SYSTEM AROMA TUBUH

SYSTEM AROMA TUBUH
Dua Rico Saling Bicara


Rico asli saat ini menatap tajam Rico palsu. Banyak pertanyaan dalam hati dan pikirannya. Namun sayangnya Rico palsu mendengar semua, apa yang keluar dari benak pria yang terbaring itu. Rico pun hanya bisa menyeringai dan membiarkan saja semua yang dipikirkan Rico asli saat ini.


Hingga beberapa hari kemudian, Rico asli sudah diperbolehkan pulang. Ingin rasanya dia pulang ke rumah, namun apa daya, hidup Rico asli saat ini sedang berada di tangan Rico palsu. Mau tidak mau Rico asli harus ikut pulang dengan pria yang memiliki wajah yang sama dengan dirinya.


Selama bebeberapa hari bersama Rico asli, Rico palsu juga banyak menemukan sesuattu yang ingin dia tanyakan. Karena bisa membaca pikiran Rico asli, Rico Palsu merasa kalau Rico asli memang mengetahui sesuatu yang bisa membuat Rico pulang ke dunianya.


Namun sampai Rico asli keluar dari rumah sakit, Rico palsu memilih diam dan menunggu Rico asli mengatakan semuanya dan juga melempar pertanyaan kepadanya. Rico palsu jelas sangat tahu kalau kondisi Rico asli hanya cacat dan tidak bisa bersuara, tapi Rico asli masih bisa berpikir dan juga menggerakan tangannya.


"Selamat datang di rumah kecilku," ucap Letizia begitu dua Rico sampai di rumahnya. Rico palsu melebarkan senyumnya sedangkan Rico asli menunjukkan sikap dingin dan tidak bersahabat serta memandang remeh dengan keadaan rumah itu. "Kenapa, apa kamu tidak suka tinggal disini?" tanya Letizia saat mendapati sikap Rico asli yang terkesan mengejek.


"Jangan dihiraukan," ucap Rico palsu. "Biarkan dia merasakan hidup dalam keterbatasan. Bukankah selama ini dia sangat dimanja karena dia anak presiden? Sekarang saatnya dia merasakan kehidupan orang yang selalu dia rendahkan, rasanya bagaimana," ucapan Rico palsu yang terkesan santai tapi sangat menohok bagi Rico asli. Dia bahkan sampai melirik tajam pada pria yang sudah melepas dorongan kursi rodanya itu.


"Oh iya," ucap Letizia. "Berarti dengan begitu aku jadi tahu mana Rico yang asli dan yang palsu."


"Apa sekarang bagi kamu itu masih penting?" tanya Rico palsu sambil menenteng minuman yang dikemas dengan menggunakan kaleng. Satu untuk Rico asli, satu untuk dirinya sendiri. "Sekarang kan kamu sudah memiliki usaha yang lancar dan bisa ngasih makan anak presiden. Biar dia juga merasakan bagaimana rasanya hidup jadi orang miskin."


"Benar juga," Letizia semakin menunjukan wajah girangnya, lalu dia menatap Rico asli. "Selama ini kamu selalu memandang rendah orang yang dibawah kamu. Ya walaupun banyak yang bilang kamu itu baik, tapi nyatanya, yang bilang kamu baik itu hanya orang orang bermuka dua yang akhirnya menjadi pengkhianat keluarga kamu bukan?"


Rico asli sontak menegang. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya begitu mendengar ucapan Letizia. Namun dia tidak bisa berbuat apa apa. Biar bagaimanapun, dalam benak Rico asli, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Letizia. Rico asli merasakan ketidak tulusan orang orang disekitarnya saat dirinya mulai lumpuh dan bisu.


"Sudah, nggak perlu nyindir nyindir, mungkin dia butuh istirahat," ucap Rico palsu. "Aku akan membawanya ke kamar," Rico kembali mendorong kursi roda dan mengantar Rico palsu. Sedangkan Letizia memilih masuk ke kamarnya sendiri. Hari ini wanita itu sedang libur jualan karena ingin peristirahat.


