Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
cara Nuri


"Jadi dia Sabrina " batin ku


"aku mantan pacar nya Rifki" dia bicara dengan percaya diri


Tak bisa kupungkiri jauh dari lubuk hati ku aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hati ku , mengaduk-aduk perasaan ku ,dan mengoyak nya ,sesuatu di dalam sana terasa bergemuruh , aku cemburu ya sangat cemburu , tapi aku mencoba menahan nya , aku akan menghadapi nya dengan cara ku , dengan menyunggingkan senyum manis aku menyahut .


"ya aku tahu ko, mas Rifki sudah menceritakan semua nya , mas Rifki bahkan memberi tahuku siapa-siapa saja mantan nya , dan bahkan saking banyak nya mas Rifki sampai lupa beberapa nama mantan nya , tapi beruntung ya mas Rifki tidak lupa nama kamu " sahut ku tersenyum


hahaha....padahal itu hanya lah omong kosong ,mana pernah mas Rifki ngasih tahu nama-nama mantan nya ,kecuali kalau tak sengaja ketemu , baru mas Rifki mengatakan nya .


"sayang , sini ,aku sudah sangat lapar " mas Rifki memanggilku


"loh kamu bilang kamu belum lapar ,aku juga bawakan kamu makan siang " ucap wanita itu


"maaf tapi aku lebih suka masakan istri ku , di rumah saja aku tak bisa makan kalau bukan istri ku yang masak " ucap mas Rifki yang selalu menyebut nama istri ku ,seakan mau menunjukan pada nya jika mas Rifki sangat mencintaiku , dan memang iya .


"lalu ini bagaimana, sayang kan kalau gak di makan " kata nya lagi


"ya kamu sendiri saja yang makan" ucap mas Rifki lagi


"kamu gabung saja makan disini , gak apa-apa kan sayang " ucap ku melirik mas Rifki, namun mas Rifki seakan tak setuju dengan ucapan ku ,tapi aku mengedipkan satu mata ku ,berharap dia mengerti jika aku akan mengerjai nya


"haaaah baiklah " akhir nya mas Rifki setuju


"ayo sini ,duduk saja jangan sungkan " ucap ku agak menggeser duduk ku , dan mas Rifki yang duduk di depan ku pun ikut bergeser bahkan sampai menempel pada tembok ,tapi emang dasar tidak ada urat malu nya sama sekali dia malah hendak duduk di samping mas Rifki namun aku segera berdehem mengingat kan nya .


"khem ...."


"maaf ya jangan duduk di sana ,kalian bukan muhrim ,pamali " ucap ku


Dia pun tak jadi duduk di samping mas Rifki dan akhirnya duduk di samping ku .


"baiklah kita baca doa dulu" ucap ku seraya mengangkat ke dua tangan ku lalu membaca doa sebelum makan


"bismillahirrahmanirrahim allahuma barik lana fimma rajaktana wakinna ajjabanar , amin " lalu aku mengusap kedua telapak tangan pada wajah


"ribet amat sih makan doang ,udah kaya bocah aja " gerutu nya


"baca doa sebelum makan bukan hanya untuk anak kecil , tapi untuk semua muslim , kamu muslim kan , bahkan untuk umat non muslim pun ada kok adab sebelum makan , itu bertujuan untuk mencegah setan atau iblis jahat ikut makan dengan kita ,dan jika makan jangan sampai ada yang bercecer ,karena itu hanya akan jadi makanan para setan dan iblis kamu mau berbagi makanan sama mereka " tutur ku


"sayang ini aaa " mas Rifki menyuapi ku


aku pun menyuapi mas Rifki , tak apalah kami berdua mengabaikan keberadaan Sabrina , bisa kulihat dari ujung mataku jika Sabrina sedang menahan marah memperhatikan kami.


Dalam hati aku memanggil Wowo dan bang Popo ,dan dalam sekejap mata mereka hadir di antara kami .


