
Setelah cukup mendapatkan informasi tentang keadaan perusahaan dan segala hal yang berhubungan dengan keluarganya, Rico pun pergi meninggalkan gedung tersebut untuk melakukan hal yang lainnya. Rencana berikutnya, Rico akan membeli beberapa pakaian serta keperluan lainnya sebelum dia kembali ke kota untuk melaksanakan misi balas dendamnya.
Karena tempat keberadaan Rico saat ini hanya sebuah kota kecil, jadi Rico memilih mengunjungi pasar yang ada di sana. Rico yakin apa yang dia cari semuanya tersedia jika dia mengunjungi pasar daripada menyusuri pertokoan yang berjejer di pinggir jalan. Beruntung tadi Rico memang mengambil uang yang cukup banyak, jadi dia tidak takut akan kehabisan uang tunai. Kalaupun nanti kehabisan, Rico akan mengambil uang kembali dengan cara yang sama.
Seirinf waktu berjalan, beberapa pakaian, ponsel baru dan barang kebutuhan lainnya kini sudah Rico dapatkan. Setelah selesai mengisi perut, Rico langsung mencari tempat penjualan tiket transportasi yang akan membawanya menuju ke kota besar. Rico sama sekali tidak mengalami kesuiltan melakukan semua itu, karena untuk mencari informasi yang dia butuhkan sangat mudah.
Setelah mendapatkan semua yang diinginkan, Rico sekarang sudah bersiap diri untuk kembali ke kota. Dengan segala rencana yang sudah tersusun dengan sangat matang, Rico bertekad akan membalas semua perbuatan keluarga ibu tirinya dengan pembalasan yang lebih perih. Apa lagi, Rico sama sekali tidak menemukan informasi tentang ayahnya, membuat dia semakin marah dan ingin segera membalas semua perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh empat orang yang terkutuk.
Sementara itu di kota besar, tepatnya di salah satu gedung pencakar langit milik suatu perusahaan. Terlihat di sana seorang pria nampak duduk santai di kursi kebesarannya. Meski pria itu berada di meja kerjanya, tapi pria yang terkenal dengan nama Ferguso, sama sekali sedang tidak melakukan pekerjaanya. Justru wajahnya menunjukan kalau dia sedang tenggelam dalam hasrat yang membara.
"Ahh~ terus, Sayang," suara rintihan kenikmatan sesekali keluar diiringi dengan racauan penuh hasrat. "Permainan mulut kamu memang tidak ada tandingannya, Sayang. Hisap terus batangku sampai mentok tenggorokan kamu, Sayang, akhh~"
Di sana, dikolong meja, seorang wanita nampak tersenyum nakal lalu kembali melaksanakan perintah pria yang menjadi bosnya di tempat wanita itu bekerja. Dengan sangat sangat, wanita itu menikmati batang milik atasannya yang sudah menjadi langganan di saat waktu senggang di kantor mereka.
Di saat permainan sedang enak enaknya, pintu kantor tersebut tiba tiba terbuka dan muncullah seorang wanita dengan muka terlihat sedang menahan amarah. "Ferguso, apa benar berita yang aku dengar? Usaha kamu gagal untuk mengambil alih perusahaan ini?" ucap wanita itu dengan lantang begitu dia masuk ke ruangan kerja tersebut, sehingga suaranya mengejutkan pria yang sedang menikmati batangnya dimainkan oleh sekretarisnya.
"Aduh, bisa nggak sih, kak? Ngomonginnya nanti aja," Ferguso malah terrlihat kesal karena kegiatan nikmatnya jadi terganggu dengan kedatangan kakaknya yang bernama Corazon. "Mengganggu kesenangan orang saja."
"Masalah genting seperti ini, kamu menanggapinya dengan santai? Apa kamu tidak punya pikiran? Hah!" bentak Corazon dengan lantang. "Kita itu harus mikirin jalan keluarnya! Meskipun Rico sudah ada, tapi tanggal kelahiran anak itu sebentar lagi tiba. Kamu tahu kan apa yang akan terjadi?"
Ferguso sontak mendengus. "Sayang, lanjut nanti ya? Ada gangguan," ucapnya kepada wanita yang sedang memainkan batangnya. Dengan sangat terpaksa dan wajah yang terlihat kesal karena permainan nikmatnya terganggu, wanita itu langsung keluar dari kolong meja, lalu merapikan bajunya yang berantakkan. Sebelum pergi, wanita itu melempar senyum kepada kakak bosnya meski tanggapan sang kakak sangat dingin dan tidak bersahabat.
"Santai aja kenapa sih, kak. Lagian cepat atau lambat perusahaan ini juga akan jatuh ke tangan ke kita," ucap Ferguzo sembari merapikan celananya yang dia pakai.
Ferguzo kembali mendengus kasar. "Kak, kakak ingat nggak sih? Bukankah kalau kita gegabah dalam mengambil tindakan, kita justru akan semakin dicurigai kalau hilangnya Rico ada sangkut pautnnya dengan kita. Ingat, Kak, kita itu adalah orang yang paling dicurigai dengan hilangnya Rico dan ayahnya, jika kita bertindak gegabah dan tergesa gesa, yang ada kita akan semakin dicurigai dengan hilangnya dua orang itu. Kakak mau semuanya terungkap dan kita berakhir di penjara?"
Corazon seketika terdiam. Setelah otaknya mencerna ucapanya yang keluar dari mulut adiknya, Corazon menyadari kalau apa yang dikatakan Ferguzo memang benar. "Lalu kita harus bagaimana? Samnpai sekarang saja, kita belum menemukan keberadaan Castano?"
"Kakak tenang saja. Aku yakin tidak lama lagi Pengacara Castano akan berpindah ke dalam pihak kita," ucap Ferguzo dengan penuh keyakinan.
"Caranya?" tanya Corazon.
"Aku mendapat informasi kalau anak perempuan Anderson akan kembali dari luar negeri. kakak pasti tahu apa yang akan aku lakukan kepada putri pengacara itu," jawab Ferguso sembari tersenyum miring. untuk beberapa saat, kening Corazon berkerut. Tapi setelah memahami tindakan yang akan dilakukan oleh adiknya, Corazon ikutan tersenyum juga.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat, dan kini malam telah datang, menemani kehidupan manusia. Di salah satu sudut kota, terlihat mobil yang cukup mewah sedang memasuki sebuah komplek perumahan. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, mengantarkan pemiliknya menuju ke salah satu rumah yang ada di komplek tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil tersebut terlihat sedang memasuki gerbang sebuah rumah mewah. Setelah mobil itu terparkir pada tempatnya, sang pengemudi segera keluar dari dalam mobil lalu melangkah santai menuju pintu utama rumahnya.
Di saat tangan orang itu membuka pintu rumah dan langkah kakinya menginjak ruang tamu, gerakan tubuh orang itu mendadak berhenti saat matanya menangkap sosok yang dia kenal, berdiri dari duduknya dan tersenyum kepada orang itu.
"Tuan Anderson, apa kabar? Lama kita tidak berjumpa?" sapa tamunya dengan ramah.
...@@@@@...