
"Mana mungkin?" semua mata orang, yang menghadap layar proyektor, terlihat sangat terkejut dengan apa yang ada di sana. Nampak dengan sangat jelas, bidikan kamera yang merekam wajah Rico sedang berbincang dengan beberapa anggota dewan. Bahkan Rico menduduki kursi khusus sebagai mana yang dia gunakan saat bersama ayahnya dulu.
"Kapan Tuan Rico mengunjungi anggota dewan?" tanya salah orang yang ikut menyaksikan siaran layar tersebut. Pertanyaan tersebut tentu saja membuat Rico terkejut. Pria muda itu tidak langsung menjawab. Sembari berpikir, Rico menatap balik pria yang tadi melempar pertanyaan untuknya.
"Apa anda semua berpikir itu adalah tayanngan ulang?" tanya Rico mencoba memastikan hasil pemikirannya sendiri.
Kening Belgio, pria yang tadi pertanya langsung berkerut dan dia kembali melihat layar proyektor. bukan hanya Belgio, para tamu yang lain juga memikirkan hal yang sama sampai mereka kembali menatap layar proyektor. Mereka memperhatikan baik baik semua yang terpampang pada layar dan mendengar tayangan tersebut.
"Tunggu," Jolly nampak menangkap sesuatu. "Jika ini siaran langsung, berarti, Rico yang disana ..." Jolly tidak melanjutkan ucapannya karena dia cukup tercengang saat menyadari sebuah fakta.
"Mana mungkin?" Piero ikut bereaksi. Sepertinya dia juga telah menyadari akan sesuatu. "Kalau itu Rico anak presiden, lalu kamu siapa?" Piero bahkan sampai berdiri dari duduknnya sambil menunjuk ke arah Rico. Semuanya sontak menunjukan wajah tercengang begitu menyuadari fakta, bahwa saat ini ada dua Rico di tempat yang berbeda.
"Kamu siapa, hah!" tanya Alkano dengan suara keras sembari menatap tajam ke arah Rico.
Rico sontak menyeringai. "Menurut kalian, saya siapa? Bukankah saya Rico?" ucap Rico dengan santainya.
"Tidak mungkin!" bantah Alkano lantang.
"Ya sudah, bandingkan saja jika saya bukan Rico. Jika kalian memahami Rico dengan baik, psti kalian tahu, mana Rico yang asli dan mana yang tidak. coba tunjukan?" Rico berkata masih dengan santainya.
Semua orang memilih bungkam, tapi dengan begitu, mereka langsung mencari perbedaan antara Rico yang bersama mereka dengan Rico yang berada dalam proyektor. Namun mereka sama sekali tidak melihat perbedaan yang mencolok. Bahkan saat ini pakaian yang dikenakan dua Rico juga sama persis, jadi Rico semakin sulit untuk dibedakan.
Untuk memastikan jalan pikirannya masing masing, para orang penting dari kelompok besar tersebut langsung mengambil ponsel mereka. Rico membiarkan saja karena dia tahu para orang penting itu akan menghubunngi angota dewan yang mereka kenal untuk menanyakan tentang keberadaan Rico di dalam gedung pemerintahan
Ternyata benar, saat ini salah satu Rico sedang berada di dalam gedung dewan rakyat. Para tamu dari tiga kelompok besar sungguh dibuat bingung atas apa yang mereka lihat. Semuanya kembali menatap Rico dengan segala pertanyan dan juga sikap waspada penuh selidik.
"Katakan pada kami, mana diantara kalian Rico yang asli, hah!" bentak Jolly.
"Loh, kalian pikir saja sendiri, mana Rico yang asli. Bukankah kalian memiliki otak yang sangat cerdas? Kalau kalian orang orang yang bodoh, pasti kalian tidak pernah menjadi kelompok dan penjahat ke negaranya sendiri."
"Kurang ajar! Jangan banyak omong kamu!" Jolly malah membalas ucapan Rico dengan sebuah teriakan kencang.
"Siapa yang banyak omong?" Rico masih menanggapinya dengan santai. "Bukankah apa yang aku katakan benar, Tuan?"