"ada apa kau memanggilku"tanya Wowo


"bukan hanya kau lah aku juga sama di panggil kesini " ucap bang Popo tak terima dengan ucapan nya


"sayang kau memanggil mereka " bisik mas Rifki


"ehm" aku hanya mengangguk


"untuk apa?" tanya nya lagi


"syuuut lihat saja " ucap ku kembali berbisik


"Wo , bang Popo kalian bisa membantu ku ?" tanya ku dalam hati


"tentu saja " jawab mereka kompak


"eh ko kenapa tiba-tiba jadi merinding begini ya " ucap nya seraya mengusap-ngusap kedua lengan nya


"masa sih ,hm....mungkin karena kamu pakai baju yang kurang bahan ,maka nya merasa kedinginan , tunggu sebentar " ucap ku seraya mengangkat perlahan makanan di atas meja


"sayang mau apa " tanya mas Rifki


"mas boleh bantu aku gak, nih pegangin ini sebentar ya " aku memberikan rantang makanan pada mas Rifki


lalu aku menarik taplak meja


"sudah mas ,letakan lagi di atas meja , maaf ya udah nyuruh kamu " ucap ku


"iya sayang gak apa-apa" sahut nya


Bisa dilihat dari raut wajah mas Rifki ,wajah nya memerah menahan ketawa ,dia bahkan menunduk saking geli nya melihat tampilan Sabrina .


wanita itu nampak syok saat aku melilitkan taplak meja itu pada nya ,hingga ia hanya melongo tak bisa berkata-kata.


"Wo , sekarang kamu isengin dia kamu colek atau kamu spin gitu tapi jangan terlalu ekstrim, pelan-pelan saja " batin ku seraya terus menyuapkan makanan untuk ku lalu pada mas Rifki


"ok dengan senang hati " Wowo pun segera mendekat, lalu meniup telinga bagian kiri nya


wusss


"ih ko berasa ada yang niup " gumam nya


Aku dan mas Rifki hanya berpura-pura tak tahu ,kita terus mempertonton kan keromantisan kita .


"loh ko belum di makan makanan nya ,atau kamu mau cobain masakan aku , masakan aku aman ko, tak ada racun apalagi pelet " ucap ku agak menyindir nya


"maaf aku hanya becanda " ucap ku kemudian setelah melihat raut wajah nya yang seperti terkejut


"Wo lakukan lagi "


tanpa menyahut Wowo kemudian mencolek dagu dan pinggang nya ,membuat Sabrina reflek menjerit .


"aaakkh"


"kamu apa an sih ,berisik mulu dari tadi , jangan cari-cari perhatian deh ,percuma gak mempan " ucap mas Rifki


"siapa juga yang cari perhatian emang aku ngerasa ada yang nyolek " ucap Sabrina


"sabun cuci kali di colek " celetuk mas Rifki


" sekarang giliran bang Popo " ucap ku dalam hati


"apa yang harus aku lakukan " tanya nya


"bang Popo nampakin wujud seram bang Popo ,tapi jangan terlalu jelas , bang Popo agak sedikit ngumpet ,hanya kepala saja yang nongol , kaya ngintip gitu " batin ku lagi


"beres..."sahut nya lalu pergi ke arah toilet yang kebetulan tepat di depan Sabrina


Dalam hati aku menghitung mundur


tiga


dua


satu


"aaaaaaaakkkkhhhhh........"


gubrak


"eh dia pingsan tuh , hm...so soan neror kita dua nya sendiri malah langsung pingsan ,batu pocong yang ia lihat ,belum lagi jika Wowo yang dia lihat " ucap ku pelan


"terus mau kita apa kan dia mas " tanya ku


"sebentar " ucap mas Rifki lalu meraih ponsel di atas meja kerja nya


"hallo , pak tolong suruh petugas kebersihan yang bernama pak Didin untuk datang ke ruangan saya , iya cepat pak " mas Rifki menutup kembali ponsel nya


"mas kenapa meminta petugas kebersihan datang ke mari ?" tanya ku bingung


"kamu lihat saja nanti " mas Rifki mengulas senyum ,dan senyum nya itu ya salam......bikin aku diabetes .


.


.


.


.


.


bersambung