
"Selamat datang, tuan Jolly, selamat datang," seru pria berbaju putih saat melihat sosok tamu yang tidak pernah diharapkan kedatangannya. Tentu saja senyum yang dia tunjukan juga senyum penuh kepalsuan seperti sikap ramah yang dia tunjukkan. Bagaimana mungkin akan ada rasa hangat jika sosok yang datang ke rumahnya adalah bagian dari musuhnya.
"Ada angin apa gerangan, yang membuat anda datang ke tempat saya, tuan Jolly?" tanya pria berbaju putih layaknya dokter setelah dia berdiri di hadapan tamunya dengan tangan yang saling berjabat dan senyum yang sama sama terkembang. Senyum kepalsuan dari dua pihak yang sebenarnya sedang berseteru demi sebuah ambisi besar.
"kebetulan saja, saya sedang lewat di sekitar sini. Karena saya merasa memiliki kenalan dengan salah satu penghuni rumah yang ada di daerah ini, tentunya tidak salah kan, kalau saya singgah sejenak untuk menemui anda, Tuan Frisian" ucap Tuan Jolly tak kalah ramah dengan senyum palsu yang terkembang sangat nyata.
Pria yang dipanggil dengan nama Tuan Frisian nampak menganggukan kepalanya beberapa kali, dengan diiringi senyum yang tak kalah palsunya. "Baiklah, kalau begitu silakan duduk, Tuan Jolly," ucap Tuan Frisian, lalu dia menoleh ke seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat dirinya berada. "Ajudan, tolong buatkan minuman, untuk Tuan Jolly."
Sang ajudan langsung mengiyakan perintah tuannya. Sambil menunggu minuman yang sedang disiapkan, kedua orang dari kelompok berbeda itu, kini mulai saling berbasa basi untuk membuka obrolan mereka. Jelas sekali dari obrolan keduanya, sebenarnya ada pertarungan tak kasat mata yang sedang berkobar dari obrolan ringan yang mereka lakukan.
"Bagaimana kasus bom kemarin? Apa orang yang mencegah ledaknya bom sudah kalian temukan?" tanya Tuan Jolly dengan wajah pura pura tidak tahu. Sebenarnya pria itu ingin sekali meluapkan ejekannya tentang kegagalan misi yang sudah dirancang oleh kubu Tuan Frisian, tapi untuk saat ini Tuan Jolly harus bisa menahan diri demi suksesnya tujuan yang dia emban.
"Yah, seperti yang anda dengar, orang itu masih misterius," jawab Tuan Frisian dengan santainya. "Ternyata setelah saya perhatikan dari rekaman cctv, yang menggagalkan teror bom dari orang orang saya di tiga tempat, adalah orang yang memiliki ciri ciri yang sama. Cuma sayang sekali, wajah orang itu tertutup sangat rapi."
Tuan Jolly menggangguk beberapa kali. "Apa anda sama sekali tidak memperhatikan wajah pria itu?" tanya sang tamu. "Jika saya perhatikan, bukankah wajah pria yang menggagalkan serangan bom itu terlihat sangat familiar?"
"Saya juga merasa begitu," balas Tuan Frisian. "Tapi saya tidak yakin kalau itu adalah orang yang sedang saya incar keberadaannya. Apa lagi dia nampak sehat. Obat darimana yang bisa membuat pria lumpuh, sembuh dengan cepat?"
Tuan Jolly mengangkat kedua bahunya lalu meraih gelas yang sudah tersaji di hadapannya dan menyeruput isinya secara perlahan. "Tapi pada kenyataannya, orang yang anda maksud memang sudah bisa bersuara, meski pria itu masihblumpuh."
"Apa!" pekik Frisian begitu Jolly menghentikan ucapannya. "Hahaha ... mana mungkin? Obat penawarnya saja masih ada pada saya," bantah si pencipta obat.
Tuan Jolly seketika langsung menyeringai. "Kalau pada kenyataannya Rico sudah bisa berbicara, bagaimana?"
"Mana mungkin, Hahaha ..." Tuan Frisian semakin terbahak dengan suara kencang. "Tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan kaki dan suara dia, selain obat milik yang saya ciptakan."
Tuan Jolly kembali menunjukkan seringai jahatnya. "Saya berani bilang seperti itu, karena saya tahu Rico yang sekarang sudah bisa bicara."
"Hah! Mana mungkin? itu ..."
