolong sampaikan maaf buat Nuri, permisi bu assalam ..."
"assalammualaikum..." belum sempat aku mengucap kan salam sudah terdengar seseorang datang dan dari suara nya seperti nya aku mengenal nya.
"wa alaikum salam..."sahut Bu Maryam , lalu beliau keluar,di susul aku di belakang nya
"mbak Mina ,silahkan masuk" ucap Bu Maryam mempersilahkan tamu nya masuk
"mamah" ucap ku sampai membuat tamu nya menengok ke arah ku
"loh Haris kamu di sini?" tanya nya
"iya mbak,tadi Nuri pingsan lagi, rupanya Nuri demam ,tadi tak sengaja juga Haris masih berada tak jauh dari kami ,jadi Haris yang membantu membawa Nuri " ucap Bu Maryam menjelaskan
"oh begitu,terus bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya mama
"masih belum bangun "jawab Bu Maryam
"aku turut prihatin dengan keadaan nya Nuri, aku sudah banyak mendengar hubungan Nuri dengan Haris dari ibu ,dan aku setuju saja karena kata ibu Nuri itu anak yang baik, tapi karena kebodohan nya malah membuat keadaan seperti ini " ucap mama melirik tajam padaku
"sudahlah memang takdir nya harus begini , mungkin Haris dan Nuri memang bukan jodohnya "ucap Bu Maryam
"ya sudah aku tak akan lama di sini ,nanti sore akan diadakan tahlilan ,aku harus segera menyiapkan segala sesuatu nya , salam buat Nuri ya" ucap mama berpamitan
Aku pun ikut pulang bersama mamaku ,di sepanjang jalan mama terus mengomeli ku , aku pun hanya diam menerima omelan nya ,karena aku juga sadar ini salah ku.
Haris POV end
.
.
.
Aku terbangun merasakan keningku yang dingin ,aku meraba nya dan menyentuh handuk kecil basah yang bertengger di keningku
"akhirnya kau bangun juga , pingsan apa tidur sih" ucap Ifel menggerutu
"memang nya sudah berapa lama aku tertidur" tanya ku
"tuh kan tidur bukan nya pingsan " ucap nya lagi
"Fel , please deh aku lemes banget jangan ngajakin ribut dulu" keluh ku yang memang merasakan tubuh ku sangat lemas ,bahkan untuk sekedar duduk saja rasa nya susah
"diam di situ ,mau kemana sih lagi sakit juga " seru nya melihat aku yang hendak bangun
"aku mau ke kamar mandi ,mau pipis , kamu mau aku pipis di sini"ucap ku
"sini aku bantu"ucap nya ,ia pun memapah ku sampai ke kamar mandi
"sana cepetan ,aku tunggu di sini " ucap nya lagi
Meskipun kita sering ribut namun jika salah satu dari kami ada yang sakit maka kami akan saling mengkhawatirkan juga.
"ayah ibu dan Dede kamana sih,sepi bener rumah?" tanya ku
"ayah lagi ikut tahlilan sedangkan ibu mau bantu-bantu katanya
"trus Dede kemana?" tanya ku lagi
"ya ikut juga " jawab nya
Aku pun terdiam melihat ke arah tv ,namun aku sama sekali tak menyimak nya ,entah lah fikiran ku kacau banget.
"ck itu tv udah nyala tapi malah di bengongin , yang ada malah tv yang nonton kamu " seru Ifel berdecak
"hm..." sahut ku tanpa merespon lebih gerutuan nya
"ternyata begini ya orang kalau lagi patah hati" celetuk nya
"berisik ... pergi sana...!" seru ku melempar bantal sofa tepat mengenai wajah nya
"lagi sakit begini tenaga nya masih kuat juga ya " celoteh nya
"alah kamu nya saja yang lembek , angkat tuh galon,ganti galon kosong nya " seru ku
"hehehe.....nanti lah nunggu ayah pulang saja , tangan ku sakit " dalih nya
"hah bilang saja ga kuat , kalau aku ga sakit kaya gini sudah ku angkat dari tadi ,haus tahu" ucap ku
"kau haus,tunggu deh aku minta dulu sama Mak Entin " ucap nya seraya bangkit membawa gelas ke dapur lalu pergi ke rumah Mak Entin
Aku pun kembali termenung
"hah kalau begini terus kapan aku sembuh nya , aku harus bangkit dan berusaha untuk mengikhlaskan nya ,aku harus kuat ,ya aku kuat ,aku bisa , yes i'm sure i can definitely get through it , i have to be happy " ucap ku menyemangati diri sendiri
Tak lama Ifel pun datang bersama ibu ayah yang menggendong Febry
"nih minum nya" ucap Ifel memberikan segelas penuh air hangat
"gimana keadaan mu Nur?"tanya ayah seraya duduk di sampingku dan menyentuh keningku dengan punggung tangan nya
"masih panas" ucap nya
"nih kamu makan dulu,bubur nya "ucap ibu memberikan sepiring bubur ayam
"makasih Bu" sahutku tersenyum sambil menerima nya
Sendok demi sendok aku mulai menyuapkan bubur ke mulut ku ,meskipun mulut ku rasa nya pahit tapi aku tetap memaksakan menghabiskan makan nya ,sampai tak terasa bubur pun tandas.
Setelah selesai meminum obat aku pun kembali istirahat di kamar , dikarenakan aku juga kebetulan kedatangan tamu bulanan jadi aku tak melaksanakan shalat.
Keesokan hari nya badanku sudah terasa lebih enakan,aku pun memutus kan untuk berjemur di depan rumah , sinar matahari hangat di pagi hari yang mengenai ku, membuat badan ku terasa lebih segar.
Ku regangkan otot-otot tubuh ku yang terasa kaku sampai terdengar bunyi kretek kretek di bagian-bagian tertentu pada tubuh ku,namun
deg....
tiba-tiba saja aku melihat Haris bersama dengan istri nya tengah berlari pagi sambil terus tertawa ,melihat nya hatiku kembali bergemuruh ,ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku keluarkan pelan ,
Melihat nya tertawa seperti itu aku jadi yakin kalau aku juga harus bahagia,ya aku pasti bisa 'batin ku
.
.
.
.
.
.
bersambung