
"Apa aku sebaiknya masuk saja?" gumam Rico yang masih berdiri di depan gerbang dengan menenteng beberapa bungkus makanan. Sejak dirinya mendapat pesan dari penghuni rumah itu, Rico tiba tiba merasa aneh dengan pesan yang dia terima dari salah satu penghuninya. "Lebih baik aku masuk saja, ngapaian harus takut?" ucap Rico menyemangati dirinya sendiri.
Dengan keyakinan yang cukup kuat, akhirnya Rico memberanikan diri masuk ke dalam rumah besar tersebut. Dengan sikap waspada, Rico berusaha bersikap setenang mungkin agar tidak dicurigai. Sesampainya di depan pintu utama rumah tersebut, Rico langsung mengucapkan sapaan sebagai tanda kalau dia sudah mengikuti interuksi si penghuni rumah.
Ting!
Lagi lagi ponsel Rico berdenting. Pemuda itu lantas kembali mengecek ponselnya. Seketika kening Rico berkerut setelah membaca pesan tersebut. "Apa kalian sudah tahu, siapa aku?" gumam Rico dalam hati, sebab dalam pesan tersebut tertulis kalau Rico diminta masuk saja langsung. "Baiklah, kalau kalian sudah tahu, aku bisa apa selain menunjukan diriku pada kalian," Rico menyeringai, lalu dia segera saja membuka pintu dan masuk ke dalam.
ketika Rico sudah berada di ruang tamu rumah tersebut, Rico kembali mengikuti interuksi yang meminta Rico agar naik saja ke lantai dua. Rico segera melangkahkan kakinya ke sana dengan perasaan yang cukup was was. Begitu Rico sampai di tempat yang dia tuju, Rico tercengang melihat keadaan yang ada di sana.
"Sepertinya rencanaku berhasil?" gumam Rico sembari menyeringai sebelum empat orang yang ada di sana menyadari kedatangannya. Untuk memastikannya, Rico kembali memasang wajah sandiwara lalu mendekat ke arah empat yang sedang duduk bersama.
"Permisi, Tuan Tuan dan Nona nona," sapa Rico begitu langkah kakinya sudah dekat dengan tempat keberadaan empat orang yang ada di sana. Saat itu juga baru ada yang menyadari kedatangan Rico di sana. Pemuda itu menyapa mereka sebagai bentuk kesopanan, walaupun empat orang tersebut sangat tidak pantas mendapatkan rasa sopan dan juga hormat. "Ini pesanan yang anda minta."
Salah satu dari mereka langsung mengangguk, lalu dia mengambil sejumlah uang yang sudah disediakan dan menyerahkan uang tersebut kepada Rico setelah menerima bungkusan yang Rico bawa. Dalam hati Rico sangat meyakini, pasti obat yang dia taburkan ke dalam air minum dan juga makanan, sudah bekerja dengan sangat baik, karena keempat orang itu sama sekali tidak bersuara. Setelah menerima uang, Rico langsung turun dengan senyum yang begitu senang. Saat itu juga, Rico tinggal menjalankan rencana selanjutnya.
Hingga dua jam kemudian, salah satu dari empat orang penghuni rumah tersebut beranjak dari lantai dua. Entah apa yang tadi mereka bahas, yang pasti dilihat dari wajah keempat orang itu, mereka terlihat frustasi dan juga sangat amarah. Dengan susah payah, salah satu dari mereka berusaha untuk menuruni anak tangga. Sampai saat orang itu hampir sampai di lantai bawah, orang tersebut tercengang saat matanya menangkap sosok yang dia kenal.
"Rico!" pekik orang tersebut dengan suara yang sama sekali tidak terdengar.
"Hallo, Mommy, Sayang. Apa kabar?" sapa Rico dengan wajah senyum yang penuh dengan kemenangan, tergambar jelas pada bibirnya.
"Kenapa anda diam, Mommy sayang? Mommy nggak bahagia memnyambut kedatanganku?" Rico kembali bersuara dengan senyum yang memang sengaja terlihat penuh ejekan. Melihat reaksi yang ditunjukan Rico sembari melangkah kearahnya, wanita itu pun semakin takut. Corazon mencoba berteriak untuk meminta bantuan, tapi sayang, suaranya sama sekali tidak bisa keluar
"Loh, suara Mommy kenapa? Kok ilang?" tanya Rico lagi dengan berpura pura memasang wajah terkejut. "Mommy kenapa? Apa yang terjadi dengan Mommy? kenapa Mommy suaranya seperti itu?" cecar Rico sembari memasang wajah memelas dan sedih. Namun dalam hatinya, Rico begitu puas melihat kedaaan wanita yang saat ini masih duduk di anak tangga.
"Terus tadi aku lihat, Mommy turun tangganya kok aneh? Kenapa sambil ngesot? Apa kaki Mommy bermasalah?" Corazon langsung membelalakan matanya begitu mendengar pertanyaan dari Rico. Matanya menatap tajam kepada anak muda yang sedang menatap dirinya dengan tatapan iba. Corazon sekarang yakin, apa yang dia alami pasti ada hubungannya dengan Rico.
"Apa Mommy membutuhkan bantuan dua adik kesayangan Mommy? Kalau begitu, aku panggilkan saja, gimana?" Rico memberi usulan sembari menyeringai dan sikap Rico semakin membuat wanita itu yakin kalau yang menyebabkan kakinya lumpuh dan suaranya menghilang adalah anak tirinya.
"Sebagai anak yang baik, aku akan memanggilkan mereka. Mommy tunggu di sini aja, oke," ucap Rico lalu dengan santainya dia melangkah menaiki anak tangga. Saat kaki Rico hendak melewati Corazon, pemuda itu berjongkok dan mentap tajam ibu tirinya. "Mommy lebih baik diam di sini saja dan jangan macam macam. Rumah ini sudah dalam kekuasanku, mengerti?"
Setelah memberi peringatan, Rico kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menemui tiga orang yang ada di lantai atas, meningggalkan wanita yang sedang diliputi rasa panik dan takut.
Di hari yang sama tapi di tempat berbeda.
"Tuan yakin, ingin menemui Tuan Anderson?" tanya seorang pria yang rambutnya hampir semuanyya berubah putih kepada pria yang duduk di kursi roda. Melihat anggukan pria yang duduk di kursi roda, membuat pria beruban itu menghembuskan nafasnya secara pelan. "Baiklah, nenti biar saya saja yang telfon Tuan Anderson untuk ke datang kesini."
Pria yang duduk di kursi roda seketika tersenyum cukup lebar.
...@@@@@...