"Jangan kaget begitu," ucap Rico palsu begitu melihat reaksi Rico asli saat memasuki kamar yang akan dia gunakan. "Jangan berharap di sini, ada fasilitas mewah, seperti yang biasa kamu gunakan. Bukankah yang penting menemukan tempat untuk istirahat. Sebelum aku menemukanmu, kamu tergeletak dipinggir jalan dekat dengan tumpukan sampah loh."


Mata Rico asli sontak melebar begitu mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Rico palsu. Meski itu hanya ucapan bohong belaka, tapi sepertinya Rico asli sangat mempercayai ucapan Rico palsu. Di tengah keterbatasanya saat ini, Rico memang harus menerima segala keadaan yang ada.


"Nih," Rico palsu menyerahkan sebuah ponsel bekas miiliknya. "Kali aja ada yang ingin kamu tanyakan atau kasih tahu. katakan saja lewat pesan."


Rico asli dengan gerakan pelan menerima ponsel tersebut. Dia memang butuh alat komunikasi. Namun saat layarnya menyala, Rico tercengang karena tidak ada sinyal dalam ponsel tersebut. Dia pun mengutak atiknya dan memang disana tidak ada nomer yang digunakan.


"Kenapa? Kamu berharap, ada sinyal yang bisa mengakses sesuatu yang kamu butuhkan?" mendengar ucapan Rico palsu, membuat Rico asli seketika terkesiap. Rico asli merasa kalau pria kembarannya bisa membaca pikirannya. "Aku sengaja tidak menaruh kartu dalam ponsel itu. Karena aku tahu, kamu pasti akan mencari bantuan orang orang yang mungkin masih bisa kamu percaya, bukan?"


"Aku tahu, kami pasti bingung menghadapi situasi saat ini. Sama, aku juga merasakan kebingungan saat aku berada di dunia ini," ucap Rico palsu lagi. Dia lantas duduk di tepi kasur dengan mata meenrawang menatap langit langit kamar. "Saat aku tiba tiba berada di sini, aku hanya membawa bekal sebotol parfum. Apa itu ada hubungannya dengan kamu?"


Sebelum membaca isi pesan yang ditulis Rico asli, Rico palsu sejenak menoleh dengan tatapan seperti menyelidik lalu segera mengalihkan tatapannya ke layar ponsel yang sudah menyala. Sebuah pertanyaan terpampang pada layar ponsel dan pertanyaan tersebut sukses membuat Rico palsu membulatkan matanya.


"Ya, parfum itu tidak memiliki bau, seperti parfum pada umumnya," jawab Rico palsu sembari menatap lawan bicaranya. Melihat Rico asli mengulas senyum tipis, membuat Rico semakin yakin kalau parfum itu memang ciptaan dari Rico asli. "Apa itu parfum buatan kamu? Tapi kenapa bisa ada sama aku?"


Tangan Rico asli terulur, dia meminta kembali ponsel yang ada di tangan Rico palsu. Setelah ponsel berpindah tangan, Rico asli langsung mengetik sesuatu yang cukup panjang. Meski Rico palsu tahu apa yang sedang dipikirkan Rico asli, tapi dia lebih baik menunggu sampai Rico asli menyerahkan ponselnya.


Begitu selesai mengetik semua yang dia katakan, Rico asli langsung menyerahkan ponsel tersebut pada lawan bicaranya. Rico palsu dengan santai menerima ponsel itu dan membaca isinya. "Jadi menurut kamu, parfum ciptaan kamu itu hilang saat kamu berada di pesawat sebelum kecelakaan. Sedangkan dalam pesawat itu, hanya ada tiga orang lainnya yang menemani kamu. Apa kamu mencurigai salah satu dari mereka?"