"Sialan!" teriak Jolly sembari menggebrak meja. Pria itu berdiri dan menendang kursi lalu malangkah cepat menuju ke arah Rico. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Tapi langkah kaki Jolly langsung dihentikan oleh Alkano. "Lepaskan aku! Aku harus ngasih pelajaran pada anak kurang ajar ini!"
"Tapi dia telah keterlaluan. Dia telah mempermainkan kita!" bentak Jolly masih tidak terima.
"Hahaha ..." Rico malah tertawa menggelegar. "Siapa yang mempermainkan anda, Tuan Jolly? Bukankah anda yang sudah mempermainkan negara anda sendiri?"
Semua mata tercengang mendengarnya. Meski saat ini semuanya sangat emosi tapi yang lainnya berusaha menahan amarah mereka agar mereka lebih tahu banyak tentang rencana yang sedang dijalankan oleh Rico.
"Jangan asal ngomong kamu, sialan!" bentak Jolly tidak terima. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Rico agar dia menjadi takut. Pria muda itu malah sering tersenyum meremehkan kepada sekumpulan pria yang usianya lebih tua dari Rico.
Di saat itu juga, Rico meraih parfum dan membuka penutupnya lalu parfum tersebut dia semprotkan ke tubuhnya sendiri. Di saat itu pula, salah satu orang yang hadir di sana menyadri sesuatu dan mengaitkannya dengan ucapan Jolly beberapa waktu yang lalu.
"Jadi kamu Rico yang palsu!" seru Piero lantang. Hal itu tentu saja mengejutkan semua tamu yang ada. Rico sendiri malah bersikap biasa saja dan dia mengerti, pasti Piero mengatakan hal itu dengan alasan yang sangat tepat. "Jika kamu Rico yang asli, tidak mungkin Rico akan menggunaakan parfum yang tidak berguna untuk dirinya sendiri."
Deg!
Semua nampak terkejut dengan hasil pemikiran Piero, sedangkan Rico hanya menunjukkan senyumnya tanpa ada niat mengiyakan ucapan Piero. Namun melihat Rico yang tersenyum membuat semua orang yakin kalau dia adalah Rico palsu.
"Dasar sialan! Kurang ajar! Kamu akan aku habisi!" Jolly berhasil memberontak dan dengan segera dia langsung menunjjuk ke arah Rico lalu begitu sudah dekat kepalan tangan Jolly langsung melayang cepat kearah Rico.
Dakh!
Mata Jolly membelalak. Dengan santai Rico menangkis tangan Jolly hingga pria itu gagal memberi bogem mentah pada pria muda. Jolly tidak menyerah. Dia langsung menyerang Rico dengan segala kekuatan yang dia miliki. Pertarungan pun tidak bisa dihindari. Namun sungguh diluar dugaan, Rico dengan mudah menahan semua serangan yang dilakukan Jolly dan membalik menyerang sampai Jolly beberapa kali teriak kesakitan.
"Kalian kenapa diam saja! Serang Rico palsu itu! Apa kalian takut!" Jolly memprovoksi semua orang yang ada di dana. Jelas saja mereka terpengaruh. Mereka juga sangat marah karena mereka merasa sudah dijebak oleh Rico. Perkelahian yang lebih besar terjadi saat itu juga.
Meski Rico hanya seorang diri, nyatanya dia justru mau melawan orang orang yang lebih kuat dan lebh dewasa dari dirinya. Bahkan akibat serangan yang Rico lancarkan, semua lawan Rico mengerang dengan rasa sakit yang luar biasa. Satu persatu Rico berhasil menumbangkan lawan.
"Akan aku buat kamu menyesal, Rico!" bentak Piero yang sudah terkapar menahan rasa sakit yang pada beberapa bagian tubuhnya. Pieroa masih bisa menunjukan senyum liciknya. Dengan sisa tenaganya, piero mendekat ke arah meja dan meraih ponsel miliknya, lalu segera melakukan panggilan.
Rico sendiri memilih diam dan duduk dengan tenang sembari memperhatikan semua orang yang sedang sibuk dengan ponsel mereka. Rico tentu tahu apa yang akan mereka lakukan dengan ponsel mereka dan Rico juga sudah siap dengan rencana yang lainnya.
...@@@@@...