
Para warga mulai mencari di setiap ruangan di mulai dari kamar ku,kamar nya Ifel, kamar ibu, kamar tamu,ruang tengah,dapur ,ruang makan,kamar mandi ,hingga gudang sudah di periksa namun tak ada tanda-tanda keberadaan ibu.
Aku yang dilarang ikut mencari tetap kekeuh untuk ikut mencari , dan hasilnya para warga membiarkan aku untuk ikut mencari ibu.
Kami pun mulai berpencar mengelilingi kampung di tengah hujan deras yang terus mengguyur ,sedang kan beberapa warga tetap berada di rumah untuk melakukan ritual seperti berdoa bersama.
Satu jam kami berkeliling namun tetap nihil,sampai akhirnya aku teringat akan sosok seseorang yang ku takut takuti dengan senter tadi.
"pak Yaya ''gumam ku sambil terus kulangkah kan kaki ku menuju ke arah rumah nya
ya pak Yaya lah yang tadi berdiri di depan jendela kamar ku , entah apa maksud nya.
Namun sebelum aku sampai di rumah nya seseorang menepuk pundak ku sambil berkata
"mau kemana ?"
aku pun sontak menengok ternyata orang yang menepuk pundak ku adalah pak Yaya
"eh i ini , aku ,aku mau periksa sekitar sini,...iya ...siapa tau ibu berada dekat sini" sahut ku kikuk
"mana ada,kalaupun ada saya sudah melihat nya dari tadi "ucap nya seperti tak ingin aku memeriksa sekitar rumah nya
"ya siapa tahu aja kan pak "sahut ku
"terserah cari saja kalau bisa" gumam nya pelan namun aku masih bisa mendengar nya
Dua jam sudah kami mencari ibu kini jam menunjukan pukul 00:00 hujan pun sudah reda ,para warga sudah mulai lelah dan ngantuk di tambah keadaan tubuh mereka yang basah, dan kedinginan.
Ting
listrik pun menyala kembali
"astaghfirullah halazim....Ya Allah dimana ibuku?" aku mulai terisak pelan
Para warga memutuskan untuk pulang melanjutkan pencarian esok hari, aku pun tak ingin memaksa mereka untuk tetap mencari ibu, karena melihat kondisi mereka yang kedinginan dan lelah.
Aku pun memutuskan untuk pulang ,sedangkan kedua adik ku ku biarkan menginap di rumah Mak Entin.
Setelah berada di rumah aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih , lalu ku lanjutkan dengan shalat ,berzikir dan berdoa meminta petunjuk pada Allah.
Hingga tak terasa aku pun terlelap dengan keadaan yang masih memakai mukena diatas sejadah
.
.
.
"Nur....Nuri....Nurii..."
ibu, iya itu suara ibu'gumamku
"ibuuuu........"aku pun berteriak memanggil ibu
"hikhikhik....nur tolong ibu"
"ibu di mana?"teriak ku
"di sini "
"di mana?"kata ku lagi
"di atas ....gelap "
" ibuuuu....."
Aku terbangun dari tidurku, ternyata hanya mimpi' gumamku dengan nafas tersengal sengal
"nur,sudah bangun,kamu mimpi buruk?" tanya seorang yang ku kenal suaranya
"nenek ..."ucap ku dan menghambur memeluk nya
"hikhikhik.....ibu hilang nek"ucapku tersedu di pelukan nek Ijah
"iya nenek sudah tahu, semalam nenek mendengar nya namun karena hujan mati lampu juga ,nenek tidak bisa ke sini , maaf kan nenek ya "ucap nya menyesal
"gak papa ko nek Nuri mengerti "
"apa Haris tahu "tanya nya
aku menggeleng
"Nur tidak sempat bahkan tidak megang hp semalaman "kata ku
"pantas saja dari pagi anak itu telponin nenek terus nanyain kamu"ucap nek Ijah
"dari pagi memang nya sekarang jam berapa ?" tanyaku sambil melirik jam yang tergantung di dinding kamar ku
"astaghfirullah ....sudah jam 8 pagi"seru ku terkejut
"Ifel , Febry "
aku teringat ke dua adik ku
"mereka baik-baik saja Febry sudah makan meskipun sedikit di paksa tadi "ucap Mak Entin yang baru saja masuk kamar ku
"oh syukurlah, .... ibu...."
