
"Itu, mana mungkin!" pekik seorang penjahat saat melihat temannya terpental cukup jauh setelah dihempas dengan sebuah telapak tangan milik anak muda yang melawan mereka. Dua dari tiga penjahat terperangah saat mereka menyaksikan tubuh rekannya sampai menghantam sebuah tembok pagar rumah. Bahkan rekan mereka sampai mengerang begitu kencang karena merasakan sakit yang luar biasa.
Bukan hanya dua penjahat yang terperangah dengan apa yang terjadi di sana, pemuda yang baru saja menghempas sang penjahat juga dibuat terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Pemuda itu tidak menyangka kalau dorongan telapak tangannya akan sekuat itu dalam menghempas tubuh sang lawan.
Rico, nama pemuda itu, kini merasa yakin kalau dia memiliki kekuatan dan tenaga dalam yang tidak terduga. Setelah tadi cukup termenung dengan apa yang terjadi, Rico sadar, mungkin ini salah satu dari hadiah misterius karena dia berhasil menjalankan misi kelimanya. Mungkin saja hadiah ini juga penyempurnaan dari hadiah misi ke empat dimana Rico bisa melempar benda sampai dengan jarak yang begitu jauh.
"Bagaimana, Tuan Tuan? Apa kalian ingin bernasib sama seperti dia?" sekarang Rico langsung berlagak sedikit sombong. Untuk melawan seorang penjahat, kesombongan memang diperlukan. Kalau tidak untuk memancing lawan, kesombongan itu berarti digunakan untuk memberi rasa takut pada lawan. Begitu juga yang dilakukan Rico saat ini.
"Kita serang sama sama," ajak salah satu rekan dan hal itu tentu saja disetujui oleh rekan yang lainnya. Kedua orang bertubuh kekar itu langsung menyerang Rico secara bersamaan dan membabi buta. Dengan sangat santainya, Rico langsung menyambut serangan kedua penjahat itu.
Dakk!
Bugg!
Dezigg!"
"Akhh!"
"Akhh!"
Kedua penjahat berakhir sama seperti rekannya. Mereka terhempas dengan badan yang cukup babak belur. Rico langsung menyeringai begitu para penjahat yang hendak merampok sebuah rumah, terkapar tidak berdaya. "Bagaimana? Apa cuma segitu kekuatan kalian? Ayo bangkit! Lawan saya!"
Tidak ada satupun penjahat yang bereaksi. Meski mereka sangat ingin membalas sampai membuat Rico tumbang, tapi apa daya, mereka sendiri yang justru saat ini sedang tumbang karena ulah lawannya. Mereka hanya mampu menatap Rico, dengan tatapan penuh benci dan kemarahan tapi tidak dapat bertindak sama sekali.
"Sepertinya nyali kalian cuma segitu," ejek Rico lagi. "Baiklah, kali ini aku biarkan kalian tetap bernafas bebas. Tapi lain kali, kalian jangan harap bisa bebas dari saya," Setelah mengatakan hal itu Rico memilih bersiap untuk pergi. Namun saat kakinya hendak melangkah, anak muda itu kembali menatap ketiga penjahat.
"Masih ada di motor," jawab salah satu penjahat dengan suara agak tergagap.
Rico sontak saja menyeringai. "Baiklah, motor kalian akan saya bawa. Ingat, jangan macam macam sama saya, mengerti! Kalaupuan kalian mengincar saya, saya tidak akan segan segan mematahkan tulang tulang kalian, camkan itu!" Rico langsung melenggang pergi.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" ucap salah satu penjahat.
"Tenang saja, nanti kita bikin perhitungan sama dia," balas rekan yang lain dengan tatapan penuh kebencian. "Kita harus kasih dia pelajaran secara halus."
"Benar," ucap penjahat yang lainnya lagi. "Dikiranya kita bodoh apa gimana? Meskipun dia menutup wajahnya pakai masker, bukankah dia membawa motor kita? Dasar bodoh."
"Mending kita pergi dari sini, sebelum ada orang yang lihat. Setelah itu kita susun rencana lagi untuk menyerang orang itu."
"Setuju!" jawab dua rekannya kompak. Mereka bertiga mulai bangkit secara perlahan karena harus menahan rasa sakit pada tubuh mereka.
Sedangkan Rico saat ini sudah meluncur menggunakan motor milik tiga penjahat itu untuk berkeliling kota. Awalnya Rico hendak langsung pulang, tapi dia mendadak memiliki ide lain. Dia lantas membawa motor itu untuk berjalan jalan sebentar.
Di tengah tengah perjalanannya, Rico melihat wanita tua yang sedang mendorong sebuah kursi roda. Wanita itu terlihat sedang kelelahan dan dia menepikan kursi roda di dekat sebuah bangku. Pada kursi roda itu juga ada seseorang, yang wajahnya terutup dengan masker, topi serta jaket yang ada penutup kepalanya.
Karena merasa penasaran, Rico pun mendekat ke arah dimana wanita tua itu berada. Rico yakin kalau pikiran wanita itu pasti mengeluarkan kata kata yang bisa Rico dengarkan. Kali saja wanita itu akan meminta bantuan karena hari memang sudah cukup malam. Begitu sudah dekat, Rico segera memarkirkan motornya tepat di sebelah bangku wanita itu duduk.
Wanita itu memandang Rico dengan kening yang berkerut dan tatapan yang cukup tajam. Rico hanya membalasnya tatapan itu dengan sikap sopan dengan mengembangkan senyumnya. Namun, diluar dugaan, Rico dibuat terkejut dengan apa yang dipikirkan wanita itu saat ini.
...@@@@@@...