Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 mawar putih dari Restu


Hari ini dokter sudah mengizinkan ku untuk pulang , karena memang hasil pemeriksaan aku tidak menunjukan tanda-tanda orang sakit,dokter pun nampak heran dengan kondisi tubuh ku , namun dokter tetap memberiku vitamin agar aku juga bayi dalam kandungan ku baik-baik saja .


"Alhamdulillah sekarang kamu sudah di izinkan pulang " ucap ibu tersenyum menatap ku


"pokok nya kamu jangan melakukan hal yang bisa membuat mu capek,jika kamu mau apa-apa bilang saja , mama gak ngizinin kamu melakukan apapun " tambah mama Dewi


"iya ma, Bu" sahut ku


"sudah semua nya kan gak ada yang ketinggalan ?" tanya mas Rifki


"sudah ,yuk kita pulang " sahut ku


Mas Rifki pun membuka kan pintu depan mobil untuk ku , sedangkan untuk ayah sudah lebih dulu pulang ke rumah .


"makasih mas " ucap ku seraya menunjukan senyum termanis ku ,dan mas Rifki pun membalas senyum ku


Selama di jalan aku selalu melihat mereka yang tak kasat mata , entah itu korban kecelakaan atau yang lain nya ,termasuk sosok kerdil yang berdiri di depan sebuah toko ,kebetulan mobil sedang berhenti karena ibu katanya hendak ke mini market sebentar bersama mama Dewi .


Makhluk itu menatap ku dengan tersenyum menyeringai , aku pun mencoba berkomunikasi dengan makhluk itu


"bisa kah kamu tidak melihatku dengan tatapan itu ?" ucap ku dalam hati


"hahaha.....kenapa memang nya kau takut " makhluk kerdil itu tertawa


"bukan ,aku tidak takut sama sekali ,hanya saja aku merasa risih di tatap seperti itu oleh mu " ucap ku lagi


"kenapa ?" makhluk itu bertanya


"tidak apa-apa''sahut ku


"kamu kenapa berdiri di sana ?" tanya ku


"aku di tugaskan untuk mencari dan menarik pembeli " sahut nya


"oh baiklah aku mengerti " ucap ku lagi


Rupanya masih ada saja orang yang menggunakan jasa makhluk halus untuk usaha nya , mungkin orang itu tak merasa percaya diri dengan kerja keras nya hingga dia bersekutu dengan mereka .Atau mungkin memang karena persaingan yang begitu ketat,terlihat dari sisi kanan kiri toko itu yang juga menjual barang yang sama dengan toko yang di diami makhluk kerdil itu .


"kamu berkomunikasi dengan makhluk itu ?" tanya mas Rifki menatap ku


"iya , hanya sekedar nyapa aja mas"sahut ku


"kamu ini , masa makhluk begitu juga di sapa sih ,nanti kalau tuh hantu ngikut kita gimana ?" tanya mas Rifki


"ya biarin aja ,biar tambah rame kita adopsi lagi " sahut ku asal


"hus ... kamu tuh ,ngadopsi tuh anak bukan nya hantu" seru mas Rifki


"hehehe .....becanda mas ,mas tenang aja makhluk itu gak akan ikut kita kok, dia semacam pesugihan gitu ,tugas nya mencari dan menarik pembeli " tutur ku


"oh gitu " ucap mas Rifki


Ibu dan mama Dewi pun selesai belanja


"maaf ya kalian jadi nunggu lama " ucap ibu tak enak


"gak ko Bu ,gak apa-apa" sahut ku


"mama beli apa ?" tanya mas Rifki saat melihat belanjaan mama Dewi yang lebih banyak dari ibu


"biasa lah keperluan bulanan mama ,ini mama juga beli sesuatu buat kalian" ucap mama Dewi


"apa mah " tanya ku


"nih buka saja " mama Dewi memberikan ku kantong kresek putih berlogo mini market


Mas Rifki pun menghidupkan mesin mobil dan mobil pun perlahan melaju


"wah ,makasih ya ma, mama tahu aja kalau aku suka kripik tempe" ucap ku senang


"oh ya kamu juga suka kripik tempe?" tanya mas Rifki


"iya ,kenapa memang nya ?" tanya ku


"karena suami mu juga suka kripik tempe Nuri " mama Dewi yang menjawab


"yaaah.... bakal ada saingan makan nya dong " canda ku


"hahaha......Nuri kamu ini , kebiasaan takut gak kebagian " ibu tergelak menertawakan ku


"hehehe" aku hanya meringis senyum


"kamu tenang saja ,aku gak bakal ngabisin makanan nya ko" ucap mas Rifki dengan kedua tangan nya yang tengah memegang setir ,aku tidak menyahut hanya senyuman saja yang ku berikan .