aku teringat lagi akan ibu
"menurut emak dan nenek tempat gelap di atas itu di mana ya?"tanya ku membuat kedua orang tua itu berkerut bingung
"maksudnya ?"tanya nek Ijah
"nur bermimpi ibu berada di tempat yang gelap di atas "jawab ku menjelaskan
Aku ,Mak Entin dan nek Ijah saling pandang dan kemudian melihat ke atas
Aku pun tanpa fikir panjang langsung berlari ke luar mencari tangga , setelah tangga ku dapat kan aku langsung membawanya ke dalam rumah tepat nya di bagian gudang karena di situ lah jalan satu-satu nya yang di gunakan untuk naik ke loteng
"hati hati nur"ucap ma Entin
ku anggukan kepala sebagai jawab nya
pelan satu persatu ku naiki tangga yang terbuat dari bambu ini.
Hingga akhirnya aku sudah berada di atas loteng nya,tidak terlalu gelap mungkin karena hari sudah siang juga dan akan menjadi gelap kalau malam hari itu logika nya.
Ku susuri dan ku perhatikan dengan seksama ,hingga akhirnya aku menukan sesuatu tertutup tumpukan kain.
Ini kan baju-baju bekas ku waktu kecil kenapa bisa bertumpuk di sini' gumam ku pelan
Saat ku singkap kan beberapa kain nya mataku melihat seperti ada rambut ,lalu ku sibak kan kain&kain itu dan
"astaghfirullah halazim ibu"pekik ku
SREEETTTT
Sekelabet bayangan melintas terlihat di ekor mata ku
Ku lihat sekeliling namun tak ada apa-apa , ku beralih lagi pada ibu , ku genggam tangan nya dan ku periksa denyut nadi nya.
Alhamdulillah masih kurasakan denyutan nya
aku pun berteriak memanggil bantuan , hingga beberapa warga ada yang naik untuk membawa ibu turun.
Dengan penuh ke hati-hatian ibu diturunkan ,karena ibu yang tak sadar kan diri para warga menggunakan kain sarung yang di ikat ujung nya kemudian di turunkan dengan menggunakan tali tambang , beberapa orang turut membantu,yang berada di atas menurunkan dan menahan agar tubuh ibu tak jatuh sedang kan yang di bawah menerima dengan pelan dan hati-hati.
Setelah berhasil di turun kan kemudian ibu di baring kan di sofa ruang tengah , aku yang panik hendak menelpon dokter intan namun karena terlalu panik membuat aku salah sambung
"halo dok,bisa tolong datang sekarang dok,ibu tak sadar kan diri tolong dok"ucapku panik
π²(halo Nur syukurlah ibu sudah ketemu, tunggu ya sebentar lagi aku sampai)
aku pun berkerut dan langsung melihat nama yang ku panggil , ah salah sambung ini mah Haris ' gumamku
"oh maaf Ris salah sambung"sesal ku
π²(iya ga pap....) lah di matiin 'fikirnya mungkin
aku pun menelpon dokter intan kembali dan dokter intan pun akan datang beberapa menit lagi.
"kak , ibu kok tidul telus ?"tanya Febry
"mungkin ibu kecapean de,tunggu ya sebentar lagi ibu pasti bangun " ucap Ifel
beuh bisa juga dia bicara manis gitu'gumam ku
"assalammualaikum..."
"waalaikum salam...."ucap kami serempak
"dokter "
Dokter intan hanya tersenyum kepada ku
lalu dokter intan mulai memeriksa keadaan ibu
"ibu maryam keadaan nya baik , beliu hanya ke lelahan, sebentar lagi pasti siuman ko , berdoa saja jangan putus berdoa nya" ucap nya
"terima kasih ya dok,maaf ngerepotin dokter " ucap ku
"iya ga papa,sudah menjadi tugas saya seorang dokter" ucap nya ramah
"kalau begitu saya permisi , oh iya hampir saya lupa,ini ada titipan obat buat ibu maryam dari dokter Bandi, sudah telat 2 hari kan dari jadwal cek up "ucap nya kemudian
"oh iya ya ,Ya Tuhan kenapa sampai lupa"keluh ku
"kalau begitu saya pamit assalammualaikum"
"waalaikum salam...."ucap ku
Sepeninggal dokter intan aku menggenggam tangan ibu, ku usap-usap punggung tangan nya namun tiba-tiba
"assalammualaikum....Nur...."
aku pun menoleh
"waalaikum salam...." jawab ku
Haris ' gumam ku pelan
greb
dia memelukku di depan orang orang
"maaf .....
.
.
.
.
.
.
.
.