SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Rehat Sejenak


"Eugh~" suara lenguhan yang cukup panjang, terdengar menggema dari dalam salah satu kamar di sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari pantai. Pemilik suara itu menggeliatkan tubuhnya dan beberapa kali mulutnya mengeluarkan suara lenguhan. Mata yang sudah terpejam, terlihat ada gerakan dan tak lama setelahnya kening si pemilik suara berkerut karena merasakan sesuatu pada dadanya.


"Rico!" pekik seseorang yang tadi melenguh. Suaranya begitu berat karena si pemilik suara yang ternyata adalah seorang wanita, tadi sedang terlelap dalam tidurnya. Dia cukup terkejut saat ada sosok pria yang menyebabkan dia terbangun dari lelap yang sedang dia lakukan. "Kamu lagi ngapain?" wanita itu sedikit kesal karena ulah Rico, tidurnya jadi terganggu.


Sementara orang yang menggangu tidur wanita itu nampak tersenyum. Pria muda yang dipanggil Rico itu bukannya berhenti menggangu wanita yang matanya kembali terpejam, tapi malah melanjutkan aksinya, sampai wanita itu melenguh dengan suara yang cukup kasar. "Kamu ngapain sih, Ric? Ganggu orang tidur aja," sungut wanita itu.


"Hehehe ..." Rico malah terkekeh tanpa merasa bersalah. "Aku kangen sama kamu," ucapnya pada wanita yang akrab dipanggil Letizia.


Kening Letizia seketika berkerut, tapi tak lama kemudian dia mendengus dan segera merubah posisi tidurnya. Namun saat Letizia menyadari sesuatu, mata wanita itu seketika membelalak. "Astaga! Sejak kapan aku sudah tidak memakai baju?" serunya sembari memperhatikan keadaan tubuhnya sendiri yang memang sudah tidak mengenakan kain sehelaipun.


"Sejak beberapa menit yang lalu," jawab Rico sambil cengengesan. Lalu tanpa merasa bersalah, Rico mendaratkan mulutnya pada salah satu pucuk bukit kembar yang tersaji di depannya.


Sedari tadi, Rico memang sedang memainan bukit kembar milik Letizia dengan tangan dan mulutnya. Sebenarnya Rico ingin memasukan batangnya ke dalam lubang nikmat wanita itu, tapi karena takut Letizia terbangun, jadi Rico memilih memainkan bukit kembarnya saja. Tapi ternyata sama saja, Letizia tetap terbangun meski Rico memainkan bukit kembar wanita itu dengan sangat pelan dan hati hati.


"Hih!" Letizia mendengus kesal. Dia ingin menghindar dan memaki pria yang sedang menyesap salah satu pucuk bukit kembarnya. Namun dilihat dari keadaannya, Letiiza tidak bakalan sanggup menyingkirkan tubuh kekar Rico. "Apa kamu nggak bisa nunggu aku bangun?" protesnya.


"Nggak, Sayang. Aku udah kangen banget sama kamu dan tubuh kamu," ucap Rico sejenak menatap Letizia saat mengeluarkan suaranya.


"Cihh, kangen. Dari kemarin kemarin juga kita sering ketemu," balas Letizia masih dengan rasa kesal dalam benaknya. Namun begitu dia akhirnya pasrah dengan apa yang Rico lakukan. "Anak presiden itu kemana? Pergi lagi?"


Mendengar anak presiden disebut, Rico langsung mendongak dan menatap wajah kesal wanita yang bersamanya. "Emang kenapa kalau anak presiden itu pergi? Kamu kangen?"


Letizia mencebikkan bibirnya lalu menatap ke arah lain. "Kangen apaan? Cowok nyebelin kayak dia pake dikangenin. Nggak ada gunanya. Lagian cowok sombong gitu, pasti juga saat ini juga lagi senang senang dengan cewek lain."


Rico tercenung, tapi tak lama kemudian dia langsung mennyeringai. Rico mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Letizia dan mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. "Kalau ternyata apa yang kamu pikirkan itu salah, bagaimana? Apa kamu mau tanggung jawab?"


Sekarang gantian Letizia yang tercenung. Bahkan wanita itu langsung mendongak karena posisinya sekarang, kepala Letizia yang berada di bawah dagu Rico. "Tanggung jawab? Tanggung jawab bagaimana maksud kamu?"