Tak terasa kami pun sampai di depan rumah ,sudah ada ayah ,Ifel dan Febry tak tertinggal Mak Entin dan mbok Marni di depan rumah .


Mereka rupanya tengah menunggu kedatangan ku


"Alhamdulillah Nur kamu sudah pulang , ayo masuklah kamu pasti capek" ucap ayah lalu membawaku masuk


"sebenarnya kamu ini kenapa Nuri ,Mak sampai takut dan kefikiran terus " tanya Mak Entin


"kelelahan ko sampai muntah darah segala , beneran kamu tidak apa-apa?" tanya ma Entin lagi


"iya Mak, Nuri gak apa-apa ko" sahutku lagi


"syukurlah jika kamu tidak apa-apa, tapi ko Mak merasa ada yang aneh dengan sakit mu Nur?" ujar Mak Entin lagi


"aneh bagaimana ?" tanya ibu


"ya aneh saja tiba-tiba muntah darah terus kata nya tidak apa-apa,apa jangan-jangan ada yang berniat jahat pada mu Nur" ucap Mak Entin


"maksudnya ?" tanya mbok Marni


"ya bisa saja ada orang yang berniat buruk dan ngirim semacam guna-guna atau santet pada Nuri " ujar Mak Entin lagi


"astaghfirullah halazim Mak ,jangan su uzon " sahut ku


"bukan su uzon Nuri ,tapi kamu juga muntah darah bukan sekali ini saja kan " ucap mama Dewi


"apa ,jadi sebelum nya kamu juga pernah muntah darah seperti ini ?" seru ibu dan ayah pun nampak terkejut


"i iya Bu " jawab ku


"astaghfirullah halazim, kenapa selalu saja ada orang yang zholim pada mu Nur " lirih ibu


"ibu gak usah khawatir ,Nuri gak akan kenapa-kenapa ko, Nuri punya Allah yang akan menjaga dan melindungi Nuri " sahut ku menenangkan ibu


"tapi tetap saja Nur,kami sebagai orangtua mu merasa sangat khawatir ,kami menyayangi mu Nuri " ucap ayah lagi


"pokok nya kalian tenang saja , bantu Nuri dengan doa saja , Nuri yakin semua nya akan baik-baik saja " ucap ku lagi


"tapi Nuri "


"gak apa-apa ayah Nuri bisa melewati ini ko " sahut ku lagi


"kenapa ujian tak pernah mau berhenti ,dulu ibu mu sekarang kamu " lirih Mak Entin pula


"sudahlah Mak ,mungkin dengan cara seperti ini Allah menguji Nuri , Nuri hanya butuh doa saja dari kalian " sahut ku


"nak Rifki ,ayah mohon kamu jangan pernah meninggalkan Nuri ,jaga dia baik-baik" ucap ayah menatap mas Rifki


"ayah tenang saja Rifki akan selalu ada dan menjaga Nuri " ucap mas Rifki membuat ayah menyunggingkan senyum


" ini untuk kakak " Febry memberikan ku setangkai bunga mawar putih


"wah de terima kasih bunga nya bagus wangi ,darimana Dede dapat bunga cantik ini ?"


pasal nya aku tak menanam bunga mawar putih , ada pun mawar merah itu pun di buat bonsai dan jarang sekali berbunga .


"dari kakak Restu,kata nya buat kakak " jawab Febry


"Restu " ucap ku dan mas Rifki tiba-tiba saja menyambar bunga mawar putih itu dan langsung membuang nya


"ko di buang kak" Febry bertanya


"di bunga nya ada ulat nya de ,nanti gatal kena kulit " ucap mas Rifki memberi alasan


"ooohh...." sahut Febry polos


"suami mu cemburu tuh " ucap Wowo terdengar di telinga ku


"iya aku tahu " sahut ku dalam hati


"Restu itu siapa ?" tanya mas Rifki menatap ku


"anak tetangga sebelah " sahut ibu yang seperti nya tahu jika mas Rifki tengah cemburu


"sudah lah mas , nanti kita bicara " ucap ku meraih tangan nya


"ok baiklah , tapi dia bukan mantan mu kan ?" tanya mas Rifki membuat semua nya melihat ke pada ku


"ya bukan lah ,secara aku dan restu berbeda dua tahun ,dia lebih muda dari ku ,mana suka aku sama berondong " sahut ku


terlihat mas Rifki nampak menghela nafas mendengar nya


"cemburu ya " goda ku


.


.


.


.


.


bersambung