
"Sepertinya tidak ada orang di rumah sini," ucap seseroang begitu dia memasuki area bangunan yang terlihat begitu mewah. Mata orang itu mengedar kesetiap penjuru arah dimana saat ini dia berada. Orang berjenis pria itu tidak sendiri. Dia datang bersama beberapa rekannya dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
"Sebaiknya kita berpencar," ucap pria lain yang matanya juga sudah mengedar ke segala penjuru tempat itu. "Tadi aku sudah periksa mobil yang terparkir di depan. Mesinnya masih terasa panas, pasti mobil itu baru saja digunakan oleh orang yang datang ke rumah ini."
Semua orang yang mendengar ucapan pria itu langsung mengangguk setuju. Dengan berbekal senjata api di tangan masing masing, mereka berpencar mencari seseorang yang ada di rumah itu. Jumlah personil yang tidak sedikit, memudahkan mereka melakukan pencarian ke berbagai ruangan untuk mencari penghuni rumah.
Sementara itu, tiga orang yang tadi berada di rumah tersebut sudah menyebar dan bersembunyi di suatu tempat, dengan segala kewaspadaan penuh. Mereka juga sudah dibekali dengan senjata untuk berjaga jaga. Kalaupun mereka ketahuan, mereka masih bisa melindungi diri dengan senjata yang ada di tangan mereka.
Sementara itu pihak yang baru saja datang terus saja menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu. Bangunan yang mereka datangi memang termasuk bangunan yang mewah dengan banyak ruangan. Jadi, mereka harus memeriksa satu persatu ruangan dan segala tempat yang kemungkinan digunakan untuk bersembunyi.
"Rico!" teriak seseroang dengan suara yang sangat lantang. "Aku tahu kamu ada di rumah ini, Keluarlah! Jika kamu benar benar ingin selamat. Rumah ini sudah kami kepung!" orang itu berusaha memberi penawaran kepada orang yang dicari. Sepanjang kaki melangkah, orang itu terus berteriak menyebut nama Rico agar anak presiden itu menyerah saja.
"Kamu itu lumpuh, Rico! Kamu itu bisu! Kamu tidak akan bisa lolos dari kami. Jadi, selagi masih ada kesempatan, keluarlah, dan menyerah saja!" orang yang sama kembali bersuara dengan sangat lantang. Terlihat sekali kalau orang itu sangat meremehkan anak presiden.
Tentu saja, Rico palsu mendengar suara orang yang berteriak itu. Apalagi suara itu terdengar sangat jelas sekali, membuat Rico palsu yakin kalau orang itu pasti ada di sekitar ruangan, dimana Rico sedang bersembunyi saat ini. Rico pun langsung berpikir, mencari kesempatan untuk menyerang orang itu. "Apa aku bisa menggunakan senjata ini?" gumamnya.
Rico menatap senjata api yang dia pegang dengan segala pemikiran yang penuh dengan tanda tanya. Namun Rico saat itu juga menjadi teringat, kalau dia semalam habis menjalankan misi yang dia terima dengan sukses. Rico berharap hadiah misterius yang dia dapatkan kali ini, ada hubungannya dengan senjata yang dia pegang.
"Aku harus mencobanya," gumamnya dengan penuh keyakinan. Dari tempat persembunyiannya, Rico melihat cermin, dan dari cermin itu terlihat seseorang yang sedang bergerak dengan langkah pelan dan kedua tangannya lurus ke depan memegangi satu senjata. Rico tahu orang itu juga pasti sedang mencarinya dengan sikap waspada.
Saat pantulan di cermin menunjukkan kalau orang itu berada pada posisi lurus dengan tempat persembunyian Rico, pemuda itu langsung menyeringai dan dia bersiap untuk memberi serangan terlebih dahulu. Dengan segala keyakinan penuh, Rico segera berdiri dan langsung mengacungkan senjatanya ke arah tangan pria yang saat itu juga membelalak melihat munculnya Rico dari persembunyian secara tiba tiba.
Dor!
"Akhh!" pria itu berteriak sangat kencang sampai senjata yang dia pegang langsung terlempar karena tembakan Rico tepat mengenai punggung tangannya. Rico langsung bergerak cepat mengambil alih senjata penjahat dan menodongkan senjata yang dia pegang ke kepala orang yang sedang mengerang kesakitan.