"Ya kan tadi kamu bilang, anak presiden itu sedang bersenang senang dengan cewek lain. Kalau kenyataannya bukan seperti itu gimana? Berarti kamu sama saja menftahnya dong," ucap Rico yang matanya sesekali membalas tatapan wanita yang dia peluk.


"Tapi kan itu sudah pasti," Letizia tak mau kalah. Dia tetap teguh dengan pemikirannya sendiri. "Apa lagi sekarang anak presiden itu sudah sembuh dari lumpuh dan bisunya, pasti dia juga kembali ke sifatnya yang lama, sombong dan suka merendahkan cewek miskin."


"Hahaha ..." Rico malah terbahak cukup keras sampai Letizia kembali mendongak dan menatapanya dengan heran.


"Kamu itu lucu sekali, Sayang.Gemes aku," ucap Rico sambil melayangkan cubitan ke pipi Letizia.


"Aduh! sakit, Ric!" sungut Letizia sembari memegangi pipinya.


Rico sendiri terus terkekeh meski suara tawanya tidak sekeras tadi. Dia lalu menggeser tubuhnya sampai kepalanya sejajar dengan kepala Letizia dan wajah mereka lalu berhadapan. "Sayangnya, tebakan kamu salah, Sayang. Anak presiden malam ini sedang tidak bersama cewek lain, tapi dia sedang bersama cewek yang sedang kesal karena tidurnya diganggu."


Letizia kembali tercengung dan matanya menatap tajam lekat lekat dengan pikiran mencerna ucapan pria yang saat ini sedang menatapnya "Nggak mungkin," bantah Letizia dengan wajah yang menunjukkan ketidak percayaan.


"Nggak mungkin bagaimana?" Rico berkata dengan pelan. "Kan tadi aku bilang, kalau aku tuh kangen sama kamu. Masa dari kata kata itu aja kamu nggak peka sih?"


Letizia kembali menunjukan kening berkerutnya. Dia menatap tajam manik mata pria di depannya dan kali ini dia memang tidak melihat ada kebohongan dari bola mata pria tersebut. "Jadi kamu Rico yang anak presiden?" tanya Letizia memastikan. Melihat anggukan kepala yang ditunjukkan Rico, Letizia sontak terkesiap dan saat itu juga dia jadi merasa malu sendiri.


Letizia segera mengalihkan pandangannya karena malu yang mendera. Dia ingin segera merubah posisi berbaringnya. Tapi sayang usahanya gagal, Rico semakin erat memeluk tubuhnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rico sembari tersenyum, menyaksikan Letiiza yang sedang salah tingkah.


"Nggak kenapa kenapa," bantahnya dengan badan terus berusaha lepas dari pelukan Rico. "Bisa lepasin nggak sih tangan kamu?"


"Nggak bisa, Sayang. Kamu kan tahu aku kangen," jawab Rico enteng dengan terus menatap Letizia. "Jadi sekarang kamu harus tanggung jawab, dong? Kan kamu tadi salah nebak."


"Tanggung jawab apa!" seru Letizia tapi matanya tidak berani menatap wajah yang terus menatap dirinya.


"Ya tanggung jawab, kan kamu tadi sudah menuduhku sembarangan. Padahal yang sedang bersenang senang dengan wanita lain itu Rico yang satunya, tapi kamu malah menuduhku. Jadi malam ini kamu harus melayaniku sampai pagi, oke!"


"Astaga!" mata Letizia langsung membelalak.


Sedangkan di tempat lain Rico palsu malam ini memang sedang bersama wanita lain. Tepatnya para wanita yang masih bermahkota, di dalam sebuah kamar, di tempat yang sama, yang kemarin dia datangi bersama anak presiden. Sembari mencari jalan pulang ke dunianya, Rico palsu benar benar memanfaatkan keadaan di dunia ini untuk menikmati sebanyak banyaknya tubuh wanita yang masih bermahkota.


Malam ini dua Rico melewatkan malam dengan bersenang senang sebelum mereka melakukan rencana lain yang lebih menantang. Sebuah rencana yang akan mengejutkan semua orang yang berhubungan dengan negara Wangiland.


...@@@@@...