SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Diasingkan


"Apa kamu yakin kalau tempat itu sangat aman dan terpencil?" tanya Rico saat dirinya sudah berada di atas kapal. Matanya lurus menatap pulau yang baru saja dia sambangi. Pulau terpencil, usulan dari dua pria kepercayaan anak presiden. Pulau dimana dia memberikan hukuman kepada Dokter Frisian dan orang orangnya.


"Sangat yakin, Tuan. Pulau itu adalah pulau pribadi milik Tuan Adavo," jawab pria bertubuh kekar yang berdiri di sampingnya dengan mata menatap ke arah yang sama, meski kapal bergerak semakin menjauh. "Pulau itu belum lama dibeli oleh Tuan Adavo sebelum terjadi kekacauan di negeri ini. Rencananya, Pulau itu akan dihadiahkan untuk Tuan Rico."


"Baguslah kalau memang aman. Biar mereka merasakan bagaimana hidup di tempat yang asing dengan segela keterbatasan daerah setempat," ucap Rico lalu dia mengalihkan pandangan matanya ke arah depan kapal dan duduk di dekat tempat tadi dia berdiri. Pria yang menemaninya pun melakukan hal yang sama, sedangkan pria lainnya fokus memegang kendali kapal.


"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya pria berbadan kekar yang katanya biasa akrab dipanggil Pipo.


"Untuk sementara kita bersembunyi dulu sampai anak presiden benar benar sembuh. Kita juga akan tetap memantau pergerakan tiap kelompok. Kemungkinan negara Wangiland saat ini sedang gempar," ucap Rico. "Maka itu, kita lebih baik cukup memantau saja dari jauh. Biarkan para pengkhianat negara ini semakin kelimpungan mencari keberadaan anak presiden."


"Ide yang cukup bagus, Tuan. Tapi, apa itu tidak bahaya bagi Tuan Rico yang asli?" tanya Pipo mengungkapkan sedikit rasa khawatirnya.


"Berbahaya bagaimana?" tanya Rico sembari menatap pria yang duduk di sebelahnya.


"Anda tahu, bukan? Kalau Tuan Rico pernah dituduh bekerja sama dengan seorang mafia yang berbahaya? Kalau terjadi kekacauan di negara ini, bukankah nantinya tuduhan itu akan dimanfaatkan pihak musuh untuk semakin menjatuhkan Presiden Adavo? Pasti selain mengira Tuan Rico menghilang bersama dengan Tuan Frisian, dia juga akan dituduh bekerja sama dengan mafia untuk membuat kekacauan."


Rico sontak tercenung. Untuk sesaat, pemuda itu terdiam dengan pikiran langsung mencerna ucapan dari pria di sampingnya. Tak lama kemudian senyum sinis Rico terkmbang. "Tidak apa apa. Biarkan mereka bermain dengan pikirannya masing masing. Nanti kita buat kejutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh semua penduduk Wangiland."


Kening Pipo sontak berkerut sembari menatap pemuda di sebelahnya dengan tatapan penuh tanya. Meski begitu, melihat senyuman Rico yang penuh dengan keyakinan, pria itu memilih diam karena dia tahu rencana pria yang wajahnya sangat mirip dengan anak presiden itu pasti menakjubkan.


Perkiraan Rico memang tepat, saat ini di Negara Wangiland masih terjadi kehebohan. Berbagai spekulasi dan dugaaan langsung bermunculan dari semua orang gara gara siaran langsung yang Rico lakukan. Hampir semua media, memberitakan satu nama dan kejadian terkait, termasuk hilangnya Dokter Frisian.


"Sekarang katakan, apa sebenarnya rencana suami anda yang tidak saya ketahui, Nyonya?" tanya Belgio setelah dia kembali dari tempat Rico dan tidak membawa hasil apapun. Belgio beserta orang orang dari Angsa Putih langsung menemui istri Dokter Frisian untuk meminta keterangan mengenai keterlibatan sang dokter dengan anak presiden.


