
"Tuan, tas anda ketinggalan!" teriakan seseorang yang ada di dalam sebuah gedung, sontak saja menghentikan langkah kaki pria berjaket yang sudah sampai di dekat pintu keluar gedung tersebut. Suara teriakan itu juga langsung menjadi perhatian beberapa pengunjung dan orang orang yang bekerja di dalam gedung itu.
Pria berjaket seketika menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria mua yang sama sedang menjinjing tas dan menunjukan kepadanya. Dialah Rico, dia sedari tadi memang kembali mengikuti pria berjaket karena memiliki firasat yang cukup buruk. Dugaan Rico tepat, pria itu memilih target lain sebagai tempat untuk menjalankan misinya.
Meski Rico memakai masker dan topi, tapi pria berjaket itu dapat memastikan kalau pria yang saat ini memegang tas berisi bom adalah pria yang sama, yang tadi mengikutinya di sebuah keramaian. Pria berjaket itu paham betul dengan pakaian dan topi yang dikenakan Rico, jadi dia sangat yakin kalau itu adalah pria yang sama.
Dengan menyeringai dibalik masker, Rico melangkah, mendekat ke arah pria yang sedang mematung dan menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata yang ada di sana. "Ini tadi saya melihat anda meninggalkan tas anda di dalam bilik toilet, Tuan."
Pria itu diam tak berkutik. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat ini pria berjaket hitam benar benar tidak bisa mengelak. Dia tidak menduga kalau ternyata dia diikuti, jadi untuk kali ini pria berjaket hitam tidak bisa menyangkal. "Oh, terima kasih, sepertinya saya tadi lupa, karena saya terburu buru," ucap pria itu sambil menggerakan tangan untuk menerima tas yang disodorkan Rico.
Diluar dugaan, bukan tas yang dia dapatkan, tapi cekalan tangan dari Rico yang cukup kencang sampai mata pria berjaket itu membelalak. "Apa yang anda lakukan?" tanyanya dengan suara yang sedikit lebih tinggi karena pria itu terkejut dengan apa yang dilakukan Rico.
Rico kembali menyeringai, "Apa sebenarnya isi dari tas ini, Tuan? Tadi anda menyangkalnya saat berada di pusat keramaian, sekarang anda mengakuinya kalau ini adalah tas milik anda, dengan alasan, anda lupa," ucapan yang keluar dari mulut Rico sontak membuat pria itu menegang dengan wajah terlihat cukup panik. "Sebaiknya anda ikut saya menemui petugas keamaan, Tuan."
Mata pria berjaket kembali membelalak. Ajakan Rico yang tidak terduga seketika membuatnya sangat panik. Pria itu ingin memberontak tapi cekalan tangan Rico sangat kencang dan hal itu membuatnya semakin was was. Rico langsung berteriak memanggil petugas keamaan yang berada tepat di depan pintu keluar. Salah satu petugas yang berjaga di sana, segera saja masuk dan cukup kaget melihat Rico yang mencekal pria berjaket.
"Ada apa, Tuan? Apa ada masalah?" tanya petugas keamaan dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya.
"Tuan ini sengaja meninggalkan tasnya di dalam toilet, tolong anda periksa, apa isi tas ini," ucap Rico dengan santainya dan menyerahkan tas itu ke petugas keamaan.
"Itu bukan tas saya!" bentak pria itu lantang dengan wajah yang sudah kelihatan sangat panik.
Pria itu diam tidak berkutik, dan wajahnya semakin panik saat tas itu sudah berpindah tangan. Petugas keamaan itu menerima tas tersebut dan membuka isinya. Mata petugas itu seketike membelalak. "Bom! Ada bom!" teriakan petugas keamanan sontak saja membuat semua orang terperanjat dan seketika mereka semua menjadi panik. Petugas keamanan langsung menekan tombol darurat yang ada di tembok, tepat di belakang dia berdiri.
Seketika orang berhamburan untuk menyelamatkan diri. Masih banyak waktu yang tersisa karena bom itu diatur dalam waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menghancurkan gedung itu. Rico juga memilih keluar tapi cekalan tangannya sama sekali tidak melapaskan tangan pria berjaket.
"Serahkan tas itu pada saya, Tuan," pinta Rico pada petugas keamaan yang memang berdiri tidak jauh darinya. "Anda fokus saja untuk menyelamatkan semua yang ada di dalam gedung, termasuk para pasien."
Petugas itu menuruti permintaan Rico. Setelah tas berada di tangannya, Rico langsung menyodorkan tas itu kepada pria berjaket. "Matikan bom ini, cepat!"
Alih alih menutupi rasa takutnya, pria berjaket itu malah menyeringai. "Untuk bukan miilik saya, jadi saya tidak tahu cara mematikan waktunya," ucapnya dengan senyum penuh kemenangan.
Rico sontak tertegun dengan kening yang berkerut. Otak Rico langsung berpikir cepat. Kalau dia tetap memaksa, pria berjaket akan terus mengelaknya dan sepertinya pria itu juga sedang menguji keberanian Rico. Tak lama kemudian, Rico pun menyeringai. "Baiklah, sepertinya saya harus memberi anda pelajaran terlebih dahulu."
Pria bejaket itu tersenyum sinis. "Silahkan!" pria itu malah menantangnya. Rico kembali menyeringai. Dengan tangan kiri tetap mencekal tangan pria berjaket, tangan kanan Rico langsung mengepal dan melayang ke wajah pria berjaket dengan sangat keras.
"Akhh!"
...@@@@@...