
Mendengar permintaaan dari wanita yang duduk tak jauh dari pria berkursi roda, Rico palsu sontak tersenyum sinis dari balik masker yang dia gunakan. Sudah pasti anak muda itu tahu apa yang diinginkan wanita bernama Rebeca, orang yang menyebabkan anak presiden lumpuh dan kehilangan suaranya.
"Baiklah, sekarang aku kasih kalian waktu untuk saling bicara. Biar bagaimanapun, kalian harus membicarakan rencana masa depan kalian, tanpa ada orang lain, bukan?" tanya Rico palsu dengan santainya. "Kalau begitu aku permisi dulu. Untuk Rico, jangan lupa hubungi aku kalau urusan kamu sudah selesai."
Rico asli hanya menunjukkan seringainya kepada pria yang memiliki wajah yang sama dengan dirinya. Sedangkan Rebeca memang langsung mengusir Rico palsu pergi karena dia sudah sangat ingin berdua dengan pria yang dia idamkan selama ini.
"Gimana, sayang, kamu bersedia, kan? Menikah denganku?" tanya Rebeca dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi. Biar bagaimanapun wanita itu merasa sedang dipuncak kejayaan karena dia memiliki sesuatu yang sangat dibutuhkan anak presiden.
Rico asli langsung mengetik sesuatu pada ponselnya lalu dia tunjukan layar ponsel itu kepada wanita yang sedang memandangnya. Agar terlihat lebih jelas melihat tulisan Rico, Rebeca memajukan kepalanya ke arah layar. Setelah membaca apa yang tertera pada layar ponsel, wanita itu langsung mengembangkan senyumnya.
Rebeca maraih sesuatu di dalam tasnya dan menunjukannya kepada pria lumpuh itu. "Tentu saja aku bawa. Asal kamu tahu, Ric, selama kamu tidak pernah ingkar, selama itu pula aku akan selalu mengabulkan permintaaan kamu. Termasuk memberikan obat kesembuhanmu ini."
Rico mengangguk dan senyumnya terkembang. Senyum yang harus dia tunjukan kalau dia tidak sedang bersandiwara. Biar bagaimanapun, Rico sebenarnya sangat muak melihat sikap Rebeca. Dulu dia memang sangat dekat dengan anak dokter tersebut, tapi sejak Rico tahu kalau Rebeca adalah orang pertama yang membuat Rico lumpuh, dia menjadi muak terhadap wanita itu.
Namun karena kerja sama yang bagus dari para pengkhianat, Rico tidak bisa menemukan bukti satupun yang memberatkan wanita itu untuk segera dihukum. Apa lagi tak lama setelah kejadian itu, banyak kejadian yang mengguncang negeri ini sampai presiden sendiri harus bersembunyi. Beruntung, Rico dipertemukan dengan pria yang wajahnya mirip dengan dirinya dan mau membantunya. Jadi Rico asli juga bisa menyusun balas dendam kepada para pengkhianat yang membuatnya menderita.
Rico kembali mengetik sesuatu pada ponselnya dan menunnjukannya kepada wanita yang masih tersenyum kepadanya. "Baiklah, karena kita baru ketemu, aku nggak akan membahas soal pernikahan dulu. Tapi, agar kita bisa lebih dekat, bagaimana kalau kita bicara di dalam kamar saja. Biar kita bisa berbuat sesuatu yang romantis?"
Rico mengangguk pelan, membuat Rebeca terlihat girang bukan main. Wanita itu bahkan langsung berdiri dan meraih gagang kursi roda dan mendorongnya menuju salah satu kamar yang ditunjuk anak presiden. Wanita itu sudah membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini dan senyumnya semakin melebar dengan tatapan mata yang berbinar.
"Kamu langsung rebahan di atas ranjang aja ya?" tawar Rebeca lagi. Rico hanya mengangguk. Sesekali senyum tipisnya terbesit, meski sesungguhnya dia sangat enggan dalam posisi seperti ini. Lagi lagi demi obat penawar yang ada pada Rebeca, Rico harus bisa melewati tahapan seperti ini.
