
"Apa ini?" ucap seorang pria setelah membuka paket yang diterimanya dan melihat isi dari paket tersebut. Namun tak lama setelah memperhatikan baik baik isi dari paket tersebut, mata pria itu membulat dengan tatapan tidak percaya. "Ini ... bagaimana mungkin?"
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya rekan dari pria itu yang nampak heran dengan sikap pria yang duduk tak jauh dari dirinya. Mata sang rekan juga mengamati keanehan yang ditunjukan pria tersebut lalu mengambil alih benda yang dipegang oleh pria tadi lalu membacanya. "Astaga! Rico ngajak kita bertemu!" pekiknya dengan suara yang cukup keras.
Tentu saja ucapan pria tersebut menarik perhatian orang orang yang berada dalam satu ruangan dengan dua pria tersebut. Mereka adalah orang orang dari Bintang merah yang sedang melakukan musyawarah untuk membahas sesuatu. Kegiatan mereka terhenti sejenak saat salah satu dari pemimpin mereka menerima sebuah paket yang isinya memang sangat mengejutkan.
"Jolly, apa ini serius?" tanya Alkano setelah membaca surat tantangan "Disini juga ada kartu memory, kita lihat apa isinya." Alkano langsung memasukan kartu memory tersebut ke dalam laptop yang ada di hadapannya. Setelah isi kartu memory itu terlihat, Alkano langsung menekan file yang terpampang pada layar laptop tersebut.
"Astaga! Ini beneran Rico," seru Alkano begitu menyaksikan isi file berupa video rekaman Rico sedang berbicara dengan lancar di depan kamera. Hal itu tentu saja menarik perhatian Jolly dan para anggota Bintang merah lainnya. Jolly yang posisinya paling dekat dengan Alkano langsung ikut bergabung menyaksikan rekaman video yang berisi rekaman Rico menyampaikan sebuah pesan untuk mereka.
"Apa ini serius? Rico ngajak kita ketemuan?" Alkano kembali bersuara setelah mendengar semua pesan yang disampaikan Rico. Dari kesimpulan yang dia dapatkan, pria itu terlihat ragu dengan ajakan yang Rico berikan kepada mereka.
"Yang aku lihat sih, Rico sangat serius," jawab Jolly. "Perhatikan baik baik videonya. Kalau Rico tidak serius, mana mungkin dia menunjukan lokasi keberadaanya. Wajar kalau dia menyembunyikan alamat keberadaannya karena yang mencari Rico sangat banyak. Bukan hanya kita saja."
Alkano nampak manggut manggut sembari otaknya berpikir. "Lalu, kenapa hanya tiga kelompok aja yang dia panggil? Bukankah kemarin dia sudah berbicara lancang sampai membuat kita diperiksa pihak aparat?"
Kening Jolly langsung berkerut. Sekarang dia tahu alasan rekannya menjadi ragu. Sikap Rico memang terlihat sangat aneh sejak kemunculannya kembali. Tentu saja itu hanya dirasakan oleh tiga kelompok saja. Karena pada dasarnya, target utama Rico adalah tiga kelompok besar itu, yang ingin Rico hancurkan.
"Gini aja, aku punya rencana bagus," ucap Jolly setelah beberapa saat tadi dia berpikir. "Sebaiknya kita ikuti saja apa maunya Rico, lalu, jika parfum itu berhasil kita miliki baru kita melumpuhkannya."
"Melumpuhkannya? Bagaimana caranya?" tanya Alkano. "Rico pasti juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi kita, jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya."
"Justru itu, kita juga harus menyiapkan sesuatu, begini ..." Jolly langsung mengatakan idenya dengan lantang karena di sana memang hanya ada anggota Bintang merah saja jadi mereka juga harus tahu, rencana yang ada dalam pikiran Jolly.
"Ah, benar juga!" seru Alkano dengan mata yang berbinar. Bukan hanya dia saja yang merasa senang dengan ide yang baru saja diucapkan oleh Jolly, tapi juga semua anggota menunjukan reaksi yang sama. "Ide bagus itu. Baiklah kalau begitu, lebih baik kita bersiap diri. Kita berikan kejutan yang tidak pernah Rico bayangkan sebelumnya."
Seperti yang dikatakan Alkano, bukan Bintang merah saja yang mendapatkan undangan pertemuan yang dikirim oleh Rico. Dua kelompok besar lainnya, yaitu Bulan biru dan Angsa putih juga mendapatkan undangan yang sama persis dengan yang didapat oleh kubu Bintang merah. Tentu saja undangan tersebut juga mengundang rasa curiga pada dua kelompok besar tersebut.
Namun, dengan kecurigaan yang tumbuh dalam benak mereka, kedua kelompok tersebut juga menyiapkan rencana tersendiri, untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi dalam pertemuan mereka bersama Rico esok hari. Apalagi Rico menggunakan parfum sebagai alat untuk meyakinkan ketiga kelompok tersebut. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memiliki parfum yang telah lama mereka incar.
Hingga tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Kini hari telah berganti dan waktu untuk pertemuan, segera saja akan terlaksana. Seperti perintah yang dikatakan Rico dalam pesan undangannya, para pemimpin yang hendak menghadiri pertemuan dengan Rico, harus bersikap biasa saja, agar tidak mengundang curiga para aparat pemerintah.
Entah rencana apa yang Rico siapkan kali ini, tapi yang pasti aturan yang dia ucapkan, tentu saja sangat dipatuhi oleh para ketua dari tiga kelompok besar tersebut. Mereka bahkan menyimpulkan sendiri kalau apa yang diusulkan Rico memang benar. Karena kondisi mereka yang baru bebas dari pemeriksaan aparat, tentunya para pemimpin kelompok besar itu tidak boleh terlalu mencolok sehingga gerak gerik mereka tidak dicurigai aparat keamaan.
Begitu waktu yang ditentukan tak lama lagi akan tiba, para peminpin tiga kelompok tersebut bergegas untuk mempersiapkan dirinya berangkat menuju ke lokasi pertemuan. Bukan hanya itu, mereka juga mempersiapkan diri dengan segala rencana cadangan yang telah mereka bahas sebelumnya.
"Selamat datang, Tuan tuan, selamat datang," ucap Rico dengan wajah yang sumringah menyambut orang orang penting yang dia undang. Saat ini orang orang penting tersebut memang telah sampai di tempat pertemuan dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka juga sangat terkejut saat melhat sosok Rico yang muncul dihadapan mereka. Rico benar benar sudah terlihat sangat sehat.
"Anda ternyata sudah sembuh total, Tuan Rico," ucap Tuan Piero sekedar basa basi saat mereka sedang saling berjabat tangan. "Saya turut senang melihatnya."
Rico lantas tersenyum. Dia sangat tahu kalau para tamunya hanya basa basi saja. "Yah, seperti yang anda lihat, Tuan. Saya sembuh lebih cepat berkat doa kalian," Rico pun tak mau kalah menunjukan sandiriwanya.
"Jadi selama ini anda tinggal di tempat ini, Tuan," sekarang giliran Tuan Belgio yang basa basi sambil matanya mengedar ke ruangan tempat pertemuan. "Kenapa anda tidak tinggal di rumah utama anda saja?"
Rico kembali tersenyum cukup lebar. "Saya belum memiliki keberanian untuk tinggal di sana, Tuan. Anda tahu bukan kalau saya sedang mengalami krisis orang yang bisa dipercaya?" ucapan Rico tentu saja sangat menohok para tamu yang hadir di sana. Padahal Rico tidak ada niat untuk menyindir mereka tapi ucapan Rico sedikit membuat mereka tersinggung.
...@@@@@...