
Setelah memarkirkan motornya, diantara dua bangku, dimana salah satu bangku itu sedang diduduki oleh seorang wanita, Rico lantas tersenyum kepada wanita itu. Meski tatapan wanita itu sangat tidak bersahabat, tapi setidaknya, Rico harus tetap bersikap sopan kepada orang yang lebih tua. Karena memang hal itu yang dia pelajari di dunianya.
Namun senyum Rico yang terkembang, langsung memudar, begitu dia mendengar suara yang keluar dari pikiran wanita yang sedang menatapnya. Rico begitu terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah kursi roda, dimana pada kursi roda itu ada seseorang yang terdiam dengan pakaian yang terutup rapat.
Wanita itu melihat Rico sedang memandangi seseorang yang berada di kursi roda. Seketika tubuh wanita itu menegang. Dia segera saja bangkit, lalu dengan tergesa gesa wanita itu bersiap untuk pergi dari sana. Namun gerakan wanita itu terhenti saat telinganya mendengar anak muda yang ada di sana mengeluarkan suaranya.
"Apa Nyonya sedang membutuhkan bantuan?" tanya Rico basa basi. Setidaknya dia harus mencegah wanita itu pergi karena Rico penasaran dengan apa yang dia dengar melalui pikiran wanita itu.
"Tidak, terima kasih," wanita itu menjawab dengan ketus lalu bersiap untuk pergi.
"Kalau butuh bantuan, Nyonya tinggal ngomong saja. Bukankah Nyonya sedang bingung mencari tempat untuk istirahat?" wanita itu langsung menunjukan rasa terkejutnya begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rico.
"Maaf, anda jangan terlalu sok tahu," Nyonya itu malah menyangkalnya. "Saya hanya bingung mencari hotel yang tepat buat menginap saya dan anak saya." ucapnya dan dia segera saja mendorong kursi roda.
Rico lantas tersenyum. "Apa anda yakin? Bisa menyembunyikan anak presiden itu dalam kamar hotel?" mata wanita itu langsung membulat. Bahkan dia sampai menoleh ke arah Rico dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan curiga. "Kenapa, Nyonya? Bukankah saya benar?"
"Jangan sok tahu kamu ya!" wanita itu malah membentak Rico dengan lantang.
"Bukanya saya sok tahu, Nyonya. Saya memang tahu," ucap Rico dengan santainya. "Dia adalah Rico, anak presiden bukan?"
Seketika wanita itu benar benar dibuat tidak berkutik oleh ucapan Rico. Dia sangat heran, darimana anak muda itu tahu kalau orang yang duduk pada kursi roda adalah Rico, anak presiden. Padahal dilihat keadaannya, Rico asli dalam keadaan menunduk dengan wajah tertutup masker, memakai topi dan jaket yang ada penutup kepalanya.
"Saya hanya mencoba memberi penawaran, Nyonya. Terserah Nyonya hendak percaya atau tidak, yang pasti saya tidak ada niat apapun. Saya hanya ingin membantu Nyonya menyembunyikan Rico dari orang orang yang mengejar anda."
Mendengar ucapan Rico, wanita itu mendadak menjadi dilema. Wajahnya juga masih menunjukan rasa terkejutnya, karena dia tidak menyangka semua yang ada dipikirannya, Rico bisa mengetahuinya. Wanita itu mau tidak mau jadi memilkirkan penawaran yang keluar dari mulut anak muda itu. Biar bagaimanapun dia memang sedang sangat membutuhkan bantuan oleh orang yang dia percaya.
Senyum Rico seketika terkembang sempurna. Dia lalu segera mengajak wanita itu ke tempatnya Letizia. Karena saat ini jaraknya cukup jauh, mereka terpaksa menggunakan taksi. Rico meninggalkan motor milik penjahat begitu saja di tempat itu.
"Rico! Mereka siapa?" seru Letizia begitu melihat Rico pulang dengan dua orang yang tidak dia kenal. Wanita tua juga terkejut saat nama Rico disebut. Namanya mirip anak presiden yang saat ini berada di kursi roda.
"Mereka orang yang sedang kesusahan," jawab Rico. "Di sini ada kamar kosong lagi nggak? Mereka butuh tempat mennginap untuk malam ini."
"Ya nggak ada lah, Ric," jawab Letizia. "Kamu kan tahu di sini cuma ada satu kamar. Kalau mau diberesin, ya ada itu gudang. Dulu bekas kamar juga."
"Ya nggak apa apa, Nona," wanita itu malah yang menjawabnya. "Yang penting kami bisa istirahat."
"Ya udah kalau gitu, silakan masuk,"ucap Letizia.
"Biar nanti aku yang bantu untuk beresin gudangnya," ucap Rico.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Setelah menaruh Rico yang asli di ruang tamu, Letizia, Rico palsu dan Wanita itu pergi menuju tempat yang akan digunakan untuk istirahat.
"Tuh, kayak gini tempatnya," ucap Letizia setelah membuka gudang yang letaknya diantara kamar utama dan dapur. "Kalau dibersihin sebentar, masih bisa digunakan untuk istirahat. Itu ada kasur busa masih bisa digunakan juga."
"Ya udah, biar aku yang bersihkan," ucap Rico. "Zi, tolong ambilin alat bersih bersih dong." Letizia hanya mengangguk lalu dia pergi, melaksanakan perintah Rico.
"Nama kamu Rico juga?" tanya wanita itu setelah Letizia pergi, sambil melihat lihat keadaan kamar. Rico yang sudah bekerja memindahkan beberapa barang, hanya tersenyum. Entah apa yang terjadi jika wanita itu melihat wajahnya yang juga sangat mirip dengan anak presiden.
...@@@@@...