SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Bersikap Biasa Saja


Setelah pembicaraan yang sangat mengejutkan itu, Letizia pun keluar dari tempat yang digunakan oleh Soraya dan Rico asli. Wanita itu harus melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena sebuah perdebatan kecil. Letizia juga sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia luapkan kepada Rico palsu, tapi dia memiilih menahanyya karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Soraya sendiri, saat ini masih termenung sambil menatap pria muda yang sedang tidak berdaya. Pikirannya saat ini kacau dengan berbagai pertanyaaan dan dugaan yang saling bertarung di dalam benaknya. keyakinan besar yang awalnya tumbuh dalam benaknya, kini runtuh saat matanya melihat sosok lain yang wajahnya sama persis dengan pria di hadapannya itu.


"Aku harus bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Soraya dengan wajah jmenggambarkan kebingungan yang begitu nyata. Wanita itu termenung dan berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu nampak menganggukan kepalanya dan sepertinya dia sudah mengambil keputusan.


Soraya bangkit dari duduknya, lalu keluar kamar dan mencari sosok Rico. Pemuda itu ternyata sedang olaraga kecil di depan rumahnya. Soraya pun mendekat ke arah anak muda itu. Rico yang menyadari kedatangan wanita itu memilih diam, meski dia tahu kalau pikiran wanita sedang berkata kata.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Soraya begitu dia sudah berada di dekat Rico yang sedang melakukan push up.


Pemuda itu pun menghentikan olahraganya, kemudian dia berdiri. "Bicara apa, Nyonya?" ucapnya sembari mengajak wanita itu duduk di bawah pohon yang rindang pada halaman rumah tersebut.


"Entah dugaaan saya saja atau bagaimana, mungkin saat ini anda sudah membaca apa yang saya pikirkan, bukan?" ucapan Soraya sontak membuat Rico tersenyum tipis.


"Apa saya sehebat itu?" Rico malah melempar pertanyaan sebagai bantahan untuk menutupi keahliannya. "Itu hanya kebetulan saja kalau, tebakan saya benar."


Soraya mendengus kasar dan meluruskan pandangannya ke arah jalan. "terserah anda mau mengakuinya atau tidak, yang pasti saya harus tetap mengatakannya. Saya ingin menitipkan Rico pada anda, bisa?"


Rico palsu nampak tidak kaget sama sekali. Dia memang sudah membaca semua yang dipikirkan oleh wanita di sebelahnya. Meski sudah mengetahui, Rico merasa lebih puas jika apa yang dipikirkan lawan bicaranya, juga keluar dari mulut orang yang bersangkutan biar kelihatan jujur atau tidak.


"Kenapa anda menitipkan Rico pada saya? Apa anda tidak takut saya membuat celaka anak presiden itu?" Rico palsu sengaja membuat pertanyaan yang sedikit ada unsur ancaman, meski hanya sebuah candaan.


Rico palsu pun mengangguk. "Kalau boleh saya kasih saran, lebih baik anda juga tetap tingggal di sini." Soraya sontak saja menoleh dan menatap Rico. "Meskipun Rico tidak bersama anda nantinya, tapi anda tetap orang yang akan dituduh menyembunyikan Rico. Bukankah itu sama saja dengan membahayakan diri anda?"


Soraya tertegun, begitu mendengar ucapan Rico palsu yang memang ada benarnya. Mungkin saat ini Piero dan anak buahnya juga sedang mencari dirinya. Kalaupun dia pulang ke rumahnya dan tidak ada Rico di sana, hal itu bisa membuat Soraya terlibat dalam masalah yang lebih berat dan sangat menyakitkan.


"Anda tidak perlu merasa direpotkan oleh Saya dan Letizia," baru saja Soraya akan berkata tentang hal itu, tapi Rico segera saja mengeluarkan suaranya guna memberi solusi atas kebimbangan Soraya dalam benaknya. "Bukankah anda tadi bisa membuat roti? Anda bisa saja berjualan roti bersama Letizia. setidaknya, sampai pria yang anda yakini sebagai Rico itu sembuh dari sakitnya."


Soraya tercengang. Apa yang dikatakan Letizia ternyata benar. Selain penuh kejutan, ternyata Rico palsu memang tidak bisa diragukan lagi kebaikannya. Setelah menimbang dan berpikir beberapa saat, akhirnya Soraya memilih setuju untuk tinggal bersama. Setelah pembicaraan dengan Rico selesai, wanita itu memilih masuk untuk membantu Letizia dan memberi tahu segala yang ada dalam benaknya.


Sedangkan Rico saat ini masih duduk sembari menatap ke arah jalan. Senyum sinis yang dia tunjukkan, menandakan kalau pria itu sedang merencanakan seuatu. Dengan menahan Rico asli di rumah ini, Rico berharap dia bisa segera menemukan jalan untuk pulang.


Sementara itu di lain tempat, terlihat dua pria yang sedang duduk bersama sambil menikmati menu sarapan mereka. Kedua pria itu juga sedang merencanakan seuatu saat ini.


"Apa kamu sangat yakin dengan target yang akan kita ledakan?" tanya salah satu pria yang ada di sana.


"Pasti, aku sangat yakin," jawab rekannya. "Kita lihat saja, apa kali ini ada yang bisa mencegah bom kita lagi, agar tidak meledak?" ucapnya sambil tersenyum miring.


...@@@@@...