
Sebuah perdebatan kini sedang terjadi dalam sebuah ruang yang ada di salah satu rumah sakit. Empat orang yang ada di sana, saat ini dalam suasana yang cukup menegangkan. Apa lagi setelah seorang pria muda membongkar semua isi hati wanita tua yang ada di sana. membuat telinga yang mendengarnya dibuat terkejut saat itu juga.
"Saya benar benar tidak mengerti, apa mau anda sebenarnya, Nyonya?" ucap Rico dengan wajah penuh dengan tanda tanya besar. "Tadi pagi anda bersikap manis kepada saya dan berkata ingin menyerahkan pria yang ada anggap Rico itu kepada saya dan Letizia agar kami yang merawatnya. Tapi sekarang, ucapan anda berubah lagi. Apa mau anda?"
Semua mata yang ada di sana sontak menatap ke satu arah, yaitu wanita tua bernama Soraya. Selain Rico, dua orang lain yang ada di sana yaitu Letizia dan sang dokter membutuhkan penjelasan dengan tindakan yang baru saja ditunjukan wanita tua itu. Sedangkan wanita yang sedang di tatap menunjukan wajah bingungnya.
Tentu saja Soraya menjadi bingung sendiri, karena untuk merencanakan sesuatu pun hati dan pikirannya tidak berkonsentrasi. Hal itu terjadi lantaran dia takut jalan pikirannya akan mudah ketebak lagi. Maka itu, Soraya memilih diam dengan rasa bingung yang melanda.
"Mungkin memang sebaiknya kalian harus mempublikasikan keberadaan kalian berdua," usul dokter yang sedari tadi terdiam, tapi mencerna semua sikap dan pembicaraan yang terjadi pada tiga orang di hadapannya. "Mana Rico palsu dan Rico asli pasti nanti akan lebih mudah ketahuan jika kedua duanya diketahui olah semua masyarakat."
Usulan yang keluar dari mulut sang dokter tentu saja sangat mengejutkan bagi ketiga lawan bicaranya, terutama Rico. Pemuda itu sudah pasti akan sangat kalah telak jika mencari kebenaran dengan cara seperti itu. Otak Rico seketika langsung bekerja keras untuk mencari jalan keluar.
"Jangan!" bukan Rico yang menolaknya, tapi Soraya. Semua mata kembali menanatap wanita tua itu. "Rico belum sadarkan diri, apa itu tidak membahayakannya?"
Senyum sang dokter sontak terkembang. "Anda itu aneh sekali, Nyonya. Tadi anda katanya kurang yakin dengan keaslian Rico yang terbaring, terus anda juga kurang percaya dengan Rico yang ini. Tapi di saat saya usul sepeerti itu, anda malah menolaknya, apa itu tidak aneh?"
Soraya tentu saja langsung terkesiap. Dia tidak menyangka akan terjebak dalam opini yang dia buat sendiri. Soraya mengakui kalau saat ini dirinya kurang tegas. Bahkan satu hari ini, isi hati wanita itu merubah keinginannya tentang Rico.
"Wajar kan, Dok, kalau saya juga merasa aneh?" ucap Rico palsu yang nampak lega dengan ucapan Pak Dokter dan juga penolakan yang dilakukan oleh Soraya. Rico seakan memiliki kesempatan lagi untuk tetap berpura pura sebagai Rico anak presiden sampai dia benar benar menemukan jalan pulang.
"Anda sudah sangat tahu, kalau anak presiden banyak yang mengincarnya. Namun, disaat ada yang berniat baik untuk menolongnya, anda malah menganggap dua anak muda ini memiliki niat yang tidak baik. Harusnya anda berterima kasih kepada Rico yang ini, tidak semua orang akan bersikap baik dengan mudahnya kepada orang asing," ucap sang dokter lagi.
"Ya sudahlah, Dok, Saya pamit terlebih dahulu," ucap Rico palsu. "Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Mungkin saya memang hanya ditakdirkan untuk membantunya sampai detik ini saja."
Sang dokter pun nampak tersenyum. Rico dan Letizia memilih bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan Soraya yang masih saja menunduk. kedua anak muda itu benar benar tidak habis pikir kalau mereka akan menghadapi wanita yang sangat plin plan dalam bertindak. Rico dan Letizia benar benar pergi meninggalkan Soraya sendirian.
"Apa Nyonya masih ada perlu sama saya?" tanya sang dokter setelah Rico dan letizia meninggalkan ruangannya. "Kalau masih ada perlu, silahkan, tanyakan saja?"
Dengan lemah wanita itu menggeleng. Kepalanya menunduk. Setelah itu Soraya pun pamit dan meninggalkan ruangan dokter, wanita itu benar benar kalut hari ini. Dia merasa telah berbuat bodoh dengan terus mencurigai Rico palsu sampai anak muda itu muak kepanya.
Di saat Soraya hendak sampai ke tempat dimana ruangan Rico yang asli dirawat, mata wanita itu membelalak saat melihat dua orang berjalan tak jauh dari arahnya. Soraya paham betul kalau dua orang itu adalah anak buah Piero. Soraya segera saja mencari tempat untuk bersembunyi, tepat di dekat ruangan Rico dirawat.
"Apa mungkin Rico berada di rumah sakit?"
"Mungkin saja, melihat kondisinya yang buruk, tempat mana lagi yang bisa dikunjungi Soraya selain rumah sakit?"
Deg!
...@@@@@...