Rico asli sontak menggeleng dan kembali meminta ponselnya dan mengetik sesuatu untuk menjawab pertanyaan dari Rico palsu. "Oh gitu?" ucap Rico palsu setelah membaca jawaban pada layar ponsel, "Jika parfum itu menghilang secara misterius, lalu kenapa parfum itu jatuh ke dalam genggamanku?"


Rico asli kembali mengetikan sesuatu. Cukup merepotkan memang, tapi tidak ada pilihan lain lagi selain dengan cara seperti itu. "Orang pilihan dari masa depan? Bagaimana bisa?" tanya Rico palsu lagi, setelah menatap layar ponssel.


Rico asli kembali memberi jawaban dengan cara yang sama. "Jadi bisa dikatakan, aku datang ke dunia ini karena terseret oleh lorong waktu? Mana mungkin? Ini bukan kisah boneka kucing dengan kantong ajaibnya?" Rico palsu benar benar dibuat tidak percaya dengan apa yang ditunjukan Rico asli melalui layar ponsel.


Rico palsu kembali menunggu, Rico asli menunjukan apa yang ada dalam pikirannya. Begitu membaca apa yang ditulis Rico asli, mata Rico palsu seketika membulat sempurna. "Aku menjadi manusia yang terpilih dari sebuah mesin di masa depan? Bagaimana mungkin aku bisa jadi manusia terpilih? Dulu aja kondisi aku kayak kamu, dibuat lumpuh dan hampir dibunuh. Tapi ya itu, aku tiba tiba sudah berada di Wangiland."


Rico asli nampak tersenyum tipis dan dia kembali mengetik sesuatu dan menunjukannya pada Rico palsu. "Benar juga sih, parfum itu banyak memberikan efek menakjubkan setelah aku mencobanya. Aku bahkan bisa berjalan dan berbicara setelah menggunakan parfum itu dan menjalankan suatu perintah. Tapi, apa kamu juga bisa sembuh dengan parfum hasil ciptaan kamu itu?"


Rico asli sontak menggeleng sebagai tanda kalau dia tidak tahu, parfum itu akan berfungsi kepadanya atau tidak. Rico palsu juga agak ragu karena dia juga mendapatkan perfum itu bersamaan dengan datangnya sistem. "Lalu, apa kamu tahu, bagaimana caranya aku bisa pulang ke duniaku?" tanya Rico palsu.


Mendengar pertanyaan tersebut, Rico asli langsung terdiam. Namun itu tak berlangsung lama, karena setelahnya Rico asli kembali mengetik sesuatu dan menunjukannya ke Rico palsu. "Ada dua kemungkinan?" tanya Rico palsu, dan lagsung mendapat anggukan dari Rico asli. "Kalau itu menjamin, aku bisa pulang, tentu saja aku sangat mau melakukannya. Tapi kan, aku belum dapat informasi apa apa."


Rico asli kembali mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya melalui ketikan di ponsel dan Rico palsu tahu akan hal itu. "Begitu?" tanya Rico palsu. "Baiklah. Aku akan mencoba mencari informasinya. Tapi apa sebaiknya kita mempublikasikan diri kita saja langsung. Setidaknya jika banyak orang yang tahu tentang keberadaan kita, orang orang yang mengejar kita akan bergerak dan aku yakin, mereka bakalan bingung karena ada dua Rico di negara ini."


Rico asli kembali mengetik sesuatu yang menjelaskan kalau dia sependapat dengan apa yang diusulkan Rico palsu. Namun Rico asli cukup dilema karena kondisinya yang sangat tidak memungkinkan, dan hal itu pasti akan sangat menghambat apapaun yang Rico lakukan.


"Aku tahu, aku pun pernah merasakan hal yang sama kayak kamu," ucap Rico palsu.


Rico asli terdiam dengan wajah sedikit murung saat mengingat dengan keadaannya. Namun dia tiba tiba teringat sesautu dan segera mengetik beberaapa kata dan menunjukannya kepada lawan bicaranya. Mata Rico palsu seketika membulat saat membaca tulisan pada layar ponsel.


...@@@@@...