
"Apa! Kenapa gagal?" seorang pria berjaket hijau nampak tercengang saat matanya melihat gedung yang masih kokoh berdiri di hadapannya. Dia tidak percaya kalau gedung yang menjadi target terornya masih utuh berdiri di hadapannya. Keyakinannya akan keberhasilan rencana yang dia susun, langsung runtuh dengan bukti nyata di depan matanya sendiri.
"Apa kamu tidak salah dalam mengatur waktu?" tanya rekan pria itu yang berdiri persis di sebelahnya. Pria yang memakai topi tersebut juga tidak kalah terkejutnya dengan kegagalan yang dicapai rekannya. Padahal sedari tadi mereka menunggu sebuah berita tentang pengeboman yang akan membuat negara gempar. Namun yang terjadi, malah dua pria itu yang dibuat gempar dalam benaknya.
"Aku sudah yakin kalau pengaturan waktunya sudah aku putar selama sepuluh menit," ucap pria berjaket hijau tanpa menoleh sedikitpun. "Coba aku cek," pria itu melangkah sambil merogoh saku bajunya. Namun langkah kakinya terhenti saat dia tidak menemukan apapun dalam saku baju tersebut.
"Ada apa?" tanya rekannya yang juga ikut menghentikan langkah kakinya dan heran dengan sikap temannya.
"Gawat, nomer untuk mengambil barang di tempat penitipan tidak ada," serunya sambil mencoba merogoh semua saku yang ada pada baju, jaket dan celana yang dia pakai. "Kok nggak ada. Padahal tadi aku taruh di sini."
"Apa mungkin jatuh? Coba kita cek dengan teliti," ucap pria bertopi lagi.
Pria berkajet hijau terus meraba raba pakaainya sambil kepalanya berpikir. "Ah iya, tadi aku bertabrakan dengan seorang pengunjung, pasti tadi jatuh di sana."
"Astaga! Coba kita cek ke dalam?" kedua pria tu lantas bergegas masuk ke dalam dan menuju ke tempat dimana si jaket hijau bertabrakan dengan Rico. Mereka mencari ke sekitar tempat yang sama, tapi mereka tidak menemukan apapaun di sana.
"Ada yang biasa saya bantu, Tuan, tuan?" seorang petugas keamaan yang melihat tingkah dua itu sontak menghampiri mereka dan langsung melempar sebuah pertanyaan. Pria bertopi itu lantas menjelaskan apa yang sedang dia lakukan di sana. Sepertinya petugas keamaan meengerti dengan keadaan dua pria itu.
"Kalau Tuan tadi masih ingat nomernya, coba tanyakan ke petugasnya," usul petugas keamaan. Kedua pria itu pun setuju. Mereka segera beranjak menuju ke tempat penitipan barang yang letaknya memang tidak jauh dari tempat keberadaan mereka. Begitu sampai di tempat tujuan, kedua pria tersebut langsung menjelaskan tujuannya datang ke tempat itu.
"Nomer penitipannya tadi berapa, Tuan?" tanya sang petugas dengan ramah.
"Seratus dua belas," jawab pria berjaket hijau dengan sangat yakin.
"Baik, akan saya cek, tolong tunggu sebentar," petugas itu langusng pergi dan tidak perlu waktu lama, dia kembali menghadap dua pria itu. "Maaf, Tuan, nomer yang anda maksud, sudah kosong dan kebetulan nomernya sudah ada pada kami."
"Apa! Mana mungkin?" tanya pria berjaket hijau nampak tidak percaya.
"Apa tadi, ada orang lain yang mengambil barang saya?" tanya pria berjaket hijau lagi.
"Maaf, kalau itu saya kurang tahu, Tuan. Mungkin rekan saya yang tadi memprosesenya. Kebetulan teman saya sudah pulang," jawab sang petugas.
"Astaga! Lalu bagaimana caranya agar saya bisa tahu siapa yang mengambil barang saya? Kebetulan isinya sangat penting."
"Tuan bisa coba tanyakan ke pihak keamanan. Mungkin saja disana pihak keamaan akan membantu anda dengan meilhat rekaman cctv yang ada di tempat ini."
Tanpa pikir panjang, kedua pria itu langsung menerima saran dari karyawan yang baru saja mereka temui. Dengan sedikit arahan dari karyawan, dua pria itu menemui bagian keamaan dan menceritakan kronologi kejadiannya.
"Kalau Tuan tidak percaya, Tuan bisa cek beberapa waktu sebelumnya kalau saya yang menaruh barang itu, Tuan," ucap pria berjaket untuk meyakinkan pihak keamaan.
"Baiklah," pihak keamaan pun menyetujui permintaan mereka setelah merasa yakin dengan apa yang dikatakan pria berjaket. "Kita ke ruang cctv."
Kedua pria itu merasa lega. Mereka segera saja mengikuti petugas keaamaan menuju ruang keaamaan, dimana pusat pengendali dan kontrol cctv juga ada di sana. Setelah memberi penjelasan kepada petugas yang ada di sana, petugas langsung mengecek hasil rekaman beberapa waktu yang lalu di lantai dasar pusat perbelanjaanya itu.
"Lah, itu tas saya!" seru pria berjaket dengan lantang. "Kenapa di bawa oleh orang itu? Apa bisa layarnya diperbesar Tuan, biar jelas wajah pria yang mengambil tas saya."
Sang petugas menurutinya. Namun sayang, setelah diteliti dengan baik, wajah pria itu tidak terlalu jelas dengan karena wajahnya tertutup masker.
"Kok dia orang yang tadi menabrak tubuh saya?" ucap pria berjaket dengan mata terus menatap layar yang sedang dihentikan gerakannya. "Dia siapa?"
...@@@@@...