"Kenyataannya memang seperti itu, Tuan," terang Tuan Jolly tanppa ada rasa bohong. "Asal anda tahu, saya bersama warga saya yang sudah menemukan Rico."
"Di laut dekat dengan Hutan dimana kampung saya berada," jawab Tuan Jolly santai. Sedangkan Tuan Frisian masih menunjukan rasa terkejutnya. "Kalau anda tidak percaya, anda bisa menanyakan tentang penemuan Rico kepada penduduk kampung Bonaparte. Anda akan mendapat banyak bukti di sana."
"Kalau Rico berada di kampung anda? Lalu kenapa anda kemari?" tanya Tuan Frisian yang masih menunjukan wajah tidak percanyanya atas apa yang baru saja dia dengar.
"Dia kabur melalui jalur kampung perawan menuju kota ini," jawab Tuan Jolly sambil meraih gelas di hadapannya lalu meminum isinya sedikit demi sedikit. "Entah apa yang menyebabkan dia kabur dari kampung yang saya pimpin. Saya sendiri masih heran."
"Mana mungkin!" pekik Tuan Frisian dengan suara yang cukup melengking. "Anda pasti sedang berbohong bukan?"
"Apa gunanya saya berbohong? Apa anda pikir saya ke tempat anda karena berniat menyebar kebohongan? Tentu tidak. Anda juga bisa datang ke kampung perawan, untuk mencari kebenarannya," ucap Tuan Jolly dengan suara yang sedikit lebih lantang. "Justru saya ke sini mau menanyakan, apa mungkin pihak Angsa Putih ada seseorang yang berkhianat?"
Tuan Frisian nampak terbungkam. Otaknya langsung bekerja keras dengan pikiran terpusat pada satu nama anak muda yang sudah dia kasih racun, agar lumpuh dan juga tidak bisa bicara. Jika benar Rico sudah sembuh, bisa dipastikan karir Tuan Frisian akan tamat karena dia sendiri memiliki nama sebagai dokter umum terbaik di negara Wangiland.
"Apa hanya itu tujuan anda datang ke tempat saya?" tanya Tuan Frisian setelah tadi sempat terdiam sejenak dengan segala rasa terkejutnya yang meledak di dalam dada. "Apa anda akan memastikan kalau pihak Angsa putih sedang tidak baik baik saja?"
"Tentu bukan," bantah Tuan Jolly dengan lantang. "Saya kesini, justru ingin mengajak kubu Angsa putih untuk melakukan serangan besar besaran kepada pemerintah. Bagaimana? Apa anda bersedia?" Kening Tuan Frisian seketika langsung berkerut dengan tatapan yang cukup menukik ke arah lawan bicaranya.
Sementara itu masih di hari yang sama tapi di yang termpat berbeda.
"Ini tempat apa, Ric?" tanya Rico palsu begitu mereka sudah sampai di tempat tujuan dengan daerah sekitar yang terlihat sepi. Tempat itu seperti sekumpulan semak belukar dan beberapa pohon liar yang tumbuh tidak beraturan. Ada juga beberapa batu dengan berbagai ukuran yang menambah suasana kalau tempat itu terlihat tidak pernah dikunjungi orang.
Rico asli tidak memberi tangggapan. Dia hanya memerintahkan Rico palsu untuk terus mendoorong kursi rodanya menuju ke suatu tempat memasuki area yang terlihat sangat sepi itu. Hanya ada suara ombak yang tidak terlalu jauh dan juga beberapa unggas liar sebagai penambah suasana betapa sepinya tempat itu.
Rico asli memberi tanda agar Rico palsu menghentikan laju kursi rodanya saat mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Rico palsu memperhatikan Rico asli yang nampak sedang mencari sesuatu, sampai tak lama kemudian Rico asli menemukan batang kayu yang teronggok di atas rerumputan.
Rico asli meminta tolong kepada Rico palsu untuk mengambilkan batang kayu tersebut. Setelah batang kayu berada di tangannya, Rico asli mengggoreskan batang kayu ke atas rumput beberapa kali di sekitar keberadaanya, sampai gerakan tangan itu berhenti pada suatu titik. Tangan Rico langsung mengangkat batang kayu tersebut dan menacapkannya di atas titik yang tadi dia temukan.
beberapa saat kemudian, Rico palsu membelalak matanya saat dia melihat sesuatu yang menakjubkan. "Apa ini, ruang rahasia?"
...@@@@@@...