SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Dua Pria Yang Dipercaya


"Angkat, tangan kalian!" seru seorang pria saat matanya melihat dua orang pria lainnya dalam ruangan yang sama. Pria itu bersama rekannya begitu terkejut masuk ke dalam ruangan, melihat dua pria dengan wajah tertutup masker. Sontak saja mereka langsung mengacungkan senjata, begitu melihat dua orang asing yang masuk ke dalam bangunan yang mereka jaga. Namun dua pria pemegang senjata itu membelalakan matanya, tak lama setelah melihat wajah salah satu pria yang mereka todongkan senjata.


"Tuan Rico!" pekik kedua pria bertubuh tegap dengan tatapan tidak percaya. Kedua pria itu mematung untuk sejenak karena merasa tidak yakin dengan apa yang sedang mereka saksikan. Di sana, seorang pria yang duduk di kursi roda sedang tersenyum kepada mereka setelah melepaskan maskernya. Dua pria itu lantas langsung mendekat setelah kesadarannya penuh.


"Anda masih hidup?" tanya salah satu pria yang hanya memakai celana bermotif seperti seragam tentara. "Kenapa anda tidak memberi kabar pada kami?" terlihat sekali kalau kedua pria itu terlihat panik yang berselimut rasa terkejut dan juga lega.


Rico asli lantas tersenyum lebar lalu dia mengetikan sesuatu dan menunjukannya kepada dua orang itu. "Syukurlah jika anda baik baik saja," ucap pria yang sama setelah membaca pesan yang Rico ketik. "Lalu, siapa dia?" pria itu bertanya sembari menunjuk ke arah Rico palsu yang lebih memilih diam.


Diamnya Rico palsu bukan karena takut, tapi dia hanya bersikap waspada saja. Rico palsu terdiam sembari mencoba mendengarkan isi hati dan pikiran dua pria itu, karena takutnya dua orang itu adalah pengkhianat. Namun sejauh Rico perhatikan, sepertinya dua orang itu bukan orang yang patut dicurigai karena Rico tidak mendegar kata kata jahat atau niat yang tidak baik dari dua orang itu.


"Oh, dia orang yang telah menyelamatkan anda?" kali ini pria yang memakai kaos ketat berwarna hitam yang berbicara. celana yang dipakai pria itu juga sama dengan celana rekannya yang tidak memakai kaos. "Terus, anda mau kemana? kenapa anda membawa barang begitu banyak?"


Lagi lagi Rico asli harus mengetik kata kata untuk menjawab pertanyaan dari pria itu. "Kenapa tidak tinggal disini saja? Bukankah di sini sangat aman untuk anda?" tanya pria berkaos hitam setelah membaca jawaban yang Rico tunjukan. Pemuda yang duduk dikursi itupun kembali memberi jawaban.


"Kami sendiri belum tahu, siapa pengkhianatnya," ucap pria bercelana loreng. "Kami juga selalu menunggu kabar dari ayah anda. Apa anda membutuhkan sesuatu agar anda bisa lebih nyaman?"


Rico palsu menggeleng dan dia meminta nomer ponsel kedua orang itu. Karena takut akan ada yang melihat lebih banyak, Rico akhirnya pamit kepada dua orang itu. Sedangkan Rico palsu masih teguh dalam diamnya, dengan terus menyembunyikan wajahnya menggunakan masker yang dia pakai. Kali ini kedua Rico akan pergi ke tempat lain.


"Apa tempat yang akan kita datangi ini sangat berbahaya? Sampai kamu membawa senjata?" tanya Rico palsu begitu keduanya sudah berada di dalam mobil dan Rico palsu melajukannya dengan kecepatan sedang. Seperti biasa, Rico asli menjawab pertanyaan lawan bicaranya melalui ponsel. "Baiklah, aku mengerti."


Sementara itu di tempat lain, dua orang yang tadi berbicara dengan Rico, kini nampak sedang duduk di salah satu ruangan sambil membicarakan kembali pertemuannya dengan Rico. Dua pria itu adalah ajudan yang ditugaskan untuk menjaga Rico. Sudah cukup lama kedua pria itu bekerja menjaga Rico dari sebelum Rico terserang lumpuh dan kebisuan.


