
"Apa tadi setelah saya pergi dari rumah, ada orang yang masuk ke sini?" tanya kepala kampung setelah tadi dirinya dan pria yang ada di atas kursi roda, saling terdiam untuk beberapa saat. kepala kampung sangat yakin karena dia melihat ada tanda tanda kerusakan pada pintu rumahnya.
"Iya, saya tidak tahu ada berapa orang. Mereka mendobrak pintu sampai rusak," jawab Rico jujur. Dia tidak mungkin akan berbohong karena terlihat di sana ada pintu yang rusak sebagai bukti dan pemilik rumah sedang memperhatikan pintu itu.
"Lalu kamu sendiri gimana? Apa kamu bisa bersembunyi? Bukankah kaki kamu lumpuh? Pasti itu sangat menghambat bukan?" tanya Kepala kampung lagi dengan mata menelisik pintunya yang memang terlihat ada kerusakan.
Rico terdiam, tapi otaknya berpikir sangat cepat, karena dirinya mendadak dalam dilema yang cukup besar. Entah dia mau jujur atau bohong mengenai kakinya. Hingga beberapa saat kemudian, Rico menemukan sebuah ide. "Tadi kebetulan saya sedang ada di kamar dan saya bersembunyi di dalam lemari. Beruntung kursi roda ini bisa dilipat, jadi saya nggak ketahuan."
Kepala kampung langsung menatap Rico dengan kening yang berkerut. Rico sendiri langsung tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. "Bukankah lemari di kamar kamu agak tinggi, bagaimana cara kamu memanjatnya?"
"Ya mungkin karena saat itu sedang terdesak, jadi aku bisa masuk ke dalam dengan sekuat tenaga. Anda tahu sendiri, orang kalau sedang terdesak pasti akan berpikir lebih cepat dan bisa melakukan hal yang diluar akal pikiran, bukan?"
Kening kepala kampung kembali berkerut, namun tak lama setelahnya senyumnya malah terkembang. "Benar juga. Saya saja kalau terdesak pasti masih mikir lagi dengan cepat. Lebih baik kamu istirahat. Apa kamu membutuhkan wanita lagi?"
Rico terdiam untuk beberapaa saat, lalu dia menatap lekat pria yang sedang saat ini hendak melangkah menuju ke kamarnya. "Apa anda bisa menunjukan cara agar bisa pergi ke kota besar?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Rico, seketika menghentikan langkah kaki pria itu dan matanya langsung menatap pemuda yang ada di atas kursi roda. "Apa kamu ingin ke kota besar?"
Rico dengan antusias mengangguk. "Setidaknya aku harus tahu kondisi di sana. Aku pasti di kota besar juga memiliki sebuah tempat tinggal, bukan?"
Rico langsung cengengesan. "Seandainya aku ada uang, mungkin aku hari ini juga akan langsung kesana. Tapi selain uang, aku juga butuh informasi yang akurat tentang aku yang dulu sebelum hilang ingatan."
Kepala kampung ikut tersenyum lebar. "Bukankah kamu memiliki ponsel, kamu bisa menggunakan ponsel kamu untuk mencari informasi tentang kamu bukan?"
"Ponselku tidak ada sinyalnya. Entah apa yang dilakukan orang orang yang telah menemukanku di kampung itu, aku dilarang mencari informasi apapun yang berhubungan dengan kehidupanku sebelumnya. Katanya biar aku aman."
Mendengar apa yang dikatakan Rico, Kepala kampung sontak menyeringai. "Itu hanya akal akalan mereka saja. Yang pasti mereka hanya ingin kamu tetap di sana sampai kamu mengingat kembali formula parfum ciptaan kamu. Saya pribadi juga sebenarnya sangat penasaran dengan formula parfum itu, dan ingin memilikinya untuk kemajuan kampung saya. Tapi saya tidak ingin seserakah itu, karena hidup kamu menentukan nasib banyak orang juga."
"Menentukan nasib banyak orang?" tanya Rico dengan kening yang berkerut.
Pria yang duduk si sofa langsung mengangguk beberapa kali. "bagi orang orang serakah, formula parfum ciptaaan kamu pastinya untuk sebuah kekuasan, tapi bagi rakyat kecil, formula itu bisa menolong dari kemiskinan dan sebagainya. Meskipun aku sendiri masih bingung apa sangkut pautnya parfum itu dengan nasib seseorang, tapi konon kabarnya rumor yang tersebar memang seperti itu."
Rico mengangguk tanda mengerti. Kepala kampung pun bangkit dan kembali melangkah menuju ke kamarnya. Namun sebelum dia pergi, matanya kembali menatap Rico. "Pakailah komputerku, kata kuncinya ada di bawah keyboard. Carilah sebanyaknya mungkin, informasi yang kamu butuhkan."
Seketika senyum Rico terkembang. "Terima kasih." Kepala kampung tidak merespon. Dia segera melangkah menuju kamarnya. Rico sendiri langung menggerakkan kursi rodanya menuju komputer yang ada di ruangan itu. Layarnya sangat lebar dan hal itu memudahkan Rico mencari informasi yang dia butuhkan.
...@@@@@...