
Senyum Rico terkembang sempurna. Ibarat pepatah mengatakan, sekali mendayunng, dua tiga pulau terlampaui. Itulah yang sedang Rico rasakan saat ini. Selain mendapat mahkota milik wanita bernama Rebeca, Rico juga berhasil menjalankan misi untuk kesekian kalinya. Selain mendapat uang seratus miliar, Rico juga mendapat hadiah misterius yang tidak terduga.
Jika biasanya jam tangannya hanya menyala pada satu sisi yang berwarna hijau, tapi untuk malam ini ada satu sisi lagi yang mengeluarkan cahayanya. Meski tidak seterang sisi yang berwarna hijau, tapi Rico cukup senang dengan kemajuan seperti itu. Sekarang dia semakin yakin kalu sebentar lagi jalan pulang akan segera Rico temukan.
Sama seperti dengan wanita lainnya, Rico juga bermain ranjang dengan Rebeca sebanyak dua ronde. Selain agar lebih puas, Rico juga bisa lebih leluasa dan memiliki waktu yang cukup lama untuk Rebecca agar menikmati aroma tubuhnya yang bau asam. Sekarang Rebeca sudah tertidur pulas dan Rico sedang keluar sebentar dari kamar untuk menyelesaikan misi yang muncul dari jam tangannya.
Sekarang Rico tinggal menyusun rencana untuk esok hari yaitu memancing Rebeca agar dia mau melakukan sesuatu. Setelah urusan dengan sistem selesai, Rico kembali menuju kamar dan berbaring di sisi tubuh wanita yang sudah terlelap tanpa busana. Rico meneluknya dan bersiap diri untuk menyongsong hari esok.
Hingga hari berganti lagi dan pagi telah hadir kembali, Rico sudah berada dalam perjalanan bersama Rebeca. Mereka sudah keluar rumah sebelum Rico asli dan Letizia terbangun. Perginya Rico di pagi ini tentu saja ada hubungannya dengan rencana yang sudah dia rancang dengan matang.
Sedari bangun tidur sampai saat ini, Rico masih memakai masker dan topi untuk mengelabui wanita yang duduk di sebelahnya. Rico bahkan rela bangun tidur terlebih dahulu agar Rebeca tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya.
"Nanti kita ketemunya dimana?" tanya Rebeca.
"Aku minta nomer kamu aja dulu sinih, nanti jika aku sudah bersama Rico, aku kirim fotonya sebagai bukti, agar kamu bisa yakin untuk menyusullku," jawab Rico palsu penuh dusta. Tentu saja itu hanya bagian kecil dari rencana yang sedang Rico jalankan.
"Benar juga," seru Rebeca dan dia segera membuka tasnya dan mengambil kartu nama yang ada di sana. "Semoga kamu benar benar menyerahkan Rico kepadaku."
"Tidak perlu khawatir, nanti aku akan membuktikannya sama kamu," jawab Rico penuh dengan kebohongan dan hal itu membuat Rebeca semakin senang.
Setelah menempuh perjalan yang tidak terlalu lama, Rico dan Rebeca sudah sampai di tempat tujuan dimana Mobil Rebeca semalam berada. Disana mereka berpisah dan langsung melaksanakan tugasnya masing masing.
Beberapa puluh puluh menit kemudian saat Rico sudah kembali, kening pria itu berkerut saat mendengar suara riang dari wanita yang menghuni rumah itu. Rico melangkah masuk dengan wajah heran menuju ke arah dapur, dimana suara wanita yang sedang menyanyi semakin terdengar jelas di telinganya.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih, pagi ini," celetuk Rico begitu dia sampai di tempat tujuannya.
Wanita yang sedang menyanyi dengan merdunya langsung tertegun dan menoleh ke sumber suara. Setelah matanya menatap pria yang dia kenali, wanita bernama Letizia itu langsung tersenyum dengan wajah yang sangat ceria. "Tahu aja kamu kalau saat ini aku lagi bahagia," ucap Letizia dengan gaya centilnya.
Rico menarik salah satu kursi yang mengitari meja makan dan duduk di atasnya. "Perasaan semalam habis marah marah, kok, pagi harinya malah bahagia. Apa habis mendapat sesuatu nih dari seseorang?"