"Saya sendiri tidak tahu, Tuan. Sungguh. Ini juga terlalu mengejutkan bagi saya," balas istri Frisian dengan segala rasa takut yang sudah mendera karena dia tahu orang orang Angsa putih pasti akan mengambil tindakan jika terbukti Frisian berkhianat. "Beberapa kali saya mencoba untuk menghubungi telfonnya, tapi sama sekali tidak tersambung."


Belgio hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam. Meski pikiran pria itu sudah kemana mana dan ada rasa amarah yang perlahan mendidih, tapi melihat istri Frisian nampak jujur, membuat pria itu memilih menahan amarahnya.


"Tapi Tuan Belgio, menurut putri saya, ada yang aneh dengan Rico, saat tadi melakukan siaran langsung," ucap istri Frisian lagi dan hal itu cukup mengejutkan orang penting dari kelompok Angsa putih tersebut. Tatapan matanya mengisyaratkan kalau istri Frisian harus menjelaskan secara rinci agar Tuan Belgio bisa mengerti dengan keanehan yang dimaksud oleh wanita itu.


"Begini, menurut putri saya ..." Istri Frisian langsung menjelaskan semua yang dia ketahui dari informasi yang didapat melalui mulut Rebeca. Istri Frisian menunjukan segala kejangggalan yang ada pada Rico saat ini. "Anda pasti juga sudah tahu bukan, kalau reaksi obat penawar yang diciptakan suami saya, tidak mungkin akan langsung menunjukan efek secepat itu?"


"Ya, aku pernah mendengarnya dari suami anda," ucap Tuan Belgio. "Berarti benar, mungkin saja ada dua kemungkinan."


"Ada dua kemungkinan? Maksud, Tuan?" tanya istri Frisian.


"Ada dua kemungkinan. Yang pertama, bisa saja memang ada dua orang yang memiliki wajah yang sama persis. Kemungkinan kedua, salah satu dari pria itu adalah mafia yang bekerja sama dengan anak presiden."


"Apa!" beberapa orang yang ada di sana hampir memeiki bersamaan.


"Benar bukan apa yang saya katakan?" Belgio semakin merasa yakin. Pria itu berdiri dari duduknya. "Aku yakin ini pasti ada campur tangan Mafia yang bekerja sama dengan Rico. Jika sekarang sasarannya adalah Dokter Frisian, bisa jadi sasaran berikutnya adalah kita atau orang orang dari kubu lain."


"Wahh! Benar juga," orang orang yang ada di sana, saling sahut menyahut. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Aku tahu," ucap Belgio dengan senyum sinisnya. Pria itu kembali duduk dan langsung mengatakan idenya. kepada semua rekan Angsa putih yang ada di sana. Tentu saja tidak ada satupun yang keberatan ataupun membantah ide dari pria itu. Belgio merupakan salah satu orang penting yang menjadi panutan di kubu Angsa putih, jadi mereka sangat setuju dengan Rencana yang keluar dari pemikiran pria tersebut.


Bukan hanya kubu Angsa putih saja yang memiliki rencana, kedua kubu besar saingan dari Angsa putih, juga memiliki rencana tersendiiri dan saat ini mereka sedang membahasnya di markas masing masing. Keduanya memiliki rencana besar.


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang pria berdiri dengan mata memandang laut yang begitu luas. Dari wajahnya nampak sekali tidak ada keceriaan yang terpancar. Sesekali pria itu menghela nafasnya untuk meredakan amarah yang sesekali memenuhi rongga dadanya.


"Tuan, anda di sini?" suara seseorang yang baru saja datang, seketika membuyarkan segala sesuatu yang sedang dipikirkan oleh pria itu.


"Ada apa?" tanya sang pria tanpa menoleh ke sumber suara. Sepertinya pria itu sangat mengenali orang yang baru datang hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Ada informasi yang harus saya sampaikan, Tuan," jawab orang yang baru datang terlihat begitu hormat.


"Katakanlah, informasi apa yang kamu bawa?" bukannya menjawab, orang yang baru datang mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukan sesuatu tersebut kepada tuannya. Sang Tuan menoleh dan menatap benda yang ditunjukan kepadanya dan saat itu juga mata pria itu membelalak.


...@@@@...