Setelah Rico terbaring di atas ranjang, Rebeca juga ikut terbaring dengan tubuh yang menempel pada tubuh Rico. Wanita itu meletakan kepalanya di dada milik pemuda yang tidak berdaya untuk menolaknya. Tangan Rebeca juga melingkar pada perut pemuda itu. Untuk sementara hanya hening yang melanda kedua anak manusia itu. Mereka larut dalam pikiran yang sedang mereka rancang.
"Kamu tahu kan Ric, kalau aku itu sudah ada hati sama kamu sejak lama, tapi kenapa kamu nggak mau membuka hati kamu untuk aku?" ucap Rebeca memecah keheningan yang melanda keduanya. Wanita itu mendongak, menatap wajah Rico yang sebenarnya sedang diliputi dengan penuh rasa benci. "Aku nggak tahu, apa yang membuat kamu tiba tiba sangat membenciku. Padahal aku merasa, aku tidak punya salah apapun sama kamu."
Tangan Rebeca bergerak. Dibelainya wajah Rico dengan penuh kelembutan. "Aku tahu dan aku sangat yakin, bahkan dalam hati kamu saat ini, masih meragukan kejujuranku, bukan?" tebak Rebeca dan itu memang benar. "Lalu setelah ini, setelah aku berkorban melawan ayahku sendiri, membawa obat penawarannya sama kamu, apa kamu akan tetap menuduhku?"
Rico kembali meraih ponsel yang tergeletak di ponselnya dan dia mengetik kata maaf lalu ditunjukan kepada Rebeca. Tentu saja itu bukan maaf yang tulus dari dalam hati. Namun, kata maaf itu mampu membuat Rebeca merasa senang.
"Baiklah, mulai sekarang, aku yang akan merawatmu, kamu setuju kan?" untuk kesekian kalinya Rico terpaksa menggangguk sebagai jawaban kalau dia setuju atas saran yang Rebeca katakan. Tentu saja hal itu membuat Rebeca semakin bahagia.
"Apa aku boleh minta tolong?" kata Rico melalui tulisan dalam ketikan di ponselnya.
"Minta tolong apa? Ngomong saja, aku pasti akan menolongmu dengan senang hati," balas Rebeca dengan rasa antusias yang sangat tinggi. Rico tersenyum dan dia kembali mengetik beberapa kata, lalu kembali menunjukannya kepada wanita itu. Senyum Rebeca seketika mengembang cukup lebar begitu tahu permintaan tolong apa yang diinginkan Rico.
"Sekarang?" tanya Rebeca lagi untuk memastikan. Melihat Rico mengangguk cepat, Rebeca semakin terlihat berbinar. "Baiklah. Dengan senang hati aku akan melakukannya untuk kamu, Sayang." Rico pun tersenyum tipis.
Sebelum melakukan apa yang diinginkan Rico, wanita itu terlebih dahulu mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda lumpuh itu, dan dia langsung menempelkan bibirnya pada Bibir Rico. Awalnya Rico enggan untuk menggerakn bibirnya, tapi demi terwujudnya sebuah rencana, akhirnya Rico pun mau memberikan perlawanan pada serangan bibir yang Rebeca lakukan.
Cukup lama perang bibir itu terjadi, sampai Rebeca terlihat begitu senang saat perang bibir berakhir. Rebeca menggeser tubuhnya ke bawah hingga wajahnya tepat berada di hadapan celana Rico. Wanita itu langsung mengendus bagian tersebut dengan penuh hasrat. tak ketinggalan pula, tangan Rebeca bergerak membuka pengait celana yang Rico kenakan sampai isinya keluar.
"Waw!" seru Rebebca begitu matanya melihat isi celana Rico yang sudah menegang. Tanpa ada rasa canggung, Rebeca mulai menciumi benda menegang tersebut, lalu mulut dan lidahnya juga mulai ikut bermain. "Kok batang kamu pahit banget, Ric?" tanya Rebeca terlihat heran. Rico pun langsung mengetik sesuatu pad ponselnya. "Astaga! pantes, orang belum mandi dari kemarin, pasti pahit karena kerinngat ini."
Meksi begitu, bukannya berhenti, walau sudah tahu alasannya, Rebeca tetap menikmati batang Rico dangan lahapnya, tanpa dia sadari, apa yang akan terjadi setelah ini.
...@@@@@...