"Ada serangan!" semua rekan orang tersebut yang mendengar suara teriakan dan tembakan dari salah satu ruangan, langsung bergegas mendatangi ruangan itu tanpa banyak berpikir. Namun betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok yang mereka cari, sudah berdiri dengan gagah sambil kedua tangannya mengarahkan senjata ke arah yang berbeda.
"Rico!" pekik semua mata yang melihat ke arah Rico.
"Kenapa? Apa kalian sangat terkejut?" ucap Rico dengan santainya.
Rico menyeringai. Di saat dia hendak mengeluarkan suaranya, Rico mendengar ada orang yang sedang berbicara melalui pikirannya, kalau mereka akan menyerang. Baru saja orang itu akan bergerak, Rico langsung mengarahkan senjata ke salah satu orang yang memiliki rencana penyerangan.
"AKh!" orang itu langsung berteriak kencang karena kaki yang terkena serangan mendadak dari senjata Rico. Tentu saja kejadian itu membuat semua yang melihatnya semakin terperangah.
"Kenapa? Kalian sedang tidak mengagumi kehebatan saya, bukan?" Rico semakin terlihat angkuh. Tentu saja sesekali dia harus menunjukan kesombongan pada orang orang yang berniat tidak baik. "Perintahkan semua orang untuk kumpul sekarang, atau saya hancurkan orang ini!" ancamnya sambil mengacungkan senjata ke arah kepala pria yang sedang memegangi tangannya yang terkena tembakan.
Sesuai dengan perintah Rico, semua orang kini berkumpul pada satu ruangan. Dua orang penjaga rumah itu juga langsung keluar dari persembunyiannya dan mereka cukup terkejut saat menyaksikan Rico dengan mudah membuat orang orang yang hendak menyerang, malah bertekuk lutut dan diam tidak berkutik.
"Amankan senjata mereka semua," titah Rico pada dua orang kepercayaan Rico asli. Dengan senang hati dua orang itu langsung melaksanakan perintah tersebut. Sedangkan para musuh hanya bisa pasrah dengan segala rasa terkejutnya yang masih bersarang dalam benak mereka, melihat anak presiden dalam keadaan baik baik saja.
"Kenapa kalian memandangi aku seperti itu? Apa kalian sangat menyukaiku?"tanya Rico dengan santainya yang saat ini sudah duduk di atas sofa, yang ada di ruangan itu. "Aku tahu apa yang ada dipikiran kalian? Apa yang kalian lihat sangat nyata dan itu bukan mimpi."
"Tapi, darimana kamu bisa sembuh?" tanya salah satu penjahat yang sudah tidak tahan ingin mengetahui sembuhnya Rico.
Rico kembali menunjukan senyum sinisnya. "Menurut kalian, aku bisa sembuh dari mana?" ucap Rico, hal itu sukses kembali membuat semua penjahat terperangah. "Harusnya kalian berpikir lebh cerdas lagi, apa gunanya aku menciptakan parfum yang kalian incar."
Deg!
Wajah para musuh kembali merasakan keterkejutan yang luar biasa begitu kata parfum keluar dari mulut Rico. "Jadi, kamu sembuh berkat parfum?"
"Bukan," jawab Rico dengan entengnya. Senyum yang Rico kembangkan jelas sekali senyum yang meremehkan. Rico sengaja menyangkalnya kembali agar para musuh itu terlihat bingung. "Oh iya, apa kalian tahu aku berada di sini dari Rebeca? Ternyata gadis itu bisa juga aku manfaatkan'"
"Apa!" pekik salah satu dari para penjahat. "Kamu memanfaatkan anak saya? Kurang ajar!" orang itu langsung terlihat emosi sampai dia bergerak untuk menyerang Rico. Tapi gerakannya terhenti saat sebuah senjata langsung mengacung ke arah pria itu.
Rico kembali menyeringai. "Tentu saja saya memanfaatkan anak anda, bukankah anda juga memanfaatkan anak anda sendiri untuk meracuni saya agar menjadi lumpuh dan bisu?"
Deg!
...@@@@@@...