"Kasian Rico, dia harus menanggung semuanya sendirian atas perbuatan manusia manusia licik," ucap pria berkaos hitam kepada rekannya yang sekarang sudah memakai kaos berwarna merah. "Harusnya, kita itu tadi tetap mengawal dia, bukankah itu tugas kita?"


Pria berkaos merah nampak tersenyum masam. "Tapi tadi kamu baca sendiri kan, ucapan Rico seperti apa. Memang benar, dengan apa yang Rico katakan. Keberadaan kita di sekitarnya, jutsru akan berdampak tidak baik. Karena biar bagaimanapun, sudah banyak yang mengenal wajah kita sebagai penjaga anak presiden. Bukankah justru itu akan membuat Rico tidak aman?"


"Benar juga," seru pria berkaos hitam. "Tapi aku curiga sama orang yang bersama Rico tadi. Dia tadi sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Apa mungkin, Rico sebenarnya tadi sedang berada dalam tekanan sehingga dia tidak ingin dikawal?"


"Nah, itu dia. Aku juga mikirnya gitu," sahut pria berkaos merah. "Aku yakin, pasti sedang terjadi sesuatu kepada Rico. Bagaimana kalau kita cari tahu? Pasti nomer mobilnya terekam cctv bukan? Kita selidiki saja diam diam."


Sedangkan di tempat lain, beberapa orang juga sedang terlibat pembicaraan yang serius. Tentu saja topik pembicaraan yang sedang mereka lakukan tidak jauh dari yang namanya Rico dan parfumnya. Sejak desas desus parfum menyeruak, hampir semua orang membicarakan keduanya. Bahkan karena parfum juga, imbasnya sampai ke pertarungan dunia politik.


"Apa! Kamu melihat Soraya pergi sendirian?" tanya seorang pria dengan wajah terlihat terkejut setelah mendapat laporan dari anak buahnya. "Kamu yakin?"


"Sangat yakin, tuan," anak buah itu maju dan menunjukan beberapa rekaman cctv. "Di sana ada beberapa rekaman yang menunjukan kalau Soraya masih bersama Rico dan Soraya saat pergi sendirian."


Pria yang dipanggil Tuan langsung menajamkan pandangannya ke layar laptop yang menunjukan beberapa rekaman cctv. "Apa mungkin Soraya menyerahkan Rico kepada dua orang itu?" tanya sang Tuan yang akrab di panggil dengan nama Piero, saat matanya menatap rekaman dua orang bersama Soraya dan Rico yang duduk di kursi roda.


"Sepertinya begitu, tapi setelah kami telusuri rumah sakit terkait, tidak ada pasien yang bernama Rico di sana. Kami Curiga, nama Rico mungkin saja disamarkan," ucap sang anak buah. "Sepertinya mereka orang orang dari musuh kita, Tuan."


"Benarkah?" tanya Tuan Piero memastikan. "Kalai begitu utus mata mata untuk mengawasi sepak terjang bintang merah dan angsa biru, sepat!"


"Baik, Tuan."


Masih di hari yang sama dan di tempat berbeda pula, seorang pria berpakaian layaknya seorang dokter sedang menatap kotak berisi beberapa botol kecil, dimana setiap botol kecil itu, berisi cairan. Dari kode yang tertera pada tulisan tersebut, sepertinya itu adalah botol obat yang dirancang khusus untuk tujuan tertentu. Saat mata pria itu sedang fokus menatap botol kecil itu, telinganya mendengar ada yang mengetuk pintu ruangan yang membuat fokus pria itu menjadi terganggu.


"Siapa?" teriak pria berpakaian putih tersebut.


"Saya, Tuan," sahut seseorang yang baru saja mengetuk pintu. "Ada tamu untuk anda, Tuan!"


"Tamu?" tanya pria berpakaian putih dengan suara yang cukup lantang. "Tamu siapa?"


"Tuan Jolly dari bintang merah, Tuan."


"Apa! Tuan Jolly? Ngapain dia kesini kesini? Apa ini ada hubungannya dengan Rico?" gumam pria itu lirih.


...@@@@@...