Senyum Letizia semakin melebar. Wanita itu tidak langsung mengeluarkan suaranya karena saat ini sedang memindahkan hasil masakannya ke dalam wadah dari alat masak. Begitu selesai Letizia mengangkat wadah itu dan menaruhnya di atas meja makan. "Tentu dong, orang itu malah masih tidur tuh setelah dapat yang enak enak dari aku semalam."
"Hahaha ... rakus juga kamu, masa dua pria dimakan semua. Bukankah kita sama aja ya?" ucap Rico sambil mencicipi hidangan hangat hasil tangan wanita di hadapannya.
"Kamu aja rakus. Kalau aku kan baru dua pria, nah kamu, udah berapa wanita tuh yang kamu ajak enak enak," sungaut Letizia tidak mau kalah. Hal itu hanya ditanggapi oleh Rico dengan cengengesan saja. "Eh wanita yang semalam sama kamu, kok, pulang duluan?"
Rico asli yang sepertinya belum lama bangun dari tidurnya sontak mengerutkan kening begitu mendengar ajakan dari Rico palsu. Tentu saja tatapan yang dia tunjukan adalah tatapan yang penuh dengan tanda tanya. Bukannya langsung menjawab, Rico palsu mengambil ponsel yang ada dipangkuan Rico asli dan mengetik sesuatu di sana.
"Ada apa sih? Pakai main rahasia segala," protes Letizia yang juga penasaran dengan apa yang dilakukan Rico palsu.
"Ini memang misi rahasia, demi keamanan, kamu tahunya nanti aja kalau sudah sukses," jawab Rico palsu sambil terus melanjutkan mengetik beberapa kata pada ponsel dan menyerahkannya kepada Rico asli. Setelah membaca pesan yang ditulis Rico palsu, senyum Rico asli terkembang sempurna. Biar bagaimanapun ini adalah saat yang sudah lama dia tunggu.
Sementara itu di tempat lain, begitu sampai di rumahnya, Rebeca juga tidak kalah menunjukan wajah cerianya. Dia langsung melangkahkan kakinya ke tempat dimana kedua orang tuanya saat ini sedang berada.
"Pagi Daddy, Mommy," sapa Rebeca begitu melihat dua sosok yang sedang menikmati menu sarapan yang sudah terjadi di hadapan mereka.
"Astaga, Sayang, kamu baru pulang?" tanya sang Mommy dengan wajah terkejutnya. "Kamu darimana saja? Sampai jam segini baru pulang?"
Rebeca malah tersenyum lalu duduk di sebelah ibunya. "Habis dari pesta. Mom. semalam kan aku pamitnya gitu," jawabnya dusta.
"Ya kan Mommy nggak tahu kalau kamu bakalan pulang pagi kayak gini," balas sang Mommy. "Kalau tahu kamu bakalan pulang pagi, Mommy pasti akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjagamu."
"Ya ampun, Mommy, aku kan sudah dua puluh tahun, masa masih pakai pengawal sih?" gerutu sang anak. "Lagian nih, lihat, aku baik baik saja, kan?" Rebeca lalu menatap ayahnya yang sedari tadi lebih banyak tersenyum sambil menikmati hidangannya. "Oh iya, Dad, sepertinya Tuan Jolly beneran bohong deh."
Pria yang dipanggil Daddy itu sontak menatap anaknya. "Bohong kenapa?"
"Bohong soal Rico. Semalam teman teman aku cerita mereka ada yang sudah menyaksikan Rico masih duduk dikursi roda dan berbicara dengan orang yang menjaganya pakai bahasa isyarat."
Tuan Frisian langsung tersenyum sinis. "Sudah aku duga, pasti dia hanya mau memanfaatkan Daddy saja."
"Sepertinya begitu," ucap Rebeca. "Daddy harus lebih hati hati tuh, terutama nyimpen obat penawar milik Rico,"
"Tentu, Sayang. Daddy sudah menyimpannya di tempat yang paling aman. Kamu tahu kan?"
Rebeca langsung mengangguk antuias, dan sang Daddy tidak curiga sama sekali kalau sang anak ada maksud lain yang di balakang ayahnya.
